
Tampak Alex, Aswin dan juga Hasan berada di kantor polisi, Alex tampak sibuk menghubungi seseorang lewat telepon genggamnya.
"Baiklah, kita akan mengajukan laporan bahwa anda Tuan Alex telah mencuri perusahaan Tuan Agam dari tangannya, jadi kasus ini akan segera kami tangani, dan Anda tuan Aswin dan juga tuan Alex, silahkan persiapkan semua berkas yang akan menguatkan bukti bahwa perusahaan itu adalah milik kalian sendiri!" ucap polisi.
"Baiklah Pak, Kamu sudah siap dengan semua persiapan yang sangat matang," sahut Aswin.
"Dasar penipu! Mana mungkin kamu mempunyai persiapan? Bagaimana mungkin kau memiliki surat-surat asli sementara semua berkas aslinya ada padaku!" ketus Alex sangat percaya diri.
"Alex, kau itu dasar Adik durhaka! kau lihat saja nanti, kau akan tahu akibatnya#" geram Aswon.
"Baiklah tuan-tuan, sekarang laporan Tuan Aswin sudah kami terima, maka mungkin secepatnya kami akan segera mengirimkan balasan pemanggilan kepada kalian berdua, untuk mempertanggungjawabkan di meja persidangan nanti," kita polisi lagi.
"Hei Tuan palsu! sebaiknya kau menyerah dan mundurlah, aku masih memaafkan mu tapi kalau sampai maju ke persidangan Kau kalah? Aku tidak akan pernah memaafkan mu, Tuan palsu! Dasar penipu!" ketus Alex, sambil berjalan meninggalkan kantor tersebut.
"Alex, Sebenarnya aku tidak ingin memperpanjang masalah ini, sebaiknya Kaulah yang menyerah! kau masih ingat kan saat kau tenggelam, padahal Kau lah yang mendorong ku lebih dulu? Namun karena aku bisa berenang dan kau tidak, akhirnya aku mau menolong mu, apakah kau masih ingat?" tanya Aswin.
Alex pun sangat kaget, karena kejadian itu hanya mereka berdua yang tahu, bahkan orang tua mereka pun tidak tahu, karena Alex memohon kepada Aswin agar Aswin tidak mengatakan kejadian tersebut, kalau sampai Aswin mengatakannya, maka tentu saja Alex akan diberi hukuman yang sangat berat karena telah mendorong saudaranya sendiri.
Dari dulu Alex memang selalu bersikap jahat kepada Aswin.
"Jangan pura-pura sok tahu kau, jangan karen kau tahu rahasia itu, lalu aku percaya kalau kau itu adalah kakakku uang asli?" ketus Alex.
"Terserah kau, yang jelas, rahasia ini sejak dulu sampai sekarang hanya kita berdua yang tahu."
Kali ini Alex sedikit merasa berdebar, bahkan dia merasa ragu jangan-jangan ini adalah Aswin kakaknya yang sebenarnya, Alex berusaha untuk cuek kemudian pergi meninggalkan kantor polisi dengan dibawa oleh sopirnya menuju perusahaan.
***
3 hari setelah kejadian lamaran Adi pada Kiara. Kini tampak Agam membersihkan ruangan demi ruangan, namun tiba-tiba dia bertemu dengan Burhan yang ingin melaksanakan rapat dengan Tuan Hendri dan rekan bisnisnya yang lain.
"Tuan Agam? Bagaimana kabarmu?" sapa Burhan.
"Oh, baik Tuan."
"Oh iya, bagaimana juga kabar istrimu yang sedang hamil itu?" tanya Burhan.
"Tuan Burhan, Alhamdulillah aku baik kok, oh iya Tuan Burhan apakah lowongan pekerjaan itu masih ada?" tanya Agam.
Sepertinya Agam ingin segera pindah dari pekerjaan yang sekarang dia galuti.
"Tentu saja masih ada, sampai kapanpun aku pasti menunggumu."
"Terima kasih Tuan Burhan, lepas bulan ini aku pasti mendatangi perusahaan mu, Oh iya Apakah tuan Burhan sudah tahu tentang kabar terbaru Clara?" tanya Agam.
__ADS_1
"Ada kabar apa tentang mantan istrimu itu?" sahut Han.
"Sekarang Dia ditangkap polisi, karena tuduhan perencanaan pembunuhan," ungkap Agam.
"Astaga! Bagaimana bisa? Siapa yang ingin dibunuhnya?" tentu saja Burhan sangat kaget.
