
Tiga hari kemudian.
Alexander melihat rumah yang sepi dengan ekspresi kosong di wajahnya. Kemarin, kelima wanita itu pergi meninggalkan Shelter 1. Tujuan mereka pergi adalah untuk memburu miracle root untuk Nene, Jane, Daisy, dan Aster.
Pada awalnya Alexander ingin ikut karena khawatir, tetapi ditolak dengan keras oleh mereka. Selain itu, mereka khawatir akan terjadi masalah jika sosok V menghilang. Jadi menyuruh pria itu tinggal di Shelter 1 sementara mereka berburu miracle roots sambil mengasah diri.
Sedangkan Aurora sendiri tidak berniat untuk mencari miracle root, kecuali bisa menemukannya secara kebetulan dan memiliki cara untuk mengalahkan lawan. Bisa dibilang, sejak awal dia belum berencana mendapatkannya karena bingung harus memilih apa.
Waktu yang Alexander tentukan bagi mereka adalah satu bulan. Bisa mendapatkan miracle root atau tidak, mereka harus kembali setelah waktu habis. Di akhir musim gugur, kemungkinan ada banyak monster yang bergerak untuk mempersiapkan hibernasi. Meski tidak separah ketika monster terbangun di musim dingin, kelaparan, lalu membuat kekacauan, tetapi masih cukup berbahaya. Alexander takut sesuatu terjadi pada mereka.
Untuk mencegah beberpa hal yang tidak diinginkan terjadi, Alexander meminta mereka kembali setelah waktunya habis.
Dikarenakan mereka semua pergi, Alexander membuat pengumuman kalau Vermillion Shop akan tutup sampai akhir tanggal 15 bulan depan.
Jika hanya mengurus Vermillion Shop, meski berat, pria itu masih bisa melakukannya sendiri. Hanya saja, dia masih harus menjadi V dan mengurus banyak hal lain. Entah itu mengurus Grey Triangle Pavillion, atau berlatih bersama dengan Yona. Jadi menutup toko adalah pilihan paling bijak.
“Setelah tinggal bersama mereka, tinggal sendirian membuatku merasa agak kesepian.”
Alexander menghela napas panjang. Setelah sarapan, pria itu segera bangkit lalu pergi mengunjungi rekan lama yang sudah jarang dia kunjungi.
Sekitar satu jam kemudian.
“Aku kira kamu sudah melupakanku, Faust.”
Mendengar itu, Alexander mengangkat bahu lalu berkata dengan ekspresi santai.
“Itu lucu, Tuan Damian. Aku jelas masih mengirim ramuan setiap bulan. Bagaimana bisa aku melupakanmu? Omong-omong, aku akan sedikit bebas bulan ini, jadi sesekali akan mengunjungimu,” balas Alexander.
“Masuklah.”
Damian mengajak Alexander masuk, langsung pergi ke kantor lalu menutup pintu lalu menatap ke arah rekan kerjanya itu dengan ekspresi lelah di wajahnya.
“Kamu benar-benar membuatku kerepotan, Faust.” Damian memijat pelipisnya dengan wajah lelah.
“Eh? Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa kan?” ucap Alexander bingung.
Damian tidak langsung menjawab Alexander, tetapi mempersilahkan pria itu untuk duduk. Ketika mereka berdua duduk berseberangan dan saling menatap, barulah dia berbicara dengan serius.
“Kamu telah membuat kekacauan,” bisik Damian.
“???” Alexander memiringkan kepalanya.
“Vermillion Shop yang tutup memang membuat sedikit kekacauan, tetapi bukan itu yang aku maksud. Karena gerakan yang dilakukan ‘dirimu satunya’, banyak hal menjadi semakin berantakan.” Damian menggaruk kepalanya dengan ekspresi tertekan.
“Memangnya ada masalah apa? Aku hanya ingin menghasilkan banyak uang. Apakah itu berlebihan? Merusak pasar?” tanya Alexander.
“Tidak, tidak, tidak. Bukan itu masalahnya. Apa yang kamu perbuat membuat banyak orang-orang biasa mulai berani. Mereka semakin berani menentang keluarga besar. Itulah masalahnya,” jawab Damian.
“Apakah kamu juga seperti bangsawan kuno itu, Damian? Kamu tidak ingin orang-orang menjilat kakimu dan berpenampilan sombong seperti itu kan?” Mata Alexander menyempit.
