After Apocalypse

After Apocalypse
Mengatur Batasan


__ADS_3

Siang harinya.


‘Seperti yang kuduga. Para tentara bayaran akan dikirim ke tempat paling kacau.’


Memegang satu lembar catatan berisi informasi pribadinya dan tempat dirinya akan ditugaskan, Alexander diam-diam mengangguk. Seperti dugaannya, dalam pertemuan sebelumnya, kebanyakan besar hunter bebas ditugaskan ke tempat yang lebih kacau.


Sementara itu, pasukan asli dari Shelter 13 ditugaskan untuk menjaga Distrik 1 dan Distrik 2. Hanya sedikit yang ditugaskan ke Distrik 3 dan Distrik 4. Sedangkan Distrik 5, tampaknya orang-orang itu tidak mau repot mengurus para pengungsi.


Tentu saja, tidak dibiarkan begitu saja. Hanya saja, penjaga yang dikirim ke Distrik 5 tidak begitu banyak. Bisa dibilang sangat sedikit dan tidak ada orang kuat di antaranya. Hanya lima orang level 2 dan 20 orang level 1 yang membantu.


Padahal, Distrik 5 adalah area paling luas dan paling ramai. Prajurit sebanyak itu jelas kurang. Benar-benar ditangani begitu asal-asalan tanpa mempedulikan orang-orang yang tinggal di sana.


‘Lagipula, bagi mereka, para pengungsi sama sekali tidak berbeda dengan binatang buas yang hanya dimanfaatkan tenaga kerjanya.’


Memikirkan itu, Alexander tidak bisa tidak menghela napas panjang.


“Apakah ada yang salah, Sobat?”


Suara Clayton yang terdengar malas dan agak sembrono masuk ke telinga Alexander.


Pemuda itu menoleh lalu menjawab santai, “Bukan apa-apa.”


“Apakah benar-benar tidak ada masalah? Omong-omong, kamu akan ditugaskan ke mana, Alexander?” tanya Clayton dengan ekspresi penasaran di wajahnya.


“Aku akan pergi ke Distrik 5. Aurora juga akan pergi ke sama,” jawab Alexander dengan senyum di wajahnya.


“Eh? Kamu benar-benar pergi ke tempat kacau seperti itu?” gumam Clayton. Pria itu kemudian melanjutkan. “Ugh! Aku ditugaskan ke Distrik 3. Padahal aku ingin bertugas bersama dengan kalian. Sayang sekali, benar-benar sangat disayangkan.”


Alexander melirik ke arah Clayton. Jika bukan karena senyum di wajah pria itu, dia mungkin sedikit percaya. Namun ketika melihatnya, pemuda itu tidak bisa untuk percaya bahkan jika memaksakan dirinya untuk percaya.


“Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Aku tahu kamu pasti merasa nyaman dan lega karena beruntung ditugaskan ke Distrik 3 alih-alih Distrik 5 yang kacau. Meski begitu, aku tetap harus mengingatkan ...


Berhati-hatilah dengan para prajurit. Bahkan jika berada di kubu yang sama, itu hanya sementara. Aku tidak berpikir mereka memperlakukan kita dengan setara.”


Mendengar bisikan Alexander, Clayton mengangguk dengan ekspresi serius. Pria itu menepuk dadanya sambil berkata.


“Tenang saja, aku pasti akan beradaptasi dengan baik. Sebaliknya, kamu harus berhati-hati karena akhir-akhir ini para pengungsi menjadi semakin resah.”


“Dimengerti,” balas Alexander sambil mengangguk ringan.


Mereka berdua pun akhirnya berpisah. Keduanya sama sekali tidak berniat untuk pergi minum. Mereka memilih kembali untuk mempersiapkan diri. Lagipula ...

__ADS_1


Besok mereka akan mulai melaksanakan tugas dan tampaknya tugas itu tidak sesederhana kelihatannya.


---


Keesokan paginya.


