
Kiara sudah dibawa pulang ke rumah besarnya oleh para warga, saat dibawa Kiara sudah pingsan, karena cukup lama menunggu, Kiara belum juga sadarkan diri, lalu kemudian mereka membuka tas Kiara dan melihat ktp-nya, sehingga bisa diantarkan pulang ke rumah.
"Kalau begitu kami mohon pamit Tuan Agam, hari semakin malam," ucap warga yang mengantarkan Kiara ke rumahnya.
"Iya, terima kasih banyak, tunggu sebentar !"
Agam pun kau kamar dan mengambil amplop dan juga beberapa lembar uang, untuk di berikan pada mereka.
"Ini, Terimalah sebagai ucapan terima kasihku! Oh ya ini nomor teleponku. Tolong hubungi aku kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Bukankah anakku diculik di perkampungan kalian?" ucap Agam.
"Oh terima kasih banyak Tuan, ini sangat banyak, baik Tuan, sekali lagi Terima kasih."
Warga itu pun pergi, sementara Agam menelepon Pak Sukro dan mengabarkan bahwa Aisya telah diculik.
Bibi pun sibuk mengoleskan minyak kayu putih kepada Kiara. Jam menunjukkan jam 11 malam.
Hingga akhirnya Kiara tampak menggeliat. Dan membuka matanya perlahan.
"Bibi, apa yang terjadi dengan Bunda?" tanya Fathan yang baru saja turun dari kamarnya.
Fathan tampak terkejut, dia terbangun saat mendengar keributan di bawah.
"Tuan muda, sekarang Nyonya sangat bersedih, Aisya hilang...."
"Apa? Aisyah hilang? di mana? Bukankah mereka tadi ke mall dan membeli barang-barang untuk lamaran?" kaget Fathan.
Sementara Kiara menatap tajam ke arah Fathan yang baru datang, namun dia tidak mengatakan apapun.
"Fathan. Apakah semua ini ulah mu? Apakah kau yang melakukan ini Fathan? aku akan mencari bukti, kalau semuanya ini terbukti, maka aku tidak akan memaafkan mu! Aisyah ...," batinnya penuh dengan amarah dan kesedihan.
"Bunda! apa yang terjadi? Bagaimana bisa Aisya diculik?" tanya Fathan lagi dengan wajah panik.
kiara hanya diam, matanya hanya menunjukkan kesedihan. Air matanya terus mengalir.
"Fathan, aku sudah melapor polisi, dan segera akan diselidiki kasus ini," ucap Agam.
"Di daerah mana Aisya diculik Pah? biar aku ke sana dan menyusuri nya bersama teman-temanku, mungkin saja penculik itu tidak jauh dari tempat itu," ucapnya.
"Aku juga tidak tahu, tanyakan saja pada Bunda mu," suruh Agam.
"Bunda. Kalian pergi ke mana? Katakan padaku Bunda!"
Namun sekali lagi Kiara tidak merespon, entahlah, mungkin sekarang Kiara benar-benar mengira bahwa Fathan lah penculiknya.
HP Agam berdering, kemudian dia membuka telepon itu, ternyata dari para warga Agam minta alamat warga tersebut, kemudian menutup telepon.
"Fathan, katanya di kampung Melayu, saat ibumu mengantarkan barang untuk dihias acara lamaran kau nanti."
"Baiklah, Pah aku akan segera ke sana," ucap Fathan.
__ADS_1
"Fathan! tidak usah!" ucap sang Bunda.
"Kenapa Bunda?"
"Tidak usah kau menyia-nyiakan waktumu untuk mencari Aisya! mungkin nanti dia akan balik sendiri," ucap Kiara sinis.
"Apa ya Bunda katakan? Bukankah dia diculik? aku takut terjadi sesuatu padanya Bunda!" sahut Fathan.
"Mungkin mereka ingin mendapatkan tebusan, kalau memang benar begitu, sebentar lagi mereka pasti akan menelpon, aku akan membayar semuanya, meski aku harus menjual rumah ini dan menyerahkan semua harta yang aku miliki," ucap Kiara terdengar dengan nada kesal dan sinis.
Sementara Fathan tidak mencurigai apapun pada Bundanya, karena dia mengira Bundanya hanya emosi, bukan marah padanya.
"Bunda, tapi aku harus tahu, aku harus berusaha ..."
"Ku bilang tidak usah! kau pergi saja Istirahat sana! kau tidak usah memikirkan adikmu, mereka pasti menginginkan harta kita." potong Kiara lagi dengan tatapan kosong.
