Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Kiara Bertemu Aisya


__ADS_3

Udin panik saat mendengar ibunya seperti tersiksa, padahal ini hanya akal-akalan ibunya agar Udin mengakui kesalahannya, dan membawa pulang gadis yang diculik oleh anaknya tersebut.


Untunglah sang ibu mau bekerja sama dengan Fathan, berpura-pura tersakiti, sehingga Udin percaya bahwa ibunya memang disandera.


"Tuan, tolong lepaskan ibuku! Baiklah, aku akan membebaskan adikmu. Tapi tolong jangan sakiti Ibuku!" linta Udin lanik.


"Aduuuuuh ..., Udin, tolong Din, panas," pekik sang ibu seperti benar-benar kesakitan.


Ibu Udin terus berpura-pura kesakitan seperti kulitnya dibakar oleh Fathan, Fathan dan juga Kiara sedikit tersenyum mendengar teriakan Ibu tersebut. Mereka sangat bersyukur Ibu Udin mau bekerja sama.


"Ibu ..., baik Tuan, Aku akan segera ke sana, tolong berikan alamat kalian!" ucap Udin.


Telepon pun diputus oleh Fathan tanpa pamit, Fathan sengaja melakukan itu agar penculikan ini seperti sangat sadis.


"Ibu, terima kasih banyak, karena anda mau bekerja sama dengan kami, kalau anakku kembali aku pasti memberi balasan setimpal bagimu," ucap akkara.


"Maafkan anakku," pintanya.


"Aku juga tidak akan membalas perbuatan Udin, namun aku hanya ingin tahu siapa dalang dibalik semua ini," ucap Kiara.


"Iya Nyonya, pasti ada orang lain yang menyuruhnya berbuat demikian, tidak mungkin anakku sejahat ini, aku sungguh benar-benar tidak percaya Nyonya. Tolong maafkan anakku!" ucap Ibu Udin.


"Iya Bu. Tenanglah! karena Udin berani berkata jujur maka kami akan memaafkannya."


Fathan pun mengirimkan Sherlock kepada Udin.


**


*


**


Sementara di sebuah kontrakan kecil, tampak Aisya masih merajuk, wajahnya terlihat pucat karena sudah dua hari ini dia belum juga makan, hanya air yang terus diminumnya untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Hai! kalian! kalian pulang saja ke rumah kalian! aku akan membawa gadis itu pergi dari rumah ini," ucap Udin pada dua wanita penjaga kamar Aisya.


"Memangnya kau mau membawanya ke mana? Bagaimana dengan bayaran kami?" tanya salah satu gadis tersebut.


"Nanti akan aku pikirkan, sekarang pergilah!",titah Udin lagi.


"Tidak! aku tidak percaya padamu, berikan upah kami, baru kami pergi dari sini," ucapnya.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak percaya padaku? Bukankah kalian itu temanku sudah lama? kita berteman walaupun jarang bertemu, sudah cepat pergi sana!"


"Tidak! pasti kau ingin mengambil tebusan mu sendiri kan?" ucap seorang wanita lagi.


"Iya, lebih baik kami terima saja tawaran Gadis itu, yang akan memberikan kami uang satu miliar," ucap wanita yang satunya lagi.


"Apa? dia mau memberikan uang satu miliar? Bagaimana mungkin? ah sudahlah, sekarang kalian pergi saja! nanti aku pasti bayar kok," ucapnya lagi.


"Baiklah, tapi awas kalau kau bohong! aku akan menyebarkan fotomu yang mencuri gadis itu!" ketusnya.


Akhirnya mereka mau pergi dari kontrakan tersebut, sementara Udin dengan cepat dia memesan grab dan membuka pintu kamar Aisya.


"Nona, Ayo kita pulang! Aku akan mengantarmu!" ajak Udin.


"Pulang? ke mana? ke mana lagi kau akan membawaku?" suara lemes Aisya terdengar sangat menyedihkan.


"Kita akan pulang ke rumahmu," sahut Udin.


"Kau pasti bohong,",sahuy Aisya lemas.


"Tidak Nona, aku sudah berjanji pada kakakmu, akan mengembalikan mu kepada keluargamu."


"Kakak ku? Apakah dia tahu kau mencuri ku?"


"Iya Nona, sekarang Ibuku sedang berada di rumahmu, jadi kita akan tukeran antara kau dan ibuku."


