Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Dalam Kebingungan


__ADS_3

Kiara kaget saat melihat Adi berdiri tegak di depan pintunya, bersama sang ibu. Sang Ibu hanya mengedipkan matanya berulang kali, seakan ingin mengatakan 'Tolong jangan katakan sesuatu yang membuat Adi sakit'


"Kiara, sekarang Aku berkunjung ke rumahmu untuk memenuhi janjiku," ucap Adi sambil mengembangkan senyumnya sangat manis. Membuat hati Kiara sedikit berdesir menatap pemilik senyum yang pernah menjadi miliknya itu.


"Oh, Mas Adi, Silakan masuk!" ajak Tiara.


Adi pun masuk ke dalam bersama sang ibu, dan duduk di sofa sederhana.


"Ibu, ini ada Mas Adi dan mamahnya," panggil Kiara pada sang ibu.


Kiara pun ke dapur untuk mengambilkan air, sementara Ibu Kiara cepat cepat menyambar kerudungnya dan keluar menemui Adi dan Mamahnya.


"Adi, kau sudah sehat?" tanya ibu Kiara.


"Alhamdulillah Bu, aku sudah sehat, Oh ya bagaimana dengan ibu?" tanya balik Adi.


"Alhamdulillah, aku juga baik-baik saja kok."


"Oh iya, begini Bu, aku kemari datang untuk mengabarkan kepada ibu dan juga Kiara, kalau minggu depan aku akan melamarnya, sekalian membawa seserahan untuk Kiara, aku akan segera menikahi Kiara, karena orang tuaku sudah merestui kami," terang Adi dengan wajah ceria.


"Adi ..., tapi...."


"Ibu, maaf sebelumnya, mungkin kami terlalu dadakan ke mari, tapi semua ini bisa kita bicarakan baik-baik dulu, Bu," potong Mamah Adi.


Sepertinya Mamah Adi tidak ingin Adi mengetahui lebih cepat, kalau sebenarnya Kiara sudah menikah.


"Ibu ..., ibu kan tahu keadaannya sekarang bagaimana?" ucap ibu Kiara.


"Iya Bu ,saya mengerti, tapi tolong kita berikan waktu dulu kepada Adi dan Kiara," ucap Mamah Adi


Kiara pun keluar membawa air, dan menyuguhkannya di atas meja tamu.


"Kiara. Aku ingin bicara denganmu, ini sangat serius," gekan Adi.


Adi benar-benar lupa sekarang, dia hanya mengingat kalau dia dan Kiara sedang berpacaran dan akan menikah.


"Mas Adi...."


"Kiara, dengarkan dulu perkataan Adi, mungkin kita masih banyak waktu untuk menyusun rencana baru," sahut ibu Adi lagi.


Ibu Adi benar-benar tidak ingin Kiara mengatakannya sekarang, karena Adi baru saja sembuh. Mungkin dia ingin dalam satu minggu ini akan menyusun rencana. Bagaimana caranya agar Adi bisa mengerti keadaan yang sebenarnya.


"Kiara, memangnya apa kau tidak bersedia untuk menikah denganku?" tatapan Adi tajam ke arah Kiara.


"Oh iya Silahkan diminum dulu, mungkin nanti bisa kita bicarakan lagi," ucap Kiara, sengaja menyela pembicaraan tersebut. Kiara coba mengalihkan perhatian, agar Adi tidak membicarakan masalah pernikahan terus.


Sekarang Kiara benar-benar bingung apa yang harus dikatakannya? Bagaimana menghentikan Adi untuk melamarnya. Akhirnya mereka pun minum teh hangat, sesaat sepi, namun...


"Aku ingin minggu depan ke mari lagi untuk melamar mu, sekarang aku hanya memberitahumu, Oh iya setelah aku melamar mu, segera mungkin kita harus menyusun rencana untuk pesta pernikahan kita. Kita juga harus segera mencari gedung yang cocok untuk pernikahan kita...."


"Mas ..., maaf, tapi mungkin saat ini kita belum bisa melaksanakan itu?" suara Kiara pelan dan agak tertahan.

__ADS_1


"Kenapa Kiara? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Tanya Adi terlihat bingung.


"Mas, bukan begitu, tapi kami sedang dalam kesulitan saat ini," sahut Kiara.


"Maksudnya? kesulitan apa, Kiara?" Berondong Adi lagi penasaran.


"Mas, Apakah kau bisa mengingat bahwa tahun ini tahun berapa?" tanya Kiara, terus mencoba mengalihkan perhatian Adi.


"Kenapa kau menanyakan tahun? aku tidak peduli dengan tahun, Kiara, yang penting aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku, meskipun ini sudah hampir kiamat aku tidak peduli dengan tahun, kau ini Aneh," ketus adi, dia pun kembali menyeruput air hangat pemberian Kiara itu.


"Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Mas, mungkin pelan-pelan saja ya! Untuk sekarang mungkin sudah cukup," ucap Kiara.


"Adi, sebaiknya kita pulang aja," ajak sang mamah, karena sang mamah tidak ingin menghancurkan harapan Adi saat ini.


"Mah, aku ingin menyelesaikan masalah ini dulu, kenapa terburu-buru pulang? kita juga baru datang! Kiara, kau bersedia kan menikah denganku?" berondong Adi lagi.


Tiba-tiba....


"Assalamualaikum," suara Agam yang baru datang di depan pintu.


