Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor

Aku Istri Ke Dua Bukan Pelakor
Kedatangan Clara Kembali


__ADS_3

Clara menatap kepergian Agam dan mantan mertuanya dengan misteri hanya Othor yang tau. Kini hatinya panas mendengar Mentari mengatakan Istri Agam menunggunya. Tangannya pun mengepal keras karena terasa ada bongkahan batu yang kini bersarang di dadanya, membuat dia sesak untuk bernafas.


"Clara! Ayo kita pulang!" ajak Burhan yang dari tadi hanya menatap Clara, dan Han sepertinya tau, kalau Clara masih mencintai Agam.


"Oh iya, terima kasih, pulang ke mana? Aku tidak punya tempat tinggal," ucap Clara.


"Kau bisa diam di Apartemenku dulu, aku sudah tidak memakainya, sekarang aku tinggal di rumah ibuku, bersama bayiku. Oh iya, aku belum cerita, kalau istriku meninggal saat melahirkan," ungkap Han terlihat sedih.


"Innalillah, benarkah? Kapan?"


"3 bulan lalu, saat dia melahirkan," jawab Han.


"Berarti saat aku masuk sini kan?" tanya Clara.


"Iya, kamu bisa bekerja di kantorku kalau kau mau!" tawar Han.


"Nanti akan aku pikirkan dulu. Terima kasih banyak kau telah banyak membantuku," ucap Clara.


"Jangan sungkan, kita adalah teman masa kecil, dan kau sudah ku anggap keluargaku sendiri, ayo! Biar ku antar kau belanja dulu sebelum kau balik ke apartemen, karena mungkin saja kau ingin masak sesuatu," ajak Han.


"Masak? Han, aku tidak bisa masak! Untuk apa beli bahan makanan?" sahut Clara.


"Uhmmm...."


Han hanya menggumam takjub dan bingung harus bilang apa.


"Biar aku yang masak buat kamu makan malam," ucap Han kemudian.


"Aku sangat merepotkanmu Han, terima kasih."


"Memang dari dulu kau selalu merepotkan ku, apalagi saat kau menolak ku, aku sangat kerepotan menata hatiku saat itu," goda Han.


"Ha ha ha, kau bisa aja."


Tanggapan Clara membuat Han ikut tertawa. Apakah Han masih menaruh hati? Othor juga yang tau.


Mereka mulai berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai. Sesekali Han melirik ke arah Clara yang asyik dengan lamunannya, entah apa yang sedang di lamunkannya, mungkin saja dia sedang menghalu untuk kembali bersama Agam.


"Kau masih cantik di mataku Cla, tapi sayang, hatimu masih bersama Agam saat ini," batin Han.


Han pun berhenti di sebuah mini market yang menjual keperluan dapur Frozen. Kemudian turun dan membukakan pintu Clara.


"Cla..., ayo turun!" ajak Han.

__ADS_1


"Oh, maaf, aku tidak fokus," sahut Clara yang tidak sadar kalau mobil sudah berhenti.


Mereka pun membeli berbagai bahan makanan termasuk beras dan juga ikan dan sayuran. Setelah selesai, mereka kembali ke dalam mobil.


"Emang kau bisa masak sayuran tadi? Kalau aku nggak bisa masak ya! Jadi kalau kau nggak masak itu, maka akan ku biarkan membusuk di dalam lemari es! Ha ha ha" ucap Clara sambil tertawa ringan.


"Aku kan sering sendiri, karena istriku saat itu sedang ngidam dan pulang kampung. Makanya aku bisa masak, nanti aku masak, kamu liat saja aku memasak ya! Biar bisa, nggak selamanya kita ini hidup enak kan?"


Sepertinya Han sedang menyindir halus Clara. Clara hanya tersenyum kecut saat,mendengar itu.


***


Agam sudah sampai di rumah tepat jam 2 siang. Rumah tampak sepi, seperti tidak ada kehidupan saja di rumah ini. Para pelayan pun tidak terlihat satu pun.


"Kemana mereka ya?" tanya Mentari yang duluan turun dan berjalan ke arah teras.


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam ...," suara bersamaan dari kamar Kiara.


