
Melihat Percy dan rekan-rekannya bergegas ke arahnya, sudut bibir Alexander terangkat.
Saat itu, dia langsung mengulurkan tangan dan mendorong telapak tangannya ke arah lawan-lawannya.
BANG!
Percy yang hendak menyerang Alexander tiba-tiba merasa telah menabrak dinding dengan keras. Ekspresinya langsung berubah. Walau belum pernah bertarung dengan pemilik telekinesis, tetapi dia sudah pernah mendengar cerita tentang ‘orang-orang spesial’ semacam itu.
Berbeda dengan para hunter biasa yang bisa dianggap sebagai ksatria atau pejuang, ‘orang-orang spesial’ itu dianggap sebagai penyihir. Para hunter biasa bertarung dari jarak dekat, sementara alasan kenapa pemilik kemampuan telekinesis disebut penyihir karena mereka bisa menyerang dari jarak yang begitu jauh.
Tentu saja, menyerang dari jarak jauh bukan berarti mereka (para pemilik kemampuan telekinesis) tidak bisa dikalahkan. Lagipula, manusia adalah makhluk yang memiliki akal.
Panah dari jarak jauh, serangan menyelinap khas pembunuh, atau terbang menggunakan sayap dengan kecepatan luar biasa. Sangat banyak hal yang bisa dilakukan hunter biasa. Tentu saja ada syaratnya, yaitu berani melawan monster bermutasi dan berhasil mendapatkan miracle root yang diinginkan.
Selain itu, semua orang juga mengetahui kalau gelar ‘penyihir’ itu hanya bisa didapatkan dengan keberuntungan. Jika tidak, maka harus didapatkan dari keturunan khusus. Meski begitu, bakat para ‘penyihir’ tersebut juga berbeda-beda. Ada yang hanya bisa menggunakan telekinesis untuk melempar beberapa kerikil, tetapi ada juga yang bisa mengangkat benda-benda berat.
Merasakan dinding kuat yang menahannya, Percy langsung mengerti.
‘Bukankah bakat orang ini terlalu berlebihan? Dia jelas tidak mengkhususkan diri mencari miracle root yang memperkuat kemampuan telekinesis, tetapi masih sekuat ini! Cih! Hidup ini benar-benar tidak adil.’
Sementara itu, Alexander sendiri juga mengangkat alisnya. Tampaknya tidak puas karena sesuatu.
“Pantas saja para leluhur tidak melakukannya, ini benar-benar tidak praktis dibandingkan trik ‘melempar kerikil’ yang begitu sederhana,” gumam pria itu dengan ekspresi muram.
BANG!
Sosok Percy terpental mundur dua sampai tiga meter. Anggota Crimson Hornet lainnya tampak waspada. Namun, Alexander tidak lanjut menyerang, malah melihat tangannya sendiri dengan ekspresi kecewa.
Jika dibandingkan, dampak serangan ‘melempar kerikil’ dan ‘telapak tangan penekan iblis’ benar-benar jauh berbeda. Bisa dibilang, kekuatan serangan yang terakhir jauh dari kata memuaskan. Belum lagi, trik itu lebih sulit dilakukan.
Untuk trik ‘melempar kerikil’, orang itu hanya perlu membentuk energi seperti tangan untuk meraih bebatuan lalu melemparnya ke arah musuh. Semakin berat benda yang diangkat, semakin sulit untuk dilakukan dan semakin menguras tenaga.
Sementara itu, trik baru Alexander hampir mirip dengan Phoenix Dance. Apa yang digerakkan lebih ke angin yang berembus di sekitar. Angin itu sendiri sangat ringan, bisa dirasakan, tetapi sulit disentuh, apalagi dipegang. Meski menggunakan telekinesis, ‘memegang angin’ adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.
Selain itu, ada perbedaan yang cukup mencolok. Jika Phoenix Dance menggunakan cara menggerakkan angin lalu dijadikan perpaduan gerakan khusus dalam teknik pedang, maka teknik barunya tersebut mencoba membentuk angin menjadi sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menangkis, mendorong, atau menghempaskan lawannya.
Apa yang muncul dalam benak Alexander adalah sebuah dinding. Namun, hasilnya benar-benar agak mengecewakan. Meski bisa digunakan untuk menghalang dan mendorong musuh, tetapi sulit menangkis serangan destruktif, apalagi menghempaskan dan melukai lawan.
Pada saat itu, Alexander tiba-tiba memikirkan bentuk lain. Menarik napas dalam-dalam, dia menatap orang-orang yang waspada lalu membuat isyarat dengan tangannya.
“Mari kita lanjutkan.”
