Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Agam Merasa Tak Ada Sandaran Hidup


__ADS_3

Saatnya Kiara bersantai setelah membersihkan diri, dia tampak menatap layar ponselnya dan menatap foto sang ibu. Hingga dia kaget saat telepon berbunyi.


"Hello ..., Nyonya ...."


Ternyata Clara lah yang sedang meneleponnya.


"Kiara, apakah tadi malam kau dan Mas Agam sudah melakukannya?" tanya Clara pelan.


"Be ... lum, Nyonya," sahutnya gagap.


"Kenapa belum? Apakah kau tidak memakai baju yang ku kasih kemaren?" tanya Clara.


"Maaf, Nyonya, aku ketiduran," sahutnya.


"Ketiduran? Trus? Mas Agam tidur di mana?" tanya Clara lagi.


"Tuan, Agam ... Tidur di lantai Nyonya," sahutnya semakin takut.


"Apa? Jadi Mas Agam tidur di lantai kamar mu?" kaget Clara.


"Iya Nyonya," sahut Kiara pelan.


"Baiklah, hari ini aku akan pulang, sebelum Mas Agam pulang, aku harus mengambil baju ku," ucapnya.


"Baik Nyonya," sahut Kiara.


Telepon pun di matikan Clara tanpa salam. Karena memang keluarga ini hanya keluarga suka suka. Keluarga yang tergolong bergelimang harta namun lalai. Bahkan sholat pun suka suka, kalau mereka lagi pengen saja.


"Nona muda ..., Sayuran yang kau pesan tadi sudah aku masukan dalam kulkas Nona," ucap Bibi.


"Baik Bi, nanti siang aku akan memasaknya, untuk makan malam. Jadi mulai malam ini dan besok pagi, bini tidak usah,lagi memasak. Aku yang akan memasak, atas permintaan Tuan Agam Bi," ucap Kiara.


"Emang Tuan Agam bilang begitu Nona?" tanya Nini heran, karena selama ini Bibi tidak pernah melihat Clara memasak.


"Iya Bi, dia memintaku untuk memasak sarapan dana makan malamnya," sahut Kiara.


"Oooh, baik Non, tapi apakah Nona tau masakan kesukaan Tuan?" tanya Bibi.


"Tidak Bi, oh iya, aku lupa nanya, emang masakan kesukaan dia apa ya Bi?" tanya Kiara.


"Beliau suka sop jamur dan gulai daging Non," ucap Bini.


"Ooh ..., benarkah? Kebetulan sekali, aku juga suka itu, tapi ..., aku tidak bisa memasaknya," ucap Kiara.


"Nanti aku temenin masak," ucap Bibi.


"Terima kasih Bi," ucap Kiara.


Ceklek


Terdengar pintu utama dibuka oleh seseorang. Kiara pun segera menengok keluar dapur.

__ADS_1


"Nyonya Clara! anda sudah datang," sapa Kiara.


"Iya, Kiara, aku akan mengambil beberapa baju, karena tadi malam aku belum sempat membawanya," ucap Clara.


Clara pun kemudian menaiki tangga dan mengambil tasnya, memasukkan beberapa lembar baju ke dalam tas itu, kemudian kembali ke bawah.


"Kiara, Malam ini aku ingin kau berhasil memulai dengan mas Agam, lebih cepat lebih baik kan?" ucap Clara pada Tiara.


"Iya Nyonya, tapi aku merasa takut dengan Tuan Agam," ucapnya.


"Kau tidak perlu takut, dia itu orang baik, bukan orang jahat! Percayalah! Mungkin dia masih malu untuk memulainya, jadi sebaiknya kau saja duluan, karena dia sangat gengsi kalau ada orang yang menolaknya," ucap Clara.


"Iya, Nyonya," sahut Kiara.


"Masa iya aku harus duluan, aneh sekali kan?" bayin Kiata.


"Baiklah, aku harus pergi lagi ..., Oh ya, Bibi ke mana?" Clara pun menuju dapur untuk menemui bibi, sementara Kiara mengiringi dari belakang.


"Bi, jangan lupa masak-masakan kesukaan Mas Agam ya!" ucap Clara.


"Iya Nyonya, tapi ..., katanya Tuan Agam mulai malam ini, Dia pengen di masakin oleh Nona Kiara," ucap bibi.


"Hah? Benarkah? Kiara? dia menyuruhmu memasak?" tanya Clara heran.


"Iya Nyonya, dia memintaku untuk memasak sendiri sarapan dan makan malam," sahut Kiata.


"Aneh sekali Mas Agam? biasanya dia tidak pernah menyuruh aku memasak lok! Apa kau bisa memasak?" tanya Clara merasa khawatir.


"Hufs, baiklah. Semoga kau sukses, oh iya, kalau kau hamil secepatnya, separuh dari yang aku janjikan akan segera aku transfer ke rekening mu," ucao Clara.


"Terima kasih, Nyonya," ucap Kiara.


Clara pun mengangguk, seraya pergi meninggalkan rumah tersebut. kini tinggal lah lMauda dan Bibi.


"Bibi ..., sebenarnya mereka itu pasangan seperti apa?" tanya Kiara penasaran.


