
Agam terus menangis begitu juga ayahnya. mereka hanya mampu mengeluarkan suara isakan tangis masing-masing.
Tiba-tiba Hendri datang ke ruangan tersebut dan heran melihat dua pria itu saling berpelukan dan menangis.
"Kalian mengapa saling berpelukan di sini? ada apa ini?" tanya Hendri
"Hari ini adalah hari terakhir Aku mengerjakan tugasku di sini, hari ini tanggal 30 di bulan ini, aku mengundurkan diri dari perusahaan Anda, Apakah aku bisa mendapatkan gaji ku?" tanya Agam.
"Apakah kau dapat pekerjaan lain? oh ya siapa lagi ini? kenapa kamu bawa ke mari?" tanya Hendri sedikit sinis.
Agam tidak menjawab dan hanya menatap Aswin ayahnya.
"Bukankah dia tadi berteman dengan Paman Anton? kenapa sekarang malah berpelukan denganmu disini? sambil drama lagi," ketus Hendri lagi.
"Ini masalah keluarga kami, aku tidak bisa menceritakannya kepada Tuan," sahut Agam.
"Oooh ..., kalau masalah keluarga, jangan kau bawa-bawa ke kantor ku!" ketus Hendri tidak suka dengan sahutan Agam.
"Oh ya, aku minta gaji ku untuk satu bulan kemarin," ucap Agam lagi.
"Untunglah kau berhenti sebelum aku berhentikan. Sebenarnya jari ini aku ingin memberhentikan mu bekerja dari perusahaan ku, karena kurasa kau tidak becus bekerja di sini!" Ejek Hendri.
Agam hanya diam menahan amarahnya di dada, karena dia tidak ingin ada keributan di saat dia baru bertemu dengan Ayahnya.
"Oh ya, gaji mu kau ambil ke bagian Bendahara sesuai perjanjian ku. Aku akan memberikanmu gaji 5 juta untuk bulan ini, walau sebenarnya itu tidak sesuai, karena kerjamu itu tidak becus!" ketus Hendri.
Aswin merasa panas terbakar saat mendengar anaknya di hina.
"Hei... Sok becus saja pekerjaanmu, apa kau bisa menghargai kerja anak buah mu!" ketus Aswin.
"Jei, siapa kau ikut campur!?" ketus Hendri.
"Aku ayah Agam, kau akan menyesal karena telah melakukan kesalahan ini, dan berani menghinanya!" bentak Aswin.
"Apa? anakmu? Apakah kamu sadar apa yang kau katakan barusan? Dasar tua bangka! Kau tau kan? Kalau perusahaan anakmu saja sudah tergadai!" ketus Jendri lagi congkak.
"Kau tidak usah kurang ajar pada ayahku! dia adalah ayahku, kalau kau punya masalah denganku, kita selesaikan berdua, jangan kau hina Ayahku di depanku!"ketus Agam membalas.
"Aku sudah tidak ada urusan denganmu, silakan kalian pergi dari sini, lihat saja kau!"usir Hendri.
" Kurang ajar kau, lihat saja! perusahaan mu ini akan bangkrut dalam sekejap!" ancam Aswin.
"Bagaimana bisa kau mengancam ku?" suara sinis Hendri membuat Aswin semakin terbakar.
"Papa, sudahlah, sekarang mari kita pergi dari sini! Oh ya, aku akan mengambil gaji ku dulu, karena ini adalah keringat selama 1 bulan aku bekerja di sini," ucapnya.
Agam pun meninggalkan ruangan itu diiringi oleh sang ayah, setelah ke ruang bendahara dan mengambil gajinya sebanyak 5 juta, Agam tersenyum dan mencium Amplop yang berisikan uang sebanyak 5 juta tersebut.
__ADS_1
"Mengapa kamu melakukan ini? dan kenapa kau mau bekerja sebagai cleaning service di sini?"
"Aku tidak ada pilihan lain, aku, ibu dan juga mamah beserta Istriku yang sedang hamil, kami memerlukan biaya hidup."
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?"
"Baru bekerja 1 bulan Yah, Aswin tidak melepaskan rangkulannya dari tangan Agam, mereka pun menuju lift untuk pulang menuju rumah mereka.
***
Adi tampak mengendarai motornya. Sepertinya dia ingin menemui seseorang, sebelum dia sampai ke tempat tujuan, dia pun terlihat membeli beberapa buah untuk untuk diberikan kepada orang yang akan dikunjunginya. Tak berapa lama Adi pun sudah sampai di pekarangan rumah kecil tersebut.
