
Pagi ini seperti biasa, Agam hanya duduk-duduk manis di depan teras sambil membaca majalah kesukaannya, sambil menyeruput kopi buatan sang istri.
"Jadi bagaimana Bang, Apakah kita jadi beli rumah baru? aku tidak mau pindah ke Bogor, itu terlalu jauh Bang. Jual saja Villa yang di sana! kita belikan Villa baru saja," ucap Kiara sambil duduk di samping sang suami. Agam pun melingkarkan tangannya di pundak Kiara.
"Bunda ..., Aisyah kuliah dulu ya! oh ya kapan kita belanja untuk keperluan melamar Kakak Naira?+ tanya Aisya.
" Kamu hari ini pulang jam berapa?"
Kiara pun meraih tangan sang anak dan Aisya berdiri di sisinya.
"Mungkin jam 11.00 Bunda, karena hari ini cuma satu mata kuliah saja," sahutnya.
"Baiklah, habis kamu pulang dari kuliah, kita belanja keperluan untuk melamar kakak Naira ya!" ajak Kiara.
"Siap Bunda, kalau begitu Aisya pamit dulu."
__ADS_1
Aisya pun bersalaman dengan ayah dan juga ibunya, dia pun pergi menaiki mobil kesayangannya kado dari ultahnya tahun kemarin.
"Sayang. Lihatlah anak-anak kita# mereka sudah besar, sebentar lagi kita juga akan memiliki menantu, dan pasti sebentar lagi kita akan memiliki cucu, kita semakin menua. Apakah kau tidak merasa bosan hidup denganku? Lihatlah perbedaan usia kita! antara kau dan aku perbedaan usia kita kurang lebih 25 tahun, mungkin saat aku meninggal nanti, kau pasti akan menikah lagi kan?" ucap Agam sambil menatap wajah sang istri.
"Bang ..., kenapa Abang memikirkan sejauh itu? itu takdir Bang. Lagian kita juga sudah punya anak-anak, tidak usah Abang memikirkan sejauh itu," ucap Kiara.
"Tapi itu kenyataan kan? kalau kau masih sangat muda, usiaku sekarang sudah 55 tahun, sementara usiamu baru 37 tahun, usia yang masih sangat muda bahkan di usiamu yang sudah 37 tahun ini kau masih sangat cantik, sampai aku saja merasa selalu cemburu kalau menatap wajahmu, walaupun tidak ada yang memujimu."
"Ha ha, Kau aneh Bang, cuma menatap saja, bagaimana bisa cemburu? sama siapa?" heran Kiara.
"Entahlah, aku membayangkan saja kalau suatu hari nanti aku meninggal, kau pasti ditaksir laki-laki lain," ucapnya.
"Oh ya. Besok kan ada pengajian ustadz Abdurrahman, apakah kau ingin ikut? aku bersama rombongan bapak-bapak yang juga seusia denganku, begitu juga Tuan Halim. Kami sekarang berada di majelis yang sama, karena kami sebagai donatur," ajak Agam.
"Tentu saja aku ikut Bang, kalau begitu aku mau ke dalam dulu ya! mau bersih-bersih dulu, setelah itu aku akan mempersiapkan apa saja yang perlu kita beli, untuk acara lamaran minggu depan."
__ADS_1
"Baiklah, aku mau santai sebentar, mungkin kalau matahari muncul aku akan berjemur, karena kulit tuaku ini layak memerlukan vitamin dari matahari," ucap Agam.
Kiara pun masuk ke dalam meninggalkan sang suami, yang lagi menikmati kopi dan juga meneruskan membaca Korannya.
Tak terasa hari sudah semakin siang, seperti biasa, beres pekerjaan dapur, dia akan membereskan kamar anak-anaknya.
Pertama-tama kamar Aisya, kamar gadis yang memang sudah rapi itu tidak perlu banyak sentuhan dari Kiara.
Barulah Kiara membersihkan kamar Fathan.
"Apa ini?"
Kiara menemukan sebuah buku diary di bawah kolong ranjangnya.
Kiara ..., kau akan tau rasanya saat kau di sakiti oleh anakmu sendiri
__ADS_1
"Siapa yang menulis ini?" batin Kiara.
Nex