Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Jatuh Cinta pada Suami Orang


__ADS_3

Nyonya Mentari pun sudah selesai makan, dia pun berdiri, namun saat berdiri dia masih menyendok kembali kuah opor yang ada tersisa di mangkok tersebut, Bibi yang melihat pun tersenyum.


"Nyonya Mau nambah lagi? masih ada kok di wajan! Bagaimana rasanya? Bukankah sangat enak? bahkan enaknya melebihi dari masakanku kan Nyionya?" tanya bibi.


"Ah biasa aja Bi, Enggak juga kok," ucapnya gengsi.


"Tapi kok itu nasinya hampir habis sewadah?" ucap Bibi lagi, sambil menggoda Nyonya besarnya.


"Tadi itu Bi, aku lupa baca bismillah, makanya nggak kerasa udah satu wadah aja aku habisin, udah sekarang, rapikan tuh semua meja. Aku mau ke kamar, nanti kalau Agam makan, bilangin aku sudah makan duluan," ucapnya.


Tak biasanya Ny. Mentari makan lebih dulu, biasanya dia akan menunggu Agam, rencana awalnya tadi kan dia mau icip-icip doang, masakan yang dimasak oleh Kiara, ternyata eh ketagihan sampai habis dua piring nasi.


"Ya Nyonya," sahut Bibi sampai tersenyum.


Wanita glamor dan judes itu pun pergi meninggalkan dapur.


"Kiara, sepertinya Ibu mertuamu sangat menyukai masakanmu. Lihatlah! sampai dia nambah dua kali loh," ucap bibi.


"Iya juga sih Bi. Mudah saja dia bisa menerima aku nanti," sahut Kiara.


Tak berapa lama, Agam pun datang dengan wangi parfum yang sangat menggoda iman Kiara. Membuat Kiara terpesona dengan suaminya tersebut, dan hanya menatapnya tanpa berkedip.


"Apakah sudah masak, Kiara?" tanya Agam pada Kiara yang terpaku.


Kiara kaget dan pura-pura membersihkan meja.


"Sudah Bang, ini tadi Nyonya besar baru selesai makan," ucapnya.


"Mamah sudah makan? Kenapa tidak menungguku? biasanya juga selalu menungguku kalau mau makan," ucap Agam.


"Itu Tuan, tadi dia hanya ingin icip-icip masakan Kiara, eh ternyata habis tuh tiga piring nasi," ucap Bibi sambil tersenyum.


"Masa Bi? berarti dia sangat suka dong masakan Kiara," ucap Agam lagi.


"Iya tuan, bahkan saat aku bilang hampir habis satu wadah, dia cuma bilang, kalau dia tadi lupa baca basmalah, padahal mungkin masakannya Kiara aja yang terlalu lezat," ucap Bibi lagi.


"Bisa aja Bibi ah, masakan Bibi juga enak kok, cuma mungkin beliau karena terlalu sering makan masakan Bibi, jadi saat aku memasak ada selera lain yang terasa beda di lidah," sahut Kiara.


"Aku mau makan juga, masakan mu memang membuatku ketagihan, ayo kamu siapkan!" ucapnya Agam.

__ADS_1


Agam pun duduk di kursi utama, sementara Kiara sibuk mengambilkan makanan. Beberapa hari ini Agam selalu minta disediakan oleh Kiara langsung, bukan apa-apa, bibi tersebut mungkin sudah terlalu tua dan kadang agak terlihat tidak terlalu bersih di mata Agam.


"Kiara, ayo kamu makan juga, Bibi juga Ayo! kita barengan makannya," ajak Agam.


"Tidak Tuan. Aku ada urusan dulu sebentar," sahutnya.


Bibi pun pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya, sementara Kiara tampak duduk di samping Agam, dan mengambilkan beberapa lauk untuk suaminya tersebut. Mereka pun tampak makan bersama, sesekali Agam tampak mesra dan mengulurkan makanannya ke mulut Kiara, saat suapan yang ke berikut, saat Agam ingin menyuapi Kiara tiba-tiba...


"Ehem...ehem..."


Clara datang, spontan saja Kiara menutup mulutnya, sementara Agam masih mengelurkan tangannya, karena dia tidak perduli ada Clara di sana.


"Hei..., kenapa kamu menutup mulutmu? Ayo cepat buka!" ucap Agam pada Kiara.


Sementara Clara merasa jengkel karena Agam tidak memperdulikannya.


"Abang sudah ah," ucap Kiara merasa tidak enak, karena sekarang Clara juga sudah duduk di depan mereka berdua.


"Ayo..., mubazir ini, sudah aku suguhkan ke kamu masa aku yang harus memakan sih? nggak sopan bekas istri, di makan suami," ucap Agam.


