
Sepanjang jalan menuju pulang, Kiara terus meneteskan air mata. Dadanya sesak karena isakan tangis yang coba dia redam. Betapa sulit kini menerima kenyataan, bahwa sekarang dia telah jatuh cinta.
Nggak ada yang salah dengan jatuh cinta. Namun yang salah adalah, laki-laki yang di cintai nya itu adalah suami orang.
Yang lebih menyakitkan lagi, dia mencintai suaminya sendiri, namun tidak bisa memiliki. Apakah dia harus merebut lelaki itu dari istri Tuanya? Ah mustahil, karena lelaki itu begitu mencintai istrinya.
Bagaimana dengan misi Istri Tuanya agar dia bisa hamil atas permintaan istri Tuanya? Itu juga sudah gagal.
"Apa aku harus menelepon Nyonya Clara, dan kembali melancarkan aksi kami, agar aku bisa dekat dengan Tuan Agam ya?" bisik hati kecilnya.
Berbagai macam pikiran hinggap di kepalanya. Perasaan tak karuan semakin menghantui jiwanya. CINTA hanya satu kata itu yang kini bertahta di hatinya. Kiara merasa takut kehilangan.
"Tuan, mengapa hati ini begitu susah untuk di bawa kompromi? Mengapa hati ini berkata tidak untuk pergi darimu," batinnya lagi.
Tak terasa, Kiara sudah sampai di kontrakkan kecil, di mana ibunya di rawat oleh pembantu pemberian Clara.
Setelah membayar ongkos taksi. Kiara pun segera berjalan cepat menuju kontrakan kecil itu yang ada di dalam gang kecil.
"Assalamualaikum, Ibu," panggionya.
Kiara langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam, dilihatnya wanita itu sedang tertidur di atas ranjangnya, wajah teduh itu kini membuat hati Kiara tenang, kemudian Dia mendekati wanita yang sudah berumur itu dan meraih tangannya, mencium lembut punggung tangan ibunya.
"Kiara?" sapa ibunya dengan suara serak dan terbata-bata, wanita yang sedang berbaring itu terbangun saat merasakan tangannya diraih oleh Kiara.
"Ibu, Iya Bu, ini Kiara sudah pulang. Maafkan Kiara Bu. Seminggu ini Kiara tidak bisa menemui Ibu, juga tidak bisa menghubungi Ibu," ucap Kiara.
Dia terus mencium tangan ibunya.
"Kiara. Kenapa pulang?" tanya ibu.
"Kita akan pergi dari kontrakan ini Bu, kita akan memulai hidup baru . Kiara janji, Kiara akan menjaga Ibu, juga, Kiara akan usaha kecil-kecilan, Kiara tidak akan meninggalkan Ibu lagi," ucapnya sambil menggenggam tangan ibunya erat.
"Suamimu mana?" tanya ibu nya.
__ADS_1
"Bu, maaf, kami sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan itu, tapi Ibu jangan khawatir, Tuan itu sangat baik kok, sehingga uang yang kemarin untuk bayar hutang, dia berikan begitu saja, tapi Kiara janji Bu, suatu hari nanti kalau Kiara punya uang, Kiara pasti menggantinya lagi, pada Tuan itu, sekarang Ibu tidak usah khawatir, fokus aja pada kesehatan ibu, sekarang kita tidak akan berpisah lagi Bu," ucapnya.
"Maafkan Ibu, karena Ibu tidak bisa menjadi pelindung bagimu, ibu malah menyusahkan mu," ucap ibunya sedih.
"Ibu jangan berkata seperti itu, Kiara sebesar ini bukankah ibu yang telah membesarkan Kiara dari bayi? kita akan memulai lembaran baru Bu, Ibu jangan sedih, Kiara malah tambah ikut sedih," ucapnya.
Kiara pun memeluk ibunya begitu juga sang ibu, dia membeli lembut rambut Kiara, mereka sama-sama terhanyut dalam kesedihan, Kiara kembali merasakan ada perih yang menusuk di hatinya, ketika dia teringat ada cinta yang kini hadir, namun di saat dia sudah menggapainya cinta itu, Agam malah pergi begitu saja.
