
Agam gelisah, karena dia belum juga bisa menghubungi Kiara dan Nyonya Mentari sang ibu. Dia pun mondar-mandir di ruang tamu menanti kabar ingin berangkat menuju tempat praktek, namun dia juga tidak tahu praktek yang manakah yang disinggahi oleh Kiara dan ibunya. Akhirnya dia pun memasuki kamar Kiara dan mencari sesuatu.
"Ah sia**l, telepon Kiara tertinggal pantas saja dia tidak menyahut."
Kemudian karena merasa curiga, Agam pun berjalan ke kamar Ibunya dan mencek HP ibunya, ternyata juga benar, bahwa sang Ibu juga tidak membawa telepon l.
"Kenapa dua wanita ini membuatku tidak karuan? mereka bahkan sama-sama tidak membawa teleponnya, 2 wanitaku ini sekarang sudah sangat akur,, terima kasih ya Tuhan, kau berikan kami kebahagian, walau aku sangat tidak pantas untuk menerima ini," gumam Agam.
Akhirnya dia memutuskan untuk menyisiri tempat-tempat praktek yang ada di sekitar terdekat. Tanpa tujuan Agam lun melajukan mobilnya dengan sangat pelan.
Sementara tampak Kiara dan Ny.Mentari sudah berada di sebuah tempat praktek spesialis kandungan yang ada di kota, tempat praktek itu lumayan jauh dari tempat mereka tinggal, karena tidak ada bidan praktek yang buka se pagi ini, hanya dokter yang tidak ada tugas di rumah sakit yang buka praktek di pagi hari.
"Dok, tolong periksa anak saya!" ucap Nyonya Mentari.
Kemudian Kiara pun berbaring di atas ranjang pasien. Kiara merasa gugup.
"Apakah saya harus membuka baju?" tanya Kiara.
Kiara tampak malu, karena dia tidak pernah memperlihatkan anggota badannya kecuali pad suaminya.
__ADS_1
"Iya dong, Bagaimana mau diperiksa kalau kamu tidak buka perutnya?" ucap dokter lelaki yang tampan tersebut.
Dengan perasaan malu, Kiara pun membuka sedikit bajunya. Sementara sang mertua tampak sangat senang.
"Kiara! ayo nak! buka saja, biar cepat," ucap mertuanya tidak sabaran.
Kemudian asisten dokter mengambil tisu dan menjepitkan nya di ban ****** ***** Clara, membuat Kiara menepis tangan itu.
"Mbak, jangan terlalu ke bawah, malu," ucap Kiara.
Karena dia merasa, asisten tersebut terlalu menurunkan celananya.
"Mbak. Emang harus begini, yang kita periksa itu dari bawah pusar sampai sekelilingnya, biar kita tahu," ucap perawat tersebut.
"Tahan ya Mbak! kalau mbak bergerak-gerak malah aku tidak bisa menemukannya," ucap dokter.
"Menemukan apa Dok?" tanya polos Tiara.
"Ya benih kamu lah, hasil cocok tanam kamu dengan suamimu!" canda sang dokter, membuat sang mertua tua geli sendiri saat mendengar dokter bercanda dengan menantunya tersebut.
__ADS_1
Sementara Kiara merasa sangat malu dan hanya diam, wajahnya bagai udang rebus.
"Nah itu dia, itu dia, Lihatlah!" sang dokter pun antusias sekali saat menemukan biji kacang tersebut memang sudah ada di perut Kiara.
"Apa? Apa dok? Apakah menantuku hamil?" antusias sang mertua l.
"Yang mana dok. Aku nggak lihat," tanya Kiara lagi.
"Itu Lihatlah, itu yang kecil," ucap dokter.
"Mana? nggak ada," ucap Kiara.
"Selamat ya! ini memang sangat kecil, mungkin nanti setelah 6 atau 7 bulan, baru bisa di lihat dengan mata biasa, tapi sekarang kamu memang hamil."
"Alhamdulillah," teriak sang mertua sangat bahagia.
Kemudian dia pun mencium sang menantu berulang-ulang, membuat Kiara semakin bingung, terlihat sang mertua meneteskan air mata kebahagiaan.
"Alhamdulillah," lirih Kiara juga.
__ADS_1
"Terima kasih Kiara, terima kasih kau kembali menghidupkan hatiku yang hampir beku ini, Tiara," ucapnya dramatis.
Bersambung