Di rumah sewaannya, Alexander telah mempersiapkan diri. Pemuda itu berdandan cukup rapi. Bukan hanya mengenakan perlengkapan cukup lengkap dan bersih, tetapi dia juga memiliki senyum ramah di wajahnya. Senyum seorang junior yang baik dan rendah hati, membuat orang yang melihatnya langsung merasakan kesan baik.


“Sepertinya ini cukup? Seharusnya tidak terlalu berlebihan.”


Berbeda dengan senyum ramah di wajahnya, suara Alexander terdengar begitu datar. Sama sekali tidak ada fluktuasi emosi.


Setelah menyesuaikan nada bicaranya, Alexander pun pergi menuju ke tempat kerjanya.


Dikarenakan ini hari pertama mereka dipekerjakan, Alexander berangkat lebih awal. Pemuda itu berencana tiba di lokasi sebelum orang-orang. Bukan hanya untuk mempertahankan penampilan positif, tetapi juga bisa menggunakan waktu untuk mempelajari area sekitar tempat dia akan bekerja.


Sekitar jam setengah tujuh pagi, Alexander akhirnya tiba di lokasi.


Walau bukan yang pertama datang, pemuda itu termasuk lima besar yang datang lebih awal. Usai menunggu sekitar setengah jam, hampir semua orang berkumpul. Jika dihitung baik-baik, empat puluh dari tujuh puluh hunter bebas di tempatkan di sini.


Selain hunter bebas dan prajurit dari Blood Cross, ada juga para magang hunter yang diminta untuk membantu. Hampir semua magang yang mau ikut dikirim ke tempat ini. Meski tidak semuanya, jumlahnya saja sekitar 120 orang.


‘Orang-orang di atas benar-benar menggunakan para tentara bayaran dengan mudah. Kemungkinan, bayarannya juga murah dan tidak sesuai dengan nilai tukar poin aslinya.’


Pada saat semuanya berkumpul, para ksatria memerintahkan mereka untuk membentu 8 regu patroli untuk mengawasi berbagai area di Distrik 5. Ya. Delapan regu kecil itu dibuat karena jumlah hunter senior level 2. Mereka akan memimpin empat orang level 1 dan lima belas orang magang untuk bertugas.


Melihat peta dimana Distrik 5 dibagi menjadi area A sampai area H, sudut bibir Alexander berkedut. Dia tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


‘Delapan regu untuk delapan area. Sementara prajurit dari Blood Cross hanya berjaga di pintu atau pos, delapan regu berkeliling untuk menertibkan massa. Benar-benar menjadikan kami sebagai tenaga kerja murah!’


Walau mengeluh, Alexander masih pergi ke tempat dia ditugaskan. Dia akan mengikuti Regu F, dimana Aurora juga berada dalam regu yang sama. Pemuda itu berpikir hal tersebut wajar karena pihak atas pasti memiliki data dan semuanya dikelompokkan sesuai dengan data tersebut.


Pada saat melihat pemimpin regu, Alexander tidak bisa tidak memijat keningnya.


‘Bukankah itu di awal 50-an? Bahkan pertengahan atau menjelang akhir?’


Berbeda dengan pemimpin regu lain yang kebanyakan berusia sekitar 40 tahun, pemimpin Regu F tempat Alexander berada adalah lelaki tua level 2 yang berusia sekitar 50 tahun! Hal tersebut membuat pemuda itu mulai ragu apakah beruntung atau tidak.


“Hahaha! Perkenalkan, namaku adalah Barton. Mungkin aku terlihat tua, tetapi jiwaku masih muda!” ucap Mr Barton dengan tangan bersilang sambil tertawa.


Mr Barton adalah pria tua dengan armor standar lengkap. Dia memakai armor berat dan membawa pedang cukup besar di pinggangnya. Rambutnya telah memutih semua, tetapi masih terlihat energik karena tubuhnya begitu bugar dan terawat.

