Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Mual-mual


__ADS_3

Clara sudah lupa akan dosa, sehingga dia terlena oleh buaian sesaat. Begitu juga Han, dia lupa kalau Clara sudah menikah. Dengan bercucuran keringat mereka terus saja bermain-main hingga sampai ke puncak gunung tertinggi setelah sama-sama merasakan indahnya mendaki gunung tersebut Mereka pun baru sadar dan duduk termenung di atas sofa tersebut.


"Clara Maafkan aku, aku tidak bermaksud begini? aku tidak bisa mengendalikan diriku, Clara," ucap Han.


"Aku yang salah, aku yang lebih dulu kemari dan menggoda mu. Sudahlah, kita lupakan saja ini."


Kemudian Clara pun berjalan ke kamar mandi yang ada di ruangan tersebut. Setelah dia membersihkan diri, tentu saja tidak keramas, hanya membersihkan bagian-bagian badannya saja. Clara pun keluar dan pergi meninggalkan Han tanpa sepatah kata pun.


"Ya Tuhan... apa yang telah aku lakukan? Mengapa bisa kami melakukan dosa sebesar ini?" batin Han.


Han masih termenung dan bersandar di sofa ruangan tersebut. Sementara di parkiran, Clara juga masih diam di dalam mobilnya. Dia pun mengajak-ngacak rambutnya sambil berteriak kesal sangat pelan.


"Heeeeeeah...."


Betapa bodohnya dirinya, begitu mudah tergoda oleh hawa nafsunya sendiri.


"Mas Agam. Maafkan aku, sungguh maafkan aku Mas Agam, aku tidak bermaksud seperti ini, Tapi ini semua karena kau, kau telah menghancurkan aku Mas Agam, aku sangat sakit, hiks hiks hiks."


Clara terus menangis, hatinya sangat perih saat mengingat lelaki yang selama ini sangat mencintainya, perlahan meninggalkan dirinya, dia menangis tersedu-sedu.


Perasaan bersalah karena dia telah mengkhianatinya suaminya sendiri, namun dia juga marah karena suaminya bersama wanita lain dan wanita lain itu sebenarnya adalah orang yang telah dijodohkan nya sendiri. penyesalan Clara itu tidak ada artinya lagi sekarang.


***


Hari-hari terus berlalu. Kedekatan Kiara dan Agam kini tidak lagi dirahasiakan mereka, bahkan terang-terangan Agam pergi berdua dari rumah untuk sekedar belanja, walaupun Clara tahu, sementara Clara karena merasa bersalah telah lakukan dosa besar dengan Han, dia pun menjadi pendiam, bahkan kadang dia sering melamun sendirian, Agam sering mengajaknya berbicara. namun terlihat Clara tidak terlalu menanggapinya.


Tiga bulan telah berlalu, suasana rumah tersebut aman-aman saja, begitu juga sang mertua yang sangat sibuk memberi perhatian kepada Kiara, memberikan vitamin dan susu untuk kesuburan sang menantu. walau begitu dia melakukan semuanya sembunyi sembunyi tanpa sepengetahuan Clara. Karena dia masih menghargai perasaan Clara. sehingga Clara tidak tahu kalau mertuanya tersebut sudah berpaling darinya.


Pagi hari. Saat Kiara sedang memasak, sesekali Kiara memegangi kepalanya yang terasa pusing. Tiba-tiba...


"Huak...huak... Bibi, tolong ambilkan...huak minyak kayu putih," ucap Kiara yang muntah muntah di wastafel.


"Baik Non, sebentar!" r Bibi pun beralih ke kamarnya dan mengambilkan minyak kayu putih miliknya.


"Sini, biar Bini bantu!"

__ADS_1


Bibi pun mengangkat baju di belakang Kiara, dan mengoles belakang Kiara dengan minyak kayu putih tersebut.


"Aku merasa... sangat pusing, Bi, ini tidak seperti biasanya, aku juga merasa mual... bahkan aku juga muntah lendir... yang sangat pahit," ucapnya.


