
Alangkah kagetnya Kiara, saat melihat wanita yang sekarang ada di depannya. Dadanya pun berdetak keras. Bagaimana mungkin dia melupakan wanita itu, wanita yang pernah mengusirnya di lampu merah saat dia dan Adi sedang berboncengan. Kiara mencoba menahan emosinya, dan mencoba menenangkan diri, walau kini tangannya pun sudah terasa sangat dingin.
"Nyonya, apa yang ingin Nyonya katakan kepadaku?" ucap Kiara.
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu, Apakah kau punya waktu? Hanya sebentar," terang wanita tersebut.
"Maaf Nyonya, saat ini aku sedang berjualan, dan jualanku masih banyak, Nyonya, karena aku dan ibu baru mangkal pagi ini, katakan saja di sini Nyonya, tidak apa-apa kok," timpal Kiara.
Sementara Mama Agam hanya diam, dia tidak mengerti perkataan Ibu tersebut, dan tidak mengenal wanita itu, sehingga dia memilih diam daripada nanti mempermalukan Kiara.
"Kiara, aku akan membeli semua bubur mu ini, asal kamu mau mendengarkanku," ucalnyagi.
"Kiara, kau pulang saja ke rumah, biar ibu yang jaga bubur ini, ibu juga bisa kok jualan." tawar mertua Kiara.
"Bu, nanti Ibu kecapean, kita bisa kan bicara di sini saja," kekeh Kiara lagi kepada wanita tersebut.
"Oke, kalau begitu, kita bicara sebentar di dalam mobilku," ajak wanita itu lagi.
"Iya Kiara. Tidak apa-apa kok, tapi awas ya, jangan kau apa-apa kan menantuku!" ucap Ny. Mentari.
Sang wanita pun terlihat kaget dan menatap wanita yang menyebut Kiara sebagai menantunya.
"Iya bu, saya pastikan dia akan baik-baik saja," sahut sang wanita.
Kiara pun mengiringi wanita itu menuju mobilnya. Mereka masuk ke dalam mobil, dan mereka terlihat mulai serius membicarakan sesuatu.
__ADS_1
"Kiara. Sebenarnya aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, ya aku akui, aku salah padamu, aku benar-benar salah menilai mu, aku tidak tahu akhirnya seperti ini?" lirih wanita itu.
"Ibu, Emangnya apa yang terjadi? kenapa ibu berbicara begitu? Oh iya. Bagaimana kabar Mas Adi sekarang? pasti dia sudah bahagia bersama wanita itu kan?" berondong Kiara dengan pertanyaan.
"Kiara, aku minta maaf," pintanya lagi sambil menggenggam tangan Kiara.
"Ibu, kau tidak usah minta maaf, aku baik-baik saja kok." Kiara membalas membelai tangan wanita itu.
"Oh iya, Kiara, katanya kamu menikah dengan orang kaya, Kenapa kau malah jualan bubur? dan aku mendengar tadi wanita itu menyebutmu menantu. Apa kamu bercerai dengan suami pertama dan menikah lagi?" sosor sang wanita lagi.
"Oh itu, tidak kok! dia suami Pertamaku, namun saat ini dia sedang dalam masalah, dengan perusahaannya. Jadi kami harus memulainya dari nol," sahut Kiara.
"Maksudmu? perusahaan suamimu bangkrut?" desak wanita itu.
"Bukan Bu, sebenarnya ini masalah keluarga kami. Namun, karena Ibu sudah terlanjur bertanya, baiklah aku akan menjawabnya, perusahaan suamiku dicuri oleh pamannya sendiri, ya begitulah, harta banyak kadang langsung hilang, jadi aku tidak ambil pusing, karena kami sudah terbiasa hidup seperti ini, aku pun harus membawa mereka agar mereka bisa sabar menjalani kehidupan ini, dan bangkit dari keterpurukan."
"Bantuan? apa yang bisa aku bantu? aku ini hanya orang kecil bu. Bagaimana mungkin aku bisa membantu ibu?" tutur Kiara merendah.
