
Ibu Adi masih menggenggam tangan Kiara, dia terus menangis dan memohon agar Kiara bisa membantunya. Kiara sebenarnya merasa tidak tega, namun hatinya juga takut kalau dia bertemu dengan Adi, mungkin saja perasaan cinta itu kembali tumbuh. Kiara yang sekarang juga sudah hijrah, walau hanya menggunakan kerudung instan pendek, dia berusaha untuk menjaga hatinya hanya untuk suaminya saja.
"Kiara... aku mohon bantu aku kali ini saja! Memang aku tidak pantas untuk mendapatkan bantuanmu, karena aku sudah berkata kotor kepadamu saat itu. Namun sebagai manusia yang punya hati, dan kau juga pernah menjadi bagian dari hidupnya Adi, aku memohon padamu, agar kau bisa menemuinya, dan membujuknya, agar dia bisa kembali seperti dulu," lirij Ibu Adi.
"Aku belum tahu sekarang, aku harus meminta izin dulu kepada suamiku, tidak mungkin aku langsung mengiyakan karena sekarang aku sudah punya suami, Nyonya."
"Bujuklah suamimu demi kemanusiaan, bujuklah dia agar dia bisa mengizinkanmu untuk bertemu dengan Adi!" tekan ibu Adi.
Tok tok
Tiba-tiba kaca mobil diketuk dari luar.
"Kiara, bubur kita sudah habis. Apakah kalian sudah selesai bicara?"
Ternyata mertua Kiara yang merasa khawatir karena Kiara sudah terlalu lama di dalam mobil, sang mertua takut kalau-kalau Kiara dihipnotis atau dibius.
"Oh iya Mah, sebentar...."
"Baiklah, tinggalkan saja nomor HP Nyonya, nanti aku akan menghubungi Nyonya," pinta Kiara.
"Baik, aku sangat memohon kepadamu. Tolonglah! kau hubungi saja aku, kami akan menjemputmu dan membawa kamu menemui Adi. Karena sekarang Adi sudah aku antar ke tempat neneknya di kampung, kalau di kota aku takut kalau Adi menghilang karena nyasar. Kalau di kampung karena cuma perkampungan, jadi tidak terlalu berbahaya," ucap Ibu Adi.
"Iya Nyonya, Saya permisi."
iara pun membuka pintu dan turun dari mobil tersebut.
"Kalian bicara apa sih? Kok lama banget, nggak keluar-keluar?" tanya sang mama sambil berjalan mendekati gerobak buburnya.
"Nanti aku ceritakan di rumah ya Mah, sekarang baiknya kita beres-beres untuk pulang. Terima kasih banyak mah, karena mama sudah menjual buburnya sampai habis, nanti biar Kiara pijitin, Mama pasti capek," tawar Kiara.
"Tidak usah Nak, Mamah juga harus belajar hidup sederhana seperti kalian, Oh iya, sore ini kan ada pengajian di Masjid sebelah. Apakah bisa mengantarku? aku kan tidak bisa menggunakan motor?" ucap sang Mama.
"Tentu Mah, sekalian aku juga akan ke sana, biar kita ke majlis bersama-sama," timpal Kiaara.
Kiara pun mendorong gerobak menuju rumahnya yang lumayan agak di dalam dari jalan raya.
***
Sementara di sebuah perusahaan, ini adalah kantor yang sudah ke berapa kalinya Agam mampiri untuk melamar pekerjaan. Namun tak satupun perusahaan yang menerimanya. Bahkan dia juga sudah melamar di perusahaan rekan-rekan bisnisnya dulu, namun mereka menolak dengan halus dengan alasan, mereka tidak bisa menerima Agam sebagai karyawan biasa, sementara posisi yang lumayan tinggi sudah ada yang mengisi.
Mereka menawarkan pinjaman uang, namun Agam menolaknya. Agam takut tidak bisa membayarnya.
"Bismillah, mudahan perusahaan ini bisa menerimaku," ucap Agam.
Agam pun masuk ke perusahaan tersebut, perusahaan inj tidak terlalu besar, namun terlihat bersih dan rapi.