"Mereka itu pasangan yang hampir tidak pernah bertengkar, mereka sangat harmonis, walaupun mereka belum di karuniai anak, namun mereka sangat bahagia," ucap Bibi.


"Benarkah? tapi kenapa mereka tidak ingin mengadopsi anak?" tanya Kiara.


"Tuan Agam lernah mengusulkan itu, namun, Nyonya Clara tidak pernah menggubrisnya, Tuan Agam mempunyai seorang paman yang sangat serakah," ucap Bibi.


"Benarkah?"


"Iya, dia juga bahkan mempunyai anak yang sama serakahnya," ucap Bibi lagi.


"Apakah mereka tidak berusaha untuk memiliki bayi tabung?" tanya Kiara.


"Mereka pernah kok program seperti itu, namun gagal, hingga membuat Nyonya Clara patah semangat, dan aku tidak menyangka, kalau akhirnya dia memilih menikahkan suaminya dengan kamu, karena dia ingin sekali mempunyai anak dari darah daging suaminya sendiri," ucap Bibi.


"Oooh, baiklah Bi, aku mau ke kamar dulu, nanti kalau aku tidak terbangun jam 03.00 sore, tolong panggil aku ya Bi," ucap Kiara.

__ADS_1


"Baik Nona."


Apkhirnya Kiara pun pergi meninggalkan dapur menuju kamar nya untuk istirahat siang.


***


Tampak Agam sedang memimpin sebuah meeting di perusahaannya. Di sana juga ada pamannya dan juga anak pamannya yang telah dikisahkan Bibi tadi. Mereka berdua adalah orang yang sangat serakah dengan harta. Sebenarnya warisan nenek Agam ini sudah dibagi menjadi dua bagian, untuk pamannya dan juga Ayah Agam.


Namun, karena Paman Agam sering bermain judi, hingga akhirnya perusahaan yang dimiliki Paman Agam pun, bangkrut, sehingga sekarang paman Agam dan anaknya pun terpaksa bekerja di perusahaan Agam, karena Agam merasa kasihan dengan paman dan juga Kakak sepupunya itu, yang lontang-lantung di jalan karena tidak mempunyai pekerjaan tetap. Namun, semakin diberi hati, mereka kayaknya seperti menginginkan jantung.


"Baiklah, sekarang meeting kita sudah selesai, jadi tolong kerjakan tugas kalian dengan baik!" ucap Agam mengakhiri pertemuan pagi ini.


Setelah rekan bisnis Agam sudah lergi meninggalkan ruang Meeting.


"Paman Simon dan juga Kakak Alex, Mari ke ruanganku!" ajak Agam kepada paman dan juga sepupunya itu.


Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju ruangan pribadi Agam, setelah berada di ruangan pribadi Agam, mereka pun duduk layaknya sebuah keluarga yang harmonis.


"Paman ..., sebenarnya apa yang terjadi dengan perusahaan cabang?" tanya Agam, mengawali pembicaraan tersebut.


"Maksudmu? Ada apa Agam? Aku tidak mengerti," tanya Alex.


"Kakak, aku mendengar kabar, bahwa perusahaan cabang mengalami penurunan pendapatan, dan bahkan sekarang para karyawan pun tidak diberi bonus, padahal kan setiap bulan kita selalu memberi bonus untuk mereka," ucap Agam.


"Siapa yang berani mengatakan dan melaporkannya kepadamu seperti itu? Agam!"


Simon yang tidak terima karena perusahaan cabang itu Simon lah Yang menghandel pun emosi.


"Paman, kita tidak usah membahas siapa yang menyampaikannya kepadaku, yang jelas aku sudah mendengarnya dari mereka, bahwa para karyawan di sana sekarang tidak mendapatkan bonus bulanan, Aku tidak ingin Perusahaan kita menzalimi mereka, kita harus tetap memberikan mereka bonus," ucap Agam.


"Kamu percaya pada mereka? Mereka hanya memfitnah, karena mereka tidak suka padaku!" ketus Simon.


"Paman, bagaimanapun, perusahaan itu berdiri karena kerja keras mereka," ucap Agam lagi.


"Jadi kau menganggap aku yang telah melakukan kecurangan? begitu?" ketus Simon.


"Paman, bukan begitu maksudku begitu, tapi...."


"Ah, sudahlah, kau sama saja dengan ayahmu, selalu merendahkan pekerjaanku," ucap Simon, kemudian dia pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan membanting pintu.


Sementara Alex, dia hanya menatap kepergian ayahnya.


"Kak Alex, aku mohon kau bujuk ayahmu, untuk memperbaiki kembali peraturan yang ada di perusahaan itu, kalau aku mendapatkan laporan yang tidak baik lagi, aku tidak segan-segan untuk mengambil kembali perusahaan itu," ucap Agam.


Alex berdiri tanpa sepatah kata pun, dan pergi meninggalkan ruangan Agam.


Agam terdiam sejenak, dan kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Clara ..., saat-saat seperti ini, aku ingin sekali bersandar di pundak mu seperti biasa, namun kini kamu mendatangkan orang lain untuk menggantikan pundak mu, Clara. Aku sungguh tidak mengerti kenapa bisa seperti ini?" gumam Agam pelan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2