
Fathan sangat senang saat mendengar kabar telepon dari seseorang, yang mengenali pria yang ada di video tersebut. Fathan sangat bersemangat, Fathan pun langsung meluncur ke tempat perkampungan yang telah di share lokasi oleh pria tersebut.
Tak berapa lama, Fathan sudah berada di kampung itu, dan berhenti di depan kios sembako yang di janjikan.
"Apakah anda Tuan Fathan?" tanya seorang pria, saat Fathan keluar dari mobilnya dengan pakaian yang acak-acakan, karena sudah beberapa hari ini dia juga jarang makan dan dirinya pun tidak terurus dengan baik.
"Ya, aku adalah Fathan, orang yang mencari pria itu."
"Kalau begitu, mari saya antarkan ke rumah pemuda tersebut!" ajak pria itu.
"Apakah lelaki itu tahu kalau aku akan ke mari?"tanya Fathan.
"Tidak Tuan. Aku tidak mengatakan apapun," sahutnya.
"Baguslah kalau begitu."
Mereka pun berjalan memasuki gang kecil seperti menuju ke sebuah kontrakan yang ada di kampung tersebut, tak berapa lama mereka pun sudah sampai sebuah pintu kontrakan yang kecil.
Tok tok tok.
Lelaki itu mengetuk pintu kontrakan tersebut.
Ceklek.
Seseorang membuka pintu dari dalam kontrakan.
"Ada apa Ujang?" tanya seorang ibu kepada pria yang dipanggilnya Ujang.
"Bu. Apakah Udin ada di dalam?" tanya Ujang.
"Oh, dia sudah dua hari ini tidak pulang, katanya ada pekerjaan keluar kota," ucap sang Ibu.
"Benarkah? Bolehkah ibu menelponnya dan menanyakan di mana dia sekarang? karena sangat penting," ucap Ujang.
"Sebentar."
Ibu itupun menelpon sang anak, dan menanyakan keberadaan sang anak.
"Udin, kau sekarang ada di mana? ini Ujang sedang mencari mu#" ucap ibunya.
"Aku lagi di luar kota Bu!" sahutnya, mungkin aku tidak bisa pulang beberapa hari ini, mungkin juga satu minggu lebih," sahutnya.
"Ada pekerjaan apa emangnya?" tanya Ibunya.
"Pokoknya yang sangat penting," sahut Udin.
Mendengar perkataan itu, Fathan langsung merasa marah dan meminta telepon itu dari ibu itu.
"Bu, maaf, aku pinjam Hpnya," ucap Fathan dengan merebut telpon itu dari tangan sang ibu.
__ADS_1
Sang ibu merasa tidak suka dan heran sambil menatap kesal ke wajah Fathan.
"Hello, apa kau udin?" ketua Fathan.
"Siapa ini?" tanya Udin.
"Aku adalah kakak gadis yang kau culik, ingat! kau harus mengembalikan adikku! kalau kau tidak mengembalikannya, maka kau akan tahu apa yang akan terjadi dengan ibumu!" ancam Fathan.
Sebenarnya dia hanya ingin mengancam saja, agar pria itu bisa melepaskan Aisya.
"Apa maksudmu? aku tidak tahu maksudmu. Adikmu? Adikmu yang mana?" tanya Udin berpura-pura bego.
"CCTV telah menunjukkan dirimu, bahwa kaulah yang telah menculik adikku Aisya! Jadi kau tidak usah berpura-pura!" awas kau!" kecam Fathan galak dan tegas.
"Apa? menculik? Udin, apa yang pria ini katakan? kau menculik orang? menculik gadis?" panik Ibu Udin.
"Tidak, aku tidak tau!" kekeh nya.
"Udin! jawab ibu!" ucap sang Ibu merasa syok mendengar perkataan Fathan.
"Ibu, itu tidak benar, aku tidak menculik orang, aku sedang bekerja di luar kota, Bu!" sahutnya.
"Baiklah, aku tunggu kau dua jam, hanya aku Beri waktu 2 jam, kalau kau tidak mengembalikan adikku padaku, maka aku akan menyandera ibumu sebagai jaminan, dan menyerahkannya ke polisi!" ancam Fathan lagi.
Kemudian Fathan pun menutup telepon itu, dan menyimpannya di sakunya.
"Maaf, Bu, tapi CCTV benar, bahwa anak ibu telah menculik adik orang ini," sahut Ujang.
"Ujang! Apa kau sadar apa yang kau katakan? bukankah kau berteman lama dengan Udin. Dia anak yang baik," protes Ibu.
"Aku tahu Bu, tapi aku juga tidak tahu mengapa dia tega melakukan itu."
