
Ceklek
Terdengar pintu Kiara dibuka, jantung Kiara kini dag dig dug dor. Dia merasa gugup, dia tahu yang masuk adalah Agam. Saat ini Kiara hanya bisa pura-pura tertidur, sambil membelakangi pintu, menghadap dinding. Dia berharap malam ini tidak akan terjadi sesuatu.
Tentu saja dia belum siap, Bagaimana mungkin hanya dalam sekejap mereka harus bercocok tanam begitu saja, tanpa ada pendekatan sama sekali. Tapak kaki itu semakin jelas di telinga Kiara, mendekati ranjang Kiara yang kini pura-pura tidur. Ia pun membuka matanya, menatap dinding, perasaan tak karuan menyelimuti dirinya.
"Tidak! aku belum siap, Tuan, mudahan kau tidak menyentuhku," bisik hati Kiara.
Tiba-tiba Kiara merasakan ranjang itu sedikit bergerak, karena ada seseorang yang mencoba berbaring di atas ranjang tersebut.
"Kiara, Apa kau sudah tidur?" tanya Agam.
Pertanyaan itu membuat Kiara bingung, antara harus menjawab atau Hanya berdiam pura-pura tidur saja, namun akhirnya Dia menggumam
"Hemmmm...."
Seakan sekarang dia antara sedang setengah tidur dan setengah bangun.
"Baiklah, kalau kamu ngantuk, tidur saja. Malam ini aku akan tidur di sini," ucap Agam.
Kiara hanya diam, tidak menyahut perkataan Agam tersebut.
"Kiara, kalau memang ini adalah takdir kita. Dan suatu saat nanti kau akan melahirkan anakku, Apakah kau akan meninggalkannya di sini bersama Clara?" tanya Agam.
Agam tahu, sebenarnya saat ini tentu saja Kiara belum tertidur, namun mungkin perasaan takutlah yang membuat kiara tidak berani berbalik.
"Apakah kau sejahat itu Kiara? meninggalkan seorang bayi begitu saja tinggal bersama orang lain, meskipun dia bersama ayahnya, namun Clara?" tanya Agam lagi.
Agam terus saja berbicara sendiri, karena dia yakin, Kiara pasti mendengarnya.
"Kiara, Terus? bagaimana nanti kalau anak kita itu sudah besar, tampan ataupun cantik, tidak pernah mengenal ibunya. Apakah kau tidak akan menyesal?"tanya Agam lagi.
Akhirnya perlahan Kiara pun berbalik dan tidur terlentang.
"Tuan...."
"Kenapa kau memanggilku Tuan!?" putus Agam tiba-tiba.
"Oh Bang, aku juga bingung, apa yang harus aku lakukan? perjanjianku itu dengan Nyonya Clara hanya sebatas hitam di atas putih, ketika aku melahirkan nanti, maka aku harus siap untuk pergi meninggalkan rumah ini, begitu juga meninggalkan anak itu," ucap Kiara pelan.
"Tapi bagaimana kalau aku yang tidak mengizinkan kamu pergi?" ucap Agam.
__ADS_1
"Bang maksudmu? aku belum paham," ucap Kiara.
"Mana mungkin aku membiarkan bayiku baru lahir, terus hanya meminum susu formula, itu sangat tidak sehat kan? lebih baik Dia meminum susu langsung dari pabriknya," ucap Agam.
Kiara merasa malu, karena disinggung masalah menyusui. Bukankah miliknya masih virgin, malah di singgung-singgung, ada perasaan yang tidak tahu harus menjawab apa
"Aku belum pernah membayangkannya sampai ke sana Bang, aku hanya tahu mendapatkan uang dan bisa menebus Ibuku dari rentenir itu," ucap Kiara.
"Dulu memang kau tidak memikirkannya, tapi sekarang aku minta kau bisa memikirkannya, bagaimana? Apakah kau sanggup? meninggalkan bayimu di sini," ucap Agam lagi mendesak.
"Bang, kalau aku membayangkannya, tentu saja aku tidak sanggup, tapi kalau perjanjian itu harus aku tepati kan? aku yakin kok Nyonya Clara pasti bisa merawatnya dengan baik," ucap Kiara.
