
Agam pun segera mengangkat tubuh sang istri, dia sangat panik saat melihat sang istri terbaring di lantai. Dengan cepat dia membawa Kiara keluar dari rumah tersebut, sementara sang Mah yang baru saja sampai di tangga paling atas pun kaget dan berbalik kembali turun, mendatangi Agam yang sudah berjalan di luar rumah.
Sementara ibu Kiara yang tadi juga berada di kamar, dengan susah payah dia berusaha menaiki kursi rodanya dan mendatangi arah suara.
"Agam apa yang terjadi? kenapa kau berteriak?" tanya ibu panik.
Sementara sang mamah yang sudah turun tangga pun juga panik, dia mengejar Agam sampai di depan rumah.
"Agam, apa yang terjadi dengan Kiara? Kenapa kau gendongnya?" tanya sang mamah.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saat aku ke dapur, dia terbaring di lantai, sekarang aku akan membawanya ke umah sakit, ayo Mah!" ajak Agam.
Mamah Agam pun mengiringi dan masuk ke dalam mobil, kemudian memangku kepala Kiara di pangkuan nya.
Ibu Kiara hanya bisa menatap dari teras rumah, karena dia masih belum bisa berjalan hanya mengandalkan kursi roda saja untuk untuk membantunya berjalan. Sementara Aswin tampak menggeliat ternyata dia tertidur sejenak saat menunggu sang istri datang dari kantor.
Aswin menatap jam dinding di kamarnya. sudah hampir jam 08.00 malam, namun sang istri belum juga datang ke kamarnya, dia pun keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Kenapa rumah ini sepi sekali? ke mana orang-orang, mengapa Mentari juga belum datang?" gumamnya.
Dia terus berjalan menuruni tangga dan menuju dapur, dia membuka tudung saji yang ada di meja, namun dia semakin heran, karena makanan itu masih penuh tanpa tersentuh, bahkan dia melihat sebuah piring yang belum sempat di makan pun ada di sana.
"Ke mana mereka? Mengapa lauk lauk ini tidak ada yang memakannya?" gumam Aswin.
Dia pun berjalan ke ruang tamu dan memanggil Agam.
"Agam! apa kau di kamar?" teriak nya.
Namun tidak ada sahutan.
Ceklek.
Ibu Kiara keluar dari kamar dengan menaiki kursinya.
"Tuan Aswin, Agam dan Kiara juga mentari sekarang pergi membawa Kiara ke rumah sakit, tadi kiara terjatuh di lantai dapur, entah sejak kapan dia pingsan di dapur, karena aku juga tidak ada ke dapur," ucap Ibu Kiara.
"Benarkah? apa yang terjadi dengan Kiara? kenapa dia terjatuh? Aku juga tertidur, jadi tidak ada ke dapur setelah selesai memasak."
Aswin pun segera ke kamarnya kembali, dan mengambil teleponnya untuk menelepon sang istri, berulangkali dia menelpon namun tidak ada jawaban dari Mentari.
Sementara Kiara di rumah sakit sudah ditangani oleh para perawat di UGD tersebut.
"Apa yang terjadi dengan istriku? kenapa istriku pingsan? Padahal tadi saat ku pergi dia baik-baik saja."
__ADS_1
Agam masih sangat panik dan khawatir.
Ada banyak perawat yang menangani masalah Kiara, dan mencek tekanan darah dan,lainnya.
"Mungkin dia kelelahan pak, kita tunggu saja hasil pemeriksaannya, tapi untuk hari ini kami hanya bisa merawatnya, karena dokternya tidak ada, mungkin besok pagi atau sore dokternya baru datang," ucap perawat.
"Jadi aku menunggu selama itu? Tidak nisa, dia harus di tangani secepatnya, tolong lakukan sesuatu, aku akan membayar berapapun Asal kalian bisa menolongnya."
"Maaf pak, bukan masalah pembayaran, namun memang dokternya tidak ada,kalau malam begini dokter, beliau baru datang kalau pagi, atau siang hari."
"Jadi istriku tidak ditangani? Hanya dibiarkan tergeletak begini saja, rumah sakit macam apa ini?" ketus Agam.
"Tidak begitu pak, kami akan memberinya obat sesuai anjuran dokternya, kami sudah menghubungi dokter via telepon, jangan khawatir!" tutur perawat sopan.
"Jadi istriku tetap mendapatkan perawatan? Walau dokternya belum datang!" tanya Agam lagi.
Dia begitu cerewet, membuat perawat bingung dan merasa aneh, saat menatap wajah Agam yang udah tua, tapi sangat panik saat menghadapai kondisi Kiara.
