
Perlahan Kiara pun menggeliat dan membuka sedikit matanya, kemudian menguncep-ucek matanya karena merasa buram.
"Apakah aku mimpi, bukankah tadi Bang Agam sedang pergi ke kantor polisi? pasti cuma mimpi. Tidak mungkin dia mau kembali dan membelikan aku siomay, abang Agam memang jahaat padahal aku kesepian, bahkan tadi saat membeli siomay dia tidak memperhatikanku, dia hanya melamun, pasti dia selalu memikirkan mantan istri tuanya itu, memang sedih diriku ini memiliki suami, namun mungkin saja hatinya belum menjadi milikku, Ah sudahlah, sebaiknya aku tidur lagi, tidak mungkin dia kembali dan memberikan aku siomay, aku saja yang terlalu berharap lebih," gumam Kiara dengan masih menutup matanya dan mengucek uceknya.
Kiara kembali tidur, berbalik menghadap dinding dan mengeratkan pelukannya ke sebuah guling yang ada di sisinya. Sementara Agam yang mendengar ocehan istrinya itu pun tersenyum.
Jiwa usilnya bangkit. Agam perlahan naik ke atas ranjang dan berbaring di belakang sang istri, kemudian mengerakkan tangannya di pinggang sang istri, namun Kiara malah tidak bergerak, bahkan sepertinya dia tidak penasaran, siapa yang sedang memeluknya.
"Kenapa wanita ini tidak bangun? apakah dia masih merasa bermimpi sedang dipeluk seseorang? atau jangan-jangan dia bermimpi di peluk mantannya yang gil*a itu?"
Malah Agam terusik dengan pikirannya sendiri, dan su'uzhan kepada sang istri.
"Sayang ..., bangun!" bisik Agam di telinga Kiara.
"Mas?" lirih Kiara.
Kiara merentang kan tangannya dan menggeliat, dia pun berbalik, tempat wajahnya berhadapan dengan sang suami, karena tatapan itu terlalu dekat, sehingga Kiara tidak jelas siapa lelaki yang ada di depan matanya.
"Siapa kau?" tanya Kiara tanpa menjauhkan wajahnya dari wajah sang suami.
Mungkin Kiara masih menganggap ini hanyalah mimpi.
"Kenapa kau tidak mengenali ku? cobalah kau liat lagi, apa kau,sudah,rabun?" tanya sang,suami.
Kiara pun menjauh dan menatap wajah Agam, kemudian dia cemberut.
"Kau sudah datang? apakah ini sudah pagi? tapi aku merasa aku baru saja tidur, mengapa sudah pagi saja? Astaga! Aku harus memasak bubur dan jualan pagi ini, mana belum sholat subuh!"
Kiara panik dan langsung bangun dan bergeser akan turun dari ranjang.
"Kiara, ini masih malam," jawab Agam.
Kiara pun menatap wajah Agam seperti ingin meyakinkan, bahwa suaminya tidak berbohong.
"Benarkah? Tapi kenapa kau sudah datang?" tanyanya.
"Sayang .., ini sudah ku belikan somay untukmu, aku tidak jadi kok ke kantor polisi, biar aku nemenin kamu saja. Clara sudah tua, dia pasti bisa mengatasi sendiri masalahnya," ucap Agam.
"Jadi ini belum pagi?"
__ADS_1
Kiara menatap jam dinding yang ada di kamar itu, kemudian dia tersenyum l.
"Iya Sayang, aku hanya pergi untuk mencarikan kamu siomay, cepat! nanti keburu dingin nanti nggak enak."
Kiara pun duduk di sisi Agam dan kemudian bersandar di dekapan sang suami, memeluk erat sang suami.
"Sayang, terima kasih ya! kau tahu kan saat ini aku sedang hamil, dan aku sering sensitif, entahlah? aku sering merasa kesal tanpa alasan," ucapnya.
"Maafkan aku ya! karena aku belum pernah mengalami suasana seperti ini, jadi aku belum mengerti, bahkan aku baru kali ini menghadapi orang yang mengidam, apakah orang mengidam memang seperti ini?"tanya Agam, sambil mengelus rambut sang istri.
"Mungkin? ini juga pengalaman pertamaku, kau bisa tanya mamah!"
