Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Hadiah Rumah


__ADS_3

Semua persiapan di rumah Agam sudah selesai. Tampak si periang Aisya pun sangat tidak sabaran untuk segera berangkat.


"Ayo semuanya! Jangan sampai terlambat!" desaknya dengan berdiri di depan pintu mendesak orang-orang yang masih belum selesai berdandan dan juga masih lupa ini dan itu.


"Baik sayang," sahut Kiara.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meluncur menuju kediaman Naira. Tak berapa lama iring-iringan itu sudah sampai di halaman Naira.


Seperti yang diinginkan oleh Fathan, bahwa orang kampung tersebut boleh menghadiri acara lamaran mereka, bahkan Fathan juga memberi uang yang banyak kepada Naira agar membuat jamuan para ibu-ibu di kampung itu, warga sangat antusias menyambut kedatangan Fathan, mereka sangat bahagia ternyata ada anak gadis di kampung mereka yang akan menikah dengan orang kaya raya, karena selama ini tak ada satupun orang kampung tersebut menikah dengan bangsawan.


Sementara ibu julid yang munafik, tampak ikut dalam acara masak-memasak untuk menyambut tamu, namun sesekali dia mencibir Naira, begitu juga saat ini, saat di dapur, saat pemilik rumah tidak ada.


"Eh ibu-ibu. Sebenarnya kalian percaya nggak sih kalau mereka itu saling mencintai? aku kok merasa yakin, kalau bangsawan itu pasti dijebak oleh Naira," bisiknya.


"Hai! Ibu Julid, jangan berkata begitu, Naira itu kan anak yang sangat baik, bahkan beberapa kali pacaran dan Putus, dia tidak pernah dibawa orang ke sana ke mari? seperti layaknya anak muda sekarang pacaran," sahut ibu yang lain.


"Itu kan karena sebelumnya pasangannya tidak berduit? Kalau yang ini jangan-jangan dia menjebak? atau bahkan ..., ssst jangan bilang-bilang, mungkin saja Naira sedang hamil," bisik nya lagi.


"Hust, Ibu Julid, jangan keterlaluan kamu kalau ngomong, nanti kalau kedengeran Pak Imam, kamu bisa gawat!" ucap ibu yang lain.


Sepertinya Ibu Julid ingin sekali tetangga-tetangga di sana agar menjelek-jelekan Naira.


Sementara di luar, rombongan Fathan sudah masuk ke dalam rumah mungil tersebut, bahkan di depan dibikin tenda yang sangat besar, dengan kursi-kursi yang berjajar di depan mushola, karena memang Ayah Naira adalah Imam di sana.


Agam pun memulai pembicaraan seperti layaknya orang yang akan melamar, ada keluarga Naira yang kemudian melontarkan pertanyaan.

__ADS_1


"Maaf Tuan, tapi kenapa kalian begitu banyak membawa barang? Apakah tidak mubazir? sebaiknya kalian memberikan uang saja yang banyak, agar kami bisa untuk membuat pesta yang mewah," ucap ibu-ibu tersebut.


Sepertinya ibu itu keluarga Naira. Sementara keluarga Naira yang lain tampak Diam. mereka tidak menyangka kalau ibu itu berbicara seperti itu.


"Oh begitu ya, Bu? Iya tidak apa-apa, kami ikhlas membawa semua ini, dan untuk uang kami juga akan memberikannya, supaya pesta nanti sangat meriah, tapi mohon maaf, kalau boleh kami ingin melaksanakan pesta pernikahan di gedung berlian. Tapi kalau kalian juga ingin melaksanakannya di rumah ini? tidak masalah," ucap Agam.


"Gedung berlian?" kaget ibu itu.


Gedung berlian adalah gedung yang terkenal sangat mahal, dan juga sangat mewah. Orang-orang yang mendengar hal tersebut pun sangat kagum. Bahkan mereka ada yang membulatkan mulutnya, saat mendengar gedung tersebut.


"Gedung berlian? Bukankah itu gedung yang sangat mahal Tuan? Apakah tidak buang-buang uang," ucap wanita yang lain.


"Bi ..., biarkan semuanya serahkan kepada mereka, aku tidak masalah kok," ucap Ibu Naira.


"Sayang uangnya, lebih baik kamu gunakan untuk menikah, mungkin beli rumah yang besar," ucap Bibi tersebut masih protes. Walau sedikit berbisik.


Namun suara ibu itu sedikit terdengar di telinga Kiara, karena memang dia menajamkan telinganya.


"Baiklah, kalau begitu, kita mulai saja seserahan ini, dan kami memberikan Naira ini," ucap Kiara.


Tampak di sana kotak yang kecil, namun terlihat di dalamnya sebuah kunci dan miniatur sebuah rumah. mata bibi dan lainnya pun melotot, mulut mereka membulat huruf O, namun masih tidak percaya kalau itu adalah sebuah kunci rumah.


"Maaf, itu kunci apa? kunci motor atau kunci kontrakan?" ucap seorang ibu yang lain.


"Kami menghadiahkan sebuah rumah buat Naira dan juga Fathan, agar setelah menikah mereka bisa pindah rumah. Tapi tentu saja karena Naira adalah anak satu-satunya, mereka bisa membawa ibu dan ayahnya ke sana," ucap Kiara.

__ADS_1


Naira Pak Imam dan juga ibunya semakin kaget, melihat hadiah yang dibawa oleh rombongan tersebut. Mereka tidak menyangka, kalau Fathan sekaya itu, selama ini Fathan tidak pernah menampakkan kalau dia adalah konglomerat.


"Oh ya Fathan. Ayo sematkan cincinnya di tangan Naira!" titah Agam.


"Oh maaf,sebelumnya," ucap pak Imam.


"Ada apa Pak?" tanya Agam.


"Karena mereka belum menikah, biar saya saja yang menyematkan cincinnya, mereka bukan mahrom."


"Oh baiklah."


Akhirnya cincin pun diserahkan kepada Pak Imam. dan di pasangkan di jari manis Naira.


"Bagus sekali cincin itu? kira-kira harganya berapa ya?" bisik ibu-ibu yang menatap cincin berlian milik Naira.


Ternyata ada ibu-ibu yang juga mengetahui harga jenis berlian di sana.


"Sepertinya itu berlian asli, sepertinya harganya juga antara 100 sampai 1 M," ucapnya.


"Wah mahal banget. Memangnya mereka pengusaha apa sih?" tanya ibu julid yang baru datang di depan pintu dapur, makin panas tuh saat Naira disuguhkan oleh berbagai macam barang-barang mahal.


Makanya jangan julid sama orang, bisa terbakar sendiri kan?


Nex...

__ADS_1


__ADS_2