
Beberapa hari kembali berlalu.
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, Alexander dan enam orang lainnya akhirnya sampai di Shelter 13. Ketika lima orang lainnya pergi melapor, Aurora membawa Alexander yang ‘terluka’ kembali ke kediamannya.
Sesampainya di rumah, Aurora menutup pintu lalu menatap ke arah Alexander yang segera duduk di kursi dengan ekspresi malas di wajahnya.
“Apa?” tanya pemuda itu.
Sementara Daisy dan Aster agak panik ketika melihat keadaan Alexander yang tampak kurang baik, Aurora duduk di kursi lalu membuka topengnya. Dia menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi tidak puas di wajahnya.
“Apakah kamu tidak tahu seberapa merepotkannya merawatmu selama beberapa hari ini?” tanya Aurora tidak puas.
Mendengar ucapan wanita itu, Alexander mengangkat bahu dengan wajah santai. Dia kemudian melirik ke arah Daisy lalu berkata, “Ambilkan air untuk kami berdua.”
“Baik, Tuan.” Daisy mengangguk dengan ekspresi lembut di wajahnya.
Sementara itu, atas inisiatifnya sendiri, Aster mengambil air untuk membasuh wajah Alexander dan menyeka tubuhnya.
Pemuda itu sama sekali tidak tampak malu. Dia melepaskan baju dan celana panjang, hanya menyisakan celana pendek. Mengabaikan tatapan dingin Aurora ketika Aster membantu membersihkan tubuhnya, pemuda itu malah bertanya.
“Jadi ... apakah ada yang ingin kamu tanyakan?”
Mendengar itu, Aurora akhirnya mengangguk lalu membalas.
“Apakah itu keuntungan atau kerugian?”
Pertanyaan Aurora memiliki maksud yang jelas. Makhluk bermutasi atau tipe spesial itu memang sangat langka. Hanya saja, karena langkanya, kemampuan yang didapat dari miracle root mereka tidak diketahui. Bisa saja sangat kuat, tetapi juga bisa sangat lemah dan tidak berguna.
Mendengar itu, Alexander mengangguk ringan. Dia sendiri sudah melihat bagaimana miracle root Aurora bekerja.
Kemampuan dari laba-laba hitam itu membuat Aurora mampu mengeluarkan benang hitam beracun dari sepuluh jarinya. Wanita itu juga bisa menempel pada dinding atau langit-langit. Bisa dengan tangan atau kaki, tetapi tidak bisa digunakan jika menggunakan kaus kaki atau sarung tangan. Namun, sebagai gantinya, laba-laba bermutasi itu membuat Aurora bisa menciptakan sepatu dan gauntlet dari exo-skeleton.
Normalnya, jenis laba-laba tidak akan ada hubungannya dengan exo-skeleton. Namun, tampaknya perubahan itu terjadi karena mutasi dimana tubuh makhluk itu menjadi lebih keras dan tajam. Jadi, kemampuan yang Aurora dapatkan memang sangat menguntungkan.
Sedangkan kemampuan Alexander ...
“Jujur saja, itu lebih baik daripada milikmu. Namun, kemampuan itu memiliki beberapa kelemahan cukup fatal dimana bisa melukai musuh dan teman di sekitarnya,” jawab Alexander dengan ekspresi datar.
“Apakah kamu berniat menyembunyikannya?” tanya Aurora.
Meski itu adalah hak Alexander, tetapi wanita itu merasa agak kecewa. Mereka jelas sudah bekerja sama begitu lama. Namun, tampaknya pemuda itu belum bisa mempercayainya.
“Bukannya aku tidak mau menunjukkannya, Aurora. Namun, berbeda denganmu yang telah mendapatkan perlawanan racun (tingkat rendah), Daisy dan Aster bisa langsung terbunuh jika aku mengeluarkannya.
Lagipula, kamu belum bisa mengendalikan kekuatanmu, apalagi aku yang hanya mengerti dalam benak tetapi belum pernah mencobanya.”
Alexander menggelengkan kepalanya. Dia jelas mengerti apa yang sedang dipikirkan Aurora. Namun pemuda itu juga memiliki perhitungan sendiri.
“Jadi begitu ...” Aurora mengangguk ringan. “Kapan kita bisa keluar untuk berlatih?”
Mendengar itu, Alexander mengelus dagu. Setelah berpikir cukup lama, pemuda itu akhirnya menjelaskan.
“Empat hari istirahat, tiga hari keluar untuk berburu dan berlatih. Karena kemampuan yang kita dapatkan cukup banyak dan merepotkan, kita harus belajar untuk mengendalikan dan menguasainya secepat mungkin.
