
Selesai minum dengan Clayton, Alexander pergi menuju ke Distrik 4. Setelah melalui beberapa putaran, pemuda itu sampai di depan rumah kecil. Lebih besar daripada satu kamar berhimpitan di DIstrik 5, tetapi memang agak buruk di antara ‘rumah’ di Distrik 4.
Setelah sedikit ragu, Alexander memutuskan untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Beberapa saat kemudian, pintu akhirnya setengah terbuka. Sosok berjubah hitam dan memakai topeng keluar sambil membawa pedang yang telah terhunus. Melihat kalau itu adalah Alexander, dia akhirnya berkata.
“Ada apa datang ke tempatku? Jika tidak ada yang penting, kembalilah.”
Mendengar perkataan dingin itu, Alexander tersenyum ramah sambil berbisik, “Bukankah musim dingin datang? Malam ini sangat dingin, bagaimana kalau aku membantumu menghangatkan diri?”
Baru saja ucapan Alexander diselesaikan, pintu langsung ditutup. Namun, sebelum pintu tertutup, Alexander mengganjalnya dengan satu kakinya. Saat itu juga, suara tidak puas terdengar.
“Sudah kubilang, jika tidak ada yang penting, kembalilah!” ucap Aurora dingin.
Alexander mengangkat bahu. Dia membuang penampilan bercanda sebelumnya. Memiliki ekspresi datar di wajahnya, pemuda itu berkata, “Aku memiliki berita penting. Jika ingin mendengar keseluruhannya-“
“Masuk saja,” ucap Aurora dengan ekspresi tidak sabar.
Melihat pintu terbuka, Alexander memiringkan kepalanya. Pemuda itu masuk ke dalam kamar. Setelah itu. dia tidak bisa tidak mengeluh, “Kamu kurang berhati-hati.”
“Sebaliknya, aku melakukannya karena aku tidak bodoh.” Aurora menutup pintu dengan tidak sabar. “Bukankah malam ini hujan salju? Bisakah aku tetap keluar denganmu hanya untuk menemukan tempat aman untuk berbicara?”
“Biasanya kamu tidak mengizinkanku masuk. Lagipula, tidak ada pilihan lain. Kita tidak bisa berbicara di jalanan. Kamu juga tidak mau pergi ke tempatku,” ucap Alexander datar.
“Itu tidak lucu, Al. Jadi ...” Aurora mempersilahkan pemuda itu duduk. “Apa yang kamu inginkan dariku?”
Alexander duduk di atas kursi. Melirik ke arah satu kamar yang bersih dan rapi, dia sedikit mengangguk. Pemuda itu kemudian menatap ke arah Aurora yang duduk di atas ranjang.
“Kamu pasti mendengar apa yang terjadi hari ini, kan?” tanya Alexander.
“Ya.” Aurora mengangguk serius. Dia kemudian melepaskan topengnya. “Kamu berada di sana dan melihatnya secara langsung?”
Alexander sama sekali tidak merubah ekspresinya. Pemuda itu berkata dengan nada serius.
“Aku di sana, dan orang itu benar-benar kuat. Mungkin hanya pemimpin Shelter 13 yang berada di level 4 yang bisa mengalahkannya. Wanita itu berada di level 3, dan dia ... tampaknya sangat sulit dilawan oleh orang-orang di level yang sama.”
Pada saat mendengar ucapan Alexander, tubuh Aurora bergetar hebat. Dia mengepalkan tangannya dengan semangat. Tatapan penuh kerinduan tidak bisa disembunyikan di matanya.
__ADS_1
Alexander sedikit tercengang ketika melihat penampilan Aurora. Sekarang wanita itu tidak memakai jubah atau topengnya. Bisa dibilang, setiap gerakan Aurora tertangkap oleh matanya.
Rambut pirang lurus sampai ke punggung, kulit putih, dan lekukan tubuh yang bisa dibilang panas. Ditambah dengan penampilannya yang cukup berisi dan tidak terlalu kurus seperti orang-orang yang hampir mati kelaparan ini, bohong jika Alexander berkata dirinya tidak tertarik.