__ADS_1


Menarik napas dalam-dalam, Alexander menenangkan diri. Melihat sebagian orang ragu, dia maju ke depan dengan senyum ramah di wajahnya.


“Senang bertemu denganmu, Mr Barton. Namaku Alexander, Hunter level 1. Mohon kerja samanya,” sapa pemuda itu ramah.


“Oh?? Pantas saja kamu membuat banyak orang terkejut, Nak. Kamu sangat muda dan terlihat begitu menjanjikan. Bahkan mereka memanggilmu White Flash di level 1, padahal biasanya orang-orang mendapatkan julukan di level 2 atau lebih tinggi.” Mr Barton menyapa dengan ramah, sama sekali tidak pelit pujian.


Pada saat Alexander memperkenalkan diri, banyak magang terkejut. Kebanyakan dari mereka lebih tua daripada pemuda itu, tetapi jelas tidak seberuntung dirinya.


Saat itu juga, fokus mereka langsung berpindah ke arah wanita berjubah dan memakai topeng.


Merasakan tatapan mereka, Aurora mengangguk ringan sambil berkata, “Aurora, Hunter level 1.”


Pada saat itu, seorang pria berusia sekitar 35 tahun dengan tubuh kekar berjalan maju. Dia memakai pakaian bulu tebal dengan tengkorak binatang di bahu kanannya. Pria itu juga membawa kapak di punggungnya.


“Perkenalkan, namaku Joshua, Hunter level 1.” Joshua mengangguk dengan ekspresi ramah.


“Namaku Seamus, Hunter level 1. Salam kenal,” ucap pria berusia awal 30 tahun dengan pakian seperti pencuri. Agak berantakan, tetapi anehnya wajah pria itu cukup halus dan tidak terlihat licik. Sama sekali tidak cocok dengan pakaiannya.


Setelah itu, para magang hunter juga mulai memperkenalkan diri satu per satu. Kebanyakan dari mereka adalah pria dewasa, hanya ada dua atau tiga pemuda. Jelas, jalan para hunter memang tidak semudah kelihatannya, dan merekalah buktinya.


Usai memperkenalkan diri dan saling berkenalan, Mr Barton bertepuk tangan untuk mengalihkan perhatian.


Pada saat orang-orang itu melihat ke arahnya, lelaki tua itu pun berkata.


“Sebelumnya, ada yang ingin aku jelaskan kepada kalian.


Berbeda dengan para penjaga, kita direkrut sebagai tentara bayaran. Jadi, aku tidak akan menggunakan pangkatku sebagai pemimpin regu dengan semena-mena. Karena kita hunter yang bebas, kita memiliki batasan. Maksudku, privasi masing-masing.


Dalam keadaan darurat, aku akan memberi kalian perintah untuk bertarung atau mundur bersama. Kita harus bekerja sama, dan kalian harus mengikuti perintah semacam itu. Namun, ada juga perintah yang tidak perlu kalian ikuti.


Misalnya nona Aurora atau beberapa dua orang bertopeng di sana. Aku tidak akan memaksa kalian untuk mengungkapkan wajah atau semacamnya. Aku juga tidak meminta kalian memberiku makanan atau membayar tagihan untukku.


Intinya, kita hanya melakukan tugas menjaga keamanan bersama. Itu untuk menjaga kepentingan masing-masing, jadi tidak perlu membuat keributan dan menebar perselisihan. Lagipula ...


Tujuan kita mengikuti pengaturan ini sama.”


Mendengar ucapan Mr Barton, semua orang mengangguk. Mereka setuju dengan cara lelaki tua itu mengatur. Sama sekali tidak membuat paksaan dan harus tunduk pada peraturan. Hal semacam itu langsung memenangkan hati para bawahannya.


Melihat ke arah Mr Barton, Alexander diam-diam mengangguk.


‘Memang ... cabai yang lebih tua juga lebih pedas.’

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2