"Assalamualaikum," ucap salam Andi di depan pintu sambil menenteng buah-buahan i tangannya.
"Waalaikumsalam."
Tampak Mamah Agam berjalan dan membukakan pintu utama.
"Kau? Mau apa kau ke mari?" ketus Mamah Agam.
"Aku ingin bertemu Kiara, Bu!" sahut Adi.
"Untuk apa bertemu dengannya? apakah kau ingin mencelakainya lagi?" ketus Mamah Agam tetap dengan nada tinggi dan ketus.
"Tidak Bu, aku Adi, aku sudah sadar, aku sudah kembali ke masa di mana Aku sudah mengetahui semuanya, bahwa aku dan Kiara memang tidak berjodoh, walau ingatanku belum pulih, namun aku sudah menerima kenyataannya Bu "
"Bu, sungguh aku sudah menerima kalau Kiara sekarang sudah menikah dengan laki-laki lain."
"Apa buktinya, kalau kamu menyadari semua itu?"
"Hari ini aku ingin minta maaf kepada Kiara, karena telah menyakitinya dan sempat membuat dia pendarahan kemarin."
"Lantas? Apa kau kira aku akan mempertemukan mu dengannya? permintaan maaf mu, biar nanti aku sampaikan," sahut Mertua Kiara lagi.
"Bu ini terakhir kalinya aki ingin melihatnya, sebelum aku pergi jauh," ucap Adi.
"Apa kau akan bunuh diri?" tanya Mertua Kiara lagi menyindir.
"Tidak Bu, aku akan kuliah ke Luar Negeri.
"Ooo..., Baiklah, aku akan mempertemukan mu dengan Kiara, tapi dengan syarat, hanya berjarak yang sangat jauh," ucapnya.
"Baik, Bu."
Adi pun di persilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Sementara Mama Agam membangunkan Kiara yang sedang tidur siang.
"Kiara Sayang ..., ada tamu untukmu bangunlah!"
__ADS_1
"Sebentar, ada apa Ma? Apakah Bang Agam sudah datang?"
"Tidak Sayang, ada orang lain yang ingin berbicara denganmu.."
"Siapa?-
" Kiara duduk perlahan dan mengambil kerudungnya, kemudian berjalan keluar, pelan-pelan.
"Sayang, jauh jauh saja ya!" minta sang mertua. Membuat Kiara heran.
Kiara sudah berada di luar, Dia sangat kaget saat melihat Adi mantan kekasihnya ad di ruang,tamu.
"Kiara, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu!" pinta Adi.
"Mas Adi?"
"Aku mohon maaf yang sedalam dalamnya kepadamu, atas kejadian waktu itu, aku sudah menyadari semuanya, aku sudah kembali di mana aku harusnya berada, sebenarnya ingatanku belum kembali, namun aku sudah menerima kenyataan bahwa kau memang sudah menikah, itu yang mereka katakan dan aku harus percaya itu."
"Terima kasih Mas, kalau kau bisa mempercayainya," sahut Kiara sambil berdiri di dekat,mertuanya.
"Kiara, aku sudah menyadari semuanya aku minta maaf, sempat membuatmu terluka kemarin, bahkan hampir saja menggugurkan kandungan mu karena keteledoran ku."
"Tidak apa-apa Mas. Terima kasih atas pengertiannya."
"Assalamualaikum."
Tiba-tiba suara salam dari pintu rumah terdengar sangat familiar. Mereka yang ada di dalam tampak bersamaan menatap arah pintu.
Agam kaget, saat menatap pada wajah Adi yang duduk di sofa. Agam pun mendekati Kiara.
"Papah!" seru Mertua Kiara saat menatap orang yang berjalan di belakang Agam.
Dia sangat kaget saat melihat mantan suaminya yang sudah berpuluh tahun menghilang, kini tampak di depan matanya lagi.
"Mentari ..., kau masih cantik seperti dahulu," puji mantan suaminya.
"Adi! mau apa kau ke mari?" ketus Agam.
Wajah Agam pun berubah saat menatap Adi, menjadi berang dan kesal.
"Mas, dia ke mari mau meminta maaf kepada kita, sekarang dia sudah baik-baik saja," ucap Kiara.
"Benarkah? apakah itu tidak tipu muslihat nya saja? agar bisa terus ke mari untuk mengunjungi mu?" curiga Agam, dengan anda cemburunya.
"Bang, kita harus mendengarkan penjelasanya dulu."
Agam masih dengan wajah berangnya.
__ADS_1