Sebagai pemuda normal, Alexander tentu saja memiliki perasaan semacam itu. Hanya saja, dia bisa menekan dan mengendalikannya dengan baik.
Pada saat melihat wajah Aurora, Alexander tidak bisa tidak menghela napas dalam hatinya.
Aurora sebenarnya terlihat cantik. Kulit putih, bentuk wajah cantik, bahkan memiliki mata merah bak rubi yang unik dan indah. Hanya saja, tampak dua luka di bagian kiri wajahnya. Dua luka tersebut adalah tebasan pisau vertikal dari dahi melewati mata dan sudut bibit, sampai akhirnya berhenti di dagu.
Setelah berbulan-bulan menjadi rekannya, Alexander cukup mengenal wanita itu. Bahkan dia tahu alasan kenapa Aurora ingin menjadi hunter yang kuat. Lebih tepatnya, seorang hunter perempuan yang dihormati.
“Apakah kamu merasa jijik dan tidak nyaman melihat wajah buruk ini?” ucap Aurora sambil mengelus luka di wajahnya.
Alexander menggeleng ringan lalu berkata, “Sama sekali tidak.”
Pemuda itu tahu alasan kenapa Aurora melukai dirinya sendiri. Sebagai perempuan, dia benar-benar tidak dianggap sebagai manusia. Bahkan di keluarganya yang terbilang cukup baik, Aurora tidak diperlakukan dengan baik.
Ayah dan kakaknya ingin menjualnya demi hubungan. Tentu saja, maksudnya bukan dijual sebagai budak. Aurora akan dijodohkan dengan pria dari keluarga yang lebih besar tanpa menanyakan pendapatnya.
Merasa kalau dirinya sama sekali tidak lebih baik daripada alat di mata keluarganya, Aurora memilih untuk melukai wajahnya sendiri. Melukainya cukup parah sampai hampir kehilangan salah satu penglihatannya. Untung saja, meski lukanya terlihat cukup mengerikan, matanya terselamatkan.
Pada akhirnya, Aurora melarikan diri dari rumah dan mulai hidup sebagai hunter. Tentu saja, awalnya sangat berat. Perlu waktu hampir dua tahun sebelum dia menjadi hunter resmi. Setelah menjadi hunter level 1, dia terhenti hampir satu tahun karena tidak bisa berkembang di shelter tingkat menengah. Pada akhirnya pindah ke Shelter 13 dan bertemu dengan Alexander.
“Sudah aku bilang, aku tidak peduli dengan penampilanmu. Sebaliknya, ketika melihat luka itu, aku merasakan ketegasan dalam keputusan yang kamu pilih,” sela Alexander sambil menggeleng ringan.
“Mulutmu benar-benar manis, Al. Meski masih muda, kamu benar-benar pandai merayu orang.” Aurora berkata dengan nada setengah bercanda, sama sekali tidak cocok dengan tempramennya.
“Dengan pedang besar menggantung di atas kepala, tentu saja seseorang bisa menjadi lebih dewasa dibanding rekan seumurannya.” Alexander mengangkat bahu.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya mengangkat tangan untuk memberi isyarat agar Aurora diam. Pemuda itu kemudian berbisik pelan.
“Clayton berkata kalau besok Shelter 13 akan melakukan wajib militer. Besok mereka akan mulai mengumumkan dan mulai merekrut orang sebagai anggota sementara. Kata orang itu, semuanya terkesan sukarela tetapi kita harus mengikutinya.
Dari penjelasan Clayton, seharusnya orang-orang itu akan mulai mengumpulkan hunter dan membuat mereka menjadi tentara bayaran untuk memecahkan masalah kekacauan. Menekan orang-orang di Distrik 3 dan Distrik 5 agar tidak membuat ulah.
