
Agam dan Kiara kini sudah berada di dalam mobil, mereka bersiap untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan Agam tampak menggenggam mesra tangan Kiara.
"Bagaimana Sayang? apakah sekarang kita harus mencari rumah untukmu dan ibumu?" tanya Agam.
"Tidak usah sekarang Bang, nanti saja. Sekarang biar kita pulang ke rumah dulu, aku mau istirahat. Aku merasa capek," ucap Kiara.
"Keterlaluan pemilik warung makan itu, aku akan membalasnya, lihat saja nanti! dia telah membuatmu berkeringat seperti ini. Lihatlah bajumu juga basah kuyup, karena keringat," ucap Agam, dia sangat marah.
"Sudahlah Bang, ini juga kan kesalahan kita, untuk apa kita marah," ucap Kiara.
"Tapi dia telah meremehkan mu Kiara, tega sekali dia memperlakukanmu seperti babu," ketus Agam.
"Sudah Bang. Tidak apa-apa kok, aku juga terbiasa seperti ini, sebelumnya kan aku juga sebagai pramuniaga di sebuah warung makan? jadi tidak masalah bagiku," ucap Kiara lagi, menenangkan suaminya yang lagi tersulut emosi.
"Kau ini terlalu sabar ya Ra! kalau aku disuruh memasak dan mencuci piring seperti itu, pasti sudah aku hancurkan restoran itu, mudahan benih yang ku tanam padamu segera tumbuh Kiara, aku sudah tidak sabar, tidak salah ternyata kau terpilih menjadi ibu bagi anak-anakku nanti," ucap Agam.
"Abang apaan sih? ngomong gitu terus," ucap Kiara.
Kiara pun tersipu, karena Agam terus saja mengungkit masalah siang tadi.
"Kenapa mesti malu? tapi enak'kan...?" tanya Agam. Membuat Kiara tambah gemes.
"Abang ih, sudah ah, kalau abang mungungkit itu lagi, aku tidak mau lagi berbicara dengan Abang," ucap Kiara.
Kiara benar-benar marah sama Agam, kalau dia mengungkit masalah siang pertamanya di kantor Agam tadi, dia akan mogok bicara.
"Baiklah, sekarang kita cari butik dulu, untuk kau beli baju baru," ajak Agam.
Mereka pun mencari butik dan mampir di pinggir jalan untuk membeli baju ganti buat Kiara. Karena baju Kiara yang basah bekas jadi babu tadi.
Setwlah Kiara membeli baju dan berganti pakaian. Dia tampak semakin cantik dengan blus dan celana katun seeprdelapan.
"Kau sangat cantik Sayang," puji Agam.
"Abang bisa aja, terus bagaimana dengan baju Nyonya ini?" tanha Kiara.
Karena tadi dia memakai baju Clara saat di kantor.
"Buang saja, tidak apa-apa. Nanti bilang aja hilang, dia itu enggak akan mencari kok," ucapnya.
"Tapi sayang, bajunya pasti mahal harganya. Lihatlah baju ini! bermerek," ucap Kiara.
"Ah tidak masalah itu mah, buang saja ke tempat sampah, nanti juga pasti ada yang ambil kok," ucal Agam lqgi.
Kiara pun sengaja melipat dengan rapi baju itu, dan membuatnya ke dalam plastik, kemudian meletakkannya di sampah yang ada di depan butik. Kiara bahkan sengaja mengeluarkan sedikit baju itu agar tampak terlihat, bahwa baju itu masih bersih.
Setelah perjalanan 50 menit. Agam dan Kiara pun sudah sampai di rumahnya.
"Kiara, kau istirahat aja ya, aku harus berbicara dengan Clara, ada sesuatu yang harus aku katakan padanya, karena ini adalah masalah pribadi kami," ucap Agam.
"Baik Bang."
__ADS_1
Mereka pun berpisah di ruang tamu. Agam naik ke lotengnya, sementara Kiara masuk ke kamar tamunya.
Perlahan Agam membuka pintu dan melihat Clara sudah berpakaian rapi, tepat jam 03.00 siang ini. Claara bahkan sengaja memakai baju yang seksi untuk menggoda suaminya, Agam.
"Aku ingin bicara denganmu!" ajak Agam.
Dia pun duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut. Clara pun mendekati Agam dan duduk di sisi Agam, dengan sengaja menyilangkan kakinya, hingga paha mulusnya itu terekspos sempurna di depan Agam.
Namun karena memang Agam sudah dapat asupan vitamin dari Kiara siang tadi, dia cuek dengan pemandangam itu.
"Aku ingin kau jujur padaku, sebenarnya pertemanan mu dengan Han itu seperti apa? Kenapa kalian tadi tampak mesra sekali?" ketus Agam.
"Mas, kami hanya berteman sejak kecil, memang saat remaja Dia pernah menyukaiku, namun Aku menolaknya dan sekarang dia sudah menikah, istrinya sedang pulang ke rumah ibunya karena akan melahirkan," ucap Clara.
"Apakah tidak ada hubungan spesial antara kau dengannya?" tanya Agam.
