Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Belajar Ikhlas


__ADS_3

Tampak Adi berada di kantornya bersama sang ayah. Kini dia tampak normal kembali, perasaan Sakit kemarin yang sempat dia rasakan begitu hebat kini tampak tidak terlihat lagi.Aapakah Adi sekarang sudah ikhlas melepaskan Kiara?


Sang ayah dengan sabar memberi penjelasan tentang seluk beluk kantornya, sepertinya Adi sekarang ingin bekerja di kantor sang ayah.


"Adi, sekarang mari kita jalan-jalan, biar kau mengenal kantor ini lebih dekat lagi, selama ini kan kau selalu menolak kalau disuruh bekerja di kantor ayah sendiri," ucap Ayahnya.


"Baik Yah," sahutnya.


Adi pun mengiringi sang ayah berjalan mengelilingi kantornya. Dengan hormat beberapa karyawan pun menyapa dan menundukkan kepala mereka kepada anak dan ayah tersebut.


Adi di bawa ke sebuah ruangan yang besar dan tampak karyawan sedang duduk di depan komputernya masing-masing.


"Hello semuanya, aku minta waktu kalian sebentar, ini adalah Hardi Anggoro, calon bos baru kalian setelah Aku pensiun nanti, jadi kalian bisa saling lebih mengenalnya lagi, karena mungkin aku akan pensiun dalam waktu dekat, kalau anakku ini sudah bisa menjalankan perusahaan ini," ucap Ayah Adi.


" Iya Pak," sahut para karyawan.


"Kalian tidak usah sungkan denganku, Anggap saja aku adalah teman kalian. Jadi kalian jangan terlalu merendah padaku, Aku tidak suka itu, Aku tidak suka terlalu dihormati," ucap Adi.


"Siap pak."


Mereka semua kompak menjawab, kemudian Adi dan sang ayah pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, menuju beberapa ruangan lainnya. Setelah selesai berkeliling, Adi pun meminta agar bisa pamit untuk meninggalkan tempat tersebut.


Adi pun menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan gedung perkantoran ayahnya, menuju suatu tempat.


***


Aswin dan Anto tampak sudah berada di kantor tempat Anto bekerja. Aswin tampak sumringah dan gembira dengan tergesak-gesak dia menuruni mobilnya, sementara Anto yang menaiki motor nya pun sedang memarkirkan motornya dan berjalan menuju gedung diiringi oleh Aswin, mereka menuju lift untuk naik ke atas, namun tiba-tiba mereka bertemu dengan bus Hendri di depan lift, Bos perusahaan tersebut.


"Bos!" sapa Anto.


"Kau sudah datang? Apa kau sudah bertemu Agam? Aku ingin dia ke ruangan ku secepatnya," ucap Hendri.


"Oh iya pak, aku baru datang, dan belum bertemu dengan Agam. Nanti kalau aku bertemu akan aku sampaikan padanya," ucap Anto.


Sementara Aswin dia hanya Diam, dia tidak ingin ikut campur urusan Hendri dan juga anak buahnya. Henry pun menatap Aswin sedikit sinis karena melihat wajah tua yang keriput itu datang bersama Anto, Hendri mengira Aswin hanyalah teman Anto berlevel sama seperti Anto, orang bawahan biasa.


Setelah Herdri pergi, Aswin dan Anto pun menunggu lift berikutnya, karena Anto tidak ingin satu lift dengan Bos Hendri. Setelah lift terbuka, mereka masuk dan menuju lantai atas.

__ADS_1


Perasaan Aswin semakin tidak menentu, banyak hal yang ingin dia sampaikan, namun bingung memulainya dari mana.


"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai ke lantai tempat kami menyimpan barang-barang bekerja kami, di sana biasanya kami mengganti baju kami," ucap Anto.


"Benarkah? aku merasa deg-degan, sudah lebih 10 tahun aku tidak bertemu dengan anakku itu, aku lupa, mungkin aku sudah 20 tahun tidak bertemu dengannya," ucapnya.


"Ooh ..., begitu ya Pa! sangat lama Pak. Apakah masih ingat dengan wajahnya? Bagaimana kalau Agam yang kau maksud ini bukanlah Agam bapak?" ucapkan untuk maka dari itu aku harus menemuinya tanya Anto.


"Biar aku liat dulu untuk memastikan.Diia pasti ingat dengan wajahku, walaupun aku lupa dengan wajahnya," ucap Aswin.


