Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Hamil Lagi


__ADS_3

Sudah dua hari ini Agam sakit, kepalanya pusing dan badannya lemas. Berjalan ke kamar mandi saja dia harus dibantu oleh Kiara, bahkan 80% hidupnya kini dibantu oleh Kiara.


"Pah Papah kapan sih sembuhnya? Kasihan Bunda, bahkan Bunda kurang tidur karena terus jagain Papa yang sedang demam tinggi, kita ke rumah sakit aja ya Pah, biar perawat yang menjaga papa dan Bunda bisa istirahat," ucap Fathan yang merasa kasihan melihat Kiara beberapa waktu ini terus terbangun di tengah malam.


Ternyata Fathan juga memperhatikan setiap gerak-gerik sang Bunda, dia kasian yang melihat Bundanya yang sering mengusap keringat di wajahnya, saat memasak di dapur.


"Sayang, papa takut ke rumah sakit, nanti papa malah dikatain karena penyakit ini dan itu, bahkan merasa ngeri."


"Tapi kasihan Bunda Pa, Bunda juga kecapean. Lihatlah wajah Bunda, terlihat pucat karena sering jagain Papa."


"Tidak apa-apa Sayang, Bunda sehat ko,k Bunda juga sudah banyak minum susu dan juga vitamin. Bunda sudah terbiasa, kan Bundapekerja keras?" ucap Kiara membujuk Fathan agar tidak lagi berkata macam-macam.


"Bunda selalu saja begitu, kan kasihan Bunda kalau sakit, terus siapa yang jagain Fatahan di sekolah, kalau Bunda sakit?"


"Kan ada Bibi Nak, kamu jangan manja ya? kamu kan sudah gede."


"Ayah tu yang gede, kalau Fathan masih kecil, kalau sudah punya adik, baru Fathan Gede," rengeknya.


"afathan mau pinya adik?" tanya Agam.


Agam pun melirik wajah Kiara, sementara Kiara pura-pura tidak melihat.


"Ya pengen Pah, banyak tuh temen-temen Fathan yang punya adik perempuan, cantik-cantik lagi," sahutnya.


"Ya sudah, nanti kamu beli tepung yang banyak ya! biar kita bikin adik baru."


Ternyata Fathan menanggapinya dengan serius.


"Benarkah? sekarang saja Pah. Sini biar Fathan yang beliin tepungnya, terus tepungnya sama apa Pah? sama telur juga kayak bikin kue bolu gitu kan?" tanyanya.


Membuat Kiara tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Jangan ajarin anak sesat, Bang," gerutu Kiara.


"Apa pakai gula juga?" tanya Fathan melanjutkan.


"Kamu ada-ada saja."


Kiara pun berjalan menghampiri kamar mandi karena ingin meletakkan sekaan Agam.


"Huak ..., huak..,"


Tiba-tiba Kiara merasa mual dan pusong. Dia pin berjalan cepat menghampiri,kamar,mandi.


"Sayang, kenapa?" tanya Agam.

__ADS_1


"Entah, ku merasa pusing nih. Kepalaku rasa berkunang-kunang."


"Nah kan, pasti Bunda sakit, pokoknya kalau Bunda sakit, harus gantian Papa yang jagain Bunda." ucap Fathan.


Agam tersenyum. Dia bangga, anaknya itu begitu sayang sama Bundanya, padahal Bundanya itu tergolong kadang marah, sedangkan Agam yang selalu memanjakan Fathan tidak pernah marah, namun sepertinya Fathan lebih menyayangi Ibunya. Karena memang anak itu sering dekat dengan ibunya.


"Sayang, Papa kan lagi sakit, kok ngomong begitu


ucp Kiara pelan saat tidak mual lagi.


"Ini gara-gara papa, sering manja sama Bunda, makanya Bunda juga sakit, coba kalau Papa tidak manja pasti Bunda tidak sakit kan?" omel Fathan lagi.


"Sayang. papa itu benar-benar sakit, bukan lagi pura-puraan."


Kiara pun berjalan menuju pintu kamar, menuju dapur. Fathan pun mengiringi di belakang.


