Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Lamaran Mantu


__ADS_3

Ibu Clara sudah dibawa ke kantor polisi, kemudian ada Kiara dan juga Fathan mendatangi kantor polisi tersebut, untuk menemui ibu clara.


Kiara sangat marah, namun agam terus berusaha untuk membujuk nya agar bisa memaafkan ibu Clara yang sudah tua tersebut, Agam juga pernah menjadi menantu ibu itu dan pernah menjalin hubungan baik, walau sebenarnya hanya membuang buang uang Agam saja.


Namun tidak semudah itu, Fathan pun bersikeras untuk memenjarakan orang tua tersebut, untuk memberinya pelajaran. Mereka sudah berada di ruangan kecil dan bertatap muka langsung.


"Mama, aku tidak tahu apa yang sebenarnya Mama pikirkan. Kenapa Mama tega menculik anakku?" tanya Agam.


"Kau telah menyakiti anakku, Clara, kau mencampakkan nya, sehingga dia menderita sampai akhir hidupnya. Aku sangat membencimu. Aku sangat dendam padamu!- ketusnya.


"Mama, tapi aku juga merawatnya dengan baik, di akhir akhir hidupnya, dia juga sudah mengikhlaskan semuanya," sahut Agam.


"Dia ikhlas karena terpaksa, karena tidak ada pilihan, dia tidak bisa mencari tempat tinggal dengan keadaannya seperti itu."


"Mah, semuanya sudah berlalu, bahkan sudah sangat lama! jangan sampai kita mengotori hati kita dengan masalah itu lagi."


Agam terus berusaha membujuk wanita itu agar mau melupakan masa lalu. Sementara Kiara Kiara dia hanya berdiri tidak jauh dari mereka berdua duduk. dia tidak ingin berbicara kepada wanita itu. Dia takut kata-katanya nanti malah melukai wanita yang sedang duduk terpuruk di kursi rodanya.


"Bunda, sebaiknya aku antarkan Bunda pulang, biar aku dan papa di sini sampai urusan ini selesai," bujuk Fathan.


"Tidak, aku mau wanita itu menyadari kesalahannya, aku tidak akan pernah memaafkannya, dia telah menculik anak Gadisku."


"Bunda, kalau Bunda juga seperti ini, itu sama saja kita dengan dia."


"Aku sangat kecewa pada nenekmu itu," sahut Kiara.


"Bunda, kita pulang! Bunda harus menemani Aisya. dia pasti masih sok karena penculikan itu."


Fathan terus membujuk Kiara agar mau pulang dan menyerahkan urusan ibu Clara pada mereka berdua. Dia terus mendesak hingga akhirnya sang Bunda pun mengalah.


Mereka sudah berada di halaman dan masuk ke dalam mobil. Saat di dalam mobil.


"Maafkan Bunda. Bunda telah menuduh mu yang tidak tidak. Bunda sangat menyesal. Kau pasti sangat terluka kan dengan perkataan Bunda? Bunda sangat jahat padamu, karena wanita itu dia telah mengambing hitamkan kau, dia sangat pintar bersandiwara, sama seperti anaknya."

__ADS_1


"Bunda. Bolehkah aku mengetahui cerita yang sebenarnya tentang Ibu Clara?"


"Ya, kau boleh mengetahui semuanya, mungkin kau sudah bisa berpikir sekarang."


Kiara pun menceritakan awal mula dirinya menikah dengan Agam, hingga akhirnya dia memiliki anak sampai saat ini, Fathan pun mengerti penjelasan tentang hubungan ibunya dengan ayahnya yang rumit.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di kediaman mereka, terlihat ada beberapa mobil di halaman.


"Ada apa itu Bunda?"


"Aku tidak tahu. Ayo kita turun!"


Mereka pun turun dan mendatangi mobil. Namun ternyata mereka sudah ada di ruang tamu.


"Maaf Nyonya, Kami ingin menanyakan rumah ini, kami melihat rumah ini akan dijual. Apa benar begitu?"


"Oh iya Tuan. Kami ingin menjual rumah ini."


"Kebetulan, kami tertarik untuk membelinya, karena kami ada bisnis di kota ini, kelihatannya rumah ini cocok untuk keluarga kami."


"Baiknya, terima kasih."


Mereka pun berkeliling melihat rumah tersebut, hingga mereka merasa puas dengan bangunan yang begitu indah.


"Jadi berapa Anda mau menjualnya?"


"Kalau boleh. Bisakah kau menunggu suamiku pulang? karena aku tidak bisa mengambil keputusan."


"Oh begitu? baiklah, kami akan menunggunya."


Mereka saling bercengkrama satu sama lainnya, hingga tak berapa lama Agam pun datang, karena ditelepon oleh Fathan.


"Terima kasih, karena Anda berminat dengan rumah kami, seperti yang sudah saya bicarakan dengan keluarga, saya ingin menjual rumah ini seharga 3 M."

__ADS_1


"Apakah tidak kurang tuan?"


"Silahkan kalian menawar, tapi nanti kami perlu memikirkannya kembali."


"Bagaimana kalau 2M saja, karena kami juga perlu modal untuk melanjutkan usaha kami di kota ini."


"Kalau itu terlalu sedikit, Tuan. Lihatlah bangunan ini! begitu megah. Tanah di belakang pun masih luas bahkan bisa membuat 3 buah rumah lagi," ucap Agam.


"Baiklah, kami akan memikirkannya kalau begitu. kami permisi."


Para pembeli itu pun berpamitan dan meninggalkan rumah Agam.


"Jadi Bang, kita mau pindah ke mana?"


"Tenang Sayang, aku sudah menemukan sebuah rumah yang cocok untuk kita, tidak terlalu besar namun juga tidak kecil."


"Baiklah Bang, oh iya aku mau istirahat."


Kiara pun masuk ke kamar Aisya dan tidur di sisi sang anak, sang anak juga terlihat tidur pulas. Mungkin dia merasa sangat nyaman bisa kembali ke rumahnya sendiri.


**


*


**


Seminggu sudah berlalu. Saatnya lamaran buat Naira. Pagi ini penghuni rumah tampak sibuk mempersiapkan semua keperluan yang akan dibawa ke rumah Naira. Bahkan tiga buah mobil penuh dengan seserahan yang akan dibawa oleh Fathan untuk calon istri tercinta.


"Ayo Bunda! kita terlambat jangan sampai mereka menunggu lam," ajak Aisya.


Dia merasa sangat bahagia karena akan memiliki seorang kakak ipar yang sangat baik, seperti Naira. Fathan lun turun dari rumah dengan pakaian,yang sangat elegan, bahkan hanya untuk acara lamaran saja mereka membuat baju yang sama beserta penggiringnya . Para tetangga yang ikut mengantar pun berpakaian yang sama dengan mereka.


Anak sultaaaan...😘

__ADS_1


Nex


__ADS_2