"Pah, apa yang terjadi dengan Bunda? kenapa dia bisa berbicara begitu? tidak! aku akan mencarinya, aku harus mencarinya."
Fathan pun pergi meninggalkan rumah mewah tersebut, sementara Kiara menatap sinis kepergian Fathan anaknya. Hatinya kini benar-benar telah dirasuki oleh kebencian, dia meyakini bahwa Diary itu memang milik Fathan, dan juga Fathan lah yang telah merencanakan semua ini.
**
*
**
Tak terasa, pagi pun sudah tiba, tampak Aisya menggeliat dan terbangun dari pingsannya, dia diberi obat keras yang sangat kuat sehingga semalaman dia tidak terbangun, tampak dia berada di atas ranjang yang bersih, kamar yang luas bahkan tidak terlihat bahwa dia sekarang sedang disandera.
"Nona sudah bangun? apa Nona mau makan?" tanya wanita itu.
"Di mana aku? kenapa aku ada di ruangan yang Asing? Siapa kalian?" tanya Aisya heran.
Kemudian dia menyadari dan mulai panik, dia pun segera bangun dan berjalan menuju pintu, namun saat ingin membuka pintu, ternyata pintu itu terkunci, dan kuncinya tidak ada di pintu.
"Cepat keluarkan aku dari sini! Siapa kalian?" ketus Aisya.
"maaf Nona. Aku tidak bisa mengatakan siapa kami, kami disuruh menjaga anda dan melayani semua kebutuhan anda."
"Benarkah? untuk apa kalian mencuri ku? apakah kalian ingin uang? katakan saja berapa kalian mau?" ketus Aisya lagi.
"Maaf Nona, kami hanya diperintahkan menjaga anda, bukan untuk meminta sesuatu kepada anda, jadi kalau anda merasa lapar, kami akan menyediakan makanan untuk Anda."
"Aku tidak sudi meminta makanan kepada penculik seperti kalian! kalian ini perempuan. Kenapa kalian berbuat jahat kepada sesama perempuan?" pekik Aisya lagi dengan mata melotot sangat marah.
"Maaf Nona, kami hanya disuruh."
"Keluarkan aku dari sini sekarang! Kalau tidak? aku akan menelepon."
Aisya pun meraba-raba badannya, dia mencari tas sandangnya yang di sana juga ada telepon genggamnya. Namun dia tidak menemukannya.
__ADS_1
"Di mana tas kecilku? Kenapa kalian mengambil tas kecilku?" teriak Aisya.
"Maaf Nona, tas anda sudah diambil oleh Bos Kami," sahut wanita itu.
"Siapa Bos kalian? Katakan padaku!"
"Maaf Nona."
"Dasar tidak beradab, tega sekali kalian menculik seorang wanita yang tidak berdaya! kalau kalian ingin uang, katakan! aku bisa memberi lebih dari pada mereka,",tawar Aisya.
Tok tok
Pintu pun terbuka, tampaklah dua orang lelaki yang tadi menculiknya.
"Anda sudah bangun Nona? Apakah anda memerlukan sesuatu? silakan Nona katakan kepada wanita itu.-
Pintu kemudian ditutup kembali, tampak lelaki itu menelpon seseorang.
"Bos, Nona muda sudah bangun, namun dia tidak mau makan. Sepertinya dia sangat marah," ucap lelaki tersebut.
"Biarkan saja, nanti dia juga akan menyerah kalau dia sudah lapar," ucap seseorang dari seberang telepon.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya Bos."
**
*
**
Sementara di rumah Kiara, tampak Kiara masih duduk di ruang tamu dan terus menangisi anaknya, tak berapa lama, Fathan dan beberapa orang temannya pun datang.
"Bunda, maaf, aku tidak menemukan Aisya," ucapnya dengan wajah sangat sedih. Dia sampai duduk di bawah dekat kaki ibunya.
"Tidak usah kau pura-pura mencarinya, Fathan!" ucap sang Bunda.
"Bunda? apa maksud bunda? kenapa Bunda berkata seperti itu? Aisyah adalah adikku."
"Benarkah?"
"Kiara Sayang, kenapa kau berkata seperti itu kepada anakmu?" sanggah Agam.
"Apa aku salah? Pah, aku bingung, apa aku harus mengatakannya sekarang?" ucap Kiara.
"Mengatakan apa Bunda? apa yang salah denganku?"
"Fathan! Aku sudah muak dengan kepura-puraan mu hari ini!" pekiknya.
"Bunda?"
__ADS_1
Fathan terperangah dan menatap wajah sang Bunda sangat sedih.
Nex