
Agam dan Kiara sekarang sudah pulang ke rumahnya. Namun Kiara masih sering melamun, dia sangat khawatir dengan kondisinya dan juga kondisi orang-orang di rumah ini, bagaimana mungkin dia tidak khawatir? sedangkan dia tahu sekarang Clara mengalami penyakit kelamin, dia terus berpikir keras namun akhirnya.
Cling...
Dia mempunyai ide yang sangat cemerlang, ya ..., dia akan berbicara langsung dengan Aswin, tapi bagaimana caranya? Bukankah Aswin setiap hari pergi ke kantor? namun kembali kiara berpikir dan mendapatkan ide baru...,
Tepat jam enam pagi hari ini.
"Bang, pagi ini aku sangat ingin nasi uduk, belikan ya!" ucapnya manja, dan sambil memeluk erat pundak sang suami.
"Ah Sayang, mau nasi uduk aja malah merayu-rayu begini, bikin aku merinding saja, aku berangkat sekarang, mau berapa bungkus?" tanya Agam.
"Kalau aku cuma satu doang, tapi kalau mama atau papah mau? atau juga abang mau? beli aja yang banyak. Sekalian belikan juga bibi satu."
"Baiklah, nanti aku beli 10."
"Kenapa banyak sekali Bang?"
"Ya nanti mungkin saja kamu siang mau lagi kan?"
"Aku ini sedang hamil Bang, bahkan satupun mungkin nggak habis."
"Gampang, biar nanti aku yang makan, aku pergi dulu ya!"
"Iya."
"Yesssss!" desah Kiara sambil praktek dengan menggenggam tangannya dan menariknya cepat.
Agam pun pergi meninggalkan kamarnya. Sementara Kiara kembali mencari cara, bagaimanakah cara agar dia bisa berbicara dengan Aswin sang mertua, hanya berdua saja.
Kalau dia menelepon dari bawah, takutnya sang Mamah yang membuka ,dan akhirnya diapun punya cara.
__ADS_1
Dia berjalan ke atas dengan sangat pelan, dengan membawa perut yang sangat besar.
Tok tok tok
"Mah," panggil Kiara.
"Kiara! sedang apa kau ke atas?" pekik kecil sang mertua kaget dan langsung membukakan pintu.
"Mau,ngajak makan Mah," sahutnya.
"Sayang ..., kenapa kau ke atas? Kan bisa telepon?"
"Nggak papa Mah, aku pengen saja naik."
"Ya ampun Sayang ..., mana Agam? Kenapa membiarkan mu,naik?"
"Aku membeli nasi uduk hari ini, hari ini rasanya aku pengin makan bersama kalian, ayo Mah, Bang Agam lagi membelinya," ucap Kiara.
"Ya Ampun..., kalau Agam tau kau ke atas, pasti kena marah, baiklah, duluan saja ya, mamah mau ke dalam sebentar."
"Baik Sayang, sini, niar sama Mamah.-
Akhirnya sang mama pun memapah Kiara menuruni tangga, setapak demi setapak. Hingga sesampainya di bawah.
"Mamah tunggu saja di dapur dulu ya? Bang Agam sedang membelikan nasinya," ucap Kiara.
"Oh, kirain sudah datang?"
"Belum Mah, tapi Mamah bisa menyiapkan mejanya dulu, atau mengambil piring, soalnya aku sangat pengen!" ucap Kiara.
Kiara malah memerintah sang mertua untuk mengambil piring jangan sampai kau jadi anak durhakim.
__ADS_1
"Oke Sayang."
Sang Mamah pun ke dapur, sementara Kiara ke kamar dan mengambil telepon, dan menelepon ayah mertua.
"Hello, Pah."
"Ada apa Kiara? menelepon segala? Tadi baru datang dari sini kan?"
"Ini sangat penting, aku ingin dengan papa sekarang, hanya aku juga Papa yang sudah tahu rahasia Papa dan Clara, yang audah menikah.-
"Ap_apa?" Aswin sangat kaget saat sang menantu ternyata sudah mengetahui keborokan nya.
"Papa jujur saja, dan oh iya ..., aku juga sudah tahu kalau Nona Clara sekarang terjangkit penyakit kelamin, lalu? bagaimana dengan aku? Mas Agam, Mamah dan juga Papa? apakah papa sudah tes?"
"Sayang, begini ..., papa dijebak. bagaimana ya papa menjelaskannya," bingung Aswin.
"Kita tidak punya waktu untuk bertemu, aku ingin papah menjelaskannya sesingkat mungkin," ucap Kiara.
"Ya, aku akan menjelaskannya, tapi..."
"Bagaimana kalau papa sakit saja hari ini, biar Mas Agam yang ke kantor, aku harus mendengarkan penjelasannya hari ini juga!" desak Kiara.
"Baiklah, tapi bagaimana dengan Mamah mu?" tanya Aswin.
"Itu,nanti gampang, aku sangat takut kita Semua terkena Pah, karena kita saling terhubung."
"Sayang ..., kau bicara dengan siapa?",tanya Agam yang baru datang."
"Oh ini dengan Papah, ngajak makan!" ucap Kiara.
"Baik Kiara, aku akan turun!-
__ADS_1
Kiara sengaja meloadspeaker agar Agam mendengar percakapan berikutnya.
Selamat Pagiš„°