Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Agam Terlambat Mengenal Kiara


__ADS_3

Kiara yang mendengar gelar pembantu dari mulut Clara pun merasa kecewa. Memang sih kalau Clara tidak mungkin menyebutkan dirinya seorang istri muda suaminya, tentulah Clara akan malu tapi setidaknya Kiara berharap, Clara tidak menyebutnya sebagai pembantu, paling tidak Clara bisa menyebutnya sebagai teman saja.


Clara pun berpisah dengan temannya Alora, Kiara dan Clara sudah tampak berada di dalam mobil.


"Maaf Nyonya. Kenapa Nyonya menyebut saya pembantu?" ucap Kiara.


Akhirnya Kiara pun memberanikan diri untuk bertanya. Dengan sedikit takut-takut.


"Kiara, tidak mungkin kan aku mengatakan mu sebagai istri muda suamiku? mau ditaruh di mana mukaku ini?" Bela Clara pada dirinya sendiri.


"Iya, memang tidak mungkin Nyonya mengatakan aku istri muda Tuan Agam, akan tetapi kan Nyonya bisa bilang kalau aku mungkin kerabat atau teman Nyonya?" protes Kiara lagi.


"Ah sudahlah Kiara, hal seperti itu saja dipermasalahkan, ayo sebaiknya kita pulang saja," ketus Clara.


Mereka pun pergi meninggalkan Mall tersebut. Clara melajukan mobilnya pelan.


"Oh iya, apa sebaiknya kita ke kantor Mas Agam saja? jadi kau tahu Kantornya ada di mana?" ajak Clara lagi.


Pasti ada rencana lain dibalik Clara mengajak Kiara ke kantor Agam, mana mungkin dia mengajak Kiara tanpa alasan.


"Tidak usah Nyonya, sebaiknya aku pulang saja aku, mau istirahat, lagian sore Tuan Agam kan minta di masakin makanan kesukaannya lagi? masakan yang tadi pagi sudah habis dibawa ke kantor," ucap Kiara.


Tentu saja mendengar perkataan Kiara tersebut, Clara merasa tersinggung karena Kiara bisa memasak masakan kesukaan suami mereka.


"Apa kau tidak ingin tahu sebesar apa perusahaan suamimu itu?" ucap Clara lagi.


"Tidak usah Nyonya, lagian aku ini hanya istri sementaranya, nanti kan setelah aku melahirkan, aku juga tidak akan pernah ke sana lagi?" ucap Kiara.


"Baguslah kalau kau sudah tahu itu," ucap Clara.


Ternyata Clara hanya menguji Kiara saja. akhirnya Clara pun memutuskan melajukan Mobilnya di jalanan menuju pulang ke rumah mewah mereka, sesampainya di rumah Clara hanya turun dan berjalan meninggalkan mobil.


"Kiara, Tolong bawa semua belanjaan itu ya!" titah Clara.


Sekarang tampak sifat asli sudah mulai ditunjukkannya, Clara tak seramah dulu.


"Iya Nya," sahut Kiara.


Terpaksa kiara dengan susah payah membawa belanjaan itu di ke dua tangannya, Kiara pun membawa belanjaan yang begitu banyak itu berjalan masuk ke dalam rumah. Bibi yang kebetulan ada di ruang tamu pun segera membantu Kiara.


"Nona. Kenapa belanjaannya banyak sekali?" tanya Bibi heran.


"Ini punya Nyonya Clara Bi, punyaku cuma satu ini kok," ucap Kiara.


"Oh...," ucap Bibi melongo saja. Karena Bibi tau, belanjaan Clara sudah satu gudang, namun jarang di pakai.

__ADS_1


Tapi kemudian Bibi pun mengangkatkan alisnya dan memiringkan sedikit bibirnya, sepertinya Bibi juga sudah tidak menyukai Clara.


"Kenapa Bibi bersikap begitu?" tanya Kiara heran.


"Hi hi hi, entahlah Nona, dulu Nyonya Clara itu sangat baik, sama siapa saja Dia sangat baik, tapi kok sekarang semakin ke sini semakin ke sini aku lihat dia semakin bersifat aneh, dan seakan mau menindas orang," ucap Bibi.


Bibi dulu mengenal Clara adalah wanita yang sangat Dermawan, baik hati dan tidak pernah marah pada siapapun. Tapi semenjak Kiara ada di rumah ini, sudah 10 hari lalu nampak Clara semakin bersikap tidak wajar.


Apakah karena merasa tersaingi sehingga membuat Clara berbuat demikian?


"Benarkah Bi? kenapa dia berubah ya? Apa mungkin karena aku? Aku kan biasa-biasa saja Bi, aku juga hanya wanita biasa, aku kampungan dan sangat biasa, tidak punya kelebihan, sedangkan dia punya segala-galanya," ucap Kiara.


"Entah? Kiara. Ayo biar aku yang ngantarkan belanjaan Nyonya Clara ke atas," Bibi pun membawa belanjaan Clara ke atas. Sementara Kiara Dia segera kembali ke kamarnya.


