
Kiara dan juga Agam beserta Nyonya mentari kini sudah berada di dalam rumah Ibu kiara. Ibu Kiara masih terlihat memasang wajah sadis dan tajam bak sembilu, menatap Agam dan mamahnya.
"Jadi bener, kalian kemarin untuk mengembalikan anakku?" tanya ibu kiara. Wajahnya garang, karena menahan rasa kecewa kepada menantu dan juga Besannya tersebut.
"Ibu, tidak seperti itu, sekarang kami... kita akan bersama di sini, ibu, aku, suamiku dan juga mamah akan tinggal di rumah ini, bersama... kita akan memulai hidup baru dari nol lagi Bu," urai Kiara dengan nada lembut.
"Maksudnya? ada apa Kiara, apa yang terjadi dengan perusahaan suamimu?" cecer sang Ibu.
"Bu, perusahaan Bang Agam sudah dijual oleh pamannya, begitu juga rumah, perusahaan cabang dan semua yang ada, semuanya sudah dijual Bu! mereka telah mencuri berkas penting milik Bang Agam," imbuh Kiara lagi.
"Maksudnya? suamimu sekarang sudah tidak memiliki apa-apa lagi?" tanya ibu Kiara sambil memelankan suaranya, kali ini dia tidak lagi judes.
"Iya Bu, kami memang sering salah pada anak ibu, tapi kami tidak punya tempat lagi, tempat inilah yang bisa kami datangi sekarang, kami tidak punya apa-apa lagi sekarang, ternyata kesombongan aku dulu itu tidak ada apa-apanya, saat aku berada di tempat terindah seperti sekarang ini,l."
Ny.Mentari merasa malu, dulu pernah menghina Kiara, yang sedikit dekil.
"Ny.Mentari, Anda tidak usah merendah seperti itu, karena kita ini sama, ayo sekarang kita mulai hidup di sini! tapi mungkin rumah ini tidak terlalu besar untuk orang seperti Nyonya, banyak kekurangan yang ada di rumah ini. Rumah ini adalah rumah kalian juga, karena rumah ini adalah pemberian Agam pada Kiara."
"Anakmu sangat santun, pantas saja dia memiliki ibu sepertimu Bu," ucap Ny.Mentari.
"Bu, ada kabar yang lebih membahagiakan, aku ingin sampaikan kepada ibu sekarang," ungkap Kiara dengan senyum mengembang.
"Benarkah? apakah masih ada kabar bahagia selain kabar kebersamaan kita ini?" celetuk sang ibu.
"Ibu...."
Kiara memeluk sang Ibu sebelum dia melanjutkan pembicaraannya.
"Kabar apa lagi yang ingin kau utarakan? kamu kesini adalah kabar bahagia ibu," kata Ibu Kiara dengan membelai rambut Kiara.
"Aku sekarang bangkrut Bu, aku tidak memiliki apa-apa lagi, perusahaan, pekerjaan, semua sudah hilang Bu," ucap Agam.
"Menantu ku, dulu aku berpikir, Kiara tidak akan mungkin bisa bertahan lama denganmu, karena kau begitu mencintai istri tuamu, itu yang Kiara katakan, tapi sekarang aku yakin bahwa kalian memang cocok, kalau kalian mau berusaha dari awal lagi, kalian pasti bisa," dukung sang ibu.
__ADS_1
"Ibu... begini bu, sebentar lagi ibu akan memiliki cucu...."
"Apa? cucu? kau sedang hamil Kiara?" seru sang ibu.
Dia sangat senang, bahkan wajahnya berbinar gembira.
"Bener Bu, tadi pagi aku baru perkasa dengan mamah, hasilnya positif," tukas Kiara.
"Alhamdulillah Kiara, sekarang sudah lengkap kebahagiaan kita, ingat! kebahagiaan ini bukan hanya cuma-cuma,ini semua diberikan Tuhan kepada kita, kita harus pandai bersyukur, Nak!" tegas sang Ibu lagi sambil menggenggam tangan Kiara.
Tiba-tiba Kiara menangis, saat mendengar nasehat ibunya tersebut.
"Kenapa Sayang? kenapa kau menangis?" tanya Agam khawatir.
"Bang, bukankah kau tahu, sekarang ini aku sudah jauh dari tuhan, bahkan aku melewatkan sholat hanya duduk santai memandang HP," ucap Kiara sambil menyapu air matanya.