"Aku nggak mau sekolah hari ini, aku mau nungguin Bunda, biar aku yang jagain Bunda, kalau Bunda sakit," ucap Fathan.


Kiara merasa terharu dengan perhatian sang anak, yang masih berusia 5 tahun itu. Namun rasa mualnya kini bertambah-tambah sehingga dia pun pergi ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya.


"Kiara kenapa? kamu sakit? makanya sebaiknya Agam itu dibawa ke rumah sakit saja!" ucap sang mertua, sambil memijit-mijat belakang Kiara.


"Abang Agam tidak mau ke rumah sakit Mah, katanya dia takut nanti didiagnosa berbagai macam penyakit."


"Tapi kamu kasihan Kiara, kalau cuma mau minum obat dari dokter praktek saja kan sangat sulit, harus banyak pemeriksaan supaya jelas dia itu kena penyakit apa?"


"Sebaiknya kamu juga periksa, jangan-jangan kamu hamil? kamu kan udah lama nggak pakai KB?"


"Belum tahu Mah, nanti aku beli tespek deh," sahutnya.


Kiara pun pergi meninggalkan dapur mendatangi Agam, namun tampak agam sudah tertidur kembali karena baru selesai minum obat.


Sementara Fathan tampak duduk merengut di kursi dapur.


"Kamu kenapa Fathan? Wajah kok di tekuk gitu?" goda Neneknya.


"Gara-gara Papah sakit, Fathan nggak bisa lagi bermanja-manja sama Bunda," gerutunya.


Mentari pin tersenyum dan membelai lembut kepala sang cucu.


***


Hari ini banyak drama di sekolah Fathan. Fathan yang sangat cemburu dengan layanan Kiara kepada sang papah membuat Fathan merajuk dan tidak mau ditinggal di sekolah.


Hari ini Fathan ingin kiara yang menemaninya di sekolah, bukan bibi. Sementara Kiara merasa khawatir dengan sang suami yang sedang sakit yang seringkali mencari dirinya, untuk melayani berbagai macam kegiatannya, padahal Kiara sudah meletakkan pembantu baru seorang laki-laki untuk membantunya ke kamar mandi dan aktivitas lainnya.

__ADS_1


"Sayang, Bunda pulang sebentar ya? mau lihat papa dulu minuman obat, nanti kalau kamu pulang Bunda yang jemput!" bujuk Kiara.


"Aku nggak mau, aku mau Bunda di sini, papa kan sudah besar? kenapa meski dijagain terus?" ucap Fathan.


Kiara tidak bisa berbuat apa-apa ketika seorang pangerannya itu merajuk dan minta selalu dekat dengannya.


"Huak ... Huak ..."


Kiara tiba-tiba merasa mual luar biasa dan matanya berkunang-kunang.


"Bunda! Bunda kenapa?"


Fathan pun menggoyang tubuh sang Bunda yang tampak memegangi kepalanya.


Brugh


Kiara jatuh pingsan. Fathan panik dan berteriak. Dia menangis histeris saat melihat sang anak sakit.


Orang-orang yang mendengar teriakan Fathan pun mendekat dan membawa Kiara ke rumah sakit.


***


Fathan dan Mentari tampak setia menemani Kiara yang belum sadarkan diri.


"Ini semua gara-gara Papah, coba Papah jangan nyuruh Bunda jagain eia, pasti Bunda nggak bakalan sakit," kesal Fathan.


"Fathan Sayang, jangan ngomong begitu, Papah kan sakit juga bukan kemauan dia," sahut sang nenek.


"Tapi Mamah siang malam jagain Papah...."


"Bu," perawat mendekat dan menyapa Mentari.


"Iya, jadi bagaimana? kenapa anakku pingsan?" tanya Mentari.


"Dari hasil yang kami lihat, detsk jantung dan kondisi ibu Kiara, sepertinya dia hamil Bu!" ucap suster.


"Benarkah? Alhamdulillah," syukur Mentari sambil memeluk Fathan.


"Jadi Aku bakal punya adik bayi? Apa begitu Nek?" tanya Fathan senang.


"Iya Sayang."


"Horee...."


Fathan sangat senang.

__ADS_1


nex


__ADS_2