***


Jam sudah menunjukkan jam 04.00 sore. Tampak Kiara sedang sibuk memasak di dapur, untuk menyiapkan makan malam kesukaan suaminya, Agam, sesekali Kiara tampak tersenyum kalau mengingat kemesraan yang Agam berikan kepadanya, walaupun hingga saat ini dia dan Agam belum pernah melakukan hal yang melebihi dari sekedar berpegangan, dan berpelukan biasa.


"Tiga hari lagi, apakah aku siap dengan 3 hari lagi?" tanyanya dalam hatinya.


Ya, Tiga hari lagi agama akan tidur di kamar Kiara, begitu malam itu tiba, maka Kiara harus menyiapkan segalanya, perasaan bergemuruh di jiwanya kini menguasai ke relung hatinya yang paling dalam. Dia sangat ingin menikmati malam itu, namun dia juga takut karena temannya yang pernah menikah pernah bilang, kalau malam itu adalah malam yang sangat menegangkan, malam yang penuh gairah, namun juga malam yang sakit, karena harus belah duren di malam pertama.


"Nona. Kenapa kau tersenyum-senyum?" tanya bibi, sambil menatap aneh pada Kiara yang terus tersenyum sambil memotong berbagai macam sayur-sayuran.


"Pasti Nona Clara sedang mengingat-ingat malam pertama dengan Tuan Agam kan?" tanya bibi.


Kiara dan bibi memang tak ada jarak, tidak ada jarak antara pembantu dan majikannya. karena Kiara memang sangat baik kepada Bibi.


"Ah Bibi bisa aja, Oh ya Bi, sebenarnya sampai saat ini kami belum ngapa-ngapain kok," ucap Kiara.


"Masa Non? kan sudah 10 hari menikah? masa belum ngapa-ngapain sih? Apakah anda tidak penasaran dengan yang namanya malam pertama?" goda Bi,


"Bukan begitu Bi, kami kan sama-sama tidak kenal sebelumnya, masa tiba-tiba langsung begituan, kan aneh Bi?" ucap Kiara.


"Ah masa Non? dulu juga Bibi di jodohkan. Enggak kenal yang namanya cinta-cintaan, Tapi saat malam pertama, suami bibi malah agresif sekali hi hi hi," ucap Bibi sambil tertawa.


"Masa sih Bi? kok bisa begitu?" heran Kiara.


"Iya Non, namanya juga laki-laki, tidak cinta juga bisa begituan, laki-laki itu kan naf**sunya sangat besar," ucap Bibi.


"Apa benar naf**su laki-laki itu lebih besar daripada perempuan bi?" tanya Kiara penasaran.


"Ya tentu saja. Emang kamu nggak tahu ya? masa, anak muda zaman sekarang tidak tahu yang begituan? malahan Bibi sering lihat tuh di tv-tv, kalau pacaran aja sudah begituan dan hamil," sahut bibi.


"Ehem ehem...."

__ADS_1


Tiba-tiba suara serak dan berat terdengar di depan pintu dapur, membuat Kiara dan bibi memandang ke arah suara tersebut.


"Abang. Kau sudah pulang?" tanya Kiara.


"Bibi yang kemudian merasa tidak enak, segera berlalu dari dapur itu, dan berniat pergi ke kamarnya.


"Nona, Maaf, aku mau sholat Ashar dulu ya, semuanya sudah selesai kan? tinggal sayur itu yang belum kau masak," ucap Bibi.


"Iya Bi. Terima kasih ya," sahut Kiara.


Kemudian Agam pun mendekati Kiara dan


Hap


Meraih tangan Kiara dan membelainya lembut.


"Kau sedang membicarakan apa dengan Bibi?" tanya Agam penasaran.


"Tidak apa-apa kok Bang, aku hanya tanya-tanya bahan makanan saja," ucap Kiara.


"Ah..., masa? Jangan bohong! aku sudah lama loh berdiri di depan pintu tadi, tapi kayaknya kamu tidak menyadari aku ada," ucap Agam lagi sambil sedikit tersenyum.


"Hah? Abang sudah lama di sana? Berarti Abang dengar dong semua pembicaraan kita tadi?" ucap Kiara mulai panik.


"Ha ha ha..., Ya jelas aku dengar semuanya."


Kemudian Agam melepas tangannya dan duduk di kursi yang ada di sana, sambil menatap wajah Kiara yang kini bagai kepiting rebus.


"Abang ih curang!" ketus Kiara sangat merasa malu.


"Ha ha ha, cepat aku merasa lapar, aku ingin sekali makan masakan mu lagi sore ini," ucap Agam sambil tertawa sangat nyaring. Dia merasa menang telah membuat Kiara bersemu merah.


"Tapi sayurnya belum masak Bang, ini baru aku potong-potong," ucap Kiara.


"Ya sudahlah, biar aku tunggu saja," ucap Agam lagi.


Agam pun menatap dengan jeli, setiap gerak-gerik Kiara memotong sayur, mencuci, hingga mengosengnya sampai masakan itu selesai.


Agam begitu menikmati pemandangan di dapur sore ini.


"Kiara, kenapa kau terlambat datang di kehidupanku? kenapa aku jadi begini?" tanya Agam dalam hatinya. Dia merasa bingung dengan dirinya saat ini.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2