Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Sulit Melupakan


__ADS_3

Hari ini Burhan akan menawarkan kesepakatan pada Alex. Karena Alex sekarang juga sedang di penjara. Apa penawaran Burhan buat Alex?


"Tuan Burhan, aku ingin menawarkan kerjasama yang baik dengan anda. Apakah anda mau bekerjasama denganku?"


"Kau siapa? kau bahkan belum memperkenalkan dirimu padaku," ucap Alex.


"Aku teman Clara, dan aku ingin kau mencabut tuntutan mu padanya, dan aku akan mengusahakan tuntutan mu juga di cabut oleh Agam," jawab Han.


"Apa? Kau teman Clara? Teman seperti apa kau? Bahkan Agam saja tidak perduli pada mantan istrinya itu."


"Aku adalah teman masa kecilnya, jadi? bagaimana, apakah kau bersedia mencabut tuntutan mu pada Clara?" tanya Burhan lagi.


"Bagaimana kalau kau mengingkarinya setelah aku melepaskan Clara," ragu Alex pada Han.


"Aku bukan orang yang munafik, aku akan menepati janjiku, kalau kau melepaskan Clara, aku pastikan, kau pun akan lepas dari sini."


"Bagaimana kalau Agam menolak untuk melepaskan ku? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Alex lagi.


"Tidak mungkin Agam menolaknya, karena, walau bagaimana pun, Clara adalah wanita yang pernah di cintai nya sejak berpuluh-puluh tahun silam."


Burhan terus membujuk Alex, agar lelaki itu mau melepaskan tuntutannya pada Clara.


Kring kring


Telepon Burhan berdering. Han pin merogoh saku celananya dan menerima telepon.


"Hello Mi, ada apa?"


"Istrimu melahirkan Ahan! Cepatlah kau pulang!" ucap suara di seberang sana dengan nada yang bergetar.


"Iya Mami, baiklah, aku segera pulang," sahut Han.


Telepon pun di tutup. Burhan tampak bahagia mendengar kelahiran sang anak pertama.


"Baiklah Tuan Alex, aku akan kembali minggu depan, kau pikirkan saja tawaranku itu. Sekarang aku mau pulang kampung duku, karena istriku sedang,lahiran."


"Aku tidak berjanji padamu, sebaiknya kau hubungi dulu Agam dan bersepakatlah dengannya, setelah Agam ke mari sendiri mungkin aku,akan memikirkan tawaranmu itu."


"Baiklah nanti aku akan menghubungi Agam dan keluarganya sekarang aku perlu pergi dulu, untuk menjenguk istriku dan juga anakku yang baru lahir, ingat! hanya satu minggu aku memberimu kesempatan untuk berpikir, setelah ini aku tidak akan memberikanmu kesempatan lain!"


Burhan pun pergi meninggalkan kantor polisi tersebut.


***


Agam dan Adi kini tampak duduk bersama di sofa ruang tamu. Sepertinya mereka sedang membicarakan perihal permintaan maaf yang Adi mohonkan kepada Agam dan juga Kiara.

__ADS_1


"Jadi benar kau sama sekali tidak ingat kalau sekarang kau dan Kiara sudah berpisah?" tanya Agam.


"Benar, aku sama sekali tidak ingat, aku hanya mengingat masa-masa kami berdua. Namun karena kalian semua memaksaku untuk mempercayai perkataan kalian, maka aku akan mempercayainya. aku benar-benar minta maaf atas kesalahanku kemarin yang hampir mencelakai Kiara. Minggu depan aku akan pergi ke luar negeri untuk menyelesaikan kuliahku."


"Oh ..., baguslah kalau aku akan pergi ke luar negeri, mungkin kau akan ingat sesuatu nanti, dan bisa melupakan istriku ini," ketus Agam masih sedikit marah.


"Terima kasih Tuan Agam, kalau kau memberikan maaf padaku, tolong jaga Kiara baik-baik, karena dia adalah wanita yang sangat kucintai," ucap Adi.


Mendengar perkataan Andi, dia merasa geram, ada laki-laki lain yang mengatakan bahwa mencintai istrinya tersebut. Namun Adi tidak salah, karena memang dia sangat mencintai Kiara saat pacaran dulu.


"Kau tidak perlu berpesan seperti itu padaku, Adi! Karena dia itu Istriku, yang berhak mencintainya itu, adalah aku, sebagai suaminya, tidak boleh ada orang lain mengatakan cinta kepadanya," ketus Agam.


"Terima kasih Tuan, Agam, kalau begitu aku permisi."


"Naiklah."


Adi pun pamit dan bersalaman kepada Agam dan juga Pak Aswin, namun ketika Adi ingin bersalaman dengan ketiga wanita yang ada di depannya, tentu saja mereka menolak karena sekarang mereka sudah hijrah, mereka hanya mengulurkan tangannya dan meletakkan di atas dada mereka.


Sepeninggalan Adi, kini Aswin, Mentari dan Agam tampak kaku, ini juga adalah pertemuan pertama mereka sejak berpuluh-puluh tahun menghilang.


