Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Mahar Sebuah Rumah


__ADS_3

Fathan sudah rapi dan berganti baju dengan kaos oblong biasa, kemudian dia pun menuruni anak tangga menuju dapur.


"Bunda, Naira mana?" tanya Fathan heran, karena tidak menemukan kekasihnya itu ada di dapur bersama sang Bunda.


"Lho? tadi kan dia ke atas karena ku suruh untuk memanggilmu, biar bisa makan bersama. tapi kau sudah datang, namun? mana calon mu itu?" tanya Kiara.


"Aku bertanya, malah Bunda balik tanya?" sahut Fathan.


"Tadi dia ke atas memanggilmu, Fathan!" ucap Kiara lagi menekankan.


"Tapi tidak ada kok di atas," sahut Fathan tambah heran.


"Lha? Ke mana dia?" heran Kiara lagi.


"Yang benar saja, Bunda, tadi kan dia bersama bunda di sini, dia tidak ada ke atas kok," ucap Fathan.


"Coba kau cari! mungkin saja Dia tersesat di atas," sahut sang Bunda


Fathan pun segera ke atas dan memanggil Naira, namun tidak ada jawaban.


"Naira! Apa kau ada di sini?" panggilnya.


Namun tetap saja tidak ada jawaban, kemudian saat Fathan ingin berbalik kembali ke bawah, niatnya ingin mencari Naira, mungkin saja sudah berada di taman depan, karena ada taman bunga yang sangat indah.


Tiba-tiba dia mendengar ketukan di pintu, di mana kamar itu pernah digunakan ayahnya Agam bersama ibu tirinya Clara dulu.


Fathan pun mendekati pintu itu dan mendorong pintu itu, sehingga bisa terbuka. Alangkah kagetnya Fathan saat mendapati Naira sedang rebahan di lantai sambil tengkurap.


"Naira!" panggil Fathan sambil membangunkan kekasihnya tersebut, Naira seperti baru tersadar dari alam gaib, dia pun segera bangun dan memeluk erat tubuh sang kekasih, dirinya gemetar.


Dia sangat ingat saat dia menengok ke dalam ruangan ini, seperti seseorang sedang mendorongnya dari luar, sehingga dia terjatuh ke lantai namun saat dia ingin bangun, namun tidak bisa menggerakkan tubuhnya, karena merasa sangat berat seakan ada yang menindihnya dari belakang tubuhnya, ketika Fathan memanggilnya dia pun berusaha untuk berteriak namun nihil, sama sekali dia tidak bisa bersuara sedikitpun.


Hingga akhirnya dia bisa menggerakkan kakinya dan mengenai pintu, suara itulah yang akhirnya bisa didengar oleh Fathan.


"Kenapa kau Sayang?" tanya Fathan heran.


"Cepat! kita harus keluar dari sini!" desak Naira.


Naira seperti ketakutan, dia terus memegangi Fathan dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang tersebut.


"Ah kau ini, pasti ingin romantis denganku kan?" bercanda Fathan, namun tubuh Naira terlihat sangat ketakutan dan wajahnya pucat, bahkan tangannya terasa dingin, barulah Fathan sadar bahwa Naira benar-benar menemui hal di luar batas normal.


Fathan pun segera menutup pintu dan berjalan menuruni tangga, namun Naira seperti tidak kuat lagi berjalan. Bahkan dia hampir terduduk ke lantai kalau saja bukan Fathan memeganginya, kemudian Fathan menuntunnya membawa ke sofa yang ada di ruang tamu.


"Naira, Sayang ada apa? kenapa kau jadi takut begini?" tanya Fathan.


"Fathan ..., Aku tidak tahu apa yang terjadi? Namun semua ini di bawah alam sadar ku. Tadi aku mencari mu ke atas, aku melihat pintu itu sedikit terbuka, lalu aku mendorongnya, namun saat aku memasukkan kepalaku ke dalam, ada seseorang yang mendorong kau dari luar."

__ADS_1


"Masa sih? selama ini kami tidak pernah kok mengalami kejadian-kejadian aneh seperti itu?" ucap Fathan.


"Aku tidak tahu, memang seperti itu kejadiannya," ucap Naira terbata.