"Nah ini ruangan kami, sebentar, aku akan melihat.


Tok tok


Anto mengetuk pintu sebelum masuk. Karena pintu tampak tertutup rapat.


"Jadi, apakah dia ada di dalam?" tanya Aswin tidak,sabaran.


Anton pin masuk ke dalam karena tidak ada sahutan.


Namun ternyata Agam tidak ada di dalam, Anto merasa kecewa kemudian keluar.


"Pak, Agam belum datang. Sepertinya dia masih di perjalanan," ucap Anto.


Namun ketika Aswin menatap ke ujung lorong, tampak seorang laki-laki sedang menyapu ruangan yang ada di ujung tersebut.


"Tunggu! Memangnya di sini ada berapa orang Cleaning service?" tanya Aswin.


"Kalau lantai yang ini, cuma dua orang, aku dan Agam ucapnya.


"Benarkah? Apakah orang itu yang kau maksud?" tunjuk Aswin pada ruangan di ujung.


Tampak seorang lelaki sedang menyapu lantai ruangan, menggunakan baju yang sama dengan Anto.


"Oh iya benar, itu adalah Agam, silakan Bapak mendekatinya, biar aku di sini saja! aku juga bingung, apakah dia Agam,atau bukan yang bapak maksudnya.


" Baik,"sahut Aswin.

__ADS_1


"Kalau dia bukan Agam mu, kau bisa pura-pura saja tidak tahu kan" saran Anto.


"Baiklah, aku akan ke sana.-


Perlahan Aswin pun berjalan mendekati ruangan yang sedang disapu oleh cleaning service lainnya. Semakin Aswin mendekat ke ruangan itu, semakin hatinya tidak karuan, perasaan kacau dan bingung, apa yang harus dia katakan? tidak bisa dibayangkan mulutnya seakan terkunci, hanya matanya yang memendam penuh kerinduan, dia berdiri di depan pintu tersebut, dan berdiri berjarak lumayan jauh.


Aswin ingin mengingat wajah anaknya yang dia tinggalkan beberapa puluh tahun lalu, Namun ternyata ingatannya sangat buruk hingga akhirnya lelaki yang sedang menyapu itu menatap wajah Aswin dengan tatapan kaget.


Ketika lelaki itu kaget, namin dia dengan cepat mengembalikan situasi , melihat ada orang di hadapannya, dia pun pura-pura menyapu bagian pojok sehingga tidak terlihat oleh Aswin. Namun ternyata Aswin sedikit mengenal orang itu.


"Agam, Aku yakin dia Agam, dari Gelagat dia menatapku tadi, dia seperti kaget saat pertama kali menetap wajahku," batin Aswin.


Kemudian dia pun mendekati pintu itu dan masuk ke dalam.


"Agam, apa itu kau?" tanya Aswin sambil menatap lelaki yang kini menyapu lantai.


Namun sekali lagi Agam tidak menghiraukan perkataan Aswin. Dia terus menyapu seakan pura-pura tidak mendengarnya.


"Agam, Apakah kau sudah tidak mengenali aku ayahmu?" tanya Aswin lagi lebih keras.


Kali ini Agam terhenti, dia terdiam, namun juga tidak menoleh sama sekali kepada Aswin yang sedang mengajaknya bicara.


"Pasti benar kau adalah Agam ku, kan Ya Allah kenapa waktu begitu mempermainkan kehidupan kita? apa yang salah dengan diri kita? ya..., akulah yang salah. Akulah Yang Playboy, sehingga aku menelantarkan kalian disaat perusahaan dulu Jaya. namun aku juga menghilang di saat kalian masih membutuhkanku lagi,"


Kali ini air mata Agam mulai membasahi pipinya. Aswin kembali mendekat dan memegang kedua pundak Agam dari depan, menariknya paksa untuk menatap wajahnya.


"Agam, apa kau begitu membenciku? sehingga kau tidak ingin menatapku?" tanya Aswin lagi.


Agam masih diam, namun..., air matanya mengatakan kalau dia pun merindukan sang ayah.


"Agam, tolong katakan kepadaku? di mana Mamamu sekarang?-


Agam pun mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang selama ini sudah meninggalkannya selama puluhan tahun, sehingga Agam akhirnya tidak mampu lagi untuk bertahan.


Hao.


Dia peluk tubuh tua renta itu tanpa kata, hanya tetesan air mata yang membuktikan bahwa Agam pun, sangat merindukan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2