
Kiara dan Agam kaget saat mendengar suara Clara di depan pintu utama. Apalagi dia Kiara, dia pun bertanya-tanya apa yang akan dilakukan Clara? hingga datang ke rumah ini, sepagi ini.
Kiara dengan tergesa-gesa menyongsong kedatangan Clara dan menyuruhnya masuk. Sementara Agam disuruhnya tetap tinggal di dapur.
Kiara mencegah agar Agam jangan sampai bertemu dengan Clara, karena Kiara takut sesuatu yang,buruk akan terjadi.
"Masuk Mbak! Mau minum apa Mbak?" tanya Kiara.
"Aku mau bertemu dengan Agam dan juga mamah," ucap Clara.
"Tapi mereka tidak ada di rumah saat ini, mereka sudah pergi ke kantor," sahut Kiara.
Agam yang berada di dapur pun mengerti, kemudian dia berlari ke belakang rumah untuk bersembunyi di garasi mobil.
"Benarkah? Kenapa berangkat pagi sekali?" tanya Clara tak percaya.
"Karena hari ini ada rapat, mau minum apa? biar aku ambilkan," ucap Kiara.
"Tidak perlu, aku mau ke atas."
Clara pun berjalan menaiki tangga dan memasuki kamar yang biasa ditinggalinya bersama Agam dulu, namun dia tidak menemukan siapapun di kamar itu, ia mengira Agam dan Kiara tidur di atas itu.
"Oh jadi benar mereka sudah pergi? terus di mana mamah?"
Kemudian dia pun mengetuk pintu Mentari dan juga Aswin. Mentari dan Aswin yang berada di dalam pun kaget saat mendengar pintunya ditutup dengan sangat keras. Sementara Kiara segera menaiki tangga dan berdiri di depan pintu Pak Aswin.
"Mbak, bener kok Mereka sudah pergi ke kantor, pagi-pagi sekali, Mamah dan Bang Agam sudah pergi," ucap Kiara, dengan suara yang sangat nyaring, sehingga Pak Aswin dan Mentari pun mendengar dari dalam kamar.
"Kenapa kamu berteriak begitu nyaring, Kiara! aku kan ada di depanmu?" ucap Clara tidak mengerti.
Padahal Kiara sedang memberi kode kepada Pak Aswin yang ada di dalam kamar, agar bisa diam dan menahan Mentari agar tidak keluar dari kamarnya.
"Sebenarnya apa yang ingin Mbak katakan? katakan saja padaku, Ayo kita ke bawah saja! kita bicara di ruang tamu!" ajak Kiara dengan berjalan meninggalkan Clara di atas.
Clara pun terpaksa mengiringi Kiara. Mereka pun duduk di ruang tamu dan Kiara tampak tegang.
"Katakanlah, apa yang ingin Mbak sampaikan! aku akan menyampaikannya kepada mereka," ucap Kiara.
"Ha ha ha sekarang kau sudah memanggilku dengan sebutan Mbak, kau tidak lagi memanggilku sebagai Nyonya? apakah sekarang engkau merasa puas karena telah mengambil posisi pertama setelah merebut Agam suamiku?" ucap Clara terlihat kesal dan marah.
"Mbak, aku tidak pernah merebut Bang Agam dari Mbak! Bukankah yang menjodohkan kami itu adalah Mbak sendiri? dan aku juga tidak tahu kalau takdir ternyata membalikkan fakta kita."
"Cuih ..., pura-pura sok suci lo, sudah jelas kau itu adalah pelakor di keluargaku, kau merebut Agam dariku. Kau mengambil semua milikku!" ketus Clara sangat emosi.
"Mbak, aku tidak pernah merebutnya dari Mbak, Mbak sendiri yang memberikannya padaku dan juga bak sendiri yang meninggalkannya, saat itu kan saat perusahaan bank Agam direbut oleh pamannya, Mbak sendiri kan yang meninggalkan rumah ini?"
__ADS_1
"Iya aku memang meninggalkannya saat itu, tapi aku meninggalkannya untuk kembali."
"Tapi Bang Agam tidak mau lagi kembali dengan sebab Mbak, yang telah menikah dengan pamannya, orang yang telah mengambil perusahaannya!+ sahut Kiara.
"Dasar pelakor! pintar sekali kau berkata-kata!" ketus Clara.
"Mbak, tolong jangan panggil aku pelakor! karena aku bukan pelakor! Aku adalah istri kedua, Mbak. kau harus ingat itu!" sahut Kiara sangat jengkel.
"Pelakor tak tau diri " ketus Clara,lagi.
"Seorang pelakor itu kakau dia merebut suami orang dari tangan orang lain, sedangkan aku dinikahkan resmi oleh Mbak sendiri! saat itu bang Agam pun tidak menginginkanku, hingga beberapa hari Bang Agam seperti benci padaku," sahuy Kiara.
"Tapi kau berhasil menggodanya kan? hingga berhasil tidur dengannya, dan sekarang melahirkan pewaris baginya."
"Mbak, aku bukan pelaku, sekali lagi aku tekankan, aku bukan pelakor! aku adalah istri kedua!" pekik Kiara sangat kesal.
"Seberapa kuat pun kau mengelak, tetap saja, kau orang ke dua di pernikahan kami!" ketus Clara lagj.
"Mbaklah yang meminta aku untuk menjadi istri kedua kan?"
