Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Kemarahan Agam


__ADS_3

Agam tampak menikmati makan siang mereka bersama Kiara. Orang-orang yang tadi makan di restoran tersebut pun sudah pergi satu demi satu, sebelum pergi tentu saja mereka menetap Agam dan Kiara dan berterima kasih kepada mereka, karena telah mentraktir makan siang ini.


Tiba-tiba sebuah pesan masuk di HP Agam, perlahan Agan pun membuka chat dari seseorang, tiba-tiba wajahnya berubah sangar, wajah yang tadi lembut dan terlihat sumringah kini berubah jadi dingin sedingin es balok, yang ada di gurun Es.


Kiara yang melihat perubahan Agam pun heran, dan tampak ikut cemas.


"Abang, ada apa?" tanya Kiara merasa khawatir.


"Kiara, sebaiknya kau pulang duluan ya, biar aku panggilkan taksi. Aku ada urusan penting, ini sangat mendadak," ucap Agam.


"Emangnya ada urusan apa Bang? Kok serius begitu?" tanya Kiara penasaran.


"Kau selesaikan saja makan mu, aku akan mencarikan mu taksi ya, ingat kau harus pulang ke rumah! Jangan kemana-mana!" ucap Agam.


Agam seketika berubah aneh, dia pun dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan restoran tersebut. Bahkan dia lupa untuk membayar makanannya dan juga makanan semua orang yang telah ditraktirnya, Agam memesan Taxi lewat online, dan menyuruhnya mendatangi restoran tersebut, kemudian dia pun pergi meninggalkan restoran tersebut tanpa mengingat hutang yang akan dibayar oleh Kiara.


Sementara Kiara pun belum sadar kalau dia tidak membawa uang sepeserpun, setelah Kiara selesai makan, dia pun bingung harus membayar pakai apa, sementara tidak mungkin dia mengganggu suaminya yang sedang pergi tergesa-gesa, namun dia punya sebuah cincin yang diberikan Agam padanya. Dia pun pergi ke kasir.


"Mbak..., Maaf, aku tadi lupa minta uang kepada suamiku, apa boleh cincin ini sebagai jaminannya Mbak?" ucap Kiara dengan menyerahkan cincin tersebut.


Wanita itu pun menatap cincin yang ada di tangan Kiara.


"Bagaimana sih Mbak? Bagaimana mungkin suamimu pergi meninggalkanmu sementara tadi dia mengatakan kalau dia akan membayar semua orang yang makan di restoran ini!? aku sudah menulisnya. Lihatlah! semua belanjanya hari adalah Rp.2.700.000, bagaimana aku percaya kalau emas ini murni?" ketus wanita itu.


"Mbak, tapi aku benar-benar lupa, sementara suamiku tergesa-gesa, sepertinya ada hal penting yang sedang dilakukan di kantornya," ucap Kiara merasa tidak enak.


"Alaaaaah, itu pasti akal-akalan suaminya saja kan? karena dia ingin gratis hah, sebenarnya dia tidak punya uang, cincinnya juga, apakah ini asli atau mungkin palsu," ketus pemilik orang tersebut.


"Ini adalah cincin kawinku Mbak, tidak mungkin cincin ini palsu, baiklah, aku akan menunggu suamiku di sini," ucap Kiara.


"Bagaimana kalau kau kabur saat kami lalai tidak melihatmu?" ucap Mbak tersebut.


"Mbak, Percayalah, aku tidak mungkin kabur, baiklah kalau begitu, jadi aku harus bagaimana?" tanya Kiara.


"Kalau begitu, sana! sambil kau menunggu suamimu datang, kau cuci piring saja sana! Di dalur," ucap wanita tersebut ketus.


"Baiklah."


"Mungkin saja suami mu tidak akan pernah datang!" ucapnya lagi.


"Aku akan melakukannya, walaupun aku harus memasak sekalipun di dapur, aku siap kok," ucap Kiara.


"Emangnya kau bisa masak?" tanya wanita itu.


"Bisa kok, aku pernah bekerja di sebuah restoran juga, sebelum menikah," jawabnya.

__ADS_1


"Baiklah, sana kau ke dapur! kau bantu karyawan yang ada di dapur sana memasak," ucap wanita itu.


Setelah itu Kiara pun masuk ke dapur dan membantu karyawan yang sedang memasak di dapur.


***


Sementara Agam, dia sudah sampai ke gedung perusahaan milik Burhan. Terlihat mobil Clara tampak parkir di depan gedung perusahaan Burhan tersebut, dengan tergesa-gesa Agam pun keluar dari mobilnya dan berlari kecil menuju lift, untuk menaiki lantai atas.


Agam segera mencari ruang pribadi Burhan, setelah dia sudah sampai di lantai 2, Agam pun dengan cepat menuju ruangan Burhan, karena memang pintu itu masih terbuka, dengan cepat Agam berdiri di depan pintu, dan menetap tajam ke arah Clara, yang tampak masih bersandar dan menangis di pundak Burhan.


"Clara! bentak Agam.


Seketika Clara dan Burhan menatap arah suara yang ada di depan pintu, alangkah kagetnya Clara saatnya tau siapa yang datang itu.


"Mas?" lirihnya kaget.


