
Kiara hanya terdiam saat sang mertua memberi nasehat kepada Kiara, sepertinya dia merasa nyaman saat berbicara dengan menantu mudanya itu. Bahkan dia juga mewanti-wanti agar jangan sesekali pun membangkang kalau Agam memerintahkan sesuatu.
Namun dia juga meminta agar Kiara mematuhi semua aturan yang ada di rumah itu, termasuk mematuhi peraturan Clara dan juga peraturan dirinya sendiri.
Kiara hanya diam, dia juga tidak menceritakan kalau sebenarnya dia dan Agam sudah baik-baik saja, Bahkan mereka sudah bercocok tanam.
"Jadi apakah kau mengerti Kiara, dengan apa yang aku maksudkan tadi?" tanya Nyonya Mentari.
"Iya Nyonya, Saya mengerti," sahut Kiata.
"Kalau begitu, kau boleh pergi," titahnya.
"Tapi Nyonya, uang ini..., saya tidak memerlukannya," ucap Kiara terbata, karen merasa tidak enak.
"Aku tidak mau kau menolaknya, dan aku tidak suka itu," ketus Ny.Mentari.
"Oh baiklah, Nyonya, aku akan menyimpannya, terima kasih banyak," ucap Kiara.
Kemudian Kiara pun membawa amplop itu, Amplop yang begitu tebal, mungkin ada banyak uang di sana, kiara pin segera pergi menuju kamarnya, kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Dengan tergesa-gesa dia pun duduk di meja riasnya, untuk memeriksa isi amplop tersebut, alangkah kagetnya Kiara, saat melihat isi amplop tersebut, terlihat ada 10 susunan uang yang sudah tersusun rapi, setelah Kiara menghitungnya ternyata, uang itu berjumlah 10 juta.
"Ya Allah, mimpi apa aku semalam? Kenapa Ibu Agam begitu banyak memberi uang?"
Kiara sangat kaget. Tiba-tiba, tak berapa lama, teleponnya berbunyi.
"Hello Abang, ada apa?" tanya Kiara.
"Kau bersiap! malam ini kita akan pergi!" ajak Agam.
"Pergi ke mana? Bukankah malam ini kalian akan pergi bersama?" tanya Kiara merasa heran, karena Kiara tahu, malam ini Clara mengajak Agam pergi untuk berbelanja.
"Pokoknya kau harus siap-siap, 5 menit lagi kau sudah berada di depan pintu utama!" titahnya.
Agam menutup teleponnya, Kiara pun segera berdiri dan tergesa-gesa memasukkan uang itu dan meletakkannya di bawah kasur, di ranjangnya. Kiara berganti pakaian dan berdandan seadanya.
__ADS_1
"Mengapa pergi sekarang? kenapa tidak habis magjrib aja sekalian? ya Allah, selama ini aku sering melupakanMu, namun banyak rezeki yang telah kau berikan kepadaku," lirih Kiara.
Orang-ornag rumah ini tak satupun yang memperhatikan tentang sholat, mau magrib, Isya, apalagi subuh, mereka semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, begitu juga Kiira.
Dulu Kiara memang sering sholat magrib, namun sekarang sepertinya dia sudah terbiasa meninggalkannya. Setelah 5 menit Kiara sudah selesai berdandan, dengan terburu-buru dia pergi keluar kamar dan menunggu di depan teras.
"Kiara? mau ke mana? Kok rapi naget?" tanya Clara.
Kiara pun gugup, apa yang harus dia jawab?
"Aku yang mengajaknya pergi," ucap Agam.
"Mas? Bukankah malam ini Kita pergi berdua saja?" tanya Clara.
"Tidak! Siapa bilang kita pergi berdua saja? kita akan pergi bertiga, karena kalian sama sama keluargaku, dan sama pentingnya dalam hidupku, biar Kiara juga tau tempat kau sering beli baju, agar dia juga bisa memilih di sana," ucap Agam.
"Mas, tapi aku tidak mau pemilik Butik itu tau, kalau dia juga isrimu, aku...."
"Sudahlah! mereka tidak perlu tau, karena aku hanya akan tinggal di mobil," ucap Agam.
"Clara, kau yang menyetir!"
"Baiklah."
Clara tidak tahu rencana Agam yang sebenarnya, kemudian Agam pun membuka pintu depan, sementara Clara sudah berada di dalam.
"Kiara, kau duduk di depan bersama Clara, biar aku di belakang, aku mau tiduran," ucap Agam.
Padahal semua itu hanya pura-pura Agam saja, karena dia ingin bersikap adil kepada kedua istrinya tersebut.
"Mas! apa-apaan sih?" protes Clara.
"ku merasa capek. Aku mau tiduran. Ayo cepat Kiara!" ketus Agam.
"Bang, tidak usah, aku di belakang saja, biar Abang di depan," ucap Kiara.
__ADS_1
"Kalau gitu ya sudah, biar kita dibelakang saja, berdua, biar aku berbaring dipaha mu," ucap Agam.
Agam tahu, pasti kata kata itu tambah membuat Kiara tidak enak.
"Baiklah kalau begitu, biar aku duduk di depan menemani Nyonya Clara," ucap Kiara.
Agam pun tersenyum menang. Kiara terpaksa menurut, Karena merasa tidak enak dengan perkataan Agam, setelah perdebatan.
Mereka pun pergi meninggalkan halaman. Wajah Clara tampak kusut. Dia sangat jengkel.
"Kurang ajar Mas Agam! Kenapa dia membawa wanita ini? aku tidak habis pikir, Mengapa sekarang malah aku yang tertindas? Bukankah kemarin-kemarin dia tidak mau aku jodohkan dengan wanita ini? ah baiklah, mungkin aku perlu mengatur strategi lagi, agar wanita ini bisa pergi dari kehidupanku, tapi bagaimana dengan warisan itu? kalau Agam tidak memiliki anak dari wanita ini, Apakah aku harus mengalah sementara saja?" batin Clara.
"Awas!!!"
Teriak Agam dan Kiara bersamaan.
Tiba-tiba ada seorang perempuan dan anak kecil sedang menyeberang jalan, Clara pun membanting setirnya ke samping.
Brugh....
Mobil itu pun menabrak sebuah pohon yang ada di pinggir jalan, tentu saja karena benturan itu ke kiri, maka Kiaralah yang paling terkena dampaknya.
Kepala Kiara terbentur ke samping, hingga terlihat cedera dan mengeluarkan darah segar, Agam pun panik kemudian turun dan membuka pintu Kiara, sementara Clara karena dia memang sudah memakai pengaman saat dudu, jadi dia tidak mengalami cedera apapun.
"Kiara!" panggil Agam panik.
Agam pun mengeluarkan Kiara dari dalam mobil.
"Kau berdarah," ucapnya.
Agam lupa bahwa di sana juga ada wanita lain yang sedang membutuhkan perhatiannya.
"Mas," panggil Clara.
Bersambung...
__ADS_1