
Clara tampak turun membawa kopernya dan tentu saja di dalamnya baju-bajunya pun sudah dibawanya di sana. Agam yang melihat hanya diam, sementara sang Ibu sangat emosi. Bahkan dia berteriak memaki sang menantu yang dulu di sayanginya itu.
"Clara! mau ke mana kau? Kenapa kau meninggalkan suamimu? Agam sedang sakit Clara!" ketus Ny.Mentari sambil membelai tangan Agam.
"Mama, aku tidak bisa percaya semua ini? Kenapa Paman Alex melakukannya? aku akan menuntutnya! namun sebelum itu, aku ingin menenangkan diriku dulu. Aku tidak bisa terima kalau semua yang kita miliki selama ini hilang begitu saja. tidak mungkin seperti ini, Mama."
Clara terus membawa kopernya dengan bergantian menuruni tangga. Karena dia membawa banyak baju. Semua baju yang ada di lemarinya kini sudah berpindah tempat.
"Clara, Apa kau ingin meninggalkan suamimu yang sedang sakit? Apa kau tidak ingin merawatnya? Mana cintamu yang dulu kau agungkan Clara!" teriak Ny.Mentari sangat kesal dengan menantunya.
"Mas Agam akan baik-baik saja Mah, ada Kiara yang akan menjaganya Aku yakin dia pasti bisa menjaganya Mah. Aku harus mencsri Paman Alex dan memberinya pelajaran."
Clara kini sudah menumpuk 3 kopernya di depan pintu utama, dia pun memanggil paman satpam untuk membawakan barang itu ke dalam mobil.
"Keterlaluan kau Clara, Pergi saja kau dari rumah ini! jangan pernah kau kembali lagi ke sini! Dasar menantu durhakim!" kutuk Ny.Mentari.
Clara pun tanpa pikir panjang berjalan meninggalkan rumah tersebut, dia pun membawa mobilnya yang paling mahal dari mobil-mobil yang ada.
Sementara Ny.Mentari terduduk di lantai. Kiara yang melihat sang mertua putus asa merasa tidak tega. Perlahan Kiara memberanikan diri mendekati sang Mertua.
"Aku tidak percaya, Clara bisa melakukan semua ini? begitu mudahnya dia meninggalkanmu Agam! Hiks hiks."
Ny Mentari terus menangis dan mengutuki Alex. Hingga sebuah ketukan di pintu tiba-tiba mengagetkan mereka. mereka yang ada di dalam pun kaget dan menatap pintu utama bersamaan.
"Selamat siang Nyonya, kami dari utusan Bapak Gowo, yang akan mengambil alih rumah ini, karena sekarang rumah ini telah dijual kepada Bapak Gowo, dari Bapak Alex, semua berkas sudah kami terima dari Bapak Alex, dan juga kami sudah membayar tunai pada Bapak Alex. Jadi kami ingin memperingatkan kalian untuk segera pindah dari rumah ini,"
"Astagfirullah... Bang, ayo kita pulang ke rumah ibu! walaupun di sana sangat sederhana, rumah yang aku beli kemarin. Tapi kita bisa diam di sana Bang, kita akan mulai usaha baru," ucap Kiara.
"Tidak, aku tidak mau meninggalkan rumah ini. rumah ini adalah warisan keluarga kami, rumah ini adalah rumah satu-satunya peninggalan keluarga kami, Kiara! Hiks hiks hiks," sela sang Mertua sambil terus menangis histeris.
"Mah, tapi kita tidak bisa bertahan di sini! karena semua surat-surat penting, sudah dijual oleh Paman Alex. Ayo Mah, kita akan baik-baik saja!" Desak Kiara , mengajak Mamanya meninggalkan rumah itu.
"Huaaaaa....Kau sungguh kejam Alex! Kau sangat serakah! kita sudah sama-sama memiliki bagian dari harta kita, tapi kenapa kau malah mengambil milik kami juga Alex!? Terkutuk kau!" Hardik mamah Agam sambil berteriak, seakan ada Alex di sana.
Mamah Agam terus berteriak Sementara Agam hanya diam, dengan pandangan kosong. Luka yang tadi terasa nyeri pun tidak lagi dia keluhkan, mungkin luka hatinya saat ini lebih sakit dari luka badannya.
"Maaf... kalian semua kami beri waktu satu minggu dari sekarang, untuk berbenah dari rumah ini, kalau kalian tidak pergi dari rumah ini, maka dengan sangat terpaksa, kami harus mengusir kalian dari rumah ini," Tekan orang suruhan Gowo tersebut sopan.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, kami akan segera pergi dari sini, Terima kasih banyak karena telah memberikan waktu tenggang untuk kami," imbuh Kiara.
"Maafkan Aku, Maafkan aku Kiara," ucap Agam, hanya 3 kata itu yang terucap dari bibir sang pengusaha kaya yang baru bangkrut itu.
Utusan dari Pak Gowo itu pun pergi meninggalkan rumah Agam. Sementara Kiara berdiri.
"Mah, aku akan membereskan baju-baju kita, kita akan pindah ke rumah ibu, kita pasti bisa. Percayalah! Lihat cucu mamah yang sudah ada di sini!" ucap Kiara.
"Apa, cucu? Apa itu berarti...?"
Agam yang belum tahu kalau Kiara hamil pun kaget, dia spontan duduk dan menatap wajah Kiara bergantian menatap perut datar Kiara.
"Iya Bang, tadi kami sudah periksa ke dokter kandungan, kalau sekarang aku sedang hamil," tukas Kiara.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi? di saat aku bangkrut seperti ini, Engkau berikan rezeki yang lain yang lebih berharga dari apapun, tapi bagaimana aku memberi nafkah mereka? karena sekarang Aku sudah tidak punya apa-apa ," sungut Agam merasa kesal dengan keadaannya yang sekarang.