Kita akan keluar untuk mencari beberapa bahan agar bisa ditukar bahan makanan, untuk mempertahankan konsumsi harian. Sisa waktu akan kita gunakan untuk berlatih.”
__ADS_1
Apa yang dikatakan Alexander cukup masuk akal, jadi Aurora mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya. Dengan begitu, jadwal latihan mereka pun diputuskan.
---
Tanggal 25, bulan 6, tahun 399 kalender bulan hitam.
Di hutan yang jauh dari Shelter 13 dan jarang dikunjungi karena minimnya monster dan buah-buahan yang bisa diambil, tampak dua orang yang sedang bertarung.
Klang!
“Meski sudah sering melihat dan bertarung, tetapi itu memang curang, Al.”
Aurora yang kedua tangan dan kakinya dilapisi exo-skeleton yang membentuk kaki dan cakar monster mendongak ke atas, merasa agak kesal. Di musim panas ini, dia dan Alexander telah banyak berlatih. Mereka telah menguasai kemampuan masing-masing, tetapi wanita itu masih iri dengan kemampuan Alexander.
Sementara itu, Alexander melihat ke bawah sambil menatap Aurora. Bukan berdiri di atas cabang pohon, tetapi dia melayang di udara ... dengan sepasang sayap hitam di punggungnya.
Selain itu, mata Alexander berubah menjadi merah seperti darah. Lebih gelap dari mata Aurora, dan mirip dengan mata gagak bermata satu.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu mendarat. Dia menutup matanya lalu menarik kembali sayapnya. Ketika membuka matanya, sepasang mata merah sudah kembali normal.
“Sepertinya aku benar-benar memerlukan alat bantu. Jika tidak, pertarungan di siang hari akan menjadi sangat merepotkan.”
Alexander tersenyum masam. Kemampuan yang dia dapatkan sebenarnya sangat kuat, tetapi sulit dikendalikan dan memiliki kelemahan agak mencolok.
Pemuda itu bisa mengeluarkan sayap untuk terbang. Meski kecepatan terbang tidak terlalu cepat, tetapi cukup cepat untuk meninggalkan orang-orang yang berlari dan dia tidak dibatasi oleh ketinggian. Masalahnya, ketika dia mengeluarkan sayap, tangan kiri sampai pergelangan tangan berubah menjadi cakar. Saat itu juga, bulu dan cakarnya memiliki efek sangat beracun. Jika sampai mengenai teman, itu bisa membunuhnya.
Dalam waktu ini, Alexander telah mengendalikan racunnya. Pada akhirnya, dia bisa hanya mengeluarkan sayap (tanpa cakar) dan menekan racun di dalam tubuhnya. Namun, memang perlu banyak usaha untuk melakukan itu.
Alexander juga memiliki kemampuan untuk mengubah suaranya menjadi semua suara yang dia ingat. Terlebih lagi, dia juga bisa membuat suara tinggi yang mengganggu pendengaran musuh. Namun dia sendiri masih cukup terpengaruh. Bisa dibilang, memberi damage 100 tetapi menerima damage 70.
Sampai saat ini, Alexander belum bisa mengendalikannya dengan baik.
Alexander menyiasatinya dengan bergerak lambat dengan teknik gerakan khusus. Jika tidak, maka dia akan mengkombinasikannya dengan ledakan kecepatan sehingga musuh terlambat bereaksi.
Omong-omong, Aurora ternyata juga beruntung karena memiliki kemampuan kamuflasi bayangan.
Kemampuan terakhir yang Alexander dapat adalah mata merahnya. Ketika mengaktifkan miracle root, matanya langsung menjadi merah dan tidak bisa dihindari bagaimanapun caranya. Mata merah itu membuat Alexander mampu melihat sangat jauh dan bisa melihat di malam hari seolah siang hari.
Masalanya, kemampuan itu tidak bisa digunakan di siang hari. Ketika Alexander menggunakannya di siang hari, dia langsung merasa dibutakan. Otaknya berdengung dan agak pusing. Namun bukan warna hitam, dia hanya bisa melihat warna putih.
Pada awalnya, Alexander merasa latihan bisa membuatnya terbiasa. Itu benar, tetapi tidak sepenuhnya benar. Sekarang dia bisa melihat di siang hari, tetapi rasa terbakar di mata dan otak yang terasa pusing masih membuatnya tidak tahan.
Hal semacam itu membuatnya tidak fokus bertarung!
Alexander sangat ingat dimana dia berlatih terbang di pagi buta. Terjun dari tebing dengan kecepatan ekstrem. Namun, sinar fajar membutakannya.
