
Mamah Agam tampak terus-menerus menggosok-gosok dad*a Kiara, terkadang pundak, dan juga kepala Kiara, namun Kiara belum juga sadarkan diri dari pingsannya. Dia sangat sok ketika anaknya Fathan diculik oleh Clara
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Cepatlah kau kirim para bawahan mu itu untuk mencari Clara!" ketus Mentari.
"Iya Mah, aku sudah menyuruh mereka, Mamah tenang saja, Fathan pasti kembali."
Tiba-tiba telepon rumah berdering. Agam segera berlari dan mengambil telepon tersebut.
"Hello, Ada apa?" tanya Agam.
"Tuan, aku menemukannya Clara, dia sedang berada di stasiun kereta api," sahut orang itu.
"Tolong kau tangkap dia! aku tidak mau dia hilang, aku,akan segera ke sana, kau berikan alamat lengkapnya!" titah Agam.
"Baik Tuan, tapi dia tidak membawa bayi itu, Tuan," ucap orang itu.
"Bagaimana mungkin dia tidak membawa bayiku? padahal tadi dia membawa anakku, kau tangkap saja, aku segera ke sana!"
"Baik Tuan. Aku juga tidak tahu Tuan."
"Cepat kau tangkap dia! kenapa terus meneleponku? " ketus Agam kesal.
"Iya Tuan, Tuan tidak menutup telepon....."
Tuuuut.
Agam pun segera menutup telepon sebelum orang itu menyelesaikan kata-katanya.
Agam pun pamit kepada ibunya untuk menyusul ke stasiun kereta api.
"Mah, aku akan segera menemukan Clara, sekarang dia di stasiun kereta Api," ucap Agam sambil berlari ke teras.
"Baik, cepatlah! aku akan menjaga Kiara," sahut Mentari.
Agam pun meluncur menuju tempat yang sudah di sebutkan bawahannya. Setelah perjalanan 40 menit, Agam pun sampai. Clara yang sudah dibawa di pos satpam segera di datangi Agam.
Agam tampak marah dan mencengkram pergelangan tangan Clara.
"Apa yang kau lakukan dengan anakku? cepat serahkan anakku kepadaku!" berang Aham.
"Ha ha ha, kau sangat menyayangi anakmu itu kan? begitu juga aku. Aku sangat mencintaimu! tapi kau tidak menghiraukan ku. Kau mengabaikanku Mas, ayo kita kembali, kita rawat anak itu sama-sama!" ajak Clara.
"Apa maksudmu, Clara? hubungan kita sudah berakhir, dan kita tidak akan bisa bersama lagi," teriak Agam sanhat marah.
__ADS_1
"Itu omong kosong Mas, kita pasti bisa bersama, asal kau mau menerima aku Mas, aku mohon," rengek Clara.
"Clara, cepat katakan di mana kau menyembunyikan anakku?" bentak Agam lagi.
"Kau nikahi dulu aku, baru aku mengatakan di mana anakmu sekarang?"
"Apa maksudmu? kau masih berstatus istriku Clara! untuk apa kau menikah dengan Agam?"
Saat mendengar suara yang ada di belakangnya, tentu saja Agam sangat kenal suara itu.
"Papa? apa maksud Papa?" Agam dalam kebingungan untuk mencerna kata-kata sang papah.
"Agam. Aku ingin jujur padamu hari ini, sebenarnya Clara dan aku sudah menikah...."
"Papa! jangan konyol, candaan macam apa ini?" kaget Agam, dengan melotot menatap sang Papah.
"Nanti aku akan menceritakannya, sekarang kau masuklah ke mobil, biar aku yang mengurus Clara," ucap Aswin.
"Tidak Pah, aku tidak akan pergi dari kantor polisi ini sebelum aku menemukan anakku, Clara! cepat katakan di mana kau menyembunyikan Fathan?"
"Clara, di mana cucuku? kau jangan jadi istri durhaka. Aku ini masih suamimu Clara."
"Ha ha ha, dasar lelaki tua bangka. Kau kira aku sudi menikah denganmu? semua ini hanya karena uang, semua ini hanya karena untuk memenuhi kebutuhan hidupku!"
"Clara! Ternyata kau sama sekali tidak berubah, kau tetap seperti wanita murahan, Kau sangat matre, Clara." berang Agam dengan wajah naik pitam.
