
Kiara sudah berada di rumahnya dan sang Mamah juga sepertinya sudah menghabiskan jualan buburnya, tampak gerobak bubur Kiara sudah di depan rumah. Kiara pun masuk ke dalam.
"Mah... apa jualannya sudah habis?" tanya Kiara.
"Benar Nak, bagaimana? apakah bertemu dengan Agam?" tanya sang Mamah.
"itu... tidak mah, aku tidak menemukannya," bohong Kiara.
Kiara juga tidak ingin sang mertua sedih, kalau mengetahui pekerjaan sang anak, sehingga dia merahasiakannya.
"Tapi aku bertemu dengan teman ayah," ucapnya.
"Teman ayahmu, siapa?" tanya sang ibu yang baru datang dari dapur, dengan menggunakan kursi roda.
"Itu Bu, Pak Burhan, yang pernah menjadi bos ayah dulu, dia menawarkan pekerjaan pada Bang Agam, mungkin besok kami ke sana untuk melihat," ucap Kiara.
"Benarkah? pak Burhan itu sangat baik hati, dulu juga begitu, hanya ayahmu saja yang kurang ajar," kenang ibu Kiara.
"Mudahan saja bisa membantu suamimu kembali bangkit Kiara," ucap sangat mertua.
"Aamiin, ya bu, aku mau ke kamar dulu," pamit Kiara.
Kiara pun masuk kedalam kamarnya, dia mengeluarkan teleponnya untuk menelepon Agam.
Telepon pun berdering. Setelah beberapa saat Kiara menunggu dengan perasaan was was. Akhirnya telepon di angkat.
"Hello Bang, apa kau bisa pulang sekarang? aku merasa sangat pusing," bohong Kiara.
"Tapi aku sedang bekerja Kiara, bagaimana kalau kau minta bantu ibu dan mama saja," saran Agam.
"Tidak bisa, aku ingin bertemu denganmu Bang, sebaiknya Bang berhenti saja dari pekerjaan di sana, kita jualan bubur saja Bang, aku lagi ngidam, aku merasa tak bisa jauh dari Abang, rasanya aku ingin selalu bersama dengan Abang, menatap wajah Abang, entahlah Bang, pokoknya aku mau dekat slalu dengan Abang, pokoknya Abang sekarang pulang," desak Kiara dengan suara merengek rengek.
Aham pun menjadi heran dengan tingkah laku istrinya, yang tiba-tiba rewel bagai anak kecil tersebut, dengan sangat terpaksa akhirnya Agam pun izin minta pamit sama pak Hendri.
+Maaf Pak, aku terpaksa ijin pulang cepat, karena istriku sedang sakit," izin Agam sama Pak Hendri.
Hendry pun tersenyum karena mendengar perkataan Agam yang sangat sopan padanya, tentu saja dia meremehkan Agam yang sekarang menjadi bawahannya.
"Baiklah, Gam kau boleh pulang, mudahan istrimu cepat sehat," ucapnya.
"Terima kasih Pak," balas Agam.
Agam pun lega karena Hendri tidak mempersulit izinnya untuk pulang, tak berapa lama Agam pun sudah berada di bawah dan bergegas menaiki motornya menuju pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, dengan cepat Agam turun dan nerlari masuk ke dalam.
"Agam? kenapa pulang mendadak? Tanpa mengucap salam pula!" kaget sang mamah yang lagi asyik duduk di ruang keluarga menonton TV.
"Katanya Kiara pusing mah, dia sakit."
"Benarkah? mengapa dia tidak memanggil kami yang ada di rumah saja?" heran sang mamah.
__ADS_1
Mamahnya pun mengikuti Agam menuju kamar Kiara, saat mereka masuk ke dalam tampak Kiara sedang berbaring dan merapatkan selimutnya.
"Maafkan aku, aku telah membohongi mu Bang," lirihnya dalam hati, saat melihat sang suami datang.
"Kiara, apa kau demam Sayang?" tanya Agam sambil duduk di sisi ranjang.
"Aku merasa sangat pusing, Bang, entahlah, aku ingin sekali melihatmu, ayo kemari lah!" ucap Kiara sambil merentangkan tangannya ingin memeluk sang suami.
Agam lun mendekat Kiara pun langsung memeluknya, sebenarnya ini bukanlah pelukan biasa, akan tetapi ini adalah pelukan pembalasan saat di kantor tadi, dia tidak bisa memeluk suaminya langsung, padahal saat itu dia ingin memeluk suaminya, dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya, yang rela berkorban menebalkan mukanya, merendahkan diri di depan saingannya dulu.
"Ada apa dengan Kiara? kenapa tiba-tiba kelakuanmu jadi begini?" tanya Agam merasa sangat heran.
"Ah sudahlah Gam, jangan heran, mungkin lagi bawaan hamil anakmu, makanya bersikap tidak biasa," sahut sang mamah.