__ADS_1
“Tentu saja bukan. Hanya saja ... situasi menjadi agak kacau!” gumam Damian.
“Tarik napas dalam-dalam. Tenangkan dirimu, lalu ceritakan padaku perlahan.” Alexander mengingatkan.
Damian menarik napas dalam-dalam. Setelah ekspresinya menjadi lebih tenang, pria itu pun mulai menjelaskan.
“Kamu tahu kalau Yang Mulia telah meninggal kan?” ucap Damian.
“EH?” Mata Alexander terbelalak, tampak sangat terkejut.
“Orang-orang itu tidak mengatakannya padamu?” ucap Damian dengan ekspresi heran di wajahnya.
“Itu ...” Alexander tampak bingung. Dia mengelus dagu sambil mencoba mengingat sesuatu. “Sepertinya pernah mengatakannya kepadaku. Namun aku terlalu fokus membangun Grey Triangle Pavilion dan mengatur banyak hal, jadi melupakannya. Memangnya ada yang salah?”
“Tentu saja ada yang salah!” tegas Damian. “Kamu tahu apa yang terjadi jika Yang Mulia tidak menunjuk penerus tahta berikutnya kan?”
Pupil mata Alexander menyusut, dia kemudian bergumam, “Itu ... perebutan hak tahta dan kekuasaan?”
“Itu dia masalahnya.” Damian mengangguk berat. “Dari semua anak Yang Mulia, ada dua calon yang diakui karena memiliki penampilan penerus Keluarga Rosewald. Keduanya adalah Tuan Alvonso dan Tuan Albefort. Para anggota keluarga besar mulai memilih kubu mana yang harus mereka ikuti. Bisa dibilang, kekuatan Blood Cross mulai terpecah.”
“...” Alexander tampak serius.
“Sekarang banyak orang mulai menentang para keluarga besar. Orang-orang itu percaya kalau mereka bisa memiliki penampilan baik, minum anggur harum, dan menjalani kehidupan tidak kalah dengan keluarga besar. Jika itu dalam keadaan normal, aku tidak akan khawatir karena peningkatan hidup semacam itu bisa menjadi baik asalkan bisa dikendalikan.
Masalahnya, sekarang kekuatan mulai terpecah belah. Bisa dibilang, orang-orang biasa itu sangat mengancam kami. Belum lagi jika salah satu kubu bisa memanfaatkan kekuatan mereka untuk menghancurkan lawan. Itu benar-benar akan menjadi sangat mengerikan,” ucap Damian yang sadar keluarga besar tidak dalam posisi baik.
“Bukankah itu berarti kamu bisa memanfaatkan orang-orang itu demi mencapai tujuanmu? Kemenangan penuh?” tanya Alexander dengan nada setengah bercanda.
Namun, sekarang tidak ada lagi posisi netral. Bahkan jika memilih posisi netral, orang-orang masih akan membeciku hanya karena aku terlahir dari keluarga besar. Ini benar-benar sesuatu yang merepotkan. Aku benar-benar akan mati.”
Melihat Damian begitu tertekan, Alexander menggelengkan kepalanya. Dia menepuk pundak pria itu lalu meyakinkan.
“Tenang saja, Damian. Kamu pasti baik-baik saja. Kamu bisa berada di posisi aman, setidaknya sampai semua ini tenang,” ucapnya.
“Pergi keluar dari Shelter 1? Aku sudah memikirkannya, tetapi dunia luar sekarang lebih berbahaya!” balas Damian tanpa daya.
“Bukan. Bukan itu yang aku maksud,” ucap Alexander dengan senyum misterius di wajahnya.
“Lalu apa yang kamu maksud?” tanya Damian dengan ekspresi kosong di wajahnya.
“Di Shelter 1 ini, kamu adalah orang yang paling aku percayai, Damian. Apakah kamu juga mau mempercayai ucapanku?” tanya Alexander serius.
“...”
Awalnya Damian tertegun, tetapi akhirnya dia mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Kamu tahu tempat mana lebih aman dan terpercaya daripada kedua calon pemimpin baru?” tanya Alexander.
Damian langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ikuti Nona Annie Rosewald. Dia mungkin dianggap putri yang lemah dan sakit-sakitan, tetapi dia memiliki pengawal yang sangat kuat. Selain itu, aku dengar dia dipercaya barisan ksatria. Wanita itu ada berada di posisi netral, jadi, setidaknya kamu akan aman ketika berada di belakang punggungnya.
