
Rangga tampak kembali memakai pakaian yang rapi karena dia akan mengunjungi Clara yang sudah ditangkap polisi atas tuduhan pembunuhan berencana.
"Sayang ..., aku harus ke kantor polisi, sebaiknya kamu menyusul Mamah dan ibu ke musholla, biar ku antar sekalian, aku lewat sana kok!" ajak Agam pada Kiara, yang tidak ingin membiarkan istrinya sendirian di rumah.
"Emang Abang berapa lama di sana?"
"Mungkin nanti aku akan terlalu malam pulang ke rumah," ucapnya.
"Aku mau ikut Abang saja," sahut Kiara.
"Aku takut kamu masuk angin, kasihan bayi kita nanti, malah berdempetan dengan angin dalam perut." khawatir Agam kepada sang istri.
"Tidak apa-apa kok, lagian kita kan jarang sekali jalan-jalan malam, sekalian balik nanti kita makan-makan dulu di pinggir jalan, rasanya aku ingin menikmati malam ini makan-makan di pinggir jalan, mungkin makan sate atau siomay, yang ada di pinggir jalan, kita kan tidak pernah jalan-jalan malam Bang?" ajak Kiara.
"Tapi benar kamu tidak apa-apa? tidak masuk angin? Nanti malah kembung."
"Enggak lah Bang, aku ini kan tahan banting, aku juga sering bersusah payah bekerja sampai malam di restoran sebelum aku menikah dengan kamu, jadi aku pasti kuat."
"Baiklah kalau begitu, sekarang ayo siap-siap! pakai jaket yang tebal ya!" pinta Agam pada sang istri.
Kiara pun memakai jaket kaos kaki dan kerudung instan dalam sekejap tanpa make up.
"Sekarang, ayo kita berangkat!" ajak Kiara.
"Ha? Kiara, kok sebentar sekali kau memakai pakaianmu?" heran Agam.
"Emangnya harus lama ya Bang?" tanya Kiara heran.
"Iya ..., Kukira semua wanita itu kalau mau pergi harus ditunggu setengah jam, baru selesai berdandan," ucap Agam.
"Enggak lah, Emangnya mau ke kondangan? orang mau ke kantor polisi juga," imbuh Kiara.
Agam pun menggandeng sang istri meninggalkan rumah tersebut, dan Agam pun membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Loh kok pakai mobil sih Bang? nggak asik nih, aku maunya pakai motor saja, kalau pakai mobil kan nggak seru, nggak romantis."
"Nanti kamu malah masuk angin kalau kita pakai motor?"
"Tidaklah Bang, ayo kita pakai motor saja ya!? biar lebih mesra," goda sang istri sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
"Ih naka*l ya sekarang, Baiklah, terserah kau saja, tapi aku tidak tanggung jawab ya kalau nanti kamu sakit, Aku takut diomelin Mama apalagi dia sangat sayang banget tuh sama calon cucunya. Bahkan dia lebih menyayangi calon cucunya ketimbang aku, yang sudah ada di depan matanya," sindir Agam.
"Iya, nanti aku bilangin sama Mama, aku yang mau, tapi aku juga enggak bakalan sakit, aku kuat kok," sahut Kiara.
akhirnya mereka pun menaiki motor matic milik Agam, yang biasa dibawa bekerja ke kantor. Sepanjang jalan Agam dan Kiara tampak berbincang-bincang layaknya suami istri. Kiara pun melingkarkan pelukannya di pinggang sang suami, bahkan Agam sesekali menggenggam tangan Kiara tersebut. Namun ada yang aneh dengan Agam, sehingga membuat Kiara jengkel.
"Bang ..., emangnya jalan ini banyak lobangnya ya?" tanya Kiara.
"Emangnya kenapa?" tanya Agam heran, yang mendengar sang istri bertanya seperti itu, padahal kan Kiara juga lihat kalau ini mah jalan raya yang licin dan rata, bagus dan mulus karena jalanan Kota.
"Kok abang jalannya kayak semut gitu sih? Masa di jalan kota yang ramai begini jalannya kayak gini? mungkin pagi baru kita sampai ke kantor polisi, keburu melahirkan aku Bang!" gerutu Kiara, karena Agam hanya menjalankan laju kendaraannya antara 5 km per jam.
"Aku takut kamu masuk angin Sayang, kasihan nanti bayi kita kembung, belum juga mau keluar udah keluar karena perutnya sesak," sahut Agam.