"Mentari, Apakah kau bisa memaafkan ku?" tanya pembuka Aswin, setelah Adi pergi dan mereka kembali duduk di sofa.


"Aku tidak tahu Mas, sudah sangat lama kau meninggalkan kami, bahkan kami sangat terpuruk sebulan ini karena perusahaan yang diambil oleh Adikmu yang serakah itu," sahut Mentari.


"Sekarang aku sudah menembus kesalahanku, aku sudah mengambil perusahaan itu darinya, aku harap kita bisa kembali ke rumah kita yang lama, dan kembali menata hidup kita yang baru," ajak Aswin.


"Aku sudah tua, tidak mungkin aku seperti dulu lagi, dan sekarang apalagi aku akan memiliki Cucu, aku sangat bahagia, Oh iya, siapa namamu tadi? Kiara Iya?"


"Iya Pah."


"Bukankah kau wanita yang ada di warung empek-empek waktu itu? yang aku kasih uang Rp100.000 kan?"


Ternyata ingatan Tuan Aswin masih baik, dia masih mengingat wanita yang pernah diberi uang olehnya.


"Kamu memberi Kiara uang? untuk apa memberikannya? tanya Mentari.


"Saat itu dompetku ketinggalan di warung itu, lalu Kiara mengembalikannya padaku."


"Pah, sebenarnya saat itu aku sudah tahu kalau Papa adalah ayah Bang Agam...."


"Apa ...."


"Iya Pah."


"Jai ..., kau sudah tahu kalau aku ini ayah mertuamu? kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?" tanya Aswin greget kesal.

__ADS_1


"Karena aku tidak ada izin dari Bang Agam. Bahkan aku juga sudah membantu papa agar Bang Agam menerima Papa di keluarga ini lagi, Papa dengar kan saat itu aku mengatakan kalau usia bapaknya sudah tua, seharusnya Bapak itu berkumpul dengan keluarga," sahut Kiara.


"Oh..., jadi waktu itu kau sengaja mengatakan hal tersebut?"


"Iya Pak, sepanjang jalan pulang pun aku terus membujuk bang Agam, agar dia bisa memaafkan papa dan juga membujuk mama untuk bersatu," sahutnya lagi.


"Oh, jadi kau sudah tahu?"


"Iya."


"Lihatlah Mentari! bahkan menentumu saja yang belum pernah bertemu denganku langsung mengenaliku, dan mau menerima aku."


"Itu karena dia tidak tahu masa lalu kita, kau ingatkan terakhir kali kau pergi itu seperti apa? saat itu aku menangis histeris saat aku menemukan chat di hp-mu, lalu kau pergi dan terjadilah kecelakaan itu."


"Iya aku tahu itu, dan saat itu aku memang sangat bod*oh dan pada saat tersebut aku juga langsung pergi dengan wanita itu, dan kami pun kecelakaan. Sampai saat ini aku belum tahu keadaannya bagaiman?"


"Apa? apa maksudmu Mas? Jadi kau pergi dengan wanita itu dan saat kecelakaan itu kau juga berdua dengannya?"


"Iya, Apakah kau tidak tahu? apakah kalian tidak menemukan seseorang di dalam mobilku saat kecelakaan itu?"


Kemudian Agam pun mengetuk jidatnya karena merasa percakapan mereka ini terlalu bo*doh, karena Agam tidak pernah memberitahu mamahnya pada saat kecelakaan, ada seorang wanita yang tewas di dalam mobil tersebut.


"Ya Tuhan..., apa ini? benar-benar keterlaluan, benar-benar bajing*an!" ketus Mentarii.


"Itu dulu Mentari, sekarang aku sudah melupakannya, Aku ingin kita hidup dari awal lagi."


"Jadi saat itu kau pergi dengannya, kemudian kecelakaan, itu namanya kalian sedang dikutuk oleh semesta. Kalian sedang di azab oleh Tuhan. Lalu ..., seandainya sekarang wanita itu ada, apakah Kau juga akan kembali bersamanya?"


"Sudah Mah, Wanita itu sudah meninggal,",sahut Agam.


"Apa maksudmu?" tanya mamahnya.


"Wanita itu ditemukan tewas di dalam mobil tersebut bersama mobil papah."


"Jadi kau juga tahu?"


Agam mengangguk dan terdiam.


"Agam, jadi kamu menyembunyikan itu dariku!"


"Mama, aku ingin Mama melepaskan Papa saat itu dengan ikhlas, karena kita semua mengira bahwa Papa sudah meninggal dan tenggelam di bawa air laut. Aku tidak menyangka kalau akhirnya papa selamat dan kembali."


"Oh Tuhan..., Mengapa malang sekali nasibku ini, tidak! aku tidak bisa begini, kalau aku melihat wajahmu tentu saja aku akan terus-terusan mengingat bagaimana perlakuan terakhirmu padaku!"


"Mentari, tunggu,"

__ADS_1


Mamah pun masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


bersambung


__ADS_2