Mendengar ucapan Alexander, Percy dan rekan-rekannya langsung mengelilingi pria itu dengan ekspresi seris di wajah mereka. Orang-orang itu tahu, perbedaan level pada hunter bukan hanya pajangan. Dari level 2 ke atas, perbedaan mereka menjadi semakin jauh. Bukan hanya karena jumlah kemampuan yang bisa didapatkan, tetapi juga tubuh yang berubah menjadi lebih kuat dan semakin kuat di level berikutnya.
__ADS_1
Miracle root yang didapatkan oleh anggota Crimson Hornet berasal dari Blood Wolf. Miracle root tersebut membuat mereka mendapatkan kemampuan khusus, yaitu perkuatan otot tubuh dimana tangan dan kaki menjadi lebih kuat, tetapi tubuh lebih lentur. Selain itu, mereka juga memiliki kemampuan ledakan kecepatan. Khusus Percy yang mengalahkan Pemimpin Blood Wolf, miracle root miliknya juga memiliki sedikit tambahan, yaitu membuatnya memiliki indera penciuman yang diperkuat.
“SEKARANG!” teriak Percy.
Bersamaan dengan teriakan Percy, anggota Crimson Hornet lainnya langsung bergegas menuju ke arah Alexander dengan kecepatan luar biasa.
SWOOSH!
Banyak ujung senjata langsung melesat ke arah Alexander dari berbagai arah. Sebagai tanggapan, pria itu langsung melompat sangat tinggi. Bahkan tanpa kemampuan terbang, dia masih bisa melompat tinggi karena tubuhnya sudah diperkuat berkali-kali lipat.
Ketika tubuhnya jatuh ke bawah, Alexander melakukan backflip di udara lalu memanifestasikan bentuk yang muncul dalam pikirannya.
PERISAI!
Alexander yang mendarat langsung menggunakan palm (pukulan telapak tangan) tanpa sedikitpun keraguan. Saat itu, angin di sekitar langsung berkumpul di depan telapak tangannya seperti pusaran angin yang tidak bisa dilihat tetapi bisa dirasakan. Pria itu kemudian menggerakan tangannya dengan cepat.
BANG!
Seorang pria yang bergegas mendekat langsung diterbangkan mundur beberapa meter jauhnya. Tabrakan itu sangat cepat dan kuat, rasanya seperti Alexander membanting perisai besar langsung ke tubuhnya.
Memanfaatkan momen tersebut, rekan-rekan lainnya langsung bergegas ke arah Alexander. Melihat senjata yang kembali menebas ke arahnya, pria itu langsung menemukan masalah kedua. Teknik barunya tidak bisa dilepaskan secara beruntun, atau setidaknya, perlu penguasaan mendalam agar bisa melakukannya. Namun, dia sama sekali tidak terlihat panik.
Sebagai tanggapan, Alexander memutar tubuhnya. Dia tidak melompat naik karena lawan tidak bodoh dan menutup celah untuk meloloskan diri. Pupilnya langsung menyusut, tatapannya fokus pada banyak ujung senjata yang mengarah kepadanya. Pria itu kemudian menampik tubuh tombak dengan punggung tangannya sembari menghindari beberapa tebasan lainnya.
Pada saat itu, Alexander yang meloloskan diri langsung mengangkat tangannya sambil menjentikkan jari.
“Cukup,” ucapnya dengan nada datar.
Mendengar ucapan Alexander, ekspresi Percy dan teman-temannya berubah agak pucat. Mereka langsung terlihat lesu. Sepertinya kehilangan sebagian kekuatan mereka.
Alexander mengerti apa yang orang-orang itu pikirkan, tetapi tidak langsung menghibur mereka. Sebaliknya, dia malah mulai menjelaskan dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Koordinasi dan kerja sama diam-diam kalian sangat baik. Hanya saja, kalian terlalu lembut. Aku sudah bilang agar kalian tidak menahan diri, tetapi kalian jelas masih menahan diri. Kalian tidak memiliki sikap bertarung antara hidup dan mati. Ketika serangan kalian hampir mengenaiku, bukannya mengerahkan segenap tenaga, kalian malah terlihat ingin menarik kembali senjata kalian.
Selain itu, Percy, kamu jelas hunter level 3, tetapi kamu sama sekali tidak menggunakan kemampuan sepenuhnya. Aku sudah menyuruhmu untuk bertarung sepenuh hati, tetapi kamu merasa ragu. Jelas kamu terlihat tidak ingin menyakiti orang yang telah menolong keluarga dan rekan-rekanmu.
