
Yuk kenalan dengan Naira.

"Naira! Ayo sekarang Cepat kamu berkemas! kita akan pergi berbelanja."
"Berbelanja? Memangnya kamu dikasih uang berapa oleh orang tuamu?" ucap Naira.
"Pokoknya banyak deh, sekarang bersiaplah! nanti kita terlambat, setelah kita belanja kita ke rumah ku ya! untuk kenalan sama Bunda dan juga papaku," ajak Fathan.
"Tapi jangan terlalu sore ya! kemarin aku sudah izin sama abah dan juga ibu, di izinin cuma sebentar, karena aku kan anak rumahan," ucap Naira lagi.
"Iya, pasti Kok sebentar aja, tapi kamu punya kerudung nggak? sebaiknya kamu pakai kerudung saja, biar lebih cantik, biar dinilai lebih baik sama calon mertua, hi hi," nyingir Fathan.
"Emang harus ya? baiklah, sebentar."
Naira pun mengambil kerudung segi empatnya, dan memakainya. Memplintirkan ke lehernya, kemudian memakai kaos lengan panjang dan juga celana katun 1/8.
"Sebentar, aku mau pamit sama ibu dan abah."
Nayra pun mendatangi ibunya yang ada di dapur sedang membersihkan ikan.
"Bu, hari ini aku agak sorean pulang ya!"
"Iya, Ingat pesan ibu ya! walaupun kamu akan menikah, kamu jangan berbuat macam-macam sebelum kamu menjadi halal baginya!"
"Iya Bu, Naira janji kok, udah ya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Naira dan Fathan memang sering jalan-jalan, namun hanya di siang hari, namun Naira belum pernah siap kalau harus dibawa ke rumah Fathan, dan Fathan selalu merahasiakan kalau dia adalah bos besar di sebuah perusahaan, karena dia takut kalau Naira ternyata wanita matre, jadi Fathan selalu mengaku kalau dia hanya seorang karyawan biasa, untuk menguji Naira.
"Ayo masuk!" ajak Fathan, sia pun sampai membukakan pintu mobil mewahnya.
"Mobil siapa ini? bagus banget, sok-sokan kamu bawa ke mari, mau bilang sama tetanggaku ya kalau kamu itu orang kaya! tapi cuma bohongan. Aku nggak suka kalau kamu begini, hanya ingin pamer saja, padahal bukan milik kamu," ucap Naira dengan wajah kusut.
Dia pun masuk ke dalam mobil tersebut.
"Nggak apa-apa kan sekali-sekali pamer? Lagian aku sangat takut kehilangan kamu, makanya aku pamerin mobil mewah aku," ucap Fathan.
"Tapi aku lebih suka kamu yang kemarin! yang sederhana, kalau cuma pamer-pamer doang ujung-ujungnya nyewa dan buang-buang uang? itu kan rugi buat kamu lebih baik uangnya dikasih buat aku, biar aku bisa beli baju yang banyak. hi hi hi." tawa Naira membuat Fathan tersenyum.
"Emangnya kamu mau beli baju apa? kata kamu kalau aku berada di keluarga kamu, aku harus sering memakai kerudung, walaupun ibu dan Abah ku selalu menyuruhnya, namun sekarang sih aku belum siap betul," sahutnya.
"Oke, sekarang kita ke pasar beli kerudung dan baju yang banyak."
Fathan pun berbelok dan membawa Naira pergi dari halaman musholla tersebut, sementara Bu Julid.
__ADS_1
+Lihat itu, pacar Naira sok-sokan pakai mobil baru, paling-paling punya bos dia," ucapnya sinis.
"Bu, biarin, uang kan uang dia, yang rugi juga dia kalau nyewa nyewa, tapi terlihat pemuda tadi kok seperti pernah aku lihat ya! wajahnya sangat tampan, dan terlihat cocok jadi orang kaya kok," ucap teman ibu Naira.
"Kemarin saja dia pakai motor biasa, malah baruan motorku," ucap Bu julid lagi.
"Sudahlah Bu, lebih baik kita masak, ayo biar suami kita kasih uang jajan yang kenceng! daripada gosip terus," ucap sahabat Ibu Naira lagi.
Semua pun bubar setelah membayar sayur pada Paman sayur.
Sementara di dalam mobil, Naira tampak menikmati jalanan pagi ini, santai dan tampak sedikit mendung.
"Sayang, kamu pengen punya anak berapa?"tanya Fathan.