"Iya Pak, sebenarnya, ini anak ke berapa?" tanya perawat akhirnya.
"Anak pertamaku, makanya aku sangat khawatir, kalau terjadi sesuatu dengannya.
"Bang..., di mana ini?"
Kiara mulai bangun dan menyapu seisi kamar, tampaklah ruangan putih itu di netranya.
"Aku tidak tahu Bang, tiba-tiba kepalaku pusing, perutku mual, lalu aku memuntahkan semua makanan di perutku, namun rasa pusing itu semakin menjadi-jadi, sehingga mataku berkunang-kunang dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi?" jelas Kiara dengan suara lemah.
"Mungkin karena kau sedang mengandung. Jadi kau akan sering mual dan muntah nona," ucap perawat.
"Sekarang istirahat saja dulu, agar kau tenang dan kondisimu kembali sehat," perintah Perawat.
Setelah selesai di periksa, para perawat itu pun pergi meninggalkan UGD.
"Nak, kamu tidak usah lagi melakukan sesuatu di rumah! Biar Agam makan apa yang ada di dapur saja, makan pakai ikan kering pun tidak apa-apa, asal kamu sehat. Pembantu kita akan datang minggu depan, karena Mamah ingin orang dari kampung Mamah, yang terpercaya," ucap Mentari.
"Iya Mah ..., Bang, maaf ya! Aku membuat Abang dan Mamah khawatir."
Agam meremas tangan sang istri, dia sekarang lega, sang istri terlihat baik baik saja.
"Mas Aswin ini ngapain saja di rumah, menantu pingsan nggak tau!"
Mentari pun mengambil telepon nya dan melihat ada panggilan tak terjawab dari Aswin.
__ADS_1
"Hello, Mas, ngapain saja di rumah? sehingga anak pingsan pun tidak tau, begini kerjaan suami kalau di tinggal di rumah! beda dengan istri, kalau di tinggal di rumah bekerja dari pagi sampai sore. Kamu pasti ngorok kan?" kesal dan cerucus Mentari.
"Mah, beri aku kesempatan...."
"Kamu memang sejak dahulu, kalau tidak ada,kerjaan pasti ngorok, atau chat sambil senyum-senyum, jangan jangan kamu lagi asik teleponan ya dengan cewe?"
Curiga Mentari kini kambuh, pasti traumanya di masa lalu yang membuatnya mudah curiga.
"Mentari, buat apa aku chatan? lagian tidak ada nomor cewe di HPku," sahut Aswin.
"Mana aku tau, mungkin saja nomornya telah kau ganti jadi anto, seperti waktu dulu!" ketus mentari lagi.
"Mah sudah, tidak bagus berdebat di telepon, nanti saja."
Barulah Mentari tenang saat di tegur Agam, mereka sekarang ada di rumah sakit, banyak telinga yang mendengar.
***
Hari ini, Kiara sudah di USG dan hasilnya pun pasti sudah di ketahui.
Kiara tampak sudah di ruangan yang sudah di sediakan, tadi malam dia hanya tidur di UGD karena ruangan penuh.
"Maaf, Bu, dokter mau masuk!" ucap seorang perawat.
Seorang dokter tampan pun masuk, setelah Kiara memasang kerudungnya.
"Ibu apa kabar?" tanya dokter ramah.
"Pusing dok," sahutnya.
Sang dokter pun memeriksa dengan seksama, Agam tampak menatap pergerakan tangan dokter yang memeriksa Kiara, bahkan mungkin kali ini hati Agam pun cemburu dengan dokter tersebut.
"Begini, istri anda sedang hamil muda, jadi untuk sementara berhubungan badannya di pending dulu ya Pak!" ucap Dokter memperingati.
"Oh iya Pak, bagaimana dengan kandungannya?" tanya Agam.
"Kandungannya sepertinya lemah, jadi kalian harus menjaga agar tidak terjadi goncangan di rahimnya," ucap dokter.
"Oh, iya dok."
Dokter pun pergi meninggalkan kamar Kiara setelah memberi penjelasan pada Agam dan Kiara.
"Yaaah, puasa deh? Kamu ya, belum juga lahir, udah menghalangi Papah dan Mamah, apalagi nanti? Kalau kamu sudah lahir, jadi apa mamah dan papah ini? jangan jangan malah tidak boleh berdekatan," bisik Agam di perut sang istri.
__ADS_1
Kiara yang mendengarnya pun tersenyum geli.
Bersambung.