Kemudian sang mamah pun berjalan meninggalkan kamar tersebut, karena merasa tidak enak melihat kemesraan anak dan menantunya itu, setelah sang mama pergi, Kiara pun melepaskan pelukannya dari Agam.
"Bang, aku ingin Abang bekerja di perusahaan teman ayahku dulu, besok kita akan segera ke sana untuk memeriksanya."
"Apa maksudmu Kiara, aku kan sudah punya pekerjaan? mengapa aku harus mencari pekerjaan lain?" ucap Agam.
"Tapi aku merasa punya hutang budi sama teman ayahku itu Bang," kekeh Kiada.
"Tapi aku kan sudah punya pekerjaan, Kiara, gajinya 5 juta, lumayan kan? kalau pekerjaan yang baru mungkin saja gajinya tidak sebesar itu?" protes Agam.
"Pokoknya aku mau Abang bekerja pada teman Ayahmu, titik." Kiara tetap ngotot bak anak kecil yang minta permen.
"Sayang...."
"Kiara, kenapa sih kok jadi aneh begini?"
"Ini bawaan Bayi, apa Abang masuk google, kalau istri sedang hamil itu memang mintanya aneh aneh."
"Tapi Abang...."
"Jadi Abang tidak mau menuruti permintaan orok ini?"
"Baiklah besok kita akan ke sana tapi untuk bulan ini aku tetap bekerja di perusahaan lama ya, satu bulan saja sampai aku mendapatkan gajiku," pinta Agam.
"Apa harus menunggu satu bulan?"
"Sayangkan aku sudah bekerja beberapa hari, kemudian aku berhenti, aku tidak akan di gaji, jadi tunggu bulan depan saja," ucap Agam.
Mungkin Agam ingin menuntaskan tantangan yang di lontarkan Hendrii saat itu.
"Baiklah kalau begitu, aku menurut saja, tapi ingat! Abang harus bekerja di perusahaan teman ayah," tekan Kiara lagi, sambil menatap wajah sang,suami penuh harap.
"Iya, bulan depan ya, besok kita ke sana, sekarang ayo jangan cemberut!"
Wajah Kiara yang di tekuk set lun kini tersenyum. Ladahal itu hanya trik Kiara agar sang Suami mau berhenti kerja.
"Bang, maaf, aku tidak tega kalau melihatmu bekerja di sana terlalu lama, bisa bisa tubuhmu ini tinggal tulang karena kelelahan." batinnya.
__ADS_1
Agam lun ketawa kecil melihat senyum lebar Kiara. Kemudian dia memeluk sang istri lagi sambil mengelus perutnya.
"Emang kau ini seperti apa sih? Sampai belum lahir saja udah main perintah sama papah," gerutunya.
Kiara tersenyum melihat tingkah sang suami yang berbicara dengan si jabang bayi.
"Kalau begitu, aku izin dulu. Tadi juga aku sudah izin kalau kau sedang sakit."
"Baiklah, terima kasih Bang," ucap Kiara senang.
Kiara pun kembali memeluk Agam, butiran air mata pun menetes di belakang Agam, namun Agam tidak tahu bahwa sang istri menangis.
***
Kiara dan Agam kini sudah berada di dalam mobilnya, menuju perusahaan Burhan. Setelah menempuh perjalanan 1 jam, Kiara dan Agam sudah berada di depan gedung yang tidak terlalu besar. Namun terlihat ada banyak karyawan yang mondar-mandir di area gedung tersebut.
"Jadi ini perusahaan teman ayahmu?" tanya Agam.
"Iya Bang, ayo!" ajak Kiara.
Agam pun turun dan mereka memasuki area perkantoran tersebut.
"Maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini," ucap Kiara pada seorang wanita yang sedang bekerja di depan laptopnya.
"Oh silahkan, Mari saya antar!" tawar wanita itu.
Wanita itu pun bersedia mengantar mereka menuju sebuah ruangan yang ada di ujung perkantoran tersebut.
Tok tok tok
"Masuk!" terdengar suara dari dalam.
Sang wanita pun mendorong pintu dan mempersilahkan Kiara dan Agam masuk. Karena kebetulan Kiara lah yang lebih dulu masuk, diiringi oleh Agam, sementara Burhan masih menetap laptopnya. Mungkin dia menyelesaikan sesuatu yang tertunda.
Agam pun duduk begitu juga Kiara, lelaki itu menutup laptopnya kemudian menatap ke arah tamu yang ada di sofa. Begitu juga dengan Agam mereka berdua sama-sama kaget.
"Kau?"
"Kau?"
"Ha? Jadi kalian berdua sudah saling kenal?"tanya Kiara.
"Kiara, a_pa dia suamimu?" tanya Burhan terbata.
"Iya Pak," sahut Kiara.
"Jadi kalian sudah sering kenal?"
"Silahkan bersantai dulu. Biar aku ambilkan minum."
Burhan memanggil seseorang di luar untuk mengambilkan minum.
__ADS_1
Bersambung