"Dia ingin membunuh suaminya sendiri," sahut Agam.
"Suami? Apakah dia menikah lagi setelah bercerai denganmu?"
"Iya, dia menikah dengan Alex orang yang telah mengambil perusahaan ku, dengan alasan dia ingin merebut kembali perusahaan itu "
"Oh Astaga..., Benarkah? sekarang berada di kantor polisi mana dia?" tanya Han.
"Di kantor polisi Z..."
"Baiklah, setelah aku pulang Rapat ini, aku akan ke sana untuk melihatnya. Terima kasih banyak Tuan Agam, telah memberikan kabar kepadaku, mudahan aku bisa membantunya."
"Aku yang mengucapkan terima kasih karena sekarang aku bukanlah siapa-siapa lagi, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Agam merasa sedih.
"Oke. selamat bekerja ya!"
Burhan pun meninggalkan Agam menuju ruangan rapat. Sementara Agam kembali bekerja.
***
Tiba-tiba...
"Kiara! Tunggu!" tampak Adi turun dari grab online dan mengejar Kiara yang sedang berjalan menuju rumahnya.
"Mas Adi, ada apa kau,ke mari?" tanya Kiara heran, karena sekarang baru 3 hari sejak hari itu.
"Kiara, ayo cepat! kau harus ikut aku!" desak Adi dan menarik tangan Kiara.
"Eeeeh mau ke mana?" tanya Kiara heran sambil menepis tangan Adi, namun Adi sudah mencengkram tangannya kuat.
"Kita akan ke KUA untuk menikah hari ini juga!" ucap Adi.
Kiara pun panik dan dengan cepat menarik tangannya, namun tentu saja tangan Adi lebih kuat dari tangan Kiara yang kurus.
"Mas, jangan! Aku mohon, lepaskan aku, kita tidak bisa melakukannya," ucap Kiara.
Paman sopir grab pun merasa heran. Dan bingung harua melakukan apa.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau kau di ambil orang, kau harus menjadi milikku, kita sudah menjalani pacaran selama 3 tahun, bagaimana mungkin mamah bilang kau sudah menikah?" gerutu Adi sambil terus memaksa Kiara masuk ke dalam mobil.
"Mas, benar, aku sudah menikah, paman tolong aku!" mohon Kiara pada paman sopir. Namun paman sopir tampak masih bingung dengan kejadian yang dia liat di depannya. Adi terus menarik Kiara hingga di dapan pintu mobil.
"Ayo Sayang, masuklah! Kau jangan membantah, bukankah kita saling mencintai?"
"Jangan Mas, aku sudah menikah."
Kiara terus memberontak dan menjauhkan diri dari Adi, namun Adi terus memaksanya hingga Adi tak sengaja menarik tangan Kiara dan Kiara juga dengan sekuat tenaga ingin melepaskan diri hingga terjadikah adegan yang tak terduga
Brugh
Kiara terjatuh ke tanah denhan posisi terduduk keras.
"Aduuuuh," ringis Kiara sambil memegangi perutnya.
"Sayang! Kau jangan berontak, kenapa kau keras kepala sekali?" ucap Adi dengan coba menolong Kiara bangun.
"Paman..., " panggil Kiara lirih paman sopir.
Paman sopir pun segera mendekat.
"Non, ada apa?"
"Dia... Gi_la, pa_man...," ucap Kiara.
Paman pun kaget dan menatap wajah Adi tak prcaya, tentu saja tak percaya, karena Adi sangat tampan dan bersih.
"Kiara apa yang kau katakan? Mengapa kau mengatakan itu padaku?"
"Pa_man...," panggil Kiara lagi sambil menahan sakit di perutnya.
Sepertinya Kiara berusaha untuk mendapat pertolongan dari paman sopir.
Adi pun membangunkan Kiara paksa. Alangkah kagetnya paman saat melihat sesuatu.
"Nona, Kau berdarah! Kenapa kau berdarah Nona.?" panik paman sopir .
"Aku... Ha...mil," sahut Kiara.
"Tidak mungkin, bagaimana kau hamil, sedang kita belum menikah?" ucap Adi protes.
"Nona, ayo aku antar ke rumah sakit!" ajak paman dengan menggandeng Kiara yang masing juga di pangkuan Adi.
__ADS_1
"Paman tolong dia, ayo kita bawa, mungkin dia terluka!" ucap Adi juga.