"Apakah Non bulan ini sudah kedatangan tamu? tanya bibi.


"Kedatangan tamu? tamu apa Bi? aku tidak pernah menerima tamu," ucapnya.


"Itu Non, tamu bulanan."


"Oh... maksud Bibi datang bulan?" tanyanya.


"Iya begitu Non."


"Aku lupa Bi, karena aku tidak pernah menghitung tanggal berapa, Emangnya kenapa Bi?" tanya Kiara.


"Apa jangan-jangan kau hamil Nona muda?"


"Apa? apa? apa aku tidak salah dengar? hamil?Siapa yang hami?"l tiba-tiba sang mertua muncul di depan pintu dapur, dan mendekati Kiara juga memegang pundak Kiara membawanya menghadap di wajah sang mertua.


"Ayo! ayo! ayo kita ke dokter!" tanpa babibu sang Mama pun membawa Kiara berjalan dan langsung cus dengan paman sopir, tanpa memberitahukan Agam.


"Mah, tapi aku tidak tahu, jangan-jangan aku hanya merasa kecapean saja," ucap Kiara.


"Kita harus tahu, kita harus periksakan dirimu dulu, barulah kita tahu, sekarang kita periksa aja dulu!"


"Tapi aku sedang memasak untuk Bang Agam, Mah."


"Alah... itu gampang, biar Bibi nanti yang ngurus, sekarang kita periksakan aja dulu."


Mereka pun pergi menuju tempat praktek. Jam baru menunjukkan jam 08.00 pagi, mana ada tempat praktek yang buka seperti ini. Bahkan mereka tidak membawa telepon karena saking tergesak-gesaknya dan sang mertua sangat antusias untuk itu.


***


Sementara Agam yang baru bangun, tampak duduk di sisi ranjangnya. Agam sekarang memang sudah memiliki jadwal untuk tidur dengan kedua istrinya tersebut. 4 hari dia akan tidur bersama Clara, dan 3 hari dia akan tidur bersama Kiara, di satu rumah yang sama.

__ADS_1


"Mas, hari ini Mas akan keluar kota kan? Aku ikut ya!" ucap Clara.


"Untuk apa ikut? sebaiknya kau istirahat aja di rumah, mungkin besok pagi juga aku sudah pulang kemari kok," ucap Agam.


"Tapi aku ingin jalan-jalan di sana Mas, aku juga ingin merasakan shopping di luar kota ," ucap Clara.


"Tapi malam ini giliran aku tidur dengan Kiara, apa nanti malah dia mengira kita berbuat tidak adil padanya?" ucap Agam.


"Mas 'kan keluar kota? bukan tidur di rumah," ucap Clara lagi.


Sekarang tampaknya Clara sudah bisa menerima Kiara. Bahkan dia juga merasa senang, karena tidak ada perubahan di diri Kiara, dengan kata lain sepertinya Kiara belum juga hamil, itu membuat Clara sangat senang.


"Aku mau mandi dulu, nanti kita bahas lagi."


Agam pun berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah 10 menit dia pun keluar dan berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur, dapur itu tampak sepi, bahkan Kiara dan bibi pun tidak ada.


"Kiara... Bibi... kalian di mana?" panggil Agam.


"Tuan, Mon Kiara sedang pergi bersama Nyonya besar, tapi aku tidak tahu, aku harus mengatakan apa, tadi pagi Non Kiara muntah-muntah, juga pusing, jadi Nyonya besar membawanya untuk periksa, mungkin... Non Kiara sekarang sedang hamil...."


"Benarkah? sekarang mereka pergi ke mana?"


"Aku tidak tahu Tuan."


"Baiklah."


Agam berjalan cepat meninggalkan dapur.


"Tuan! apa tidak makan dulu?" panggil Bibi saat melihat Agam kembali keluar dari dapur tersebut.


"Nanti saja Bi."


Agam pun mengambil telepon dan berulang kali menelpon Kiara dan juga sang ah. Tentu saja tidak ada yang menyahut, karena mereka berdua tidak membawa teleponnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2