Dengan sangat terpaksa, Kiara pun kembali membuka mulutnya, dan menelan makanan yang diberikan Agam. Sementara Clara hanya bisa menelan liurnya dan menahan rasa kecewanya.


"Baju kamu yang satu kamar itu kan masih banyak, Clara? ngapain beli lagi?" ucap Agam.


"Itu udah pernah ku pakai Mas," sahut Clara.


"Tapi masib baru, dan baru sekali kamu pakai Clara," ucap Agam.


"Kenapa sih sekarang kok kamu pelit sih? dulu kau pernah menolak kalau aku mau minta sesuatu," ucap Clara.


"Tapi baju kamu yang satu kamar itu mau diapain? coba disumbangin dulu baju-baju itu! barulah beli yang baru," ucap Agam.


"Ya nanti akan aku sumbangin, tapi malam ini temenin aku ya... masa aku harus pakai baju yang sudah pernah aku pakai itu? nanti bagaimana kata teman-temanku?" ucap Clara.


"Memangnya mereka tahu baju apa saja yang kamu punya? tidak mungkin lah mereka ingat warna bajumu yang sudah berjubun itu kan?" ucap Agam, sambil terus memakan nasinya hingga habis.


"Ya pasti Ingatlah, kami kan setiap bertemu selalu foto-foto, nanti kan di album mereka ketahuan kalau aku pernah pakai baju itu," ucapnya lagi.


"Emangnya kamu itu, kalau satu kali ke mantenan satu kali beli baju?" tanya Agam.

__ADS_1


"Ya iyalah Mas, masa Mas lupa sih?" ucap Clara lagi.


"Benarkah? Selama ini aku tidak pernah memperhatikanmu, makanya aku tidak tahu, yang aku tahu bajumu itu sudah satu kamar penuh, dan kamar itu khusus untuk semua bajumu, tas branded mu, sendal mu dan juga semua yang pernah kamu beli, namun tidak pernah kamu pakai lagi, hanya satu kali pakai lalu kau singkirkan begitu saja, kan mubazir?" ucap Agam.


"Mas,sSejak kapan sih Mas pelit begini sama aku? perasaan biasanya kamu tinggal iya Sayang... Gitu doang!" ketus Clara jengkel.


Kesal kini sudah menguasai diri Clara, saat ini dia benar-benar marah dan dia mengira, semua ini pastilah gara-gara Kiara.


"Ya sudahlah. Tapi sebentar saja ya? Karena besok aku ada rapat. Aku tidak mau kesiangan bangun," ucap Agam.


"Terima kasih Sayang (Muach)"


Dengan sengaja Clara mencium pipi suaminya di depan Kiara, kemudian dia mengambil piring dan juga makan bersama.


Agam yang sudah selesai makan pun berdiri. Tiba-tiba clarra juga berdiri dan menggandeng suaminya itu berjalan meninggalkan dapur, menuju kamarnya. Kiara yang masih duduk hanya terdiam menatap pemandangan yang ada di depannya.


"Ya Tuhan..., berat sekali perasaanku ini, ketika aku harus jatuh cinta kepada suami orang lain, eh tapi dia'kan juga suamiku? kenapa aku harus menjadi istri kedua?" batin Kiara.


"Non kenapa melamun?" tanya Bibi yang tiba-tiba datang, karena mengintip suara di dapur sudah sepi, Bibi ingin merapikan meja yang berantakan bekas mereka makan.


"Oh bibi, tidak apa-apa Kok, sini biar aku bantu!" ucap Kiara.


"Kiara, aku mau bicara denganmu!"


Tiba-tiba suara mertua Kiara itu menggema di ruangan dapur, Kiara dan Bibi juga kaget dan menatap pintu dapur, tampaklah berdiri di sana Ny. Mentari dengan wajah judesnya.


"Iya Nyonya," sahut Kiara.


Kiara pun mengiringi wanita itu keluar dari dapur, kemudian memasuki kamar utama yang ada di depan ruang tamu tersebut.


"Duduklah!" ucapnya.


"Kiara, aku tidak tahu sebenarnya kau itu wanita seperti apa? tapi aku sedikit bangga padamu, karena kau sangat pintar memasak. Oh iya, ini ada sedikit uang untukmu, aku harap kau bisa membeli baju yang layak, mungkin Agam tidak memberikan uang kan? aku mendengar dari Clara, kalau Agam menolak mu, karena Clara memaksanya menikah denganmu," ucap sang mertua.


Ternyata dia tidak tahu, kalau mereka sudah bercocok tanam, bahkan saat ini mungkin saja benih itu sudah mulai tumbuh.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2