
Clara tanpa merasa malu masuk ke ruangan Alex tersebut, sementara wanita panggilan itu tampak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, sementara Clara duduk di samping Alex. Alex pun dengan cepat merapikan Pakaiannya yang sudah berantakan.
"Kau! sekarang pergi dari sini!" bentak Clara mengusir wanita penghibur tersebut.
Setelah wanita itu berhasil merapikan bajunya, dia pun segera keluar tanpa bicara apa-apa.
"Ada apa kau kemari?" tanya Alex dengan wajah dingin.
"Kau jangan berpura-pura Alex! Bukankah kau telah menjual semua aset perusahaan kami? surat-surat penting, begitu juga rumah kami telah kau jual , lalu apalagi yang bisa aku pertahankan dengan Agam?" ketus Clara.
"Sebenarnya aku tidak ingin berurusan denganmu, urusanku itu hanya dengan Agam. Jadi silakan kau pergi dari sini!" usir Alex tetap dengan raut wajah acuh.
Namun tiba-tiba Clara mendekati Alex dan melingkarkan tangannya di pundak Alex, sehingga gunung kembar milik Clara pun menempel di pundak Alex. Membuat Alex kembali bangun.
"Kau jangan munafik Tuhan Alex, kau kan tahu kalau aku bersama Agam itu hanya ingin mempertahankan perusahaannya, namun sekarang kau tahu kan kalau dia sudah tidak punya apa-apa? sebenarnya sejak dulu Aku mengagumi ketampanan mu ini, hanya saja karena Agam sepupumu lebih dulu melamar ku, hingga aku tidak bisa mendekatimu," goda Clara dengan terus membelai-belai Alex.
"Clara, kau tidak usah merayuku, rayuan mu itu tidak akan mempan padaku, kau sudah terlalu tua, masih banyak wanita-wanita muda di luar sana yabg bisa ku nikmati," celetuk Alex lagi, dia pun coba melerai tangan Kiara dari tubuhnya.
"Alex, Bagaimana mungkin kau tidak menyukaiku? bahkan dulu saat aku baru menikah dengan Agam, aku sering melihat kau mencuri pandang kepadaku, kau jangan berpura-pura tidak menyukaiku. Lihatlah! Aku ini wanita berkelas, tidak seperti wanita-wanita itu!" imbuh Clara lagi.
Ceklek...
Tiba-tiba wanita malam itu kembali ke ruangan tersebut, karena mungkin sedang tertinggal sesuatu.
"Maaf Tuan, Kau boleh membayar ku!" ucap wanita malam tersebut.
"Apakah wanita yang seperti itu, yang ingin kau pertahankan, Tuan Alex? Apa kau tidak takut kena penyakit?" cecer Clara lagi dengan nada mencibir.
"Hai... kau! aku akan mentransfernya, kau kirim saja nomor rekening mu, sekarang kau pergilah!" ketus Alex.
Dasar lelaki hidung bel*ang. Kemudian wanita itu pun pergi dengan wajah yang terlihat sayu, mungkin dia tersinggung atas perkataan Clara tadi, walau bagaimanapun, Dia adalah seorang wanita yang terpaksa melakukan pekerjaan kotor tersebut, karena perekonomian mereka.
"Bagaimana Alex, Apakah kita bisa memulainya dari awal?" Goda Clara, kini bahkan Clara melepas satu kancing bajunya, dengan sengaja Clara berdiri di depan Alex dan melingkarkan tangannya di leher, dengan sedikit berjongkok, sehingga tampaklah dua bukit kembar itu terpampang nyata di depan Alex.
Alex yang tadi belum selesai membuang hajatnya pun menjadi terangsang, Clara semakin berani, dia mendekatkan wajahnya dan mencuri bibir Alex dengan begitu bin**al. Alex kaget namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena kini pohon bambunya pun tegak berdiri. Apalagi tadi Alex belum sempat menyelesaikan hajatnya, saat Clara nyeloning masuk.
__ADS_1
Kini alex tampak pasrah, ketika Clara sudah melepas semua pakaian Alex di dalam kantor tersebut. Ternyata Clara memang benar-benar istri luknut. Bagaimana mungkin dia melakukan semua itu hanya demi untuk menyelamatkan harta Agam, dan sekarang Alex sudah dikuasai hawa nafsunya. sehingga tak ada lagi jarak antara dirinya dan Clara. Hingga akhirnya terjadilah sesuatu yang sangat sakral di antara mereka berdua.
