
Hari Sudah semakin gelap Nyonya Mentari masih menunggu jemputan sang anak di kantornya, namun ternyata Agam benar-benar lupa dengan sang Mamah.
Agam sudah sampai di halaman rumah mewahnya, dia bergegas memasuki rumah besar itu dan masuk ke kamar tamu, karena Kiara sedang hamil, maka mereka tidur di bawah.
"Bagaimana kerjanya hari ini Bang?" sambut Kiara sambil melepaskan pakaian sang suami untuk di bawa ke mesin cuci.
"Alhamdulillah lancar, oh iya, aku puas melihat wajah hendri kaget saat aku juga ada di rapat tersebut, bahkan dia sempat menghinaku."
"Lalu Abang balas Apa?" tanya Kiara.
"Sebagai orang pintar, aku hanya diam, karena itu tidak penting bagiku," sahut Agam.
"Ih emang orang pintar kalau di remehkan harus diam ya Bang? Kalau aku merasa rugi kalau tidak melawan," pungkas Kiara merasa tidak terima suaminya di hina.
"Kita tidak perlu membalas perlakuan mereka, cukup kita buktikan saja kalau kita mampu dan sukses, aku mau mandi dulu, lalu makan ya!"
Agam masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah beberapa saat, dia keluar dengan wajah segar dan ceria.
"Ayo kita makan!" ajak Agam.
Agam pun melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, , melewati pintu pun, mereka tetap bergandengan.
Sesampainya di dapur, Kiara langsung menyajikan makanan yang dia masak sendiri, di temani sang ibu dan ayah mertuanya, yang di arahkan Kiara.
"Hemmm, aku sangat merindukan masakan mu ini, tapi kalau kau tidak bisa memasak lagi, jangan kau paksakan ya! yang penting kamu dan bayiku sehat," ucap Agam.
"Iya Bang, oh iya, bagaimana kerja Mamah di hari oertama jadi Direktur utama...."
"Uhuk... Uhuk-uhuk...."
Agam langsung terbatuk batuk ketika Kiara menyebut sang Mamah. Rupanya dia baru sadar kesalahannya hari ini yang meninggalkan sang mamah di kantor.
Agam segera berdiri dan meninggalkan nasi yang masih menggunung di piringnya, membuat Kiara heran.
"Bang, ada apa? kenapa berhenti? kau mau ke mana?" tanya Kiara sambil menatap heran kepergian sang suami, yang berjalan meninggalkan dapur.
"Aku harus kekantor, tolong kau simpan makanan ku dulu, nanti aku makan lagi," ucap Agam.
"Kenapa ke kantor lagi? ini sudah hampir maghrib Bang!" sanggah Kiara semakin heran melihat sang Suami pergi begitu tergesa-gesak.
"Aku melupakan Mamah di kantor, hari ini aku rapat di Kantor Tuan Halim, setelah rapat aku langsung pulang ke rumah, aku lupa kalau mama ada di kantor dan sekarang pasti sedang menungguku," ungkap Agam sambil terus berjalan meninggalkan rumah besar menuju mobil.
__ADS_1
"Apa? Abang melupakan mamah? jadi tadi Abang Pulang ke rumah sendirian? Dan mamah di tinggal di kantor?" ucap Kiara.
"Iya, aku sangat bahagia hari ini, karena kerjasama aku dengan rekan bisnis baru berjalan lancar, dan aku mau langsung pulang mengabarkan berita ini kepadamu. Eh aku lupa kalau ibu belum aku jemput."
Agam sudah berada di dalam mobil dan kemudian menghidupkan mobil lalu pergi meninggalkan rumah. Kiara pun kembali ke dala, namun saat dia masuk ke dalam sang ayah turun dari tangga.
"Bagaimana? apakah suamimu sudah pulang? Mamahmu mana?" tanya Aswin sang mertua.
"Ooh..., be_belum Pa, Mama belum pulang, tadi Bang Agam sempat pulang sebentar kemudian pergi lagi untuk menjemput mama," sahut Kiara.
"Kenapa tidak sekalian pulang bersama Agam?"
"Oh itu karena ...." Kiara bingung harus menjawab apa? tidak mungkin dia menjawab Kalau Agam melupakan Mamanya di kantor, pasti sang papa akan merasa kesal.