"Oke ...."


"Fathan! Ayo makan!" panggil Bunda dari ruangan dapur.


"Sebentar Bunda. Bisakah Bunda ke mari!?" pinta Fathan.


Kiara pun heran, kemudian berjalan mendekati Naira dan juga Fathan yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ada apa. Kenapa kamu tampak ketakutan Naira?"


Sebenarnya Nayra takut menceritakan kejadian tadi, karena takut Kiara tersinggung.


Namun Fathan lebih dulu menceritakan kisahnya.


"Astagfirullah, apa yang terjadi dengan kamar itu? kamar itu tidak pernah lagi dimasuki oleh siapapun, sejak Mbak Clara meninggal."


"Jadi pemilik kamar itu sudah meninggal? tanya Naira.


"Benar, sudah lama sekali," ucap Kiara.


"Ooh."


Akhirnya Naira pun digandeng oleh Kiara menuju dapur, terlihat jalan Naira pun masih sempoyongan karena tubuhnya benar-benar masih merasa gemetar.


"Sebenarnya apa yang terjadi di kamar Itu? kenapa kamar itu kurasakan sangat aneh?" batin Naira.


Sampai di dapur Agam pun menatap wajah sang Istri.


"Ada apa Sayang? apakah dia calon mantuku?" tanya Agam.


"Ya Pah, dia calon Manto kita. Ayo kita makan bersama!" ajak Kiara.


"Kakak. kenapa Kakak pucat sekali? apa yang terjadi? apakah Babang Fathan berbuat macam-macam padamu? Biar aku yang menghadapinya," ucap Aisyah sambil menatap kakaknya.


"Eh enak aja! Aku ini lelaki baik dan bertanggung jawab tau!" ketus Fathan.


"Memangnya ada apa? Kenapa kau tampak pucat?" tanya Agam yang juga merasa khawatir.


"Kita makan saja dulu, nanti kita bicara lagi."


Mereka pun makan bersama. Naira tampak makan sangat sedikit. Dia masih kepikiran hal yang baru saja terjadi dengannya.


Selesai makan, mereka pun keluar dan duduk manis di ruang keluarga.

__ADS_1


"Naira, mahar seperto apa yang kau inginkan?" tanya Kiara.


"Itu terserah Fathan saja Bunda, karena kami hanya orang biasa," sahut Naira.


Naira sudah tau, tanpa di minta pun pasti Fathan akan memberikannya hal yang tidak bisa ditebak seperti motor gede tadi.


"Aku akan menjual rumah ini," ucap Agam tiba-tiba.


"Ha? Kenapa Bang?" kaget Kiara.


"Karena aku juga sering melihat hal aneh di atas tangga itu."


"Ha? Jadi papah juga pernah melihatnya?"


"Ya, bahkan setiap malam."


"Kenapa Papah tidak pernah bilang?" protes Aisyah.


"Karena aku yakin kau bakal takut dan tak mau lagi tidur di atas," sahut Agam.


"Iya benar, mulai malam ini, aku nggak mau lagi tidur di atas," sahutnya.


"Heh, cem*en loe!" ejek candaaan Fathan.


"Awas Babang ya! Kalau tiba-tiba Babang di persoka mbak kun, kan serem!"


"Mbak Kun? Apaan tuh?" tanya Fathan tak mengerti.


"Kun_ti_la_nak," sahut Aisyah berbisik menakuti.


"Trus kita,mau pindah ke mana?" tanya Kiara.


"Kita akan pindah ke Vila yang ada di Bogor."


"Kejauhan Pah," sahut Aisyah.


"Iya, aku nggak mau jauh, tapi aku mau uang maharnya rumah aja, jadi sekalian kami pindah setelah menikah."


"Iya, bagus juga tuh idenya, biar nggak di ganggu sama Adikmu yang manja ini!" ketus Kiara.


"Yee Bunda, aku kan masih bisa nginep di rumah mereka ha ha," sahut Aisyah.


Naira melongo mendengar itu. Karena tak ada protes dari keluarga itu saat mendengar mahar sebuah rumah.


"Mereka sangat kaya, namun tidak sombong," batin Naira.


Nex

__ADS_1


__ADS_2