"Baiklah Bu, untuk sementara Ibu aku bawa ke rumahku, aku tidak bisa membiarkan Ibu di sini, aku tidak akan menyakiti Ibu, aku hanya mengancam anak ibu agar dia bisa mengembalikan adikku!" ucap Fathan lagi.
"Ya Allah, tidak mungkin anakku seperti itu. Aku tidak percaya!" kekeh,sang Ibu lagi.
Ibu itu berontak dan menipis tangan Fathan.
"Ibu, sebaiknya Ibu ikut saja, nanti juga ibu akan melihat videonya, biar Tuan itu memperlihatkan videonya pada Ibu, Ibu jangan menolak, mereka orang baik Bu," ucap Ujang.
"Baiklah, aku mengambil mukena dulu."
"Tidak usah Bu, di rumahku banyak mukena, Ibu ambil saja baju beberapa lembar untuk ganti,"
Ibu itu pun menurut, dia yakin kalau anaknya tidak bersalah.Tak berapa lama, Ibu sudah siap dengan membawa tas kecil.
"Maaf Bu, merepotkan Ibu. Sebenarnya aku tidak tega melihat ibu yang sudah tua ini merasa terkejut seperti ini, tapi apa boleh buat, aku juga kehilangan adikku," ucap Fathan sedih.
"Sudahlah, kita lihat saja nanti, apa benar anakku yang menculiknya, kalau bukan anakku kau harus tanggung jawab karena terlalu mencemarkan nama baik kami," ucap ibu itu kesal.
__ADS_1
"Baik. "
Fathan pun membawa ibu itu dan juga membawa Ujang bersamanya.
"Ujang, Maaf. Aku belum bisa membayar uang padamu sekarang, aku harus yakin saat adikku kembali ke rumah, barulah aku akan membayar lunas, tapi aku akan membayar dp-nya, kau ikut saja ke rumahku."
"baik Tuan."
Mereka pun masuk ke dalam mobil Fathan dan meluncur menuju kediaman istana Fathan. Fathan sangat senang dan mudahan ibunya bisa menerima dan percaya bahwa bukan dia pelaku penculikan Adiknya sendiri.
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah Fathan. Kiara dengan berlari menyusul mobil yang terlihat memasuki gerbang utama. Rupanya dia sudah menunggu kedatangan Fathan berhari-hari.
"Fathan, apa kau menemukan Aisya?" tanyanya.
Bahkan Fathan pun belum turun dari mobil, Kiara menengok-nengok ke dalam mobil.
Kemudian saat mereka turun dan melihat seorang wanita tua, Kiara tambah kaget.
"Fathan! Apa maksudmu? apa kau mengganti adikmu dengan wanita ini?" tanya Kiara kesal
"Bunda, ayo kita masuk dulu! biar aku jelaskan di dalam."
Ibu itu pun dibawa masuk dan duduk di ruang tamu, kemudian Fatin bercerita begitu juga Udin, yang membenarkan cerita Fathan.
"Mudahan saja ini benar, aku tidak bisa terlalu lama jauh dengan anakku, kasihan sekali dia. Apa yang dia lakukan? pasti dia tidak bisa makan. Bagaimana dengan bajunya? pasti dia juga merajuk tidak ganti baju, karena merasa kesal dan marah, anak itu sangat keras kepala, huaaaa,"ucap Kiara sambil menangis.
"Nyonya, aku minta maaf kalau memang anakku bersalah, tapi aku belum yakin, kalau anakku yang menculik anak anda," ucap ibu itu.
"Baiklah, kita tunggu saja kabar dari anak ibu!" ucap Fathan.
Kemudian ibu itu pun diberikan kamar tamu untuk beristirahat, dia juga dilayani dengan sangat baik. Makan bersama di dapur, tak berapa lama, telepon pun berdering, di telepon sang ibu.
Fathan pun menyerahkan telepon itu kepada sang ibu.
"Nak, apa benar kamu culik anak orang? anak gadis orang Nak? untuk apa kau melakukannya? kau jangan macam-macam kepada anak gadis orang! ibu tidak akan pernah merelakan kamu berbuat jahat. Ibu mendidik mu dengan susah payah," ucap ibu itu.
"Ibu, maafkan aku."
"Jadi,benar?" tanya sang ibu terdengar syok..
Fathan segera merebut telepon itu dari Ibu.
"Cepat kau bawa adikku sekarang! kalau kau tidak membawanya ke mari! maka aku akan menyakiti ibumu!" ketus Fathan berteriak.
Kemudian Fathan pun berbisik kepada ibu itu agar ibu itu berteriak, hanya berpura-pura, akhirnya Ibu itu mengerti.
"Udin ..., tolong ibu ..., huaaaa sakit."
Nek
__ADS_1