"Ada apa? Kenapa kau ragu untuk mengatakannya? apakah terjadi sesuatu?" tanya Aswin curiga.
"Tidak, tadi Bang Agam sedang rapat di Kantor rekan kerjanya, lalu pulang kemari sebentar dan ini akan menjemput Mamah kembali." kilah Kiara.
"Oh baiklah, kalau begitu Aku mau mandi sebentar, kemudian menunggu mamamu pulang, aneh-aneh saja mamamu ini, sekarang aku bagaikan ibu rumah tangga yang menunggu istrinya pulang dan akan menyiapkan makan malam untuknya."
Kiara yang mendengar gumaman sang ayah pun tersenyum, memang sangat lucu pasangan suami istri yang baru menikah tadi malam itu, kalau ada yang mendengar kisah mereka pasti mereka juga akan tertawa dan meledek pertukaran pekerjaan mereka itu.
Namun tiba-tiba dia merasa pusing dan mual yang sangat hebat, dia berjalan ke dapur membuang semua makanan ke wastafel, namun kepalanya semakin pusing saja. dia terus muntah-muntah sehingga isi yang ada di dalam perutnya pun kini terkuras habis.
***
Sementara Agam sudah sampai di kantornya tepat ketika orang azan maghrib. Kantor tampak sepi. Bahkan dia lupa untuk mengaktifkan teleponnya dia pun berlari ke lift dan ke lantai atas bangunan yang menjulang tinggi itu .
Sesampainya di depan ruang pribadinya dia pun segera mendorong pintu dan masuk ke dalam. Agam merasa lega karena ternyata wanita tua yang selalu mendampinginya itu kini sedang tertidur pulas.
Agam menatap wanita tua yabg sekarang tampak teduh kalau di pandang mata.
"Mah, aku tidak menyangka kini kau berubah, dulu kau wanita modern dan suka foya foya, namun saat kita terpuruk, kau bisa bangkit, semua ini berkat Kiara," lirihnya.
Menatap wajah sang wanita pertama dalam hidupnya itu pun Agam tersenyum.
"Untung saja kau tidak menyadari kalau sekarang sudah malam Mah," ucapnya lagi.
Bahkan lampu ruangan pun tidak menyala, namun ada sedikit sinar yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mamah, bangun! kita pulang yuk! sudah selesai rapat nih," ucap Agam.
__ADS_1
Agam pun tidak mungkin mengatakan kalau dia melupakan sang mama dan sudah sempat pulang ke rumah.
Sang Mamah pun menggeliat.
"Benarkah? Aku merasa sangat lelah dan aku pun ketiduran."
"Iya mah, tidak apa-apa. Ayo sekarang kita pulang!"
Mereka bardua pun pergi meninggalkan kantor tersebut, namun saat Mamah agak berada di parkiran dia kaget, karena hari sudah terlihat gelap.
"Ini sudah magrib atau sudah Isya Gam?" tanya sang Mah Baru Maghrib mah kita harus pulang cepat Papa Mamah.
"Maghrib mah, apa mamah ingin membeli sesuatu dulu?"
"Iya, aku ingin membeli sesuatu," ucap sang mamah.
"Beli apa Mah?"
"Membeli empek-empek yang banyak."
"Untuk apa empek-empek banyak?"
"Kiara kan suka empek-empek, papamu juga suka. kamu juga waktu kecil." suka
"Oh baiklah kalau begitu, kita sholat di jalan saja cari mushola atau masjid."
"Baik Gam."
Mereka singgah di sebuah musholla yang ada di pinggir jalan untuk melaksanakan sholat maghrib. Kemudian membeli empek² yang banyak.
Selesai dengan belanjaan mereka pin meluncur menuju pulang. Agam sesekali tersenyum ketika ingat dirinya telah lupa sama ibunya yang menunggu di Kantor.
Seandainya tidak Kiara yang menyebut Mamah, mungkin Agam akan menjadi anak durhaka sejenak, karena telah menelantarkan ibunya sendiri.
Sesampainya di rumah besar. Mereka segera masuk dan Agam pun segera menuju dapur untuk meletakkan Empek-empek namun.
"Ha? Kiara!"
Agam berteriak kaget saat melihat Kiara terbaring di lantai tanpa gerak.
__ADS_1