"Eh apaan sih? ngapa-ngapain juga belum. Kok tanyain anak?" sahut Naira.
"Kan kita cuma bicara iseng-iseng aja, sayang. Jadi nanti kita sudah siap kalau kita menikah, oh iya minggu depan aku akan melamar mu sama bunda dan juga Papaku ya?"
"Iya iya, aku sudah tahu, berulang kali kamu sebut itu apa nggak bosen-bosen? Jangan sampai pas hari H kamu lupa," ucapnya.
"Hi hi, aku kan sangat tak sabaran, pengen menyunting jantung hatiku yang cantik bak bidadari ini," puji Fathan.
"Aku malah takut, kalau kau nanti yg lupa," gerutu Naira.
"Nggak bakalan laaah, aku sudah menandainya di setiap kalender di rumahku, aku takut saja Nanti kamu malah menerima lamaran laki-laki lain. Awas ya kalau sampai kamu menerima laki-laki lain! aku akan culik dan perK*sa kam, sampai Kamu hamil!" ancam Fathan.
"Habha ha, iya aku harus mengancam kamu, agar kamu itu enggak pindah ke lain hati," ucap Fathan.
"Ah enggak bakalan kok,."
"Oh ya, setelah aku melamar kamu, kapan kira-kira kita akan menikah?"
"Kita kan masih kuliah, masa kita menikah?"
"Tapi aku pasti nggak kuat, kalau nunggu kita lulus kuliah," sahuy Fathan.
"Nggak kuat apaan sih? kalau ngomong yang jelas."
"Masa aku harus ngomong dengan jelas? Apa nggak malu kalau kamu dengar?"
"Emangnya nggak kuat kenapa?"
"Riproduksiku ini kan sudah matang, pasti aku nggak kuat kalau sampai nunggu selesai kuliah."
"Eh Fathan, jorok ih."
Naira langsung berbalik dan menatap jendela mobil. Tak berapa lama Fathan pun sudah sampai di sebuah dealer motor. karena hari ini dia ingin membeli sebuah motor matic buat Naira.
__ADS_1
"Ngapain ke mari? kamu mau kredit motor?" tanya Naira heran.
"Iya Sayang, aku perlu beli motor lagi satu, nanti kan kita akan menikah, sementara kamu akan antar jemput anak-anak kalau aku bekerja, jadi kamu harus punya motor sendiri. Kamu bisa nyetir motor?"
"Mana bisa. Aku kan nggak punya motor."
"Nah, makanya sekarang kita beli, Ayo turun!"
Fathan pun turun lebih dulu, ketika Fathan mau membukakan pintu, ternyata Naira sudah membuka pintu sendiri.
"Apaan sih Fathan? gak usah terlalu romantis. Mobil juga mobil orang, ngapain main dibukain segala, aku,malu nggak terbiasa." ucap Naira.
"Kamu ini kenapa sih banyak protes terus? emangnya kamu enggak mau ya jadi orang kaya?" tanya Fathan.
"Siapa sih yang nggak mau jadi orang kaya? tapi kita kan harus sadar diri, kalau cuma mobil sewaan Sok romantis gini kan aku malu."
"Ya udah sekarang ayo kita turun!"
"Selamat datang Mbak, Tuan, ada yang bisa kami bantu?"
"Ini calon istriku, mau lihat-lihat motor, kira-kira yang mana yang cocok buat tubuh dia yang langsing begini?"
"Ih Fatjan apaan sih? itu motor kan buat kamu bukan buat aku?"
"Iya ..., nanti kan kamu yang makai Sayang."
Karyawan itu menunjukkan motor keluaran terbaru.
"Yang ini saja," ucap Fathan.
"Ha? Ini? Ini kan sangat mahal? 45 juta ljo?" ucap Naira.
"Buat kamu, 100 juta pun akan aku beli," sahut Fathan.
"Gombal," Sahut Naira sambil mencubit pinggang Fathan.
"Awas nanti jantungku copot," bisik Fathan.
Fathan pun mengeluarkan ATM black cardnya. Alangkah terbelalak nya Naira saat melihat Fathan membayar tunai.
"Jadi?" tanya Nair hanya satu kata sambil menunjuk kasir.
"Hemmm." sahut Fathan.
"Sebenanrya siapa dia ini?" batin Naira bingung dan sangat penasaran.
"Naira, kamu akan di manjakan dengan semua kemewahan yang kumiliki," batin Fathan.
__ADS_1