Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Mencari Jejak


__ADS_3

Agam semakin mendekat kepada sosok laki-laki yang sedang menyapu kaca mobil di lampu merah tersebut. Agam pun sudah sampai tepat berada di belakang lelaki tua itu.


"Pak, maaf, bisa mengganggu waktunya sebentar?" sapa Agam sambil mencolek pundak lelaki tua itu.


"Oh bisa, bisa Pak. Ada apa ya?" sahut lelaki tersebut.


Agam pun menatap lelaki itu dengan seksama, namun perasaannya mengatakan kalau lelaki ini adalah orang berbeda dengan orang yang kemarin ditatap Kiara.


"Aku mau bertanya, kemarin aku ada lihat laki-laki tua seumur bapak juga, sebagai penyapu kaca mobil, apakah Bapak tahu di mana rumahnya?" tanya Agam pada lelaki itu.


"Oh ..., Alex ya? tahu Pak kami tidur satu Atap, tapi bukan di sebuah rumah, melainkan hanya bangunan yang beratap tapi tidak berdinding."


"Benarkah? Bisakah bapak mengantarkan saya ke sana? nanti akan saya kasih uang Transport," ucap Agam.


"Tentu saja Pak, mari!" ajak lelaki itu.


"Apa jauh Pak?" tanya Agam.


"Lumayan jauh, saya pun pakai angkot satu kali, kalau kami bekerja seperti ini, harus jauh dari tempat tinggal, agar tidak diketahui orang-orang yang di dekat sana, nanti kami malu."


"Oh ..., kalau begitu, biar ikut mobil saya saja Pak, Ayo! mobil saya ada di seberang sana."


"Oh ..., begitu ya! ayo!"


"Lelaki itu mengiringi Agam menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan pergi menuju tempat kediaman yang dikatakan oleh Pak Tua tersebut.

__ADS_1


"Hari ini dia tidak bekerja, Pak? tanya Agam.


"Kemarin dia kehujanan, terus demam, tapi sudah minum obat kok," ucap lelaki itu.


"Sebenarnya kalian ini tidak punya keluarga ya? atau bagaimana," tanya Agam.


"kalau aku sudah tidak punya keluarga, kalau lelaki itu punya keluarga, tapi katanya malu untuk kembali. Karena dulu dia pernah melakukan kesalahan yang sangat fatal."


"Oh ..., begitu ya! jadi nama bapak tadi Alex ya?"


"Iya."


"Apakah ada lelaki tua yang bekerja di lampu merah selain dia?" tanya Agam, karena dia takut salah orang lagi.


"Dia punya anak istri?"


"Iya katanya sih punya anak dan juga seorang istri, tapi dia meninggalkannya setahun yang lalu."


"Benarkah"


"Iya."


Tak berapa lama mereka pun sampai di bawah jembatan beratapkan terpal bekas dan juga berdindingkan kardus-kardus bekas. Agam pun memarkirkan mobilnya setelah diberitahukan oleh Pak Tua bahwa di situlah tempat mereka tidur.


Perlahan Agam mendekati bawah jembatan itu bersama Pak Tua.

__ADS_1


"Assalamualaikum." ucap Agam.


Agam pun duduk di sisi kardus-kardus yang terlihat sedikit basah, karena bekas hujan.


"Waalaikumsalam."


"Benar ini Pak Alex?" tanya Agam.


"Iya, ada apa Tuan?" tanya Alex.


"Begini Pak. Aku hanya ingin tanya-tanya, sebenarnya kelihatannya Bapak ini masih kuat untuk bekerja, tapi kok kenapa pekerja di lampu merah?" tanya Agam.


"Sekarang itu Zaman susah untuk mencari pekerjaan tuan, jadi apapun yang bisa membuat perutku kenyang. Aku pasti melakukannya."


"Oh..., sebenarnya keluarga Bapak di mana? Kenapa Bapak tidak memilih pulang kampung saja?" tanya Agam.


"Aku malu untuk pulang kampung tuan, aku telah berbuat kesalahan setahun yang lalu," sahutnya terlihat sedih.


"Kesalahan seperti apa?" tanya Agam penasaran.


"Aku meninggalkan hutang yang banyak pada anak gadisku yang masih sangat muda, dan meninggalkan beban padanya, dengan meninggalkan Istriku yang lumpuh, tidak mungkin aku kembali pada mereka," ucap Alex


Door.


Betapa kagetnya Agam. Ternyata benar, dia ini adalah Ayah biologisnya Kiara, atau mertuanya sendiri. terus apa yang akan dilakukan Agam pada lelaki ini?

__ADS_1


__ADS_2