
Sepanjang jalan kenangan Agam dan Kiara tampak sangat mesra dan saling bercanda. Bahkan mereka sesaat bisa melupakan masalah yang tadi mereka bahas saat bertemu dengan ayah Agam.
Mereka sudah sampai di halaman rumah. Kiara dengan cepat turun dan menyambar Empek-empek dan berlari kecil masuk ke rumah.
"Kiara, hati-hati sayang, jangan lompat-lompat, kamu sedang hamil!" peringatan Agam pada Kiara yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Kiara, kenapa tampak girang sekali? Ada apa?" tanya sang mamah mertua menyapa Kiara yang baru masuk rumah.
"Nggak papa Mah, ayo kita makan jajanan ini, enak nih."
Kiara pun mengambil piring dan senduk, lalu menyajikan empek-empek yabg di belinya tadi bersama Agam.
"Ayo mah, Bu, kita cicipin dulu!"
Mereka pun duduk di sofa dan meletakkan jajanan di meja tamu, agar ibu Kiara juga bisa mencicipinya.
"Mah, boleh nggak Kiara nanya?" sepertinya Kiara akan memancing nih.
"Tanyaan apaan? serius amat," Ibu Kiara ikut penasaran.
"Sesuatu Bu, gimana mah?" ulang Kiara lagi.
"Tanya aja, nggak papa kok, asal yang sedang-sedang saja, hi hi."
"Mah, misal nih, Mas Agam kembali ke perusahaan Papah gimana? Apa mamah mendukung? Aku liat di TV tadi, kalau Papah sudah menang banding, kelihatannya Papah sudah sangat tua. Mungkin dia akan kelelahan menghadapi perusahaan yang sangat besar itu," ucap Kiara.
"Kenapa kamu membicarakan nya Kiara?" tanya Agam.
Sementara sang mamah hanya terdiam tanpa berkata-kata. Sepertinya dia sedang merenung dan memikirkan pertanyaan yang tadi Kiara lontarkan.
"Mungkin benar kata Kiara, papah mu pasti sudah sangat tua, dan letih. Bahkan dia memperjuangkan hak mu dalam sidang itu sendirian, Papah mu memang pintar. Untung saja berkas aslinya tidak dia berikan kepadamu dulu. Bahkan dia sengaja memalsukan berkas sebelumnya dan memberikannya padamu, dia sudah berjaga-jaga dari orang yang serakah."
"Aku masih memikirkannya Bu, saat ini aku belum tahu harus menjawab apa," sahut Agam.
"Baiklah, tapi Kiara mohon Mamah memikirkannya kembali, kalau begitu? ayo kita makan lagi!" ajak Kiara, Kiara pun kembali bersikap polos dan ceria, setelah menanyakan hal tersebut, dia hanya memancing agar sang mertua bisa memikirkannya kembali.
"Oh ya, aku sudah selesai, sekarang aku mau istirahat."
Jam sudah menunjukkan jam 8 malam, Kiara dan Agam pun sudah sholat maghrib di jalan tadi, setelah membeli empek-empek.
"Oke, aku juga mau istirahat," ucap sang ibu.
__ADS_1
Mamah dan ibu Kiara pun masuk ke kamar, sementara Agam dia pun membereskan meja dari piring bekas makanan, dan membawanya ke dapur, karena Kiara kelupaan, sebab pikirannya tertuju kepada sang ayah mertua yang di jumpainya tadi.
Kiara sangat kasihan kepada lelaki itu, apalagi Kiara sudah diberi uang Rp100.000. Dia sangat terharu, walau sebenarnya Pak Aswin hanya memberinya karena Kiara telah mengembalikan dompetnya, namun bagi Kiara, dia sangat bahagia dan tersentuh.
"Papah, aku menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan semuanya padamu, dan mengembalikan keluarga kecilmu ini, apalagi di hari tuamu itu, tidak ada seorangpun yang menemanimu, di setiap hari-harimu. Kau pasti kesepian. Mungkin mereka akan menilai kalau aku menginginkan harta untuk cucumu ini, karena aku bersikeras menyatukan kalian lagi, namun itu salah. Seandainya harta itu pun tidak ada, aku tetap akan menolong kalian untuk bersatu," batin Kiara.
"Sayang ..., Kenapa kamu melamun?" tanya Agam yang menatap sang istri dari tadi hanya memandang langit-langit kamar.
"Abang, kenapa Abang tidak memikirkan untuk bersatu dengan papah? kasian Papah, Bang."
"Kiara, aku tidak ingin membicarakan ini," sahut Agam.