Jam,sudsh menunjukkan jam 05.30 sore.


"Waalaikumsalam"


Kiara pun bangun dan menyambut kedatangan sang suami, bersalaman dan membawakan tas ransel yang dibawa oleh sang suami. Adi hanya menatap heran.


"Siapa dia? apakah Kiara mempunyai kakak?" tanya Adi pada sang mamah, sedikit pelan.


Mamah Adi sangat khawatir kalau Adi mengetahuinya sekarang.


"Mah, pembicaraan kita belum selesai, Kenapa kita harus pulang cepat?" protes Adi kepada Mamahnya.


"Oh, ada tamu?" Sapa Agam.


Kemudian Agam pun tersenyum sambil berlalu ke kamar. Kiara pun mengiringi sang suami, saat melihat wajah Adi, Agam sudah merasa tidak enak.


"Bang, aku bingung, Mas Adi ke mari untuk membicarakan masalah lamaran kepadaku, Aku harus bagaimana?" Kiara meminta saran ke pada sang suami.


"Tinggal bilang saja kalau kita sudah menikah!" sahut Agam santai.


"Tapi Mas? Dia baru saja sehat. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia melupakan sesuatu? Aku takut akan memperburuk keadaannya."


Kiara was-was dengan kondisi Adi, takut kalau tiba-tiba laki itu mengamuk.


"Lalu bagaimana? Apakah kau ingin menikah dengannya? apa kau pengen punya dua suami?" sahut Agam sambil bercanda, walau memang sedikit menyindir.


"Kalau seandainya saja boleh? aku mau kok punya dua suami? seperti suami juga boleh punya banyak istri," Kiara membalas candaan sang suami.


"ck ck ck, dasar kau ini, terus bagaimana kamu bagi lubang mu heh," tanya Agam sinis dan melirik,bahian ke wanit....an Kiara.


"Ih apaan sih? Abang Jorok ah," ketus Kiara merasa malu disebut seperti itu.

__ADS_1


"Iya kan? secara kan, emang harus di pikirkan," ketus Agam lagi.


"Sudah ah, sekarang aku harus bagaimana? aku minta solusi dari Abang?" tanya Kiara lagi merasa galau.


"Iya tadi kan aku sudah bilang, tinggal katakan saja pada dia, sekarang kita keluar ya! kita katakan kalau kita sudah menikah."


"Bang, tapi kan dia masih sakit, bagaimana kalau tiba-tiba dia ngamuk?" khawatir Kiara lagi.


"Itu masalah belakangan, sekarang kita katakan saja dulu kepadanya."


"Tunggu!"


Sergah Kiara saat Agam berjalan keluar menuju pintu, Kiara juga mencengkram tangan sang suami.


"Apalagi sih?" ketus Agam.


"api terus terang aku merasa kasihan, Bang, aku jadi serba salah," ucap Kiara sedih.


"Terus? kamu mau menikah dengannya beneran?" tanya Agam lagi.


"Bukan Bang, Bagaimana kalau kita bicarakan pelan-pelan, hari ini kita bicarakan dulu secara baik-baik, mungkin hari ini aku belum mau ngomong, kalau aku sudah menikah, masih ada 1 minggu sebelum dia melamar ku."


"Itu namanya tambah membuat masalah baru!" ketus Agam merasa tidak suka dengan keputusan Kiara, di sisi lain juga Agam merasa cemburu, masa istrinya mau di lamar mantan pacarnya? Mana Adi lebih muda dan tampan hi hi.


"Tidak Bang, Kita beri waktu dulu sedikit, mungkin nanti mamahnya bisa menjelaskan saat di rumah," mohon Kiara.


"Baiklah, tapi hanya kali ini ya! minggu depan dia tidak boleh datang ke sini untuk melamar mu," tegas Agam lagi.


"Terima kasih ya, muach ...."


Kiara pun mengecup sang suami dan beranjak keluar untuk menemui Adi dan Mamahnya.


"Kiara, jadi bagaimana? apakah minggu depan aku bisa melamar mu?" desak Agam.


"Aku belum bisa menjawabnya, Mas, sebaiknya Mas bicarakan dulu sama Mamah di rumah, karena aku juga harus berbicara sama ibu dan keluarga yang lain."


"Emangnya kau punya keluarga yang lain? Oh ini aneh Kiara, bukankah kau bilang kau itu hanya memiliki Ibu?" berondong Adi heran.


"Tentu saja aku punya Mas. Aku punya beberapa keluarga, tapi aku tidak mempunyai ayah, memang aku hanya punya ibu, tapi punya keluarga yang lain kok."


"Baiklah kalau begitu," lasrah Adi.


"Terima kasih Kiara, kalau begitu kami pamit dulu ya!" ucap sang mamah, sambil menarik tangan Adi, kemudian mamah Adi pun memberikan like ibu jarinya di belakang tubuh Adi, mengisyaratkan bahwa mamah Adi berterima kasih kepada Kiara.


Kiara pun mengantar ke depan pintu.


"Bu, tolong dijelaskan pelan-pelan ya!" ucap Kiara kepada mamah Adi. Kiara memberi isyarat agar mamah Adi bisa menjelaskan keadaannya sekarang.


"Iya Kiara, aku akan memberikan penjelasan nanti di rumah pelan-pelan, Terima kasih banyak untuk hari ini"


"Sama-sama Bu."

__ADS_1



__ADS_2