"Kau wanita tidak tahu terima kasih, ku bayar semua hutangmu, aku bantu untuk melunasi nya dari rantenir itu, tapi kau malah mengambil Agam dariku!"
Clara, terus meluapkan kemarahannya pada Kiara.
"Mbak, kenapa Mbak terus mengatakan itu padaku, Mbak lah yang menjodohkan aku dengannya," sahut Kiara, juga dengan nada yang mulai sangat kesal.
Agam yang bersembunyi di belakang dapur pun merasa khawatir hingga akhirnya Agama keluar dan menemui Clara.
"Clara! jangan kurang ajar kau kepada Kiara."
"Kiara, ternyata kau pun berbohong mengatakan kalau Agam sudah pergi ke kantor," ejek aclara.
"Iya, aku memang sudah ke kantor, tapi aku melupakan sesuatu," sahut Agam.
"Kau ke kantor dengan berpakaian seperti itu?" ketus Clara lagi, saat melihat Agam hanya menggunakan kaos oblong dan juga celana kolor di bawah lutut.
"Justru karena ini aku pulang ke mari, karena lupa membawa bajuku, karena aku tergesa-gesa, Kiara. Ayo siapkan pakaian ku, aku akan segera berangkat kembali, hari ini ada rapat penting."
Agam menarik tangan Kiara menuju kamar, Sementara Fathan yang di dapur pun di bawa oleh Bibi mengiringi Kiara.
Namun....
Saat Clara melihat keranjang bayi itu didorong oleh bibi, tentu saja emosinya kini semakin membesar, dengan berani dia mengambil keranjang bayi itu dari Bibi dan mengangkat bayi yang ada di dalamnya.
"Kiara! aku akan membawa bayi ini pergi dari sini!" ucapnya sambil berlari meninggalkan rumah Agam.
__ADS_1
Sementara Bibi berteriak.
"Fathan ..., Tuan, Fathan di bawa!" teriaknya.
Kiara dan Agam yang sudah berada di depan pintu kaget. Agam pun kaget kemudian berbalik lalu mengejar Clara yang sudah berada di teras rumah, dengan cepat wanita itu masuk kedalam mobilnya dan menghidupkan mesin mobil kemudian meluncur meninggalkan rumah Agam.
Sementara Agam terus berteriak memanggil Clara dan mengejarnya se kencang tenaga, namun Agam kalah cepat, Clara sudah berada di depan pagar.
"Paman, cwgat dia!" teriak Agam pada paman satpam.
Paman setampan bermaksud untuk menarik dan menutup gerbang, namun saat separo sudah tertutup, Clara malah menabrak gerbang itu hingga roboh.
Clara terus pergi meninggalkan rumah Agam. membawa Fathan yang diletakkan berbaring di sampingnya. Akhirnya Clara sudah berada di jalan raya.
"Rasain Gam, kau tidak akan menemukan anak ini lagi, aku akan membawanya jauh dari sini, walaupun aku mati, aku tidak akan,menyerahkan anak ini. Lebih baik aku kan menitipkan ke panti asuhan saja, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, kau telah meninggalkan aku, Kiara, dan kau telah merebut Agam dari ku!" gumam Cara.
***
Sementara di rumah Agam, Kiara duduk termenung di ruang tamu, dia terus menangis dan ngomel tidak karuan.
"Mengapa kehidupanku seperti ini? apa salahku tuhan? kenapa kau uji aku seberat ini? aku sudah tidak sanggup tuhan!" ucap Kiara.
"Sayang, kamu tidak boleh ngomong seperti itu," bujuk Agam.
"Bang, ini gara-gara Abang, ini semua gara-gara aku menikah dengan Abang. ini sangat mengerikan, seandainya saja aku tidak menikah dengan Abang, dan kau mempunyai anak dari orang lain, pasti takdirku takkan seperti ini! pasti anakku tidak dicuri!" ketus Kiara.
"Sayang, kenapa kau berkata seperti itu? apa kau menyesal menikah denganku?"
"Ya! aku sangat menyesal, aku bahkan menjadi wanita kedua dan aku di katain pelakor, aku suruh tidak bisa terima semua ini!"
Kiara brnar-benar putus asa,karena kehilangan anaknya. Apalagi Kondisi Kiara yang baru melahirkan, bisa gampang stres.
"Kiara, jangan berkata seperti itu, sebelumnya kau sangat tegar, bahkan saat perusahaan kita bangkrut, kaulah yang menguatkan kami, tapi sekarang apa yang kau lakukan?"
"Mah, anakku Mah, aku rela mengorbankan semuanya meski aku mengorbankan nyawaku sendiri, aku tidak bisa kehilangan Fathan," ketusnya. Dengan sesekali menghentakkan kakinya ke lantai dan mengucek wajahnya.
"Agam pasti bisa menemukannya, papah mu juga sudah mengirim semua orang untuk mendapatkan anak mu, anakmu pasti kembali, kau percayalah pada mereka."
"Mah, Fathan ku ..., huaaaaak."
Kiara terus menangis histeris. Membuat rumah itu tampak seperti pasar pagi yang di penuhi ibu-ibu belanja, sangat berisik.
Brukh
Hingga akhirnya Kiara jatuh di sofa dan pingsan. Mamah dan Agam pun tambah panik dan coba bangunkan Kiara.
__ADS_1
Bersambung.