
Mendengar teriakan dari Adi tersebut yang menghina Kiara dan menuduhnya sebagai pelakor Agam pun meradang. Kemudian dia berbalik hendak menghajar Adi, namun tiba-tiba....
Hap.
Kiara memeluk erat pinggang sang suami, agar Agam tidak berbalik dan mendekati Adi. Kiara berusaha keras memeluk erat suaminya tersebut. Walau sebenarnya, pelukan itu membuat Adi semakin panas dan cemburu.
"Bang, jangan! jangan membuat kegaduhan di sini, Ayo kita pulang! tidak usah diladenin. Mungkin dia lebih sakit daripada kita," ucap Kiara.
Kiara bisa merasakan, betapa rapuh dan sakitnya hati Adi sekarang, karena memang... Kiara tidak pernah mengatakan kalau dia sudah menikah. Bahkan mereka pun belum putus resmi saat itu.
"Sayang, tapi dia telah menghinamu! dia telah menyebutmu sebagai pelakor," ketus Agam.
"Bang. Sudahlah, kita pulang saja! Biarkan saja dia berkata begitu. Aku tidak apa-apa kok," ucapnya.
"Sayang, apakah kau masih mencintainya?" tanya Agam.
Kiara pun malah merekatkan lingkaran tangannya di pinggang Agam, dan menariknya berjalan menjauh dari Mall tersebut.
"Sayang... kita sudah menikah. Sebesar apapun cintaku dulu padanya, itu adalah masa lalu, sekarang kita pulang, cepat! tidak usah meladeninya."
Sementara Adi masih berteriak-teriak dan tidak menerima kalau Kiara sudah memutuskannya begitu saja.
"Laki-laki itu pasti Bos-bos berduit, tajir, sehingga kau meninggalkanku Kiara! kau meninggalkanku! ha ha ha."
Adi tertawa nyaring, dia terlihat putus asa, namun Kiara terus menjauh dan meninggalkan tempat itu hingga hilang di balik orang-orang yang berjalan. Adi pun duduk di lantai dengan memegang kepala dengan kedua tangannya.
"Kiara... kenapa kau sangat tega meninggalkanku? Kenapa kau tidak menunggu ku sebentar lagi, Kiara!" teriaknya.
orang-orang yang ada di sekitar sana pun tampak prihatin, namun juga bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Sementara Kiara dan Agam sudah berada di dalam mobil, begitu juga Nyonya Mentari. Nyonya Mentari tampak diam, dia bingung harus berkomentar apa tentang masalah yang dihadapi anak dan menantunya.
Mereka pun pergi meninggalkan Mall tersebut. Meluncur menuju rumah.
"Seberapa lama kau berpacaran dengannya?" tanya Agam tiba-tiba.
"Kami sudah pacaran selama 3 tahun. Namun kami tidak direstui oleh orang tuanya," ucap Kiara.
"3 tahun? dan orang tuanya tidak merestui... kau masih mempertahankannya? kebersamaan macam apa itu?" ucap Agam meremehkan.
"Sudahlah, Bang. Tidak usah membahas itu lagi, ucap Kiara memohon, sambil memegang tangan Agam erat, dan mengelus-ngelusnya lembut.
Agam Kemudian terdiam, namun perasaan penasarannya membuat berbagai macam pertanyaan kini bertahta di kepalanya.
"Selama 3 tahun... kalian ngapain saja?" tanya Agam kemudian.
"Tidak ada," sahut Kiara.
"Bang, sudahlah, jangan di bahas lagi," ucap Kiara.
"Kiara, apakah kalian belum pernah bersentuhan?" tanya sang mertua ikut nimbrung.
"Bersentuhan yang seperti apa Mah?" tanya Kiara heran.
"Ya... Seperti itulah, biasa kan anak muda sekarang kalau pacaran?" ucap mertuanya lagi.
"Iya, aku juga ingin menanyakan itu padamu, kalian ngapain saja? seperti apa kalian kalau lagi jalan-jalan? atau esek esek?"
Agam antusias sekali menanyai istrinya yang kini moodnya hilang begitu saja.
__ADS_1
"Bang apaan sih? esek-esek apaan? Udah ah," Kiara sangat males membahasnya.
Karena masa-masa Kiara dengan Adi adalah di mana masa paling bahagia, mereka sering melakukan malam mingguan berdua, dan melakukan ciuman ringan.
"Apa kalian pernah mencoba yang lebih dalam? Hubungan yang serius, maksudku? Mau begituan?"
Agam malah curiga kalau Kiara dan Adi pernah melakukan hubungan terlarang. Apa Agam tidak sadar saat itu kan Kiara berdarah.
"Bang, aku memang menjual rahimku untuk istrimu, namun aku bukan wanita seperti itu. Apa Abang lupa saat di kantor itu, darah itu?" tanya Kiara sebel.
"Di kantor?" tanya mertua kaget.
"Ah sudahlah Kiara, nanti kita bicarakan lagi," ucap Agam.
Kiara sangat jengkel Agam menuduhnya yang tidak tidak bersama Adi. Mereka pun sudah sampai
di rumah mewah mereka. Kiara turun sendiri tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Agam. Sementara sang ibu menunggu Agam membukakan pintu. Namun ternyata Agam lupa karena emosi yang bertahta di dadanya, Agam nyelonong masuk ke rumahnya. Akhirnya Kiaralah yang membukakan pintu tersebut.
"Terima kasih Sayang, tolong kau redam amarah Agam, dia hanya cemburu," ucap Ny.Mentari.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah tampak Agam sudah berada di atas tangga menuju kamar lotengnya, dengan kata lain dia pergi begitu saja meninggalkan Kiara dan mungkin dia akan mendatangi Clara istri tuanya. Kiara menatap Agam hingga hilang di balik loteng, sementara sang mertua juga masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Kiara juga Kiara Mereka pun akhirnya beristirahat karena sudah malam hari.
"Mas," sapa Clara saat Agam memasuki kamar.
"Aku mau istirahat," sahut Agam.
Agam pun berbaring di ranjang king sizenya. Namun ini kesempatan Clara untuk bermanja-manja. Perlahan Clara pun melepas kancing baju Agam yang tampak melamun, meraba dan mengelus roti sobek. Agam tiba-tiba menatap wajah Clara buas.
__ADS_1
Bersambung