"Selamat pagi Pak, ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang satpam yang jaga.
"Aku ingin melamar pekerjaan di sini, apakah ada lowongan?" tanya Agam.
"Oh... kalau begitu silakan bertemu dengan bos saya, karena saya tidak tahu apakah ada lowongan atau tidak," ucap satpam tersebut.
Satpam itu pun membawa Agam saat mendekati pintu ruangan tersebut, dan menemui Bos yang sedang duduk santai membelakangi pintu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bos, ada orang yang mencari pekerjaan," ungkap satpam.
"Waalaikumsalam, Silakan masuk."
Agam pun masuk dan duduk, kemudian orang itu pun berpaling.
"Tuan Agam?"
"Tuan Halim?"
Tentu saja mereka sama-sama terkejut, saat melihat laki-laki itu karena mereka saling mengenal. Halim adalah orang yang menjadi mata-mata saat Clara pergi ke luar kota dengan Burhan,
"Ada apa Tuan Agam? kau mencari pekerjaan? Lalu, bagaiman dengan perusahaan mu?"
"Begini Tuan Halim, sebenarnya aku sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi, perusahaanku dicuri oleh Pamanku sendiri, Tuan Halim."
"Apa?"
"Iya, jadi aku benar-benar tidak punya apa-apa lagi, perusahaan itu sudah di ambil," sedih Agam.
"Lalu bagaimana dengan Calara?"
"Sekarang aku dan Clara sudah bercerai, panjang ceritanya Tuan, tapi sekarang aku harus mulai dari awal, Oh ya apakah kau mempunyai pekerjaan untukku? Aku mau menerima pekerjaan apa saja, Asal kau bisa memberikannya untukku, walaupun hanya sebagai karyawan biasa, asal aku bisa mendapatkan gaji untuk menghidupi istriku."
"Istrimu? bukankah kau bilang kau bercerai dengan Clara?"
"Bukan itu Tuan Halim, sebenarnya...."
"Begitulah ceritanya Tuan."
"Alhamdulillah kalau sekarang istrimu sedang hamil, kalau di perusahaan ini, tidak ada pekerjaan Tuan, tapi kalau di perusahaan cabang yang berada di luar kota sana, di sana memang memerlukan seorang manajer. Kalau kau mau, aku bisa mengantarkan mu ke sana, di sana adalah perusahaan cabangku. Bagaimana? Apa kah kau bersedia?"
"Apakah jauh Tuan Halim?"
"Iya lumayan jauh, Tuan, mungkin sekitar 9 jam perjalanan dari sini."
"9 jam perjalanan? Apakah tidak ada perusahaan yang dekat sini saja? karena aku tidak mungkin meninggalkan istri dan juga ibu mertuaku, yang sedang sakit."
"Maaf Tuan Agam, hanya itu perusahaan cabanhku. Aku hanya memiliki dua perusahaan."
"Oh baiklah, kalau begitu, aku harus membicarakannya dengan istriku dulu, terima kasih banyak Tuan Halim."
"Oh iya, tapi kalau kau ingin membuka usaha, aku bisa kok memberikan kamu pinjaman uang, berapapun yang kamu pinta, aku akan meminjamkannya untukmu."
"Maaf Tuan Halim, aku takut aku tidak bisa mengembalikannya, lebih baik aku mencari pekerjaan saja, " ucap Agam.
"Itu terserah kau saja, tapi kalau kau merubah pikiran, kau bisa datang kemari lagi."
"Baik Tuan. Terima kasih banyak, kalau begitu aku pamit dulu, aku akan membicarakannya dengan istriku, masalah pekerjaan itu," ucapnya.
Agam pun pergi meninggalkan perusahaan Halim, kemudian dia pun kembali mencari perkantoran lainnya untuk mencoba mendapatkan peruntungan.
Tibalah Agam di sebuah perusahaan yang sangat besar, sebenarnya Agam merasa ragu untuk masuk ke perusahaan itu, karena dulu Agam pernah bersengketa dengan Bos tersebut.