Hal tersebut membuatku merasa kecewa, tetapi juga merasa kalau kalian adalah orang-orang yang memiliki nurani dan layak dipercaya. Jadi ...”
Alexander tersenyum di balik topengnya lalu melanjutkan.
“Selamat, kalian telah lulus ujian.”
***
__ADS_1
Tiga hari kemudian, di markas Nine Gates.
Berbeda dengan beberapa tempat singgah sementara yang kecil dan tersebar, tampak beberapa ruangan besar dan megah yang dibangun di bawah tanah.
Di dalam sebuah ruangan yang luas, tampak sebuah meja bundar dengan sembilan kursi mengelilinginya. Di setiap kursi, terlihat angka romawi dari I sampai IX. Kecuali di kursi nomor II, kursi lain diisi oleh orang-orang yang merupakan petinggi dari kelompok Nine Gates.
Di kursi nomor I, ada Annie Rosewald. Kursi nomor II, Scarlet (kosong). Kursi nomor III, ada Mei. Kursi nomor IV, ada Yona Chivelm. Kursi nomor V, ada Christine.
Di kursi nomor VI, ada seorang wanita yang memiliki penampilan sangat mencolok. Jika Chris adalah tipe wanita tomboy yang terlihat menawan dan menggoda, maka wanita ini adalah definisi ‘macho’ yang sebenarnya. Tinggi lebih dari dua meter, tubuh penuh otot, kedua tangan dan kaki tebal dan tampak kokoh. Bahkan hampir tidak ada jejak feminim di wajahnya.
Wanita itu adalah pemegang nomor VI, Perisai Nine Gates, Yolanda atau yang kerap dipanggil Yolan.
Di kursi nomor VII, ada seorang wanita dewasa yang memancarkan pesona menggoda. Entah dari rambut panjang bergelombang, tubuh yang indah, dan paras mempesona ... memang membuat lawan jenis tertarik padanya. Jika Annie tampak seperti teratai putih yang bersih dan suci, maka wanita ini terlihat seperti mawar yang menyebarkan wanginya sambil mencoba membujuk orang-orang memetiknya, tetapi malah terluka karena durinya.
Wanita tersebut adalah pemegang nomor VII, Sang Mawar Darah, Rosa.
Di kursi nomor VIII dan IX, terlihat wanita dengan paras hampir mirip. Mereka memiliki tubuh atletis, cukup tinggi, berkulit agak coklat sehat, dan terlihat seperti atlet wanita yang menawan. Jika dilihat perbedaannya, maka yang berada di kursi nomor VIII memiliki rambut agak panjang dan di kursi nomor IX pendek sebahu. Selain itu, nomor VIII membawa bukit dan nomor IX membawa padang rumput.
Mereka berdua adalah kakak beradik yang dijuluki Bayangan Nine Gates, Misa dan Mira.
Pada saat itu, Yolan yang menopang dagu berbicara dengan suara berat, hampir mirip laki-laki.
“Orang itu tidak hadir lagi? Apakah dia benar-benar layak memegang nomor II, Ketua?” tanya wanita itu dengan ekspresi tidak puas.
Mendengar ucapan Yolan, Annie masih memiliki ekspresi ramah di wajahnya seperti biasa.
“Tenang saja Yolan, Scarlet sama sekali tidak akan mengkhianati kita. Dia sudah meminta izin kepadaku, jadi tidak masalah,” ucap Annie.
“Izin? Di saat sepenting ini?” Yolan mengangkat alisnya, tampak tidak puas.
“Sudah, sudah. Pasti Ketua memiliki alasan kenapa dia mengizinkan Scarlet pergi.” Rosa melerai, lalu melirik ke arah Annie sambil tersenyum. “Bukankah begitu, Ketua?”
Melihat orang-orang menatapnya, Annie menghela napas panjang.
“Scarlet membiasakan diri dengan kemampuan barunya. Karena selain telah naik ke level 4, dia juga telah mendapatkan miracle root yang diinginkannya.”
Mendengar ucapan Annie, ekspresi orang-orang langsung serius. Bahkan Mei yang tenang juga mengerutkan kening.
Mereka semua tahu, selain Annie yang tidak memiliki level, yang paling tinggi di antara mereka adalah Mei, yaitu hunter level 4. Sementara itu, sisanya adalah hunter level 3. Bisa dibilang, Nine Gates adalah sebuah kelompok besar yang kuat. Namun, orang-orang itu juga tahu.
Scarlet di puncak level 3 bisa bersaing dengan Mei. Itu berarti ...
Sekarang wanita itu menjadi semakin kuat dan semakin berbahaya!
__ADS_1
>> Bersambung.