Walau tidak dipaksa, tetapi aku merasa kita harus bergabung. Lagipula, mereka pasti akan mencatat dan menargetkan kita jika tidak bergabung. Bahkan jika kita bersikap netral, tetapi kita akan dianggap musuh.
Hal semacam itu tidak menguntungkan, jadi kita akan bergabung sebagai tentara bayaran. Dengan begitu kita bisa mencari celah di antara kekacauan ini. Menghindari masalah yang tidak perlu agar bisa bertahan di Shelter 13.”
__ADS_1
Mendengar penjelasan Alexander, ekspresi Aurora menjadi semakin serius. Dia jelas tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi semakin berantakan. Setelah menghela napas panjang, wanita itu akhirnya berkata.
“Dimengerti.”
---
Keesokan paginya.
Sama seperti yang dikatakan oleh Clayton, para hunter akhirnya menerima panggilan. Hanya saja, bukan panggilan langsung. Sebaliknya, mereka semua membunyikan lonceng besar yang berada di tengah Distrik 4.
Itu adalah pertanda darurat dimana orang-orang diminta untuk berkumpul bersama.
Sekitar pukul setengah delapan pagi, orang-orang berkumpul di lapangan cukup luas tengah Distrik 4. Banyak orang datang, bahkan kebanyakan dari mereka membawa keluarga karena tidak tahu apa yang terjadi.
Dalam sekilas, hunter yang Alexander lihat berjumlah puluhan. Bahkan jika kurang dari seratus orang, tetapi ada lebih dari tujuh puluh hunter bebas di sini. Sama sekali tidak terikat dengan Blood Cross.
Melihat sosok pria paruh baya yang muncul dikelilingi banyak penjaga, mata Alexander menyempit.
‘Seorang petinggi level 3? Sudah dimulai, kah?’
Sembari memikirkan itu, Alexander mengamati sekitar. Melihat kalau Clayton dan Aurora hadir, dia mengangguk ringan ke arah mereka lalu kembali fokus pada pria paruh baya yang baru saja datang.
“Maafkan aku karena telah membuat kalian datang ke sini dengan panik. Perkenalkan, namaku Roy. Kalian bisa memanggilku Sir Roy seperti para prajurit memanggilku.
Alasan kenapa aku di sini adalah untuk meminta tolong kepada kalian. Meski jumlah penjaga (tentara) di Shelter 13 banyak, tetapi tidak cukup untuk menangani masalah ini. Bukan hanya monster yang mulai menjadi ganas di musim dingin, tetapi warga menjadi tidak terkontrol karena kelaparan di musim dingin. Kedatangan penjahat kemarin juga membuat situasi semakin tidak terkontrol.
Oleh karena itu, aku minta tolong kepada kalian untuk ikut membantu menstabilkan situasi. Tentu saja, selain dianggap sebagai anggota sementara, kalian akan mendapatkan hadiah kontribusi yang sesuai dengan misi yang kalian lakukan.
Jadi, sekali lagi ... tolong bantu kami.”
Mendengar ucapan Sir Roy, banyak orang saling memandang. Situasi menjadi semakin ramai. Belum lagi, banyak hunter bangga yang merasa tidak puas dengan sikap Sir Roy ketika meminta mereka. Jadi, sebagian besar dari mereka menolak.
Sementara itu, beberapa orang mulai maju dan bertanya. Akhirnya, ketika Sir Roy meminta orang yang ingin membantu berkumpul, Alexander ikut maju perlahan.
Pemuda itu memandang para prajurit yang tampak sombong dengan senyum ramah di wajahnya.
‘Baiklah ... sekarang permainan macam apa yang kalian ingin mainkan?’
Memikirkan itu, mata Alexander berkilat dingin. Pada akhirnya, mengikuti kerumunan dan berbaur sambil menunggu pengaturan berikutnya.
__ADS_1
Sama seperti ular yang bersembunyi dibalik dedaunan, dengan sabar menunggu waktu untuk menunjukkan taringnya.
>> Bersambung.