
Agam dengan cepat menunduk dan berpaling untuk menghindari tatapan Aswin sang ayah.
"Maaf Tuan. Hasan, kalau begitu aku pamit, sebaiknya kau bawa Tuan ini ke rumah sakit!" saran Agam pada Hasan yang menemani ayahnya.
"Ya Tuan, oh siapa namamu Tuan?" tanya Hasan.
-Namaku ..., panggil saja aku Tuan Aga," ucapnya dengan menghilangkan huruf M di namanya.
"Oh..., baiklah tuan Aga, Terima kasih banyak."
"Sama-sama."
Agam pun pergi meninggalkan tempat tersebut. Sebenarnya dia merasa was-was dengan kondisi sang ayah yang kurang sehat, namun dia kembali ingat kepada ibunya, dia belum siap untuk mempertemukan Ayah dan ibunya karena sakit hatinya yang dulu, membuat dia trauma saat melihat sang Ibu menjerit histeris, saat ditinggalkan begitu saja oleh sang ayah.
Agam pun sudah menjauh dari tempat tersebut, namun dia kembali menatap sang ayah.
"Papah. Maafkan Aku, semoga kau menang dalam persidangan ini, aku tidak bisa membantumu, namun aku pasti akan terus memantau sidang ini sampai selesai," ucap Agam.
Kemudian dia pun pergi meninggalkan tempat tersebut, tentu saja setelah zuhur nanti dia akan kembali untuk menyaksikan sidang kedua, Aswin ataupun Alex ingin segera mendapatkan hasil yang memuaskan.
***
Hari-hari Kiara tampak hanya uring-uringan di rumah saja, sedikitpun dia tidak diizinkan keluar rumah walau hanya untuk memungut satu sampah plastik pun di halaman. Ibu juga mertuanya sangat kompak menjaga Kiara, jadi dia hanya duduk di bawah matahari beberapa menit setelah itu kembali ke rumah dan disuruh tidur-tiduran.
Memasak dan mencuci itu adalah pekerjaan ibu dan mertuanya, mereka sangat hati hati menjaga calon cucu yang kemarin sempat pendarahan.
"Mah, aku bosan kalau begini terus, aku ingin beraktifitas mah," ucap Kiara.
"Kamu itu sakit Nduk, nanti kalau kenapa-kenapa dengan anakmu, kasihan Agam kan? Lihatlah usianya yang sudah tua itu, dia belum juga memiliki seorang anak," ucap sang mertua kepada Kiara.
"Iya Mah, tapi mungkin kalau aku cuma jualan bubur tidak masalah kan? aku merasa bosan di rumah terus," rengek Kiara.
"Pokoknya kamu tidak boleh capek-capek sampai kandunganmu itu besar, ingat ya! kamu harus nurut sama suami dan mertuamu, juga ibumu!"
"Baiklah Mah," sahut Kiara terdengar lemes
Kiara pun kembali mengambil gawai nya dan berbaring di sofa panjang di ruang tamu, hingga tak terasa waktu terus berlalu, kini saatnya Kiara makan siang seperti biasa, semua keperluannya sudah di sediakan oleh sang mertua, dan juga ibunya Kiara.
Kiara benar-benar seperti Ratu yang sedang di ratukan oleh ibu dan mertuanya, waktu terus berlalu saatnya Agam pulang dari kantornya setelah menghadiri sidang perusahaan sang ayah juga hari ini tadi.
"Bang! kau sudah datang?" dengan wajah yang sangat ceria Kiara pun menyambut kedatangan Agam.
__ADS_1
"Iya Sayang."
Agam lun menggandeng sang istri, setelah salaman dengan kedua ibunya. Agam pun mengajak Kiara ke kamar.
"Hari ini aku menghadiri sidang perusaan kita. Maaf sebelumnya aku tidak menceritakan yang sebenarnya, sebenarnya aku sudah bertemu dengan papah kandungku...."
"Apa? Papah? Bukankah dia sudah meninggal?" kaget Kiara.
"Tak ada bukti kalau dia meninggal, hanya dia menghilang bak di telan bumi sudah puluhan tahun ini," sahut Agam.
"Tapi bener itu Papah kan? Bukan hanya mirip doang?" tanya Kiara lagi semakin penasaran.
"Iya, ternyata semua berkas yang selama ini ku simpan hanya palsu, sedang yang asli masih papah simpan."
"Apa maksudmu Bang? Berkas asli dan palsu?" menambah kebingungan Kiara.
"Iya, Papah menyimpan berkas asli di Bank, sedang yang di berikan ke padaku dulu hanya tiruan saja."
"Jadi berkas perusahaan yang di miliki paman Alex itu palsu?"