__ADS_1
Agam dan Bos itu sama-sama memiliki perusahaan besar, dan Agam pernah menolak kerja sama, karena barang perusahaan ini ilegel, namun karena ingat pada kiara dan juga calon bayinya, diapun menyingkirkan perasaan ragu itu.
"Tuan ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang satpam.
"Aku ingin mencari pekerjaan, apakah ada lowongan di sini?" tanya Agam.
"Hei, Tuan Agam? kamu kah itu" sapa seorang lelaki gendut bertubuh besar, dan perut buncit.
"Iya, ini aku, bagaimana kabarmu Tuan Hendri?"
"Kabarku baik-baik saja, Ada apa gerangan kau kemari Tuan Agam?"
"Sebelumnya saya mohon maaf, tapi saya ke mari untuk mencari lowongan pekerjaan," ucap Agam.
"Pekerjaan? Oh baiklah, Mari kita ke ruangan pribadiku."
Agam pun berjalan mengiringi Bos itu, dan masuk ke ruangan pribadinya.
"Tuan Agam, tapi maaf Tuan, apa yang terjadi dengan perusahaan mu?" tanya Hendri.
"Yaaah...kadang kita memang ada di atas, kadang di bawah, saat ini aku sedang berada di bawah, di masa-masa yang sangat sulit bagiku," ucapnya
Agam menyimpan rapat rapat rasa malunya demi mendapatkan perkejaan.dia akan membahagiakan kiara dan anaknya, ibu dan juga mertuanya."
"Aku memang ada satu lowongan pekerjaan, tapi... mungkin ini tidak cocok untukmu, namun kalau masalah gajinya, aku akan membayarnya lebih. Karena kau sedang membiayai istri dan ibumu."
"Pekerjaan apakah itu Tuan?"
"Aku hanya membutuhkan seorang cleaning servis, kalau kau bersedia mengambil pekerjaan itu, kau bisa bekerja di sini, masalah gajinya kau bisa atur sendiri berapapun yang kau minta, aku pasti akan memberikannya untukmu, karena aku hanya ingin membantu," ucapnya terlihat biasa.
"Tuan, aku ingin Tuan yang menentukan gaji itu, berapa yang bisa Tuan berikan."
"Itu terserah kau ,katakan saja berapa yang kau inginkan?" ucap Hendri.
"Tuan, rasanya tidak etis kalau aku yang menyebutkan keinginanku karena ini adalah perusahaan Tuan," ucap Agam.
"Baiklah. Bagaimana kalau 5 juta? aku akan membayarmu sebagai cleaning service 5 juta, 1 bulan. Namun pekerjaannya cukup berat, kau bekerja dari jam 06.00 pagi, kau sudah membersihkan ruangan-ruangan yang ada di perusahaan ini, setelah itu kau bisa istirahat siang, dan saat kami pulang jam 04.00 sore kau kembali kemari, membersihkan ruangan-ruangan kami, mengepel, menyapu dan lain-lain. Bagaimana?"
"Baiklah Tuan, saya akan bekerja mulai besok, terima kasih."
"Ingat! kau harus sudah di sini jam 05.30, karena kami akan bekerja jam 8 pagi, kamu mengerti ?"
"Tuan Henry, aku mengerti. Kalau begitu aku permisi."
Agam pun pergi meninggalkan perusahaan tersebut, sementara Henry tampak tersenyum puas.
"Agam... kau lihat sekarang! kau menjadi bawahan ku. dulu kau menolak bekerja sama denganku. Hanya karena barang yang aku jual kepadamu adalah barang ilegal. Sekarang ha ha ha."
Tawa Hendri. ternyata Henry berani membayar gaji Agam mahal hanya sebagai cleaning service hanya untuk menghinanya saja. Lalu apakah Kiara akan membiarkan suaminya itu bekerja sebagai Cleaning service, karena dulu Agam adalah seorang bos besar di perusahaan besar.
Agam pulang dengan wajah berseri-seri.
Bersambung
__ADS_1