***
Di kediaman Agam, pagi ini Clara tampak sudah berdandan sangat cantik. Dia pun menyuguhkan makanan yang sudah dimasak oleh Bibi di dapur. Clara pun kembali ke kamar dan memanggil suaminya.
"Mas, ayo kita makan! semua makan sudah aku suguhkan di atas meja loh, aku sendiri yang menyuguhkannya dan menatanya untuk Mas, tapi semuanya masih masakan bibi sih. Kalau Mas mau, nanti aku akan belajar masak kok," ucap Clara.
"Terima kasih Sayang ..., tidak usah, nanti tangan cantikmu itu akan rusak, Oh ya ayo cepat kita makan bersama!" ajak Agam.
"Sebentar Mas, Mas duluan saja, nanti aku menyusul," ucap Clara, terlihat Clara mengambil handphonenya dan membuka chat di hp-nya, dia pun tampak tersenyum-senyum membalas chat-chat itu dari seseorang.
Sementara Agam tidak menghiraukannya, karena dia tergesa-gesa untuk masuk kantor Agam. Ketika Agam keluar kamar keluar.
"Ketika suara itu terdengar di depan pintu utama, Agam pun mendekati pintu.
" Paket Tuan."
"Dari siapa?" tanya Agam.
"Ini untuk Tuan Agam, dari nona Kiara."
Seketika Agam pun kaget mendengar nama itu, nama yang kemarin dia tinggalkan di bandara, nama yang kemarin ingin dihapusnya dari hatinya, namun nama itu kini terdengar di telinganya.
"Oh terima kasih, Mas," ucapnya pada lelaki itu.
Agam pun mengambilnya dan membawanya ke dapur, kemudian Agam membuka makanan itu, makanan kesukaan Agam.
__ADS_1
"Bi tolong tata makan ini dalam wadah," ucap Agam."Dan tolong jangan sampai tahu kalau ini makanan dari luar," ucapnya lagi.
"Baik Tuan," sahut Bini.
Bibi itu membuka dan menyalin makanan tersebut ke dalam wadah.
Agam pun mendekati makanan itu dan menatapnya tajam. makanan dari Kiara itu kini sudah ludes dimakannya, kemudian dia pun mencicipi masakan itu.
"Bibi, apa Kiara belajar masak sama Bibi?" tanya Agam yang penasaran.
"Kemarin hanya sempat nanya-nanya Tuan, dia hanya nanya makanan kesukaan Tuan, tapi dia belum sempat belajar kok," ucap Bibi.
"Oh pantesan," jawab Agam.
"Kenapa Tuan?" tanya bibi heran.
"Tidak kok," ucapnya.
"Pantesan rasanya enak," batin Agam
Ya masakan ini terasa lebih nikmat dibandingkan masakan Bibi, Apa mungkin dia memakan masakan Kiara itu dengan rasa cinta yang ada di dalam hatinya? setelah selesai makan Agan pun berdiri.
"Tuan maaf, ini ..., ternyata di dalam masakan tadi di dalam kresek masakan tadi, ada secarik kertas," ucap Bibi.
Agam pun mengambilnya.
"Maaf suamiku, Tuan Agam, mungkin ini adalah masakan pertama dan juga masakan terakhirku, yang bisa aku sajikan untukmu. Bukankah Tuan pernah bilang, bahwa Tuan ingin memakan masakan ku? dan kemarin aku sempat menanyakan masakan kesukaan tuan pada Bini, mudahan Tuan suka, terima kasih karena Tuan telah mengizinkan padaku, untuk berada di sisi Tuan walau hanya beberapa saat. Terima kasih juga atas bantuan Paman Sukro sudah datang kepadaku, dan memberikanku pekerjaan, tapi maaf Tuan, aku tidak bisa menerimanya, aku terlalu banyak hutang pada Tuan, terima kasih banyak dari Kiara.
Dooor
Hati Agam bergetar, 'suamiku' tulisan itu begitu bermakna di hati Agam.
"*Kiara ..., apakah ada rasa yang tersimpan untukku? Seperti aku juga menyimpan rasa padamu, namin hanya karena aku takut kau atau Clara terluka, aku terpaksa melepas mu Kiara," lirih hati Agam.
__ADS_1
Bersambung*...