Agam mengecup lembut jidat sang istri, penuh kasih sayang.
"Oke Sayang mulai saat ini, aku akan menjaga perasaanmu, aku akan menjaga hatimu agar tidak terluka, dan aku akan menjaga anak kita dengan sepenuh hatiku," pungkas Agam dengan menatap intens mata sang istri.
"Benarkah? apakah Abang tidak meninggalkan hati untuk orang lain?" Kiara malah membuat Agam bingung.
"Apa maksudmu Sayang?"
"Apakah Abang masih menyimpan rasa pada Mantan Istri Abang Clara?"
"Sayang, mengapa kau terus mencurigai ku? nanti aku juga malah berpikiran begitu."
"Aku juga mencurigai mu, kau masih menyimpan rasa kepada Adi mantanmu itu," sahut Agam.
"Apa-apaan sih Bang? mana mungkin aku mencintai pria g*ila kan? semua itu sudah masa lalu."
" Ya siapa tahu saja? nanti dia sembuh dan sehat."
Tring tring tring.
Tiba-tiba telepon Kiara berdering, Agam seger mengambilkan telepon itu.
"Dari ibu Adi ..., baru saja diomongin kok dia nongol?" bisik Agam pelan.
"Hell?" Agam mengangkat teleponnya.
"Kiara apa kau di sana? mengapa ada suara laki-laki?"
__ADS_1
Ternyata Adi lah yang telah menelpon Kiara. Dengan segera Agam pun menyalahkan telepon itu kepada Kiara, karena Agam menganggap Adi,masih depresi. Agam tidak tau kalau sekarang Adi sudah sehat, walaupun ingatkan nya kembali ke masa beberapa tahun silam.
"Kiara, ini telepon dari Adi."
Kira pun mengambilnya dan memasang telinganya.
"Hello sayang, apa kau di sana? kenapa kau belum menjenguk ku? aku merindukanmu."
Suara manja Adi di seberang telepon membuat Agam menajamkan telinganya.
"Mas Adi, aku lagi sibuk, aku lagi jagain ibu. Ibu kan lagi sakit, bagaimana kabar Mas adi?"
"Aku baik-baik saja kok, sekarang aku lebih baik, sudah sehat, cuma luka lecet saja. Walaupun ada yang keseleo tapi aku sudah sehat kok. baiklah besok aku kan menjenguk mu ke rumah.-
"Oh ..., i_ya," gugup Kiara
"Oh iya, kamu mau nitip apa? nanti kubelikan sekalian," tawarnya.
Suara Adi pun seperti orang normal, yang membuat Agam mendengarnya heran.
"Tidak usah Mas, aku tidak ingin apa-apa kok."
"Oh iya, bagaimana dengan rencana pernikahan kita? ibu sudah merestui kita kok, ayah juga. Kamu persiapkan dirimu ya! nanti aku akan datang sama ibu untuk melamar mu." imbuh Adi lagi, membuat Agam kini mulai merasa cemburu.
"Mas, itu ..., aku belum tahu, karena ibu masih sakit. Sudah dulu ya! ini sudah terlalu malam. Assalamualaikum."
Kiara pun dengan cepat memutus telepon tersebut, karena dia sudah melihat raut wajah Agam yang mulai terasa tidak enak dipandang.
"Bang, kok kamu gitu sih? dia kan cuma orang sakit? kenapa harus cemburu?" tanya Kiara yang tidak enak menatap,wajah sang suami.
"Tapi sepertinya dia tidak sakit, bahkan terdengar seperti orang normal, atau jangan-jangan dia sudah sehat? karena tabrakan," curiga Agam.
"Benarkah? apa mungkin dia sudah sehat? kalau begitu, bagaimana? apakah aku menikah saja dengannya ya?" goda Kiara sambil tersenyum naka*l ke arah Agam.
"Apa maksudmu Kiara?"
Namun ternyata Agam menanggapinya dengan serius.
"Ha ha ha..., Abang apaan sih? begitu saja nggak bisa ngerti? Cuma becanda soang."
__ADS_1
Agam tidak menjawab candaan Kiara, bahkan kemudian dia berbaring telentang menghadap langit-langit kamar.Sementara Kiara membuka siomay pembelian suaminya, dan melahapnya sampai habis.
Bersambung...