"Sayang, mungkin kita bisa memperbaikinya, kita memang lalai saat dulu, tapi kita bisa memperbaikinya," ucap Agam
Kiara sangat tau, bagaimana suaminya dan mertuanya selama ini, mereka seakan-akan tidak memiliki tuhan. Bekerja dan berbelanja, itulah hoby mereka.
"Besok aku akan mencari pekerjaan," ucap Agam yakin.
"Tidak mudah bagimu untuk mencari pekerjaan, pasti banyak orang yang akan mengejek mu, sebaliknya beberapa hari ini Abang istirahat saja di rumah ini, Abang bisa menghubungi rekan-rekan bisnis Abang, siapa tau ada pekerjaan yang mereka tawarkan nanti, siapa tau ada lowongan di perusahaan mereka," ucap Kiara lagi.
"Aku akan mulai dari nol, aku akan jualan bubur keliling Bang...."
"Tidak! aku tidak mau kau jualan bubur keliling, itu tidak boleh, kau sedang hamil, bagaimana boleh kau capek-capek untuk berjalan kaki," pangkas Agam sambil menatap Istrinya merasa sangat sedih.
"Tapi kita perlu biaya Bang, uang yang ada di tanganku ini hanya cukup untuk 2 atau tiga bulan saja," imbuh Kiara.
"Sayang, aku masih ada tabungan, kita akan membuka usaha, kau pintar masakan ayo kita buka restoran kecil-kecilan di pusat kota," ajak Kiara.
"Emangnya Abang sudah tahu, berapa cukup buat kita menyewa tempat?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Mungkin sekitar 10 atau 15juta, aku masih punya tabungan 50 atau 60 juta," timpal Agam.
"Tapi Abang masih sakit, sebaiknya Abang istirahat saja dulu, biar Kiara yang bekerja."
"Tidak apa-apa kok," sahut Agam.
"Kalau begitu jualan bubur saja di pinggir jalan? Di sana mungkin ada banyak orang yang lewat?" usul Kiara.
"Tapi aku tidak mau kau kecapean, aku takut kenapa-kenapa dengan Bayi kita."
"Bang, aku sudah terbiasa hidup seperti ini, tidak akan kenapa-kenapa kok, aku adalah pekerja keras sebelum bersama Abang, jadi tidak masalah kalau sekarang aku kembali bekerja seperti dulu, sekarang ayo kita rapikan baju-baju ini ke dalam kamar, Oh iya karena di sini cuma ada dua kamar, berarti kita harus bikin lagi kamar satu di belakang, untuk sementara Ya udahlah kita tidur di ruang tamu, sementara mama bisa tidur di kamar sebelah," ucap Kiara.
Padahal dalam hati Agam, dia protes, bagaimana mungkin Kiara dan Agam bisa tidur di ruang tamu? sedangkan mereka kan masih tergolong pengantin baru, namun dia tidak bisa berkata apa-apa, karena saat ini dia tidak ada pilihan.
"Oh jangan dong, biar Ibu saja yang tidur di ruang tamu, kamu bisa tidur di kamar bersama Agam," ucap ibu.
Di dalam hati Agam merasa lega, karena Ibu mengerti isi hati Agam.
"Tidak Bu, Tidak apa-apa kok," timpal Kiara.
"Kamu tidur di kamar Kiara! Biar Mama saja yang tidur di ruang tamu. Tidak apa-apa kok karena kalian kan masih tergolong pengantin baru."
Ternyata Mamah Agam mengerti, kalau sekarang hati Agam sedang protes dengan keputusan Kiara yang ingin tidur di depan ruang tamu.
"Mah, tidak perlu mah, tidak apa-apa kok, paling cuma 1 minggu, kita kan bisa bikin kamar baru di samling belakang," ucap Kiara.
"Kiara apaan sih? bagaimana dengan aku? Bisa-bisa puyeng aku kalau tidur di ruang tamu?" batin Agam.
"Udah terima saja tawaran Mama atau tawaran ibu, nanti kalau bayi kita apa-apa bagaimana? Takutnya nanti dia masuk angin," cetus Agam Cuek.
"Mana ada bayi yang belum berbentuk masuk angin bang, ada ada aja kau ini!" gerutu Kiara.
Bersambung
__ADS_1