🥀
Tampak dua insan pendosa itu bermandikan keringat. Clara tampak menikmati pelukan dari Alex paman Agam.
"Apa kau akan menikahi ku?" tanya Clara.
"Hemmmh, tapi bagaimana dengan Agam?" tanya balik Alex.
"Aku sudah memutuskan meminta cerai padanya, dia juga sudah memiliki Kiara."
Clara pun kembali bergalayut manja. Dan kini tangannya terus membelai lembut dada Alex.
"Kau selesaikan saja urusanmu dengannya, barulah nanti kau datang padaku," ucap Alex.
Mereka tampak begitu menikmati dosa yang mereka ciptakan. Mereka lupa dengan balasan yang akan mereka terima.
***
Sementara sang mertua juga selalu berusaha untuk membantu Kiara. Namun karena sudah faktor usia, dia sering kali merasa kecapean dan istirahat, hanya Kiara lah yang selalu menyelesaikan pekerjaan itu.
Agam sudah menghubungi rekan-rekan bisnisnya, untuk mencari lowongan pekerjaan, namun hingga saat ini, tak satu pun rekannya memberi bantuan. Inikah yang namanya, ada uang Abang di sayang, tak ada uang Abang di tendang.
"Kiara Sayang. Hari ini aku akan pergi lagi untuk mencari pekerjaan. Aku harap kamu tidak usah terlalu capek ya! bikin bubur sedikit saja, biar cepat habis," ucap Agam pada Kiara.
"iya, untuk sementara ini kita bisa mengandalkan uang belanja kita dengan berjualan bubur, sementara uang abang disimpan saja buat cadangan kita," sahut Kiara.
"Iya, tabungan buat kamu lahiran nanti," ucapnya.
"Sekarang Abang makan saja dulu, mau makan bubur atau nasi?" tanya Kiara.
"Makan nasi saja, saat ini kita harus sedikit berhemat, kita tidak bisa memakai uang tabunganku itu, karena itu untuk persiapan kamu melahirkan, Sayang. Jadi sekarang aku akan berusaha mencari pekerjaan, doakan,aku ya!" Imbuhnya lagi dengan membelai pundak tangan sang istri yang sedang mengambilkan nasi.
"Iya Bang, lagian uang dari hasil jualan bubur ini lumayan kok," sahutnya.
__ADS_1
Agam pun mendekati Kiara dan mengelus perut Kiara yang masih datar.
"Sayang, maafin Ayah, Ayah tidak bisa,berikan kehidupan yang layak buatmu," ucap Agam.
"Sudahlah Bang, tidak usah dipikirkan, aku baik-baik saja kok. Lagian dulu juga sama ibu kami hanya orang biasa aja, jadi kami sudah terbiasa seperti ini," ucap Kiara merasa tidak enak, saat sang suami berputus asa.
Agam pun kemudian duduk kembali, dan menyantap hidangannya yang sudah disediakan Kiara.
"Sayang, weekend depan kita jalan-jalan yuk! kita refreshing, mungkin kita bisa jalan-jalan ke sebuah taman, sekalian membawa Ibu dan Mamah, Oh iya mobil yang satu itu juga mau aku jual, udah aku tawarkan sama teman-teman, mungkin nanti malam ada yang datang ke mari untuk melihatnya."
Agam sudah selesai makan, dan dia siap untuk kembali mencari pekerjaan.
"Baiklah Bang."
"Tolong masukkan bekal juga untukku,!" titahnya.
"Kan nggak ke kantor, Abang kan lagi mau cari kerjaan, masa bawa bekal juga?" tanya Kiara heran.
"Sayang, masakan kamu itu lebih enak dari masakan di luar sana, makanan kamu itu lebih terjamin kebersihan dan gizinya, daripada makan di luar kan mubazir. Kalau lebih enakan di rumah, buat apa beli?" puji Agam pada sang Istri, membuat wajah Kiara bersemu merah dan senyum-senyum mendapat pujian.
"Terserah Abang lah, sini! biar aku masukkan ke tempatnya dulu," balas Kiara, Dia pun tampak sibuk mengambil bahan makanan untuk bekal sang suami.
Semua lauk pauk sudah Kiara masukan sedikit sedikit, yang penting lengkap.
Tok tok tok
"Siapa Bang?" tanya Kiara.
Agam pun segera berdiri dan berjalan mendekati pintu, dan membukanya.
"Clara?" lirih Agam
Bersambung
__ADS_1