"Ya enggaklah Sayang, ini kan sudah pakai jaket yang tebal. Lagian aku juga nempel di belakang kamu kok, jangan lebay deh Bang, ayo cepet! kasihan Nyonya Clara kalau dia menunggu lama, pasti dia sangat takut di kantor polisi," ucap Kiara.
"Kamu kenapa terus saja memanggil dia Nyonya? panggil saja Mbak atau ibu tapi jangan Nyonya, kau itu kayak pembantu saja." protes Agam pada Kiara.
"Aku sudah terbiasa memanggil dia Nyonya, tidak apa-apa kan?"
"Tapi aku nggak suka kamu manggil dia Nyonya! silakan kalau cuma Kakak, kamu kan bukan pembantunya, kamu panggil saja dia ibu atau Kakak atau mbak atau nenek, terserah. Tapi jangan panggil dia Nyonya!" ketus Agam.
"Mana mungkin dia marah? kita ini kan sudah tidak punya apa-apa lagi. apa lagi yang mau dimarah-marahin?"
"Iya deh, ayo cepetan lah! terlalu lama ini baru nyampe," ucap Kiara.
Akhirnya kendaraan itu melaju dengan sedikit lebih cepat walaupun tidak terlalu cepat, setelah 40 menit akhirnya mereka pun sampai di kantor polisi.
"Maaf, aku ingin bertemu dengan Clara yang baru dibawa kemari?" tanya Agam pada petugas yang ada di sana.
"Oh silakan. Apakah anda suaminya?"
"Oh bukan, aku hanya keluarganya," balas Agam.
Agam pun dibawa mendatangi Clara ke sebuah ruangan yang ada di sana. Kiara pin mengiringi di belakang Agam. Tampak Clara menunduk.
"Cara!" panggil Agam, saat melihat Clara yang tertunduk dan sesekali terisak karena menangis.
"Mas Agam...."
__ADS_1
Spontan saja Clara bangun berdiri dan memeluk erat mantan suaminya itu, Agam kaget dan merentangkan tangannya di samping, mengisyaratkan kalau Agam tidak mau membalas pelukan Clara. Sementara Kiara hanya bisa menatap pasrah ketika mantan pasangan suami istri itu berpelukan di depan matanya.
"Mas, tolong aku! Aku tidak mau dipenjara Mas! lepaskan aku dari sini Mas!" desaknya.
"Emangnya apa yang kau lakukan, Clara? kenapa sampai di penjara ini?"
"Ini demi kamu Mas, ini demi kita!"
"Apa maksudmu?"
"Maaf Nyonya Clara, sekarang kita mau interogasi lagi. Tuan dia telah berusaha membunuh suaminya sendiri, dan menembak beberapa tembakan ke tubuh suaminya, sekarang izinkan kami menamyainya lagi."
"Astagfirullah, Apa yang kau lakukan Clara? Kenapa kau sangat nekat?"
"Aku sangat benci dengan dia Mas, dia telah merebut Perusahaan kita. Aku ingin membunuhnya Mas, aku merasa puas kalau melihat dia mati."
Clara, tapi kau tahu kan resikonya, sekarang Apa yang Kau dapatkan?"
"Mas..., tolong dukung aku! Aku ingin kembali kepada Mas, setelah semuanya ku ambil kembali."
"Clara ..., aku sudah bilang sebelumnya, kita tidak akan bisa kembali, kalau kita berpisah."
"Mas, Kenapa kau tega Mas, ini semua demi kau!"
"Tapi aku tidak ingin kau menikah dengan lelaki itu! Mengapa tidak mencari jalan lain saja?"
"Maaf Nyonya Clara, silakan Anda duduk di sini, untuk bersaksi.-
"Mas, tolong aku."
Clara tetap memeluk erat sang mantan suami Agam, Agam pun melerainya dengan mendorong pundak Clara dan menyuruhnya duduk di depan kursi polisi.
Kemudian Agam meraih tangan Kiara dan mengajak duduk di belakang untuk mendengarkan interogasi Clara dan polisi.
"Sayang..., kau tidak apa-apa kan?- bisik Agam pada Kiara, karena Agam menyadari saat ini sepertinya Kiara terbakar api cemburu, karena sang suami dipeluk erat oleh mantan istrinya.
Kiara hanya menggeleng, tanpa kata. Padahal benar hatinya saat ini sedang terbakar api cemburu.
Bersambung
__ADS_1