Orang-orang pasti lebih mempercayai wanita itu daripada para calon pemimpin, jadi enggan melawan ‘orang-orang netral’ di sisi Nona Annie Rosewald. Selain itu, kamu harus merahasiakan ini. Jika sampai terlalu banyak orang yang tahu dan pergi ke wanita itu, dia juga akan dikeluarkan dari posisi netral karena dianggap sebagai ancaman.
Terakhir ...”
Alexander menepuk pundak Damian dengan senyum lembut di wajahnya.
“Jika ada sesuatu di sana, katakan saja langsung padaku.”
***
Malam harinya, di lantai tiga Grey Triangle Pavilion.
“Teman-temanku. Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian dalam rapat penting ini.”
Alexander duduk di kursinya, berbicara dengan tiga orang lain yang mengelilingi meja bundar di depan mereka. Ketiga orang itu tampak sedikit bingung karena jarang sekali V memanggil mereka jika tidak ada hal penting.
“Pertama-tama, aku ingin berkata kalau kalian sudah berlebihan. Mungkin tidak pantas bagi junior sepertiku berkata seperti ini, tetapi kecerobohan kalian bisa menjadi tindakan bunuh diri.” Alexander berkata dengan nada dingin.
“Apa maksudmu, V? Katakan lebih detail sehingga kami lebih memahaminya,” ucap Sir Gareth.
“Maksudku, aku tahu aliansi ini berakhir dengan baik dan kekuatan semua kelompok meningkat. Namun ini bukan alasan kenapa kita semua bisa sombong. Kehidupan kita membaik, keseharian kita menjadi lebih makmur dan bisa bersaing dengan para keluarga besar yang agak berantakan. Namun, jangan sombong dulu.
Aku telah melihat banyak hunter bebas yang berani menentang Blood Cross. Apakah kalian gila? Apakah kalian pikir mereka hanyalah serangga kecil yang bisa diinjak sampai mati? Sebaliknya, bahkan jika semua hunter bebas mencoba menentang, kitalah yang akan terbantai!
Mereka semua belum terpecah belah dan konflik belum menjadi lebih dalam. Ada kemungkinan besar mereka menyatukan kekuatan untuk menyingkirkan kita, orang luar yang sombong dan coba naik ke panggung.
Jika mereka semua bergabung. Ada banyak hunter level 4, setidaknya ada 10 dan itu bisa memusnahkan semua hunter bebas dengan santai.
Masih ingin sombong?”
Mendengar ucapan Alexander, ketiganya menunduk. Sir Gareth tidak memiliki banyak perubahan di wajahnya. Tuan Wilson mengelus dagu, tampaknya sedikit malu karena dia semakin berani melakukan hal-hal buruk padahal diawasi Blood Cross. Sedangkan Tuan Lenka, dia adalah orang yang paling malu karena kata-kata Alexander seperti tamparan keras langsung ke wajahnya.
Meski begitu, Tuan Lenka bukanlah orang yang berpikiran sempit. Dia tahu apa yang dikatan Alexander ada benarnya, jadi dia hanya bisa menghela napas panjang lalu bertanya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, V?”
“Ingat tujuan awal kita bersatu!”
Alexander berseru. Di depan mata ketiga lelaki tua itu, dia mengulurkan tangannya lalu mengepal erat-erat.
“Kita bergabung agar kita bisa bertahan dari bujukan orang-orang itu. Agar tidak dipaksa oleh mereka berperang dan dikorbankan begitu saja. Kita harus bersatu dan lebih menutup diri. Kita harus bersikap netral dan meyakinkan mereka semua kalau kita berada di kubu netral, karena memang begitulah kita.
Kalian juga harus ingat, Temanku! Kemenangan bukan berarti kita harus mengalahkan mereka atau menggantikan mereka. Bukan juga berada di posisi lebih tinggi dan memerintah mereka.
Kemenangan itu ...”
Tekanan mengerikan muncul dari tubuh Alexander. Sama sekali tidak cocok dengan hunter level 3, dan tampak lebih mengerikan padahal dia jelas hunter level 3.
__ADS_1
“Berarti orang yang bertahan sampai akhir.”
>> Bersambung.