"Sebenarnya Adi belum menikah, dan mungkin tidak akan pernah menikah. Jingga saat ini, dia terus mencari mu Kiara," bebernya lagi, kali ini ada genangan kolam yang hampir jebol dari matanya.
"Mencari Ku? Bukankah Wanita itu sangat cantik Bu? wanita itu juga sangat mempesona, daripada aku? Aku ini hanya wanita dekil, itu kan Ibu bilang?" sindir Kiara begitu menusuk.
Entah keberanian dari mana, Kiara melontarkan kata-kata yang dulu pernah dilontarkan wanita itu padanya.
"Hai... kau itu wanita dekil, wanita lusuh. Bagaimana mungkin kau bisa bersanding dengan anakku Adi?"
__ADS_1
Itulah kata-kata wanita itu saat di lampu merah, membuat hati Kiara sangat sakit saat itu.
"Kiara, sebenarnya... Adi... dia sekarang depresi. Bahkan dia sendiri lupa makan dan minum, apalagi mandi....-
" A...Apa? apa... Mas Adi depresi? Bagaimana mungkin? kemarin dia baik-baik saja, Bu," gagal Kiara samnil mencarickebenaran,di mata ibu Adi.
Ternyata wanita ini adalah ibu Adi sang mantan.
"Iya Kiara, terakhir sebelum hari naas itu, dia sangat memohon kepada kami, agar bisa menikah denganmu, saat itu kami mengijinkannya, namun setelah seminggu kemudian, dia pulang ke rumah dengan tidak menggunakan sendal, bahkan bajunya pun kotor. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya," ucap sedih ibu Adi. Dia pun,berderai air mata.
Kiara pun mengingat masa itu, di mana Adi melihat dia dan Agam bertemu, bahkan saat di mall itu Adi seperti stres, menyaksikan Kiara sedang bersama lelaki lain, Kiara berpikir, saat sejak itulah Adi mulai tidak normal.
"Benarkah? sekarang Mas Adi di mana Bu?" tanya Kiara.
"Karena itulah Kiara, aku minta bantuan padamu. Bisakah kamu menemuinya dan membujuknya, mungkin dengan Kau ada di sana, kau bisa membujuknya, hanya untuk sekedar mandi dan berpakaian rapi. Aku menyesal tidak merestui kalian sejak awal, aku sangat menyesal Kiira.hik hik hik ....-
Wanita itu menangis dan terus mengusap air matanya yang seakan tak ada hanisnya.
"Maaf, aku tidak bisa! karena aku sekarang punya suami, dan aku sekarang juga sudah hamil, aku harus minta izin kepada suamiku, dan aku pun harus pergi dengan suamiku, kalau memang ada izin darinya," balas Kiara.
"Kiara, aku sangat berharap kalian bisa kembali lagi seperti dulu, Aku sangat menyesal Kiara, sungguh seandainya kau ingin bercerai dengan suamimu, aku akan memberikan uang bulanan padamu, tanpa kau harus bekerja..."
"Bu, Apakah ibu tetap menilai ku seorang wanita yang matre? tidak Bu! aku tidak pernah berpikiran itu, dulu ataupun sekarang, untuk memiliki uang yang banyak, aku harus bekerja keras, asal Ibuku bahagia, cuma itu. Ibu tahu kan kalau aku dengan Asi itu sejak awal pacaran, tidak mengetahui pekerjaan kalian, Mas Adi benar-benar tidak pernah mengatakan kalau kalian itu ada pengusaha sebuah perusahaan kecil, namun aku tetap mencintainya, bahkan aku sering mentraktirnya, karena dia sering bilang tidak punya uang, karena berpura pura miskin. Setelah dia cukup menilai ku, hanya wanita yang sederhana, barulah dia mengatakan dan membawaku ke rumah ibu saat itu, aku merasa tidak pantas saat melihat rumah kalian, Namun ternyata benar, kami tidak selevel."
Kiara terlihat sedih bila mengenang masa itu. Masa dia mana dia di usir dari rumah besar itu.
__ADS_1
Bersambung...