"Mas aku dan dia hanya teman biasa, tidak lebih," sahut Clara.
"Clara..., Di mana kau?"
Tiba-tiba teriakan suara mertuanya di ruang tamu memanggil Clara, ini kesempatan Clara menghindar.
"Mas, sepertinya Ibu sudah datang," ucap Clara.
Memang Clara yang kurang beretika pada Agam, berdiri dan meninggalkan Agam begitu saja, tanpa pamit, dia segera mendatangi Mertuanya yang baru datang dari luar kota.
"Mamah sudah datang?"
Entah mengapa Kiara juga keluar dari kamarnya, karena dia merasa haus ingin ke dapur.
Ceklek
Mata Nyonya mentari pun tertuju ke pintu yang terbuka di ruang tamu.
"Jadi dia istri barunya Agam?" bisik Mamah Agam pada Clara.
"Ya Mah," sabutnya.
"Hei..., kemarilah! aku ingin berbicara denganmu!"
Kiara yang memang belum pernah bertemu dengan Nyonya Mentari pun merasa takut, dia sudah mengira bahwa itu adalah ibunya Agam. Kiara pun duduk di ruang tamu.
"Apa kau istrinya Agam yang baru?" tanya Ny.Mentari.
"Iya Nyonya," sahut Kiara.
"Baguslah kau memanggilku Nyonya, jangan sekali kali kau memanggilku ibu," ketusnya.
Kali ini Kiara baru tahu ibunya Agam, dari tatapan wanita itu saja dia tahu tatapan sinis kepada dirinya, tentulah Kiara itu bukanlah levelnya, sekarang saja dia sudah memperingatkan, agar Kiara tidak memanggilnya ibu, atau mama.
"Sekarang kau boleh pergi!" ucapnya lagi.
__ADS_1
Kiara pun berdiri dan berjalan pelan menuju dapur, Kiara berjalan pelan sekali, karena masih terasa aneh dengan anunya.
"Kenapa dia berjalan pelan sekali? seperti bebek, pasti kalau dia melakukan pekerjaan sangat lamban," gumam mamah Agam.
Padahal dia tidak tahu, kalau anaknya sudah bercocok tanam dengan Kiara siang tadi.
Terlihat bibi sedang memasak di dapur. Kiara pin menghampiri.
"Maaf Bi, aku terlambat," sapa Kiara.
Kiara pun membantu bibi, setelah dia selesai minum. Dengan cekatan Kiara memasukkan sayuran ke wajan pengosengan.
"Apakah Nyonya besar sudah datang?" tanya Bibi.
"Iya Bi, aku baru saja bertemu dengannya," sahut Kiara.
"Bagaimana reaksi dia sama kamu?" tanya bibi penasaran.
"Kelihatannya dia tidak menyukaiku," ucap Kiara merasa sedih.
"Kamu harus bisa mengambil hatinya, cuma dia levelnya sangat tinggi, jadi kau harus bersabar," nasehat bibi.
"Iya."
"Bi..., apa sudah masak? Sebentar lagi Agam pasti mau makan," ucap Ny.Mentari.
Tiba-tiba wanita itu pun ke dapur dan duduk di kursi yang ada di dapur, sambil menatap Kiara yang sedang memasak..
"Sebentar lagi Nyonya," sahut Bibi.
"Bi, Emangnya dia bisa memasak?" tanya Mama Agam. Menanyakan Kiara.
"Iya Nyonya besar. Beberapa hari ini Nona Kiara yang memasak, dan itu atas permintaan Tuan Agam, Tuan Agam makannya sangat lahap, kalau yang masak adalah Non Kiara," ucapnya.
"Seperti apa sih masakannya? jadi penasaran?" ucap Mama Agam, namun seakan menyepelekan masakan Kiara.
"Mau coba? ini sudah ada yang masak Nyonya," sahut Bini.
Bibi pun mengambilkan pasangan opor Kiara yang tadi pagi dimasak, kemudian menyerahkan kepada mertua Kiara tersebut.
Perlahan mertua Kiara pun memasukkan sedikit kuah opor itu ke mulutnya, dan icip-icipnya karena merasa tidak puas kemudian dia mengambil lebih banyak.
"Bi, apakah ini benar masakan dia? Jangan-jangan beli?" tanyanya.
"Bener Nyonya, Tuan Agam sangat suka masakan Nona Kiara, apa mau pakai nasi?" ucap Bibi.
"Coba, makan pakai sedikit nasi," sahutnya.
Karena Bibi merasa tidak percaya Nyonya besar hanya memakan sedikit nasi, dia pun mengambilkan wadah nasi yang besar dan juga sebuah piring, dan benar saja, Nyonya besar itu tampak menikmati makanan masakan Kiara.
Bahkan sampai dua kali menambah nasi, Kiara dan bibi hanya saling tatap, dan mereka bahkan pura-pura tidak melihat, saat Nyonya besar itu mengambil nasi, sementara Nyonya besar juga tampak merasa malu, sehingga mengambil nasi dengan sembunyi-sembunyi, sambil melirik pada bibi dan Kiara.
__ADS_1
Bersambung