"Tapi aku kasihan sama papah, lihatlah wajah tuanya tadi begitu murung tak ada kegembiraan, saat di tanya penjual tentang cucu."
"Aku hanya menunggu Mamah, kalau Mamah setuju, maka aku akan mendatangi papa, tapi kalau Mamah menolak, Aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Baiklah, aku akan membujuk Mamah biar mama mau untuk kembali sama papah," tekat Kiara, kemudian dia merapatkan selimutnya hingga ke leher.
"Kenapa kau begitu bersemangat?" tanya Agam heran.
"Abang pasti mengira karena sekarang papa jadi orang kaya, karena harta kan?namin bukan itu, Aku hanya ingin kembalikan masa bahagia mamah dan papah do hari tua mereka."
"Tapi itu mungkin sulit, lahian untuk apa kau terus membujuk Mamah, kalau dia tidak mau?" sahut Agam.
"Kiara, bukan begitu maksudku."
"Tidak apa-apa Bang, sekarang aku mau tidur. Selamat malam."
Kiara pun mencoba memejamkan matanya, sememtara Agam hanya bisa diam saat sang istri sudah tidak ingin berbicara dengannya. akhirnya mereka pun bisa sama-sama tertidur.
***
Pagi hari di kediaman rumah Agam yang lama, tentu saja sekarang dihuni oleh Pak Aswin. Pak Aswin sama sekali tidak menyuruh pembantu untuk membantunya memasak di rumah besar itu, dia akan memasak sendiri seperti pagi ini, apa yang pernah dia kerjakan bersama Hasan dulu, di rumah pinjaman dari yayasan pondok setiap pagi, hanya telor dadar, atau masak ikan sarden dan juga mie untuk makan pagi, begitu jiga setiap paginya di rumahnya.
Walau sekarang dia sudah menjadi orang kaya, namin dia masih betah mengerjakan sendiri rutinitas sebelum pergi ke kantor itu. Setiap hari Pak Aswin selalu berdoa dalam sholatnya, agar anak dan istri bisa ditemukan.
Tok tok...
"Assalamualaikum, Tuan besar, ada yang ingin bertemu dengan anda!" panghil satpam di depan pintu yang sedikit terbuka.
"Pak Aswin yang berada di dapur pun segera keluar dan mendatangi Paman satpam.
__ADS_1
Ceklek
"Ada apa Paman?"
"Ada orang yang ingin bertemu dengan Anda Tuan besar,"
Paman satpam pun menunjuk tamu laki laki itu.
"Oh silakan masuk! seorang laki-laki kisaran berusia 50 tahun berdiri di depan pintu.
"Pak, Terima kasih."
Lelaki itu pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Begini Pak, aku membaca di media sosial ..., Oh sebelumnya perkenalkan aku Anton aku membaca berita Bapak di media sosial, kalau bapak sedang mencari seseorang yang bernama Agam, dan juga Ibu Mentari," ucapnya.
"Ya, benar sekali, Apakah anda pernah melihat mereka? aku tidak punya foto mereka, jadi aku tidak bisa membagikan foto mereka.-
"Iya pak, aku belum tahu pasti, apakah itu orangnya atau bukan? namun aku tidak tahu yang bernama Mentari, aku hanya tahu seseorang yang bernama Agam, Dia temanku di kantor, namun kemaren karena aku libur, jadi aku tidak bertemu dengannya, aku curiga doa adalah orang yang di cari Bapak."
"Kenapa Anda curiga?"
"Karena dia memiliki mobil mewah, walau hanya seorang cleaning servis."
"Bisakah kau mengantarkan ku ke tempatnya bekerja? Di mana dia bekerja sekarang?"
"Saya bekerja di sebuah perusahaan, dia menjadi tukang sapu di sana, istrinya juga sedang hamil muda, itu yang pernah dia katakan kepadaku."
"Astaghfirullah. Benarkah? Bisakah kau antarkan aku ke sana?"
"Iya pak. Hari ini aku akan membawa bapak ke sana, kebetulan sekarang aku juga akan bekerja ke sana, kalau bapak tidak sibuk sekarang kita bisa berangkat ke sana barwng?"
"Oke, sebentar, aku harus mengambil sesuatu dulu,."
Pak Aswin pun ke kamar, bahkan dia belum memakan telur di dapur yang dia masak tadi.
Dia mengambil kunci mobilnya, dan lainnay.
"Paman satpam, makan saja ya itu telur yang saya masak yadi. Aku lergi dulu."
"Apa Bapak tidak makan dulu?"
__ADS_1
"Nanti saja, rasanya perutku sudah kenyang, mendengar berita tentang anakku yang sebentar lagi akan aku temukan."