Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Clara Kritis


__ADS_3

Kiara masih terbayang-bayang saat Clara menatap sendu wajah Fathan. Sepertinya dia benar-benar tersentuh dan ingin memeluk Fathan. Matanya mengatakan kalau dia sangat menyayangi Fathan, walaupun sekarang Agam dan juga Kiara tidak akan mungkin membiarkan Fathan digendong oleh Clara, karena mengingat kelakuan Clara dulu. Namun kalau hanya sekedar ci*uman Kiara masih mengizinkan.


Hari-hari terus dilalui Clara di dalam jeruji besi, pengobatan Ala kadarnya pun masih dijalaninya lewat perawat Lapas. Namun semakin hari kesehatan Clara semakin memburuk, ketika pagi-pagi sekali telepon rumah Agam berdering . Kiara pun mengangkatnya.


"Hello...."


"Apakah ini rumah Tuan Agam?" tanya seseorang.


"Benar Pak, Ada apa?" tanya Kiara.


"Maaf Nyonya, sekarang kondisi Nyonya Clara kritis, dia sudah tidak sadarkan diri lagi. Apakah Tuan Agam bisa mendatangi rumah sakit yang kami rujuk?" ucap orang itu.


"Baik, saya akan mengatakannya kepada Bang Agam, terima kasih."


Kiara pun langsung menutup telepon, dan menelepon sang suami, yang sudah bekerja di kantor. Agam tampak sibuk menandatangani beberapa berkas dari Pak Sukro, dia juga baru saja mendirikan sebuah perusahaan kecil yang dia siapkan untuk Fathan di kemudian hari. Tak berapa lama telepon Agam dering.


"Hello, ada apa Sayang?" tanya Agam saat melihat nama yang tertera di sana adalah istriku tersayang.


"Bang, katanya Mbak Clara kritis. Sekarang dia ada di rumah sakit, Abang harus ke sana untuk melihatnya, dan sekalian saja Abang cabut tuntutan Abang kepadanya," pinta Kiara.


"Di rumah sakit? Mengapa mendadak kritis? Bukankah kemarin baik-baik saja?" heran Agam. Karena baru 3 hari lalu Agam berkunjung atas perintah Kiara.


"Aku juga tidak tahu Bang, cepatlah! Abang tidak usah bertanya padaku, karena aku juga tidak tahu jawabannya?" suara Kiara tambak sedikit kesal, karena Agam malah bertanya kepadanya.


"Iya Baiklah, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam ..., pak Sukro, yang lainnya nanti akan aku periksa lagi. Sekarang aku harus ke rumah sakit. Aku tinggal dulu, aku titip perusahaan padamu," uxap Agam sambil berdiri dan berjalan meninggalkan ruangannya. Pak Sukro pun mengiringi di elakang.


"Baik Tuan."

__ADS_1


Agan pun pergi meninggalkan perusahaannya menuju rumah sakit, yang sudah disebutkan oleh Kiara.


*


*


*


Sesampainya di IGD, Agam pun mencari nama pasien yang baru saja masuk.


"Silakan ikut saya Pak!"


Seorang perawat membawa Agam ke dalam dan memasuki ruangan khusus, karena Clara terkena penyakit khusus, maka dia pun diletakkan di sebuah ruangan yang khusus juga. Tak berapa lama, mereka sudah sampai di sebuah ruangan yang sangat tertutup.


Agam pun masuk dan menatap wanita yang kini terbaring di atas ranjang, wanita yang kurus tinggal tulang itu tampak sangat menyedihkan. Agam pun duduk di sisi ranjang.


"Pak, Saya permisi," ucap perawat itu dan pergi meninggalkan Agam.


"Mengapa seperti ini takdir kita? dulu aku sangat mencintaimu, begitu juga kau, bahkan dulu tidak pernah sedikitpun aku lihat kau adalah seorang wanita matre, walaupun kau sering berfoya-foya dengan teman-temanmu, karena memang uang kita berlimpah, tapi aku merasakan saat itu cinta kita tulus." batinnya.


Agam terus menatap sang mantan. Dia sangat ingin meraih tangan sang mantan itu, namun dia ingat bahwa sekarang dia dan Clara bukanlah siapa-siapa lagi. Tiba-tiba Clara yang sudah diberi obat berbagai macam obat diinfus itu pun seperti terbangun dan memanggil Lirih Agam.


"Mas ..., Ag _gam."


"Clara!"


Agam lun menyapu air matanya yang sejak kapan menetes di pilonya.


"Ma_afkan a_ku," bisiknya pelan.

__ADS_1


Seakan sekarang Clara sudah tidak ada tenaga lagi. Lirih.


"Aku,sudah memaafkan mu Clara, aku sudah lama memaafkan mu, kau bebas, hari ini aku sudah menelepon kantor polisi dan mencabut tuntutan mu," ucap Agam.


Tadi saat di perjalanan menuju RS, ternyata Agam sudah mencabut tuntutannya pada Clara.


"Fa_than, anak_ku, ma_na?" tanya Clara.


"Dia sedang di rumah, apa kau mau melihatnya?"


Clara mengangguk. Agam pun mengambil telepon dan memvidio call Kiara.


"Hello ada apa Bang?" suara Kiara yang menjawab.


"Mana Fathan? tolong vidiokan padanya, Clara mau melihatnya."


Kiara mengerti saat melihat Clara terbaring lemah. Kiara segera menuju ranjang bayi dan menunjukkan wajah Fathan yang lagi tidur.


Clara pun tersenyum.


"Fa_thanku... Fa...."


Set


Tiba-tiba Clara terdiam dan menutup matanya.


"Clara ..., Clara...,"


Agam panik

__ADS_1


Nex


__ADS_2