Kiara sangat bersemangat sekali ingin mengetahui kebenaran yang baru saja Agam ketahui.
"Iya... Perusahaan itu pasti kembali lagi pada Papah."
"Kenapa kau murung? Bukankah itu lebih baik?"
"Iya, sangat baik, namun...."
Agam terdiam dan tertunduk sedih, ada sesuatu yang tidak ingin dia ceritakan kepada Kiara, namun Kiara pasti me uber-ubernya terus kalau sampai Agam tidak tuntas menjelaskannya.
"Apa Bang? Ayo katakan!" desak Kiara dengan memepet duduk sang suami.
"Aku tidak ingin kembali ke perusahaan itu, aku merasa tenang dengan keadaan kita sekarang," sahutnya.
Kiara yang mendengar pun terdiam. Dia juga tidak tau harus berkata apa. Mungkin Agam merasa harta itu hanya membuat mereka sengsara saja.
"Jadi bagaimana dengan hubungan mamah dan juga papah? Apakah papah tidak mencari kalian?"
"Papah? Papah apa maksudnya?"
Tiba-tiba mertua Kiara berdiri di depan pintu yang memang terbuka. Kiara dan Agam pun kaget. Karena memang sejak tadi mereka menjaga suara agar tidak terlalu terdengar keluar. Namun mereka lupa menutup pintu.
__ADS_1
"Mamah? Bukan apa-apa Mah."
Agam mencoba menyembunyikan fakta dari sang mamah. Namun sang mamah terlanjut mendengar sejak tadi pembicaraan mereka.
"Aku sudah mendengar pembicaraan kalian sejak tadi, karena aku mendengar ada sidang perusahaan. Maaf kalau aku lancang. Tapi aku sudah mendengarnya. Dan papah? Apakah benar yang aku dengar?" desak Mamah Agam lagi.
"Mah, sebenarnya aku ingin mengubur semua itu. Aku ingin kita menghindari pertemuan ini mah."
"Di mana papah mu sekarang, di mana dia sudah berpuluh-puluh tahun ini heh?"
Mamah Agam tampak emosi, saat menanyakan kabar suaminya itu. Bagaimana tidak? sudah lebih dari 10 tahun dia tidak pernah bertemu, dan pertemuan terakhirnya waktu lelaki itu ketahuan selingkuh.
"Mah, tenangkan diri mamah dulu. Aku juga belum bertemu secara resmi dengannya. Aku hanya menghadiri sidang dan pergi setelahnya.
" Jadi benar ..., papah mu masih hidup? Lelaki brengs**ek itu masih bernafas?"
"Mamah..., apa yang harus aku lakukan sekarang? Papah juga sudah menyebarluaskan berita tentang kepulangan nya, dan juga sudah mencari kita lewat media sosial Maj,"
"Jadi ayahmu masih ingat pada kita?" ketus dan,sindir nada suara,ibunya yang meninggi.
"Iya Mah, dia ingin menemukan kita dan bersama lagi."
"Agam, sebenarnya aku sudah ikhlas, namun, setelah mendengar papah mu masih hidup, hatiku kembali tersayat," ucap sang mamah.
"Mah, oleh karena itu aku ingin menyembunyikannya dari Mamah, eh malah mamah mendengar sendiri. Jadi bagaimana sekarang Mah? Papah pasti terus mencari kita, dan mengerahkan anak buahnya sampai menemukan kita."
"Kiara, Agam, ke marilah, lihatlah! Ada orang yang mencari nama Agam dan Ny.Mentari, bukankah itu nama kalian?" teriak ibu Kiara dari ruang tamu.
Bergegas Agam pun keluar di iringi Kiara mamahnya.
Mereka pun menonton acara televisi yang menyiarkan kemenangan Aswin atas perusahaan dan juga aset rumah Agam.
"Aku ingin mencari anak dan istriku Agam dan Mentari, di mana pun kalian berada, aku mohon temuilah aku! Aku meminta maaf pada kalian selama ini, aku baru bisa nongol, karena aku amnesia beberapa tahun lamanya."
Begitulah bunyi suara Aswin di televisi.
Ny.Mentari terdiam, ada butiran bening yang,tiba-tiba mengalir di sudut matanya. Apakah dia akan menemui sang suami.
"Sebaiknya kalian kembali saja pada dia, kasian dia, lihatlah wajah tuanya itu tampak tulus menginginkan kalian, apalagi perusahaan kalian sudah menjadi milik kalian lagi," komentar ibu Kiara.
"Bu, aku menurut pada mamah saja, kalau dia mau kembali, maka aku akan membawanya, namun kalau dia menginginkan sebaliknya, aku tetap akan mendukungnya."
__ADS_1