"Abang tidak usah memikirkan itu, semuanya pasti ada jalan terbaik bagi kita, kita akan memulainya dari awal, lagian uang yang kemarin Mamah beri belum aku pakai kok, ada 10 juta, juga uang yang diberi Abang juga belum aku pakai, kita akan memulai usaha kecil-kecilan lagi Bang," ucap Kiara dengan lembut.
"Kiara... hik hik hik, aku tidak bisa percaya semua ini! Aku sungguh tidak percaya, Alex melakukan semua ini pada kami, bagaimana bisa dia melakukan kejahatan sebesar ini kepada kami, kepada Agam ponakannya sendiri, Terkutuk kau Alex! Terkutuk kau!" Berang Nyonya Mentari.
"Bang, aku akan merapikan baju-baju kita, kau diam saja di sini," pintanya.
Kiara pun membuat satu persatu koper ke bawah. Kiara juga merapikan baju sang mertua yang sangat banyak, melebihi 5 koper yang di gulung dengan sprei, karena tidak cukuo tas dan koper.
"Sekarang Apakah kita bisa pergi?" tanya Kiara.
"Bini ke mana?" tanya Agam, karena tidak terlihat.
Kiara pun berjalan ke dapur, dan mendekati kamar bibi.
"Kau ada di mana Bi?"
Ceklek
Bibi pun keluar dari kamarnya, terlihat dia baru bangun tidur.
"Ada apa Non? Apa ada yang Non perlukan?" tanya Bibi heran. Karena Kiara jarang sekali mencarinya.
__ADS_1
"Bi, Ayo kita pergi!.kita sudah diusir dari rumah ini Bi, cepat sekarang!" desak Kiara.
"Diiusir? diusir bagaimana? Apa Nyonya Clara?"
"Nyonya Clara sudah pergi, Tuan Agam ada di depan, sekarang kita semua harus pergi dari sini, karena rumah ini sudah dijual oleh Paman Alex," imbuh Kiara. Sambil berjalan meninggalkan dapur.
"Astagfirullah. laki-laki Kurang asem, keterlaluan sekali laki-laki itu, sudah diberi hati minta jantung."
Bini sangat marah dan mencecar lelaki yang selama ini di kenalnya memang buruk di matanya.
"Bi Ayo cepat! jangan ngomel terus!" panggil Kiara yang sudah keluar dari dapur.
"Oh iya Non, baik."
Bibi pun berkemas dan mengambil baju-baju yang perlu dia bawa. Semua anggota dalam rumah itu sudah siap. Kiara pun membawa satu persatu barang ke dalam mobil di bantu paman dan bibi.
Paman sopir pun membantu untuk membawa barang-barang tersebut dan syukurlah mereka masih punya dua mobil untuk nanti dijual, biar bisa memulai usaha dari nol lagi. Paman satpam pun dikasih tahu oleh Bibi karena Paman satpam dan Bibi satu mobil menuju rumah Kiara, mereka saling beriringan.
Sepanjang jalan Nyonya Mentari hanya menangis. Bahkan sumpah serapahnya pun keluar dari mulutnya, untuk adik iparnya Alex. Tak berapa lama mereka sudah sampai di sebuah rumah kecil di pinggiran kota, ibu Kiara yang sedang duduk di depan rumah pun kaget, saat melihat kedatangan dua mobil yang sangat dikenalnya itu. yaitu mobil sang menantu, dengan bergegas Kiara pun turun dan berlari kecil menuju ibunya. Kiara pun memeluk ibunya penuh kasih sayang.
"Ibu, mulai sekarang kita akan bersama, kita akan bersama-sama lagi Bu, kita akan hidup satu rumah di sini, kita akan berbahagia ya Bu!" ucap Kiara.
"Sayang, ada apa? apakah kau diusir?" cerucu sang Ibu sambil terus membelai kepala Kiara. matanya pun menatap Paman satpam dan juga Bibi yang mengeluarkan beberapa koper membawanya ke halaman. Yang ada di pikiran ibu Kiara adalah, Kiara sekarang sedang diusir dari rumah besar itu.
"Keterlaluan kalian, kalian licik, sombong, orang kaya emang begitu, setelah apa yang anakku kulakukan kepada kalian, sekarang apa yang kalian lakukan kepada anakku?" Hardik ibu Kiara, melihat Kiara menangis, sang Ibu sangat marah, dia tidak rela anaknya menangis hanya gara-gara disakiti oleh orang lain.
"Ibu, bukan begitu Bu, Ibu sabar dulu, sekarang ayo kita masuk!" ajak Kiara.
"Aku tidak akan memaafkan mereka, kau sudah sangat baik kepada mereka, tapi apa balasan mereka kepadamu, kau bahkan dijadikannya pembantu di rumahnya sendiri, tiap pagi dan sore kau selalu memasakkan makanan kesukaan mereka, padahal kau itu adalah istri, bukan pembantu," cecar sang Ibu lagi, sambil terus dibawa Kiara masuk ke dalam.
Nyonya Mentari hanya diam, begitu juga Agam, yang terlihat babak belur mengiringi di belakang.
"Paman, tolong bawa semua koper dan barang masuk ke dalam, aku tidak ingin menjadi tontonan warga di sini, karena melihat kopernya begitu banyak." titah Kiara.
Benar saja, banyaknya cover itu sekitar 10 buah, karena baju milik Ny .Mentarilah yang paling banyak.
"Baik Non."
__ADS_1
BERSAMBUNG