"Ada apa di kamar Kiara?"


Mentari pun segera berjalan ke kamar Kiara, dan tampaklah 10 pelayan itu berjejer berdiri di depan ranjang Kiara.


"Ada apa dengan Kiara Ku? Ada apa ini?"


"Nyonya besar, Nona muda tidak mau makan siang ini, kami sudah membujuknya," ucap Kiara.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu tidak mau makan?"


Kiara tetap diam dan hanya menggeleng, tanda dia menjawab pertanyaan mertuanya.


Agam yang baru datang pun heran, ketika semua krang berada di kamarnya.


"Mah, ada apa?" tanya Agam.


"Kiara tidak mau makan siang ini, dia terus berbaring di sini sejak 3 jam lalu," ucap sang Mamah.


"Benarkah, oh iya, kalian apakah ingin terus berdiri di kamar ini?",tanya Agam sambil menatap beberapa pelayan yang berdiri lebih dekat dengan ranjang.


Semua pelayan pun pergi keluar, karena di usir dengan secara halus oleh Agam.


" Baiklah, mamah juga mau ke atas, kau untuk dia sampai mau makan ya! Nanti cucuku sakit."

__ADS_1


Mentari pun pergi meninggalkan kamar Agam. Saatnya Agam beraksi dengan gombalan mautnya.


"Sayang ..., ayo makan! biar Abang suapin ya!" bujuk Agam.


Agam pun sambil memeluk tubuh sang istri dari belakang dan ikut berbaring menghadap Kiara. Kiara tetap diam dan,tidak mau menjawab.


"Sayang ..., kamu marah ya! Sekarang makan dulu, lalu kita berangkat Shoping. Maaf tadi malam tidak jadi pergi, karena Burhan menelpon ku."


Tetap tidak ada jawaban. Sepertinya Agam berbicara dengan tembok saja.


Agam berusaha menarik tubuh sang istri agar menghadap ke arahnya, namun Kiara malah berpegangan dengan kasur sangat kuat.


"Sayang, aku minta maaf, tadi malam Burhan menemui ku dan berbicara masalah Clara. Karena dia ingin melepaskannya. Dan hari ini Clara sudah keluar dari penjara itu."


Tetap diam, sepi tak ada suara. Sepertinya Kiara sangat kesal dengan ulah Agam yang tidak menepati janji.


Tadi malam bertemu Burhan, pagi ini mengurus Clara keluar dari penjara. Tentu saja Kiara sangar jengkel dengan ulah sang suami ini.


"Agam! Apakah kau ke kantor hari ini?" panggil sang Mamah.


"Tidak Mah, biar asisten aja yang tangani pekerjaan di kantor hari ini." sahut Agam.


"Kenapa harus Asisten, kan ada mamah mu sebagai Direktur utama, yang bisa menangani masalah perusahaan," terdengar suara Aswin yang menyahut.


"Iya Gam, biar aku saja, sekarang aku naik grab saja."


"Ha? Emang mamah...."


"Tenang Gam, kau urus saja Kiara."


Mamah Agam mulai memotong perkataan Agam, karena tidak ingin Agam keceplosan.


Mamah Kiara pun saliman dengan sang suami, dan pergi meninggalkan rumah, namun saat di dalam mobil.


"Apa yang aku lakukan? Mengurus pekerjaan kantor? Heh bisa-bisa pecah kepalaku, selama ini aku bertahan di kantor, hanya duduk dan tiduran saja, kalau Aswin tau, pasti bakal kena ledek habis-habisan," gumamnya bingung


***


Clara tampak berjalan menuju depan pintu rumah besar Agam dengan membawa makanan. Dia pun terlihat tersenyum-senyum bahagia. Entah apa yang di rencanakan nya pagi ini.


Ceklek.


Tanpa meminta izin dan mengetuk pintu dahulu, Clara langsung saja mendorong pintu dan masuk.

__ADS_1


"Nona siapa? Kenapa masuk tanpa mengetuknya dahulu?" tanya pembantu yang kebetulan sedang di ruang tamu.


"Kau tidak tau? Aku ini pemilik rumah ini," sahut Clara.


__ADS_2