Agam suaminya tampak meradang. Entah seperti apa sekarang wajah Agam, begitu sangat menakutkan di mata Clara.


"Mas."


Clara pun segera berdiri, sementara Burhan juga segera berdiri dan menjauh dari Clara.


"Apa yang kau lakukan di sini hah? Kurang ajar sekali Kau Clara! Kau bilang dia adalah temanmu? tapi apakah seperti ini sikap mu terhadap temanmu?" ucap Agam.


"Alaaaah, semua ini hanya akal-akalan mu, kau sengaja menjodohkan aku dengan wanita lain, agar kau bisa berselingkuh dengan lelaki lain kan? kamu buat alasan bahwa aku sedang sibuk dengan istri mudaku. Jadi kau bisa seenaknya bermain hati dengan laki-laki lain hah?" gertak Agam.


"Tuan Maaf, tidak seperti itu! kami...."


"Diam kau! ini adalah urusanku dengan istriku!" ketus Agam dengan lantang.


"Mas, ayo kita pulang!" ajak Clara.


"Tidak, aku akan menyelesaikannya di sini," ucap Agam.


"Mas, jangan membuat kekacauan di kantor orang," ucap Clara lagi.


"Aku ingin tanya padamu! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku? Mengapa kau menjodohkan aku? Sedangkan kau kini tampak liar denganku dan Kau bahkan sekarang sudah berani bermain hati dengan laki-laki lain, sebelumnya kita baik-baik saja, sebelum wanita itu ada kan?" ketus Agam sangat marah.


"Mas, Aku tidak menyangka kalau Mas sekarang lebih memilih wanita itu! sekarang kau sering mengabaikan ku Mas! aku tidak bisa seperti itu," ucap Clara.


"Jadi kau mau seperti apa? apa kau ingin bercerai denganku?" tanya Agam tiba-tiba.


"Mas, kenapa kau berkata seperti itu? tak sedikitpun aku berpikir seperti itu!" ucap Clara.


"Lalu apa yang kau maksudkan?"

__ADS_1


"Mas, aku ingin kau mencarikan wanita itu sekarang juga!" pinta Clara l.


Tentu saja itu adalah pilihan yang sangat sulit. bagaimana mungkin Agam menceraikannya, setelah mereka sudah bercocok tanam tadi siang. tiba-tiba ingatan Agam kembali sadar. Dia teringat kalau tadi dia meninggalkan Kiara di restoran tanpa memberinya uang. Bahkan dia juga sudah berjanji untuk mentraktir mereka yang ada di sana.


"Sekarang kau pulang ke rumah! ingat! kau harus pulang ke rumah! sekarang aku ada urusan sebentar,"


Agam pun menarik tangan Clara dan membawanya turun dari gedung tersebut. Setelah mereka sampai di parkiran. Agam dan Clara pun pergi dengan menaiki mobil masing-masing.


Tak erapa lama, Agam pun sudah sampai di sebuah restoran di mana ada Kiara di sana. Dengan tergesa-gesa Agam pun masuk ke dalam.


"Maaf, di mana wanita yang tadi makan di sini?" tanya Agam.


"Datang juga kau akhirnya. Mengapa kau tinggalkan istrimu di sini tanpa uang?- ketus pemilik warung.


" Maaf Mbak, aku lupa meninggalkan uang untuknya, karena ada urusan yang sangat mendesak," ucap Agam.


"Bagaimana mungkin kamu lupakan istrimu di sini? sementara dia tidak memiliki uang sepeser pun, bahkan kau juga telah mentraktir orang-orang yang makan di sini! Jangan-jangan kau sengaja," ucap wanita pemilik warung Ketus.


"Akan ada bagi2 pulsa awal bulan saat kalian terpilih di rangking umum 1,2 dan 3 ya" bisa di lihat di pendukung rangking umum


Kepala Agam yang memang sudah berasap, kini pun menjadi ngepul kembali.


"Aku bertanya baik-baik, di mana istriku!" ketusnya dengan suara tinggi.


"Ada tuh..., eh coba panggilkan wanita yang ada di dapur sana!" titahnya lada karyawan.


Seorang karyawan pun pergi ke belakang untuk memanggilkanKiara.


"Apa maksudmu Mbak? Mengapa istriku ada di dapur?" tanya Agam rasa tidak terima, dia sudah membayangkan kalau saat ini Kiara pasti sedang mencuci piring sewprti di film film.


"Tentu saja dia harus memasak dan mencuci piring, bukankah kau hari ini telah mentraktir beberapa orang yang makan di sini, total hutangmu itu adalah Rp.2.700.000, sementara istrimu ingin menyerahkan sebuah cincin untuk bahan jaminan, Mana aku tahu kalau cincin itu asli?" ucapnya.


"Kau sungguh keterlaluan Nyonya yang terhormat! Jadi kau mengira kalau cincin Istriku itu palsu?"


Akhirnya Agam pun tampak emosi dan menelpon seseorang. Agam benar-benar emosi, karena Wanita itu telah meremehkan cincin kawin untuk Kiara, tak berapa lama, Kiara pun datang.


"Bang, kau sudah datang?" ucapnya.


"Kiara, Maafkan aku."


Agam pun memeluk wanita itu, dia mengurus lembut kepala wanita tersebut.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2