Perlahan kini Agam pun memiringkan badannya ke arah Kiara, jantung Kiara kini semakin tak karuan, jantungnya berdetak hebat, seakan jantung ini ingin melompat dari tempatnya. Perasaan bahagia, namun juga perasaan takut.
"Kiara, Apa kau siap?" tanya Agam.
Kiara hanya mengangguk kemudian memejamkan matanya.
***
Sudah jam 07.00 pagi, namun sepertinya mereka kesiangan. Apakah tadi malam mereka Belah Duren? Clara tampak menuruni tangga dengan wajah cemberut, terlihat dia sudah tampak rapi dengan berpakaian modis, karena hari ini dia akan pergi ikut ke luar kota dengan Burhan.
"Mereka belum ada keluar nyonya, Apa Nyonya mau makan?" tanya bibi.
"Tidak usah Bi, aku mau pergi sekarang, Oh ya, tolong sampaikan pada Mas Agam, aku akan keluar kota pagi ini, nanti aku akan menelponnya, kalau aku sudah sampai di sana," ucapnya.
Ternyata Clara tidak memberitahukan sebelumnya kepada Agam, bahwa hari ini dia akan keluar kota.
"Baik Nya, hati-hati di jalan!" ucap bibi.
Clara tergesa-gesa meninggal rumah tersebut, dia sama sekali tidak menoleh ke kamar tamu, ada perasaan yang sangat menusuk di hatinya, perasaan kecewa karena tadi malam Agam tidak kembali ke kamar mereka, setelah Clara berada di dalam mobil,
"*Hello, Han, kau sekarang ada di mana?" tanya Clara
"Aku masih di rumah. Kau di mana sekarang?"
"Baiklah, aku akan ke rumahmu, aku sudah berangkat di jalan," ucap Clara.
"Baiklah, aku tunggu."
Clara pun pergi meninggalkan rumah tersebut menuju kediaman Burhan.
__ADS_1
***
Agam dan Kiara tampak saling berpelukan, mereka masih ada di dalam selimut yang sama, namun sepertinya mereka masih berpakaian lengkap, apa mereka memakainya lagi? atau mereka belum melakukan apapun?
Agam tampak menggeliat dan terbangun,
"Kiara, ayo bangun! Sudah terlalu siang ini," ucap Agam.
Akhirnya Kiara pun terbangun dan duduk begitu juga Agam, mereka menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamar tersebut,
"Sekarang Cepat kau mandi!Aku ingin kau menyiapkan makananku pagi ini!" titah Agam
"Baiklah," ucap Kiara.
Kiara pun segera mandi, begitu juga Agam, dia segera keluar dan pergi meninggalkan kamar Kiara, menuju kamarnya di atas.
Sesampainya di kamar, dia tidak menemukan Clara, kemudian ia mengambil handphonenya yang ada di atas lemari rias Clara, tampak ada pesan dari Clara 1 jam sebelumnya.
"Mas, maaf, aku tidak memberitahukan mu, sekarang aku menuju ke luar kota, aku akan berlibur siang ini, nanti malam aku akan kembali,"
Pesan singkat itu.
Klik
Tiba-tiba sebuah pesan masuk di HL Agam, dari sahabatnya Halim.
"Kenapa Halim menchatku ya? Tidak biasanya," gumam Agam.
Dia pun membuka chat itu, nampak sebuah foto terpampang jelas bahwa di dalam sebuah mobil tampak Clara dan seorang laki-laki, sedang tersenyum seperti mereka bercanda Ria, dan ada tulisan pesan dari Halim tersebut .
"Agam, Bukankah dia istrimu? sedang apa mereka di luar kota?" pesan singkat itu dari Halim.
Agam pun kaget, langsung saja dia meradang dan mengepalkan tangannya. Walaupun dia sekarang memiliki rasa kepada Kiara, namun perasaan Agam kepada Clara sama sekali belum berubah, perasaan cinta yang sangat dalam.
Agam pun mengepalkan tangannya, kepalanya pun berasap, seakan menahan marah yang luar biasa. Dia pun membalas chat itu.
"Sekarang mereka ada di mana? Tolong beri aku lokasinya!" balas Agam.
Tanpa mandi, Agam pun berganti pakaian dan segera mengambil kunci mobilnya untuk menyusul tempat di mana Clara berada.
Bersambung...
__ADS_1