"Benarkah? Kakak, akhirnya kau bisa menemukanku?" ucapnya lemas.


Aisya pun berusaha untuk bangun dan berjalan keluar rumah, akhirnya mereka masuk ke sebuah mobil taksi yang sudah dipesan oleh Udin. Sepanjang jalan Aisya terus berdoa agar ini bukanlah mimpi, dan juga laki-laki itu tidak sedang punya niat menipunya, Aisya sampai beberapa kali meneteskan air mata. Aisya terus lapazkan do'a lewat mulut mungilnya tanpa henti. Agar ini bukan tipuan penculik.


Tak berapa lama, Aisya pun tersenyum ketika melihat gerbang yang ada di depannya, ya gerbang rumahnya yang sangat dia rindukan beberapa hari ini. Mobil itu pun masuk ke dalam saat satpam melihat ada Aisya di dalamnya.


Mobil taksi itu masuk sampai ke teras rumah. Ternyata semua orang sudah menunggu di depan pintu, terutama Kiara, dia bahkan sudah berada di bawah teras rumah.


"Aisya, Apakah itu kau?"


Kiara berlari dan menengok ke dalam, saat dia tahu yang di dalam adalah Aisya dia pun segera membuka pintu dan memeluk anaknya dengan penuh kerinduan, yang mendalam. namun seketika dia lepas kemudian membuka pintu depan dan memukuli Udin sekencang-kencangnya, bahkan Kiara menjambak rambut Udin menariknya keluar dari mobil.


"Kurang ajar kau ! Keparat kau! kurang anak Terkutuk, kau aku sumpahin nanti setelah kau memiliki anak, maka anakmu juga akan diculik oleh orang, ingat itu!"


Kiara sangat marah, dan mengeluarkan sumpah serapah.

__ADS_1


"Bunda, jangan seperti ini Bunda, yang penting Aisya sekarang sudah datang," ucap Fathan.


Barulah Kiara berhenti mencakar Udin, sementara Udin hanya terdiam karena memang dia salah. Aisya pun digendong oleh Fathan masuk ke dalam rumah, dan dibaringkan di sofa, kemudian dia juga diambilkan nasi langsung disuapin oleh Bundanya. Aisya pun makan sedikit demi sedikit, dan juga diberi buah yang segar vitamin susu semuanya disediakan di atas meja ruang tamu.


Sementara Udin tampak diam dan memegang tangan ibunya, yang duduk manis di ruang tamu tersebut.


"Udin, Apa yang kau lakukan?" tanya Ibunya.


"Ibu, jadi kau tidak apa-apa?" tanya Udin.


"Aku baik-baik saja, tapi tadi aku hanya berpura-pura agar kau mau mengembalikan anak itu," sahutnya.


"Ibu jadi,kau?"


"Kenapa kamu menculik orang? siapa yang menyuruhmu?" ketus Ibu Udin sangat kecewa.


"Aku tidak tau, dia bilang, sia adalah nenek dari perempuan ini,",sahut Udin.


"Apa maksudmu? nenek? Apakah dia ibunya Clara?" tanya Kiara kemudian.


"Mungkin saja, di mana dia sekarang? kalau begitu cepat laporkan dia ke polisi!" ketus Kiara.


Fathan segera menghubungi kantor polisi, dan menceritakan bahwa Aisya sudah ketemu.


Polisi kemudian menyelidik, sementara Fathan memperlihatkan foto ibu Clara tersebut kepada Udin, dan ternyata Udin mengiyakan bahwa memang wanita itulah yang telah menculik Aisya dan memberikan perintah kepada mereka.


**


*


**


Ibu Clara Tambak duduk di atas kursi rodanya, di halaman rumah kecil yang ada di kampungnya. Sesekali dia menarik nafas dan menghempaskan nya.


Riba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya, mereka yang ada di dalam mobil segera turun tergesa-gesa dan berjalan menghampiri Ibu Clara.


"Maaf Nyonya. Anda kami tangkap.- ucap salah seorang polisi.


"Apa?" kaget Mama Clara.


"Silahkan ikut kami, anda tertuduh telah melakukan dalang penculikan," ucap polisi.

__ADS_1


"Tidak, bagaimana aku bisa menculik orang? Aku saja lumpuh," sahutnya.


Nex


__ADS_2