
Naira masih bingung dengan apa yang baru saja dia lihat, calon suaminya ini membayar cash motor matic yang dia beli dengan harga Rp.45.000.000 tunai.
Sebenarnya siapa calon suaminya ini? dia bilang dia hanya seorang karyawan, namun seorang karyawan tidak mungkin bisa membeli barang mahal seperti ini.
"Apakah kau meminjam uang di kantormu?" tanya Naira akhirnya.
Dia sangat penasaran, dan tidak bisa menahan keingin tahuannya.
"Hemmm," balas Fathan hanya bergumam.
"Lalu bagaimana kalau membayarnya nanti? itu kan sangat mahal," cecar Naira.
"Gampang, kau tidak usah memikirkan itu, sekarang ayo kita mau ke mana lagi? Sekarang kamu mau beli apa lagi?" ajak Fathan.
"Jadi kamu mencicil di kantor?" tanya Naira masih penasaran.
"Hemm ..., entah?" sahut enteng Fathan.
Naira pun memasang wajah cemberut.
"Sayang ..., jangan memikirkan itu, yang penting saat aku melamar mu nanti, aku nggak akan ngutang, aku bayar cash. oke? Jangan cemberut dooong!" goda Fathan dengan melingkarkan tangannya di pinggang Naira.
Naira pun menatap wajah tampan sang kekasih, sangat dekat.
"Aku tidak mau kita banyak gaya, tapi ujung-ujungnya menumpuk utang," ucap Naira.
"Ha ha ha, jadi kau takut aku punya hutang banyak?" kekeh Fathan sambil mencolek hidung Naira yang masih cemberut.
"Hemm," Angguk Naira masih memasang wajah cemberut. Dan memajukan bibirnya 2 cm.
Fathan sangat gemas dengan wajah gadis pujaannya itu.
"Ingin sekali aku menggigit bibirmu itu Nai, apa boleh ku gigit sekarang?" tanya Fathan gemes.
"Ha? Jangan coba-coba!" ancam Naira dengan menjauhkan badannya dari sisi Fathan.
Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil.
"Tuan, tunggu! ini mau diantar ke mana?" panggil karyawan dealer.
__ADS_1
"Antar saja ke alamat yang ada di KTP itu," sahutnya.
"Ha? Kenapa di antar ke rumahku? kamu jangan bercanda, masa iya kamu kirim ke rumah aku? nanti malah Ibuku kena serangan jantung, kedatangan motor mahal itu," ucap Naira merasa tidak lucu.
"Ya tinggal kamu telepon saja ibu, biar Ibu tidak kaget," ucapnya.
"Kamu jangan bercanda."
"Jadi di antar ke mana Tuan?" tanya Karyawan lagi, menunggu dua orang yang sedang berdebat itu.
"Ke alamat itu, titik."
Karyawan pun pergi. Sementara Fathan menghidupkan mesin motornya. Mereka pergi meninggalkan dealer.
"Sayang, kamu telepon saja Ibu, bilang kalau nanti ada motor bakal datang, ini adalah hadiah dari aku."
"Ini? beneran?" Naira merasa tidak percaya.
"Ya beneran lah, masa aku bohong. Ayo! sekarang kita ke suatu tempat!"
"Kemana lagi?" tanya Naira.
"Hemmm..."
Naira seperti melamun, namun senyum-senyum sendiri.
"Kamu kenapa? Kok aneh?" tanya Fathan yang melihat Naira senyum sendiri.
"Ya ..., aku syok lah, kamu beliin aku motor gede, nggak bilang-bilang. Sebenarnya kamu kerja apaan sih?" tanya Naira memberondong dengan pertanyaan yang sama.
"Kamu mau tahu aku kerja apaan? Oke, sekarang kita ke kantor aku."
"Tapi..., hari ini kamu izinkan? kalau kamu ke kantor, nanti malah di marahin sama bos."
"Tidak masalah, asal kamu nggak curiga macam-macam lagi, nanti malah di kira aku mencuri lagi, ha ha ha, ayo! Let's go!" kekeh Fathan.
Fathan pun membawa Naira ke perusahaan Papanya, setelah perjalanan 20 menit mereka pun sampai di gedung yang menjulang tinggi.
...PT Gam Group...
__ADS_1
"Jadi kamu kerja di sini? ini kan perusahaan ternama yang terkenal itu? aku pernah dengar kalau mereka pernah bangkrut, karena ada sengketa begitu? terus mereka bangkit lagi," cerita Naira sambil mengagumi bangunan megah yang ada di hadapannya.
"Ya ..., Aku nggak tahu kalau itu? aku kan cuma bekerja, bukan detektif. Ayo turun!" ajak Fathan setelah di bukakan pintu oleh paman satpam.
"Nggak usah di bukakan pintu, Paman! aku merasa istri Bos saja kalau begini," ucap Nayra
Naira dan Fathan pun berjalan mendekati bangunan tersebut. Namun Naira bingung semua karyawan yang ada di jalan, sengaja berhenti dan berdiri di sisi jalan, kemudian menunduk kepada Fathan, seakan Fathan itu adalah bosnya.
"Sayang ..., kenapa mereka bersikap begitu? Emangnya kamu punya kekuasaan apa di sini?" heran Naira lagi.
"Entah?" sahut Fathan tidak memuaskan.
"Apakah kamu seorang manajer? kenapa kamu tidak pernah bilang?" Naira terus ngoceh sepanjang jalan.
Fathan hanya tersenyum, kemudian Naira pun menggandeng tangan sang pacar, karena merasa grogi, dan juga melihat ada beberapa mata wanita yang tampak ganjen seperti ingin menggoda sang kekasih.
"Eh kamu kenapa sih mepet-mepet begini? kamu takut ya? kalau karyawan-karyawan itu menggodaku," ternyata Fathan tahu kalau Najra ingin memperlihatkan kalau Fathan adalah miliknya.
"Ih, apaan sih?" Naira pun melepaskan gandengan,tangannya.
Namun...
Hap.
"Jangan merajuk#"
Fathan menarik tangan itu dan melingkarkan tangannya di pinggang Naira, sehingga mereka sangat dekat. Karyawan pun semakin menundukkan kepala mereka karena tidak berani menatap kemesraan itu.
"Mereka sangat aneh," gumam Naira.
"Ada apa?" tanya Fathan yang tidak mendengar jelas perkataan Naira.
"Pasti mereka menghormati kamu, karena jabatan kamu di sini lebih tinggi dari mereka?" ucap Naira.
Mereka pun sudah sampai di depan lift kemudian mereka naik ke lantai 3. Setelah sampai di lantai 3 dia pun berjalan menuju ruangan pribadinya yang pernah dipakai Agam dulu.
"Selamat pagi Pak," ucap karyawan yang terlihat seperti berjabatan di sana, tertulis di bajunya itu dia adalah Manager.
"Kalau laki-laki itu Manager? berarti dia siapa ya?" batin Naira ditambah bingung oleh orang-orang di sekitarnya..
__ADS_1
Nex