"Sebenarnya yang salah di sini adalah kau! Kau Yang telah menjodohkan aku dengan wanita lain, aku sudah berulang kali menolaknya, namun kau tetap memaksa."
"Kau bisa meninggalkannya sekarang! Ayo kita kembali seperti dulu lagi, kita rawat anak itu berdua," pinta Clara.
"Tidak semudah itu Clara, Aku tidak akan pernah mengizinkan mu menikah lagi dengan Agam."
"Apakah Papa Mencintainya?" tanya Agam heran,dengan mengerutkan alisnya menatap wajah sang Ayah.
"Bukan masalah itu Agam, ada hal yang sangat penting yang tidak bisa aku katakan sekarang."
"Apa maksud Papa?"
"Sudahlah, Gam, nanti kita bicara, kalau begitu jebloskan saja dia ke penjara. Kita akan mencari Di mana keberadaan anakmu, kita akan menyebarkan hadiah yang istimewa yang sangat besar bagi siapa saja yang bisa mengembalikan anakmu. Mungkin orang yang sekarang menyembunyikan anakmu akan tergiur dengan hadiah itu."
"Papah, aku tidak bisa melihat Kiara menderita, dia pasti sangat terluka kalau sampai hari ini aku tidak bisa membawa putraku," ucap Agam.
"Kita akan menemukannya, paling lama 24 jam. Percayalah pada papa. Pak polisi, silahkan bawa dia ke selnya, Gam, ayo!" ajak Aswin ke pada Agam mengajak pulang.
__ADS_1
Saat Agam dan Aswin berbalik akan meninggalkan sel.
"Kembalilah bersamaku, aku akan menyerahkan anakmu, kita rawat dia sama-sama Mas Agam, Tolong jangan penjarakan aku," panggil Kiara.
"Kau katakan saja di mana anakku, aku akan membebaskan mu tanpa syarat," bujuk Agam.
"Tidak! aku tidak akan mengatakannya sampai kau mau kembali bersamaku," teriak Clara.
"Tidak akan pernah aku sudi kembali bersamamu! Clara, walau langit Runtuh, walau perempuan cuma satu di dunia ini, aku tidak akan pernah kembali padamu, biarlah kau membusuk saja di sana, di dalam penjara itu, aku akan menuntutmu dengan tuntutan yang sangat beratnl."
Agam pun berbalik dan meninggalkan sel tahanan, begitu juga Aswin, dia mengikuti sang anak masuk ke dalam mobil.
"Agam. Aku ingin menceritakan sesuatu, Aku harap ibumu tidak mengetahui hal ini untuk sementara."
"Apa benar Papa menikah dengan Clara? Bagaimana bisa pah, papah tergoda oleh wanita yang lebih muda dari papa, dia itu berbeda 20 tahun loh Pak dengan Papah, Ada apa ini aku?"
Agam terlihat Prostasi menghadapi kenyataan inj, Papahnya menikah dengan mantan istrinya.
"Aku dijebak. Aku benar-benar terjebak olehnya."
"Apa maksud Papa?"
"Saat itu, saat ibumu bekerja di kantor...."
Pak Aswin pun menceritakan semua cerita dari awal hingga akhir, sehingga Agam pun dapat percaya.
Aswin juga mengatakan, kalau Kiara sudah tahu semuanya.
"Jadi Kiara juga sudah tahu masalah ini? kenapa dia tidak mengatakan padaku?"
"Ini sangat sulit bagiku, dan juga bagi Kiara. Kami mencari cara agar kami bisa menghilangkan bukti-bukti itu, tapi kami belum ada kesempatan."
"Bagaimana dengan Mama? Bagaimana dengan penyakit Papa? Apakah Papa juga terkena penyakit itu?"
"Aku tidak tahu, Gam, aku belum mengambil hasil tesnya, karena akhir-akhir ini aku sibuk, karena Kiara melahirkan kan?"
"Kalau begitu, sekarang kita ambil hasil tes itu, biar aku temani," tawar Agam.
Agam dan Pak aswin pun berangkat menuju rumah sakit
"Bagaimana dengan ibu? kalau Papa sampai terkena, pasti Mama juga terkena kan?
"Aku tidak tahu, sebaiknya kita berdoa saja semoga aku tidak terkena."
__ADS_1
Mereka pun meluncur menuju rumah sakit.
Bersambung.