Pemuda itu hampir terbalik dan nyaris mematahkan lehernya sendiri. Hampir pergi menemui kakek dan kakaknya tanpa sempat membalas dendam karena indahnya mentari pagi.
Kejadian itu membuat Alexander agak takut dan membenci matahari terbit padahal dulu sangat menyukainya. Jadi, sekarang dia semakin menyukai matahari terbenam. Namun merasa agak jijik dengan matahari terbit.
“Jika orang-orang tahu kamu mengeluh meski mendapatkan miracle root yang begitu kuat, mereka pasti sudah mengutukmu dengan sekuat tenaga,” kata Aurora dengan nada bercanda yang jarang terdengar.
“Entah mereka iri atau cemburu, itu tidak ada hubungannya denganku.” Alexander mengangkat bahu, tampak tidak begitu peduli.
“Omong-omong ... ada yang ingin aku bicarakan, Al.”
__ADS_1
“Ada apa?” tanya Alexander sambil menoleh ke arah Aurora.
“Aku ... Aku harus pergi di awal musim gugur ini.” Aurora menunduk. “Sepertinya akting kita hanya bisa berhenti sampai di sini.”
Aurora siap mendengar amarah atau ucapan kotor dari mulut Alexander. Namun, alih-alih protes, balasan Alexander malah begitu tenang.
“Jadi begitu,” ucap Alexander.
“Kamu tidak marah?” tanya Aurora.
“Tidak. Aku tidak marah. Sejak awal, aku tahu ini akan terjadi. Bahkan aku berpikir kita akan berpisah setelah masing-masing dari kita mencapai level 2. Bonus beberapa bulan untuk latihan bersama lebih dari dugaanku.
Walau sebenarnya ingin terus melakukan ini, entah sampai level 3 ... bahkan mungkin mencoba mencari jalan ke level 4. Namun, hal semacam itu tampaknya tidak masuk akal.”
“Kamu ... kamu tidak mencoba menghentikanku pergi?” tanya Aurora.
“Tidak, karena itu semua sia-sia. Jika kamu sudah berniat pergi, aku tidak bisa menghentikanmu. Sebaliknya, jika kamu berniat tinggal, aku pun tidak bisa mengusirmu.” Alexander menggeleng ringan.
Mendengar ucapan Alexander, tangan Aurora mengepal erat. Dengan kepala tertunduk, gadis itu akhirnya berkata, “Hari ini aku akan makan malam di tempatmu.”
“Baik,” balas Alexander.
Dengan begitu, mereka kembali ke Shelter 13.
Sesampainya di sana, mereka langsung pergi ke rumah masing-masing untuk istirahat sejenak. Baru ketika makan malam, Aurora datang ke rumah Alexander.
Makan malam terasa sangat biasa. Terasa santai, hangat, dan ramah. Sesekali Aurora juga berbincang dengan Daisy dan Aster. Namun, semuanya berbeda pada malam harinya.
“Apakah kamu yakin ingin melakukan ini? Jika melakukannya, terlambat untuk menyesalinya.”
Alexander menatap ke arah Aurora. Sementara Daisy dan Aster berada dalam kamar mereka, Aurora berbaring di atas ranjang pemuda itu.
Melihat wajah merah yang dipenuhi rasa malu, tetapi memiliki tatapan tegas membuat Alexander tahu kalau Aurora telah memutuskannya.
---
Keesokan paginya.
Daisy dan Aster membuka pintu kamar mereka. Kedua wanita itu tampak sangat malu karena mendengar pertempuran yang terjadi tadi malam. Meski begitu, mereka juga merasa agak kasihan karena tahu kalau Aurora akan pergi.
Keduanya melihat Alexander duduk di pinggir ranjang dengan ekspresi tenang. Aurora tidak ada di sana, jelas telah kembali meski kelelahan dan sulit berjalan.
Meski wajah Alexander masih datar seperti biasa, tetapi Daisy dan Aster melihat jejak kehilangan dalam tatapannya.
“Tuan! Masih ada waktu empat hari. Anda pasti bisa membujuk Nona Aurora jika-“
“Tidak perlu.”
Alexander menggelengkan kepalanya. Memaksakan senyum di wajahnya, pemuda itu melanjutkan.
“Kami berdua telah memutuskan jalan masing-masing, jadi tidak perlu saling menghentikan. Hanya saja, jika bisa ...”
Ekspresi Alexander menjadi lebih lembut.
“Aku harap bisa bertemu dengannya di masa depan.”
__ADS_1
Bersama dengan keputusan yang Alexander dan Aurora buat, duet antara dua rookie terbaik pun berakhir.
>> Bersambung.