Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Ide Licik


__ADS_3

Clara sangat kaget, ketika orang yang telah berjuang menemaninya berpuluh-puluh tahun dengan gamplangnya mengangkat tangannya dan memukul dirinya, sangat sakit rasa hatinya.


Clara menatap Agam tajam, berharap ada belas kasihan di sana, namun wajah Agam tampak dingin, bahkan Agam dengan cepat meraih tangan Kiara dan membawanya pergi dari rumah tersebut.


"Kenapa kau lakukan ini padaku? apa salahku padamu? Kenapa kau lakukan ini Agam...!" teriak Clara histeris.


Semua pelayan yang berada di rumah itu pun bergerombol menatap Clara yang mengamuk, sementara Agam dan Kiara sudah pergi menaiki mobilnya, meninggalkan rumah tersebut.


Aswin dan Mentari hanya menatap Clara antara sedih dan marah, namun mereka sedikit iba, dengan perpisahan ini. Clara sudah menikah dengan Agam bahkan lebih dari belasan tahun, namun karena Clara serakah dan ingin harta, inilah yang terjadi.


"Clara, sebaiknya kau pulang saja# karena Agam sudah tidak mengharapkan mu lagi untuk kembali padanya, dia sudah memperingatkan mu kan sebelumnya? agar kau tidak mengambil jalan pintas dan menikahi Alex saat itu," ucap Mentari.


"Mamah, aku melakukan itu semua demi Mas Agam, Aku ingin merebut kembali perusahaan itu," ketus Clara.


"Kau itu serakah Clara, Agam saja menerima kenyataan bahwa perusahaan itu sudah diambil oleh pamannya sendiri, namun kau malah bertindak nekat."


"Mah ..., kenapa Mama tidak mendukungku sekarang?" dengus Clara menatap tajam wajah mantan ibu mertuanya.


"Kau beruntung kan, bisa tidur dengan lelaki bajingan itu?" sindir Mentari.


"Mah, aku jijik kalau membayangkan itu Mah, tolong jangan katakan itu padaku!" pinta Clara.


"Ha ha ha emang itu kan kenyataannya? kau menikmati malam-malam mu dengannya, tidur satu ranjang dengan orang yang telah merebut perusahaan suamimu sendiri, berbagi kemesraan dan bermandikan keringat, apakah itu masuk akal?" sindir Mentari lagi, sengaja mendramatis keadaan.


"Mah, aku melakukan itu karena aku ingin mengambil berkas itu darinya," sahut Clara.


"Tapi kau tidak pikirkan betapa sakitnya hati Agam, ketika membayangkan wanita yang sangat dia cintai tidur bersama musuhnya sendiri. Apakah kamu membayangkan itu?" Mamah Agam begitu bersemangat mengingatkan Clara pada masa-masa dahulu.


"Iya Mah, aku memang salah, Ma. Tapi...."


"Ah sudahlah, kau sudah tahu kan jawaban Agam? kalau dia tidak akan pernah menerimamu lagi, Sekarang kau boleh pergi!" usir halus Mentari.


"Mah, aku harus pergi ke mana? Aku tidak punya tempat tinggal, aku tidak punya rumah."


"Baiklah Clara. Aku akan memberikanmu sebuah rumah, mungkin kau akan bisa tinggal di sana Dan kalau kau juga ingin bekerja di perusahaan kami, kau bisa bekerja di perusahaan kita, karena mungkin kau juga punya andil dalam kesuksesan Agam dulu," tawar Aswin mantan mertuanya.


"Terima kasih Pah, Untuk sementara, bolehkah aku tinggal di sini sebelum Papa mencarikan aku rumah?" pinta Clara.


"Iya tentu saja boleh, silahkan kau beristirahat di kamarmu, besok kita akan mencari rumah, tapi mungkin aku ingin kamu memiliki rumah yang jauh dari rumah ini," ucap Aswin.


"Pah, apa tidak masalah kalau tidak di rundingkan dulu dengan Agam?" tanya Mentari.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tidak mungkin Agam tega membiarkan mantan isrinya tidur di jalanan kan?apalagi dulu mereka saling mencintai," ucap Aswin.


-Itu terserah Papah lah, tapi aku tidak tau kalau Agam protes, aku tidak mau aku campur, sekarang Aku akan menyusul Agam dan Kiara, ke mana sebenarnya mereka pergi.


***


Sementara Kiara dan Agam tampak sudah berada di apartemen di dekat perusahaannya, karena Agam ingin selalu bersama dengan istrinya. Agam tampak menggenggam kemari sang istri dan menatap wajah Kiara mesra.


"Sementara kita di sini dulu, aku ingin setelah istirahat siang di kantor, aku pulang dan makan siang bersama denganmu," ucap Agam.


"Emang dekat ya?" tanya Kiara.


"Iya Sayang, untuk beberapa bulan kita akan tinggal di apartemen ini, aku pasti pulang ketika istirahat siang, karena sekarang aku nggak bisa jauh dari bayiku ini," ucap Agam sambil mengelus perut sang istri.


"Ah masa? Rindu sama bayi apa sama indungnya nih?" goda Kiara.


"Ha ha, kamu pasti tau, Oh iya kau perlu beberapa pembantu?" tanya Agam.


"Cukup satu saja Bang, untuk mencuci juga memasak dan menyapu, kalau untuk merapikan kasur tidak usah, aku juga bisa kok, mungkin hanya untuk menyapu memasak dan mencuci, cukup itu saja," ucap Kiara.


"Baiklah, aku akan mengambil Bibi yang ada di rumah, apakah kau ada pilihan Bibi yang mana yang akan kau bawa ke mari?"


"Baik, aku akan menghubunginya," ucap Agam, sambil merogoh saku celananya, namun nomor rumah sudah masuk ke hp-nya.


"Helo, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mama ada apa? Bagaimana dengan Clara? Apakah dia sudah pergi?" tanya Agam penasaran.


"Dia tidak ingin pergi Gam, Bahkan dia ingin berdiam di sini, Oh ya, kau sekarang ada di mana? Aku akan menyusul mu," ucap Mentari.


"Kami berada di Apartemen dekat perusahaan, Mah. untuk beberapa bulan mungkin kami akan di sini saja, agar saat istirahat siang aku bisa pulang menemani Kiara."


"Baguslah kalau begitu, aku juga akan tinggal di sana," imbuh mamanya.


"Untuk apa Mamah tinggal di sini? rumah ini hanya punya dua kamar Mah, satu untuk kami dan satunya untuk Ibu dan Nini, Kiara juga butuh pembantu. Lagian Mama juga ada apa sih, untuk apa Mama juga menginap di sini? Bagaimana dengan Papah?"


"Aku ingin selalu dekat dengan menantuku, Gam, aku akan menjaganya, apalagi bayi yang dikandungnya itu adalah cucu Pertamaku. Aku ingin selalu dekat dengannya, aku ingin selalu mengelus dan merasakan pertumbuhannya," ucap sang Mamah lagi.


"Untuk apa mamah membelai-belai perutnya, mamah itu neneknya. Aku adalah ayahnya, kenapa malah neneknya yang mengelus perut ibunya, ah Mamah berlebihan," protes Agam.


"Pokoknya aku mau ke sana!" kekeh Mentari.

__ADS_1


"Iya Mama boleh aja ke sini tapi nggak usah nginep, kasihan Papa, Kalian juga baru bersatu kan? pasti kayak pengantin baru aja deh."


"Eh jangan meledek ya!" ucap Mamahnya lagi.


"Ha ha, pokoknya, mamah nggak tinggal di sini, tapi kalau mau berkunjung setiap saat juga boleh."


"Kirim alamatnya, biar sopir mengantarku ke sana, sekalian aku bawa Ibu Kiara," ucap Mentari.


"Iya Mah."


Telepon di tutup, segera Agam sharelook Apartemennya.


***


3 hari sudah Agam dan Kiara pindah rumah.bagitu juga Clara, karena belum menemukan rumah, maka dia masih berada di rumah besar itu.


Clara tampak bengong dan duduk di sisi ranjang kamar atasnya.


"Apa yang harus aku kerjakan ya? Agam audah tidak mau menerimaku, tidak mungkin aku bekerja di kantornya? Aku pasti sangat cape. Bagaimana caraku aku menghasilkan uang, namun tidak bekerja?" gumamnya.


"Oh iya, aku punya ide," Cling....


Tiba-tiba dia bangun dan berjalan mengambil dompetnya dan pergi meninggalkan kamar.


"Bi..., Mamah mana?" tanyanya pada para pembantu.


"Nyonya besar sudah berangkat ke kantor Nyonya muda."


"Kalau Papah?"


"Ada di kamarnya Nya," sahut Bibi.


Tiba-tiba, Clara tersenyum menyeringai. Apa ada ide gila di otak Clara?


Clara pergi meninggalkan rumah itu dengan memanggil ojek online. dia pun mendatangi apotik dan membeli beberapa obat.


"Hmmm, cara menghasilkan uang tanpa bekerja," gumamnya, sambil menatap obat yang di pegang?nya itu.


